Malam telah tiba, namun Jeno baru saja tiba di rumah setelah selesai bekerja part time. Jeno memarkirkan motor Honda BeAT hitam nya di depan halaman rumah. Ia mencabut kunci motor dan mulai berjalan memasuki rumah. Namun pandangan menyayat hati hadir setelah Jeno membuka pintu rumahnya.
“Kalian semua kenapa? Apa yang terjadi?” Jeno langsung mendudukkan diri di samping eomma yang sedang menangis di dalam pelukan Karina yang saat itu juga menangis. Jeno menatap ke arah kanan, dan melihat Jisung yang juga menangis sambil menutupi mukanya dengan tangan.
“Ada apa ini sebenarnya? Kar? Ji?” Yang ditanya tidak menjawab. Mereka masih sibuk menangis.
“Karina jawab gue,” Jeno masih berusaha membujuk Karina. Gadis itu masih menangis.
“Appa.”
“Appa kenapa?” menatap Jeno sebentar, Karina mulai menceritakan kejadian tadi pagi.
Setelah Appa kembali pergi meninggalkan rumah, Karina mulai mengecek suasana rumah. Ia kemudian mengecek uang yang ada di atas kulkas, dan uang tersebut sudah tidak ada. Karina kemudian berjalan ke arah kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke kampus, ia ad akelas hari ini.
Namun langkahnya terhenti saat terdengar suara ringtone yang cukup nyaring terdengar. Karina berjalan menuju sumber suara, dan ia bisa melihat gadget milik Appa tertinggal di ruang tamu. Setelah berpikir panjang, Karina akhirnya memutuskan mengangkat panggilan itu.
“Halo,” belum sempat Karina membuka suara, suara berat dari arah sebrang membuat alisnya bertaut.
“Ini siapa ya?”
“Tidak usah pura-pura tidak tau, cepat bayar hutang mu sebanyak lima puluh juta,” Karina mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.
“Maksudnya? Ini siapa sih? Anda penipu ya?” Karina masih tidak mempercayai apa yang ia dengar.
“Asal lo tau, bapak lo itu sudah hutang ke gue sebanyak lima puluh juta, dan ia sudah janji akan membayarnya dari tiga bulan lalu,”
“Apa anda berbohong?”
“Ngapain gue bohong, gue akan kirim bukti-bukti bahwa bapak lo ngutang ke gue,” telfon ditutup secara sepihak.
Melihat ada pesan notifikasi masuk, Karina langsung membukanya. Ia membaca chat tersebut secara perlahan. Isi chat itu berisi bukti chat appa nya yang meminjam uang, berisi bukti transfer dari orang tersebut ke rekening appa, serta berisikan janji bahwa appa mereka akan melunasi hutang tersebut.
Badan Karina gemetar, bagaimana mungkin saat ekonomi keluarganya sedang sesulit ini, bahkan eomma dan saudara kembarnya berjuang setiap hari untuk mencari uang, appa nya malah membuat masalah dengan berhutang.
Mendengar cerita Karina, Jeno hanya dapat mengusap wajahnya kasar. Tidak, ia tidak menangis. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah bagaimana hutang tersebut bisa terbayar lunas.
Jeno memasuki kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di Kasur. Ia lelah, sungguh. Namun sepertinya ia tidak diizinkan untuk beristirahat. Jeno bangkit dan membuka buku catatannya, ia list semua kegiatannya.
“Apa ada yang membuka lowongan pekerjaan dari jam sepuluh malam sampai jam dua pagi?” Jeno berbicara sendiri sambil melihat daftar catatannya. Ia harus mencari pekerjaan tambahan. Tetapi di sisi lain, ia juga tidak boleh mengorbankan kuliahnya. Atau eomma nya akan kecewa.
Tiba-tiba Jeno teringat sesuatu, ia langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mengambil jaketnya. Ia buru-buru ke luar rumah.
“Lo mau ke mana Jen?” Karina yang baru saja mencuci piring di dapur, menatap Jeno bingung. Kembarannya itu seperti sedang terburu-buru.
“Ke mini market sebentar,” setelah mengatakan itu, tubuh Jeno sudah hilang. Karina pun hanya mengangkat bahu dan kembali berjalan menuju kamarnya.
Karina terduduk di atas Kasur kamarnya. Ia memangku laptop dan men-searching lowongan pekerjaan part time. Gadis cantik itu tidak bisa diam saja mendengar bahwa keluarganya terlilit hutang.
Girlies
Karina
Guys
Ada yang punya loker part time tidak?
Ningning
Loker itu apa?
Winter
Lo hidup di mana Ning?
Loker tuh lowongan pekerjaan
Ningning
Haha gue kan tidak tau
Giselle
Hidup di goa dia Win
Btw Kar
Emang lo dibolehin kerja?
Winter
Loh iya
Lo kan dulu cerita kalau tidak boleh kerja
Ningning
Si Karina nya menghilang
Giselle
Haha Kar lo di mana?
Karina
Gue belum izin
Tapi gue butuh kerjaan
Bukan
Lebih tepatnya gue butuh uang
Giselle
Lo coba izin dulu
Nanti gue sekalian coba bantu cariin deh
Karina
Thanks Gi
Di sisi lain, Jeno juga sedang mencari tau lowongan pekerjaan part time tambahan. Kedua anak kembar itu berusaha sangat keras untuk membayar hutang.
“Permisi mbak, apa di sini ada lowongan pekerjaan part time?” Setelah mendapatkan jawaban, Jeno berjalan ke luar. Ia menghela nafas, sudah tiga mini market 24 jam yang ia datangi, tetapi mereka semua mengatakan tidak membuka lowongan.
“Jeno,” langkahnya terhenti saat ada yang memanggilnya. Itu, Jaehyun. Kakak kelas Jeno saat SMP dan SMA. Namun sekarang mereka berbeda kampus.
“Bang Jaehyun,” Jaehyun langsung merangkul Jeno.
“Lo habis darimana?”
“Lagi cari kerja part time, bang.”
“Loh, lo bukannya sudah kerja di caffe nya Doyoung?” Jeno menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Hehe, iya.”
“Terus kok lo masih nyari kerja?”
“Gue lagi butuh uang, bang,” Jaehyun menatap Jeno dalam.
Sejak awal Jaehyun mengenal Jeno, ia tau bahwa laki-laki yang usianya lebih muda dua tahun di depannya ini adalah sosok yang pekerja keras. Meskipun dulu mereka satu sekolah, tetapi Jaehyun mengenal Jeno, karena Jeno adalah adik sepupunya Doyoung. Dan Doyoung adalah sahabat nya Jaehyun.
“Lo kenapa tidak minta tambahan gaji ke Doyoung?” pertanyaan Jaehyun membuat Jeno membuka mulutnya dengan lebar dan terdiam.
“Yakali bang,” Jaehyun terkekeh dengan respon yang diberikan Jeno.
“Nanti coba gue tanya bokap gue deh, apa beliau punya lowongan pekerjaan untuk lo atau tidak,” Jeno menatap Jaehyun dengan tatapan penuh keceriaan.
“Lo yang benar, bang?” Jaehyun mengangguk sebagai jawaban.
“Terima kasih banget, bang,” Jaehyun memukul pundak Jeno pelan.
“Sudah sana lo balik, nanti gue kabarin lewat chat,” Jeno mengangguk dan mulai melangkah pergi meninggalkan Jaehyun.
Jaehyun menatap punggung Jeno dengan perasaan iba. Lahir dari keluarga yang berkecukupan membuat Jaehyun tidak bisa membayangkan seberat apa beban yang ditanggung Jeno. Setelah Jeno berbelok ke sebuah gang rumahnya dan menghilang, Jaehyun langsung mengambil gadget nya. Ia men-scroll layer untuk mencari kontak seseorang, Doyoung. Ia kemudian memencet logo call.
“Hallo,” suara serak khas bangun tidur dari arah sebrang membuat Jaehyun tertawa.
“Lo tidur?”
“Iya, kenapa?”
“Gue tadi ketemu sepupu lo,” suara menguap dari arah sebrang benar-benar menandakan bahwa laki-laki yang sedang ia telfon benar-benar sangat mengantuk.
“Sepupu gue yang mana?”
“Gue kira lo tidur lagi,” Doyoung mengusap wajahnya sebelum menjawab.
“Tidak.”
“Jadi, sepupu gue yang mana?” lanjut Doyoung.
“Jeno,” Doyoung mengangguk.
“Kenapa dia?”
“Lagi cari kerjaan,” Doyoung menautkan alis, bingung.
‘Cari kerja untuk apa lagi anak itu?’ batin Doyoung
“Kerjaan? Untuk apa? Diakan udah kerja di tempat gue,” jawaban tidak tau dari Jaehyun membuat Doyoung semakin penasaran.
“Yasudah, coba nanti gue tanya deh. Thank’s btw,” Doyoung menutup panggilan telfonnya. Ia kemudian mencari kontak Jeno.
“Hallo,” suara berat dari arah sebrang membuat Doyoung yakin bahwa sepupunya itu sedang kelelahan.
“Cari kerja untuk apa? Lo kan sudah kerja di tempat gue.”
“Tau informasinya dari bang Jaehyun ya?” Doyoung berdehem sebagai jawaban.
“Gue lagi butuh uang, jadi gue cari kerja.”
“Kalau jawaban lo seperti itu, gue juga tau, Jeno.”
“Lo mau jawaban yang seperti apa?” Jeno memijit pelipisnya. Kenapa laki-laki di sebrang sangat penasaran.
“Alasan yang sebenarnya kenapa lo nambah pekerjaan,” Doyoung menunggu jawaban dengan tidak sabar. Laki-laki itu mondar mandi di kamarnya.
“Appa gue kelilit hutang,” Langkah Doyoung terhenti.
‘Apalagi ini?’ batin Doyoung.
“Kelilit berapa?”
“Lima puluh juta,” Doyoung mengusap wajahnya kasar.
“Nanti gue minta uang ke appa buat…,” belum sempat Doyoung menyelesaikan kalimatnya, Jeno sudah memotongnya.
“Tidak usah, ini tanggung jawab gue, bukan lo ataupun appa lo,” nada bicara Jeno terdengar sangat kesal, Doyoung bisa merasakannya.
“Tapi…,” panggilan diputus sepihak oleh Jeno. Doyoung yang melihat itu hanya menghela nafas panjang. Sepupunya benar-benar keras kepala.
***
Keesokan harinya. Jeno sudah berada di kampus sejak pagi. Ia tidak ada kelas hari ini, tetapi ia datang ke kampus untuk menjadi asisten dosen. Hari ini adalah hari pertama ia menjadi asisten dosen, dan karena ini pertama kali, pak Bambang ikut masuk ke kelas. Memantau Jeno.
Pak Bambang memperhatikan cara Jeno menerangkan materi di depan kelas dengan saksama. Ada perasaan bangga di mata pak Bambang, melihat mahasiswa yang ia banggakan kini bisa membantu menggantikannya mengajar.
Selesai mengajar, pak Bambang menepuk pundak Jeno secara pelan. Ia tidak salah meminta Jeno untuk menjadi asisten dosennya. Laki-laki pemilik eye smile itu tidak pernah mengecewakan.
Jeno langsung menuju ke caffe milik Doyoung. Ini belum shift nya, tetapi tadi pagi Jaehyun meminta dirinya untuk bertemu di caffe milik Doyoung. Setibanya di caffe itu, Jeno langsung mengedarkan pandangan, ia menemukan laki-laki dengan topi berwarna hitam sedang memainkan gadget nya.
“Eh, Jeno sudah datang,” Jeno mengangguk. Ia menarik kursi di depan Jaehyun lalu mendudukinya.
“Jadi, lo benar mau kerja?” belum sempat Jeno menjawabnya, Doyoung sudah duduk di samping Jaehyun. Sekarang ia merasa seperti diawasi oleh Doyoung.
“Iya, bang. Gue butuh banget pekerjaan itu,” Jaehyun menatap Jeno dan Doyoung secara bergantian.
“Gue ada mini market di dekat rumah gue. Ada sedikit jauh dari rumah lo, tapi jam kerjanya sesuai sama yang lo mau, gimana?” Jeno mengangguk semangat.
“Tapi lo yakin sanggup? Badan lo tidak akan kelelahan? Lo masih kuliah, lalu lo juga kerja di caffe, terus lo jadi asisten dosen…,” belum sempat Jaehyun menyelesaikan kalimatnya, Doyoung sudah memotongnya.
“Lo jadi asisten dosen?” Jeno mengangguk sebagai jawaban.
“Terus kenapa lo masih cari kerja lagi sih?”
“Jadi gimana bang Jaehyun? Gue mulai bisa kerja kapan?” Jeno mengabaikan pertanyaan Doyoung.
“Besok malam lo juga sudah bisa bekerja.”
“Terima kasih, bang,” Jaehyun mengangguk, setelah itu ia pamit pergi.
“Lo belum jawab pertanyaan gue, Jeno,” kalimat dingin dari Doyoung membuat Jeno menghela nafas.
“Lo kan sudah tau alasannya, bang.”
“Lo bisa pinjam uang ke keluarga gue, Jen. Tubuh lo punya batasnya, lo tau itu,” Jeno mengangguk. Ia tau, sungguh. Tetapi ia tidak punya pilihan lain. Ia tau sulitnya kuliah sambil bekerja, dan ia tidak mau Karina atau Jisung merasakan apa yang ia rasakan.
“Gue tidak bisa, bang. Ini tanggung jawab gue, appa gue yang memulainya. Jadi, harus gue sebagai anak yang menyelesaikannya,” Doyoung menghela nafas. Berdebat dengan Jeno tidak pernah membuat Doyoung menang.
***
Sepulang dari caffe, Jeno langsung masuk ke kamarnya. Ia akan tidur lebih cepat, karena besok tenaganya akan jauh lebih terkuras dari sebelumnya. Namun belum sempat Jeno terlelap, pintu kamar sudah terbuka. Terlihat saudara kembarnya masuk secara terburu-buru.
“Maksud lo apa?” Jeno menautkan alis bingung.
“Apa? Kenapa lo masuk ke kamar gue dengan marah-marah,” Karina menatap Jeno sinis.
“Gue ini kembaran lo bukan sih?”
“Lo tidak ngizinin gue kerja, tetapi lo kerja secara gila-gilaan,” Karina benar-benar kesal.
“Gue tidak ngizinin lo kuliah sambil kerja, karena lo Perempuan, Kar. Lo boleh kerja, tapi nanti setelah lo lulus kuliah.”
“Tapi jadi lo yang nanggung semuanya, Jeno,” Karina berteriak secara keras. Membuat eomma dan Jisung menghampiri kamar Jeno tanpa sepengetahuan mereka.
“Lo jadi asisten dosen tanpa sepengetahuan gue, dan sekarang lo nambah kerja di mini market. Lo kan sudah kerja di caffe, Jen. Badan lo punya batas,” Karina meneteskan air mata. Ia merasa seperti saudara kembar tidak berguna.
“Siapa yang bekerja sebanyak itu?” Jeno dan Karina menengok secara bersamaan.