Yuda mencoba tidak memikirkannya. Selama empat hari ia berhasil, lebih kurang, dengan cara yang sama seperti seseorang berhasil tidak memikirkan gigi yang berlubang: dengan mengunyah di sisi yang lain dan berpura-pura sisi itu tidak ada. Pertemuan dengan studio animasi dijadwalkan minggu depan. Pak Hartono sibuk menyiapkan diri, gugup seperti pengantin, melatih cara bicaranya di depan cermin studio. Aksa menyiapkan, tanpa diminta, sebuah "proposal merchandise" yang halaman pertamanya adalah gambar boneka anak hantu yang, menurut Pak Hartono, "lebih cocok jadi peringatan untuk anak nakal daripada barang dagangan".
Pada hari keempat, di sela menunggu render, Yuda membuka ponselnya dan, karena alasan yang tidak ia pahami, membuka akun anonimnya. Akun jam saku. Ia hampir tidak pernah membukanya lagi sejak malam itu. Satu halaman komik tukang servis jam yang ia unggah masih di sana, dengan tiga puluh tujuh penyuka dan dua komentar, yang sudah terasa seperti keajaiban kecil untuk akun tanpa nama. Ia membuka berandanya, menggulir tanpa tujuan, sekadar mengisi waktu sambil Mbah si PC bersusah payah.
Lalu jantungnya berhenti.
Di tengah berandanya, dalam sebuah unggahan yang dibagikan ribuan kali, ada sketsa karakter tukang servis jamnya. Karakternya. Lelaki tua di pasar, membungkuk di atas jam saku, dengan gelembung kenangan yang mengambang. Bukan mirip. Nyaris identik. Pose yang sama, sudut yang sama, gestur tangan yang sama persis seperti yang ia gambar puluhan kali, dengan detail yang ia kira hanya ada di kepalanya: cara jari lelaki tua itu menahan loupe pembesar, lengkung punggung yang spesifik, bahkan retakan kecil di kaca jam saku yang Yuda tambahkan sebagai detail kesayangan pribadinya.
Unggahan itu dari sebuah akun ilustrator bercentang, dengan ratusan ribu pengikut, nama yang sering muncul di rekomendasi. Keterangannya: "Karakter original terbaru buat project pribadiku. Kakek tukang jam yang bisa dengar kenangan. Konsepnya udah lama ada di kepalaku, akhirnya kesampaian gambar. Mohon doanya semoga jadi komik utuh ya gaes!" Kata original ditebalkan. Ribuan komentar membanjir di bawahnya, dan setiap satu dari komentar itu menusuk Yuda di tempat yang berbeda. "Konsepnya FRESH banget!" "Belum pernah lihat ide kayak gini, jenius!" "Auto-follow, ditunggu komik utuhnya kak!" "Original abis, semoga nggak ada yang nyontek ide kamu ya kak, banyak art thief soalnya."
Yuda membaca komentar terakhir itu tiga kali sampai matanya berair, bukan karena sedih, tapi karena absurditas yang begitu tajam sampai terasa seperti lelucon yang dirancang khusus untuk menyiksanya. Mereka memperingatkan sang penjiplak untuk waspada terhadap penjiplak.
"Yuda?" Aksa, yang melihat wajah Yuda berubah warna, mendekat. "Kamu kenapa? Mbah ngapain? Render-nya gagal lagi?"
Yuda menunjukkan layarnya tanpa berkata apa-apa. Aksa membaca, dan wajah konyolnya, untuk kedua kali sejak Yuda mengenalnya, menjadi serius. "Ini... ini gambar kamu, kan," katanya pelan. "Yang kakek jam itu. Yang kamu unggah malem-malem."
"Iya."
"Lapor. Sekarang. Kamu kan yang gambar duluan. Kamu punya buktinya."
Dan di sinilah, di kalimat sederhana Aksa itu, seluruh kengerian situasi ini terbuka di depan Yuda seperti jurang. Bukti. Ia membuka file aslinya di laptop dengan tangan yang mulai dingin, dan satu per satu, perlindungannya runtuh.
Unggahannya sendiri berasal dari akun anonim yang baru ia buat malam itu juga, akun tanpa riwayat, tanpa wajah, tanpa kredibilitas. Akun penjiplak bercentang, terverifikasi, berusia bertahun-tahun. Di mata siapa pun yang tidak tahu kebenarannya, akun mana yang lebih meyakinkan sebagai pemilik asli sudah jelas. Lebih buruk lagi: Yuda hanya mengunggah satu halaman jadi, bukan proses. Sang penjiplak, ia menemukan dengan ngeri sambil men-scroll, telah mengunggah "proses"-nya: sketsa kasar, lalu sketsa rapi, lalu lineart, lalu warna, semuanya seolah lahir dari tangannya, padahal itu hanya hasil menelusuri ulang gambar jadi Yuda dan membongkarnya mundur menjadi tahap-tahap palsu. Sang penjiplak punya "bukti proses" yang lebih lengkap daripada Yuda yang menggambarnya sungguhan.
Dan file PSD asli Yuda, yang berlapis-lapis, yang akan membuktikan ia menggambarnya dari nol, ada di laptopnya. Tapi tanggal pada file itu, Yuda menyadari dengan perut mual, sudah berubah berkali-kali setiap ia membukanya untuk memperbaiki, dan ia, dalam rasa malu yang sama yang membuatnya menyimpan komik itu di folder bernama "jangan dibuka dulu", pernah memindahkannya antar-folder, menyalin, menghapus versi lama. Riwayat digitalnya berantakan justru karena rasa takutnya sendiri. Ia menggambar duluan. Ia tahu itu dengan setiap serat tubuhnya. Tapi membuktikan bahwa ia menggambar duluan, kepada dunia yang hanya percaya pada centang biru dan jumlah pengikut dan "proses" yang tampak meyakinkan, adalah hal yang sama sekali berbeda.
Aksa membaca semua kebingungan itu di wajah Yuda. "Kamu nggak punya bukti yang cukup kuat," katanya, bukan bertanya. "Buat orang luar."
Yuda menggeleng pelan. Tangannya, tangan yang bisa meniru siapa saja, tangan yang menggambar dunia ini, sekarang gemetar memegang ponsel yang menampilkan karyanya sendiri dengan nama orang lain di atasnya dan kata original ditebalkan. Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, sebuah panel yang ia tinta dengan tangannya sendiri mengambang di dunia dengan nama yang bukan namanya. Bedanya, kali ini, ia tidak memilih diam. Kali ini, diam dipaksakan kepadanya oleh ketakutannya sendiri di masa lalu. Dan ia mulai mengerti, dengan dingin yang menjalar, bahwa pertanyaan yang menghancurkan bukanlah siapa yang menggambar duluan. Tapi siapa yang berani, dan punya alat, untuk membuktikannya.