“Nggak usah kak lagian deket kok, aku juga bareng sama Zahwa. Iya kan wa ?” Zahwa hanya mengangguk sebagai jawaban. Jujur dia sedikit kaget dengan perlakuan Rasyid ke Kia. Apa kak Rasyid suka sama Kia ? batin Zahwa bertanya-tanya.
“Kak Ardi..” suara Kia langsung mengagetkan Rasyid yang ada di depannya. Rasyid hanya bisa berusaha sabar, dia berusaha menjadi perhatian malah seperti ini balasannya sakit...sakit.
“Iya Ki, ada apa ?” tanya Ardi menghentikan langkahnya tepat di samping Rasyid.
“Kak kayaknya kita searah, gimana kalau bareng aja ?” ucap Kia membuat Rasyid berdecak kesal.
“Dasar cewek labil, tadi diajak bareng nggak mau. Giliran sama Ardi mau” Ucap Rasyid sambil melangkah pergi karena kesal.
“Eh Ki, Rasyid juga kosnya searah sama kita. Nggak sekalian kita berempat aja ? biar rame-rame jalannya” ucap Ardi. Kia mengangguk dan berjalan beriringan dengan Ardi sedangkan Zahwa beriringan dengan Rasyid.
Sesekali Zahwa melihat Rasyid menengok ke belakang melirik Ardi dan Kia. Jalan masih ramai karena memang jalan kampus tidak pernah sepi dari pengendara ataupun pejalan. Bisa disebut kampus ini seperti kampus yang penuh dengan aktivitas mungkin hingga 24 jam.
“Kak Rasyid suka sama Kia ?” tanya Zahwa dengan nada berbisik. Rasyid yang kaget langsung memandang Zahwa.
“Siapa yang bilang ? kamu sok tau Wa” kata Rasyid sambil mengusap tengkuk karena merasa gugup. Zahwa tersenyum.
“Itu kak Rasyid menang tengkuk, berarti bener dong hihihi” Zahwa cekikikan dengan tingkah Rasyid.
“Gimana ya Wa, kalau bisa milih mending aku suka sama yang lain aja. Tapi kok rasanya susah gitu. Eh malah curhat. Maaf ya Wa” Zahwa tersenyum.
“Kak kalau kakak udah yakin sama perasaan kakak kenapa nggak langsung melamar aja ?”
“Tapi nggak semudah itu wa, aku masih banyak kekurangan. Aku masih takut nggak bisa memenuhi kebutuhan dia. Lagian coba kamu liat, Kia sukanya bukan sama aku”
“Kak menikah kan menyempurnakan separuh agama, kalau soal rezeki Allah sudah menggariskan yang terbaik untuk kita kok”
“Iya aku tau tapi jodoh juga sudah di tentukan bukan, ya udah kalau jodoh juga nggak kemana. Aku yakin kok” ucap Rasyid. Samar-samar Kia mendengar pembicaraan Rasyid tapi Kia hanya mendengar bagian akhirnya saja.
“Hah, jodoh nggak kemana ? emang Zahwa nolak kak Rasyid ? kok bisa ? kenapa ? ah aku tau pasti nih kak Rasyid ngajak pacaran. Iyalah Zahwa nggak mau, apa dia nggak ingat kalau kita nggak boleh mendekati zina. Wah kasian juga ya kak Rasyid ckckck” batin Kia dengan asumsinya dan menatap Rasyid dengan tatapan kasihan.
“Kenapa Ki, kok kamu geleng-geleng ?” tanya Ardi.
“Eh nggak kak, lagi kepikiran tugas aja si hehe” ucap Kia gerogi. Sejak keluar kafe Kia memang berjalan beriingan dengan Ardi tapi dia tak berani mengeluarkan kata-kata apapun, karena jantungnya selalu berdegup tak beraturan dan membuatnya hanya bisa diam.
“Ki itu kos kamu kan ?” tanya Ardi karena melihat Rasyid dan Zahwa lebih dulu sampai disana.
“Eh iya kak, aku langsung ya. Makasih udah anterin aku sama Zahwa. Assalamu’alaikum” Kia berlari ke arah Rasyid dan Zahwa yang sudah ada di depan kosnya.
“Wa’alaikumsalam” jawab Ardi setelah Kia menjauh. ‘Senggak suka itu kamu sama aku sampai-sampai kamu nggak mau mendengar balasan salamku’ batin Ardi menatap Kia nanar.
“Kak Rasyid, Kia boleh bicara sebentar ?” ucap Kia saat Rasyid sudah berpamitan dengan Zahwa. Zahwa yang mendengar perkataan Kia langsung pamit untuk masuk duluan ke kos.
“Kenapa Ki, tumben banget” ucap Rasyid
“Kak sabar ya, makanya kalau suka sama orang itu jangan ngajak pacaran tapi langsung datengin ke orang tuanya” ucap Kia. Rasyid mengernyit tidak mengerti dengan arti perkataan Kia.
“Ck aku tadi denger dikit pembicaraan kalian..” mata Rasyid membola dia mengira Kia mendengar semua pembicaraannya dengan Zahwa.
“Aku denger kalau kak Rasyid di tolak sama Zahwa, emang Zahwa itu anti sama yang namanya pacaran kak. Nggak Cuma Zahwa si tapi semua anak yang ngekos di sini anti sama pacaran. Kak Rasyid pasti tau lah alasannya. Nah saran aku mendingan Kak Rasyid langsung lamar dia aja” jelas Kia yang membuat Rasyid menghembuskan napas lega.
“Kalau dia nggak suka sama aku gimana Ki ?” tanya Rasyid.
“kak namanya perempuan kalau di lamar sama orang yang shaleh, baik agamanya, penyabar, apalagi kayak kak Rasyid pasti mau lah” ucap Kia tanpa beban.
“Jadi menurutmu aku gitu ?” Kia mengangguk.
“Tapi sayang...” Rasyid mengernyitkan dahinya.
“Sayang kenapa ?”
“Sayang nggak peka dan dingin kayak es serut..ups. Oke kak udah malem Kia masuk. Assalamu’alaikum” Saat sadar dia telah mengatai Rasyid. Kia langsung buru-buru masuk ke kosnya.
“Wa’alaikumsalam” Rasyid tersenyum melihat tingkah Kia.
“Dasar... ngatain orang nggak peka dianya juganggak peka” gerutu Rasyid kemudian pergi dari sana.
*****
Kia terbangun setelah mendengar Adzan subuh. Lagi-lagi Kia telat bangun karena semalam dia tidak bisa tidur karena harus bergulat dengan tugas yang diberikan dosen. Dan yang lebih parahnya lagi Kia baru teringat tugas itu harus dikumpulkan sebelum jam 1 malam padahal dia selesai rapat jam setengah 12. Setelah tugaspun Kia tidak bisa tidur karena perutnya keroncongan jadi harus masak mi untuk menggganjal perut. Barulah jam 2 Kia bisa tertidur, alhasil Kia tak mendengar Alarm yang telah dia atur.
“Astagfirullah, maafkan Kia ya Allah. Lagi-lagi Kia telat bangun” ucap Kia bermonolog sambil mata berkaca-kaca. Dia sangat sadar bahwa Minggu-minggu ini dia sangat disibukkan dengan urusan duniawi bahkan melalaikan sunnah-sunnah yang biasa dia jalankan seperti saat ini dia melewatkan sholat tahajud.
Kia berjalan sendiri ke masjid karena teman-temannya sudah berangkat. Kia merenung di sepanjang jalan, merenungi kesalahannya karena bangun telat. Tiba-tiba suara bariton mengagetkannya.
“Kia”
“Kak Ardi ?” ucap Kia.
“Kenapa kok lesu gitu mukanya ?”
“Kia telat bangun lagi kak” ucap Kia tanpa memandang Ardi.
“Ya udah Kak, Kia duluan takut nggak keburu sholat fajarnya” Kia berjalan ke arah masjid.
“Subhanallah, pantaskan aku bersanding denganmu yang bahkan sangat mencintai Allah” gumam Ardi menatap kepergian Kia.
Saat sampai di masjid Kia langsung mengambil wudhu dan melakukan sholat fajar. Dalam Hadist Riwayat Ahmad menyebutkan ‘Diriwayatkan dari Sayyidah Hafshah, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan salat dua rakaat fajar sebelum melakukan salat subuh di rumahku dengan sangat cepat”. Hadist Riwajat Muslim juga meriwatatkan ‘Dua rakaat salat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya’. Hal tersebutlah yang membuat Kia membiasakan diri untuk Sholat fajar. Setelah sholat fajar, Kia terhanyut dalam lantunan sholawat sang muazin sambil menunggu imam sholat datang.
“Subhanallah, suara yang sama yang selalu membuatku hanyut dalam kasih sayang yang Allah berikan kepada Rasulullah. Semoga nanti Allah jodohkan Aku dengan orang yang mampu membimbingku ke surgamu Ya Allah” batin Kia.
***
Setelah sholat subuh semua jama’ah kembali ke rumahnya masih-masing sedangkan Kia masih duduk dan berdzikir. Setelah selesai berdzikir, Kia berdiri berniat untuk pulang tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar pembicaraan seseorang yang suaranya tak asing lagi di telinganya.
“Mas Rasyid, selama lima hari ke depan tolong mas Rasyid jangan hanya jadi muadzin saja tapi jadi imam juga ya ?” tanya Ustad Gandi yang merupakan imam masjid tersebut.
“Maaf pak, tapi bacaan saya masih belum bagus. Masih ada yang lebih baik dari saya” ucap Rasyid. Sedangkan Kia masih setia mendengar pembicaraan mereka di balik kain tabir yang menjadi penyekat.
“Wah mas Rasyid ini merendah, lha wong suaranya buagus gitu kok. Soalnya saya mau ke rumah anak saya di luar kota. Lagian Cuma lima hari saja kok nggak lebih. Mau ya ?” Rasyid tersenyum kemudian menganguk pelan.
“Jadi si suara adem kaya ubin masjid itu suaranya kak Rasyid ?” gumam Kia
“Subhanallah jodoh orang kok sempurna banget si” ucap Kia kemudian melanjutkan langkahnya untuk pulang ke kos.
Assalamu'alaikum.. semoga suka ya. Spam komen yang membangun ya nggak apa-apa saya senang dengan komen-komen readers semua. Sehat-sehat selalu ya, semoga Allah selalu memberkahi kita semua dan Allah melancarkan semua urusan kita. Jangan lupa selalu libatkan Allah dalam setiap kegiatan kita. Bersabar dan berserah kepada Allah InsyaAllah, Allah akan memberikan yang terbaik buat kita. AAMIIN