Kia terdiam memandangi sebungkus nasi yang ada di hadapannya. Kia terbayang kata-kata tajamnya menuduh Rasyid telah mencari kesempatan untuk mengendongnya. Bahkan Kia sempat berfikiran bahwa Rasyid adalah lelaki kurang ajar yang sengaja menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Kemudian pandangan Kia beralih pada jaket yang saat ini ada di pinggiran brankarnya.
“Astagfirullah apa yang udah kamu lakukan Ki ? kamu menuduh orang tanpa tahu kejadian sebenarnya” ucap Kia menatap nanar jaket Rasyid.
Kia tersadar kemudian meraih ponselnya, tampak ada guratan keraguan di wajahnya saat dia ingin mengirimkan kata-kata maaf pada Rasyid. Ketik..hapus..ketik...hapus itu lah yang berkali-kali Kia lakukan.
“Aku pernah dengar ceramahnya Ustad Adi, beliau bilang gini ‘Bergegaslah meminta maaf, jangan menunda kalau memang kamu punya kesalahan. Jangan menunggu waktu khawatirnya kalau orang yang kamu dzolimi meninggal sebelum kamu minta maaf’ gitu Ki” ucap Ana tiba-tiba datang dan langsung mencuri pandang ke arah ponsel Kia tanpa dia sadari. Kia kemudian bergegas menutup ponselnya. Padahal ya percuma saja toh Ana sudah tau kalau Kia berniat minta maaf lewat pesan.
“Siapa yang mau minta maaf. Orang aku mau main game” ucap Kia.
“Main game ? hahaha Kia...Kia ketahuan bangen boongnya. Inget nggak kamu selalu bilang gini ‘manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin dan seefektif mungkin. Melakukan hal-hal yang berguna jangan melakukan yang unfaedah seperti main game’ hahaha. Aku tau Kamu Ki, kamu nggak mungkin main game. Kamu bohong kan ?” Ana memicingkan matanya melihat raut wajah Kia secara intens.
Kia menghela napas panjang dan mengangguk lemah.
“Aku ngerasa bersalah An sama Kak Rasyid dia punya niat yang baik eh malah aku tuduh sembarangan”
“lah iya makanya cepet atuh minta maafnya nggak usah nunggu lama-lama”. Kia masih terdiam dan tampak memegang ponselnya dengan hati yang ragu. Ana yang melihat Kia merasa gemas dan akhirnya langsung mengambil paksa ponsel Kia.
“An mau diapain ?”
“sssttt.. udah biar aku aja yang ngirim kamu kelamaan” dengan cepat Ana mengetikan pesan dengan menggunakan ponsel Kia.
“Udah kirim... selesai deh” Ana mengembalikan lagi ponsel Kia tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Dengan cepat Kia melihat isi pesan yang dikirimkan oleh Ana.
“An mana pesan yang kamu kirim, kok nggak ada ?” tanya Kia matanya masih fokus melihat pesan yang ada di ponselnya.
“Ya langsung aku hapus lah. Aku tau akal-akalan kamu pasti kamu mau menarik pesan itu kan ? aku udah tau akal bulusmu makanya langsung aku hapus pesannya hahaha”
“Kamu kirim pesan apa ke Kak Rasyid ?” tanya Kia penuh selidik. Karena Kia sangat tau watak jahil Ana yang tak pernah berubah sedikitpun.
“Udah lah yang penting kamu udah minta maaf kan. Udah nih makan dari A’a Rasyid hahaha” ucap Ana kemudian menyodorkan sebungkus nasi pada Kia.
Di tempat lain Rasyid masih menatap pintu dosen yang tak kunjung terbuka. Bukan karena pak Yoga tidak ada di ruangan tapi ternyata pak Yoga sedang ada jadwal membimbing mahasiswa. Sebenarnya Pak Yoga menyuruh Rasyid untuk langsung datang ke ruangannya setelah mengajar, tapi karena insiden Kia pingsan jadilah Rasyid telat dan berakhir menunggu mahasiswa tingkat akhir selesai bimbingan.
Getaran ponsel di sakunya membuat Rasyid terusik dari lamunannya. Saat Rasyid melihat layar, ternyata pesan itu adalah pesan dari Kia. Batinnya bertanya-tanya setelah menuduhnya tadi apa Kia juga akan memakinya lewat pesan. Segera Rasyid membuka pesan tersebut, Mata Rasyid terbelalak melihat deretan pesan yang dikirim Kia barusan. Rasyid terdiam dan terus mengulang pesan yang dikirim oleh Kia seolah tak percaya bahwa pesan itu dari Kia. Padahal kan emang dari Kia ya meskipun orang lain yang ngetik iya kan.
“Astagirullah” ucap Rasyid kaget ketika bahunya di tepuk oleh kakak tingkat yang tadi sedang bimbingan dengan pak Yoga. Ternyata pak Yoga sudah selesai membimbing mahasiswanya. Rasyid membuang sejenak pikirannya tentang pesan Kia dan memfokuskan diri untuk menyerahkan laporan persiapan acara mereka yang telah disepakati tadi malam.
Setelah selesai melaporkan persiapan, Rasyid berterimakasih dan keluar dari ruangan tersebut. Setelah mendapat arahan dari pak Yoga, Rasyid kembali mengintruksikan lewat grup watsap bahwa akan diadakan rapat lagi untuk pemantapan persiapan acara mereka.
Rasyid: Assalamu’alaikum teman-teman. Setelah tadi melaporkan hasil Rapat ke pak Yoga akan ada rapat kembali untuk persiapan acara. Untuk itu, saya harap kehadiran teman-teman di tempat yang sama dan untuk waktunya kita ajukan menjadi setelah dhuhur ya. Yang nggak bisa karena ada mata kuliah bisa menyusul setelah kuliah selesai karena diperkirakan rapat akan berjalan hingga sore sekitar jam 5. Khusus yang masih dalam keadaan sakit diperbolehkan untuk izin.
Dika: Wa’alaikumsalam. Siap ketupat. Btw jangan bilang yang sakit boleh izin pak ketupat, nanti pada izin semua kan repot.
Rasyid: ya udah khusus untuk @Kia nggak usah ikut rapat nggak apa-apa
Zahwa: Wa’alaikumsalam pak ketupat. Eh kok Kia si ? emang Kia sakit kak ?
Dika: Wah kenapa khususon buat ni @Kia anak ? wah jangan-jangan jangan-jangan nih
Rasyid: @Zahwa iya wa, tadi pingsan di depan tangga sekarang di ruang kesehatan
Zahwa: Innalillahi, tapi kok Kak Rasyid tau si ?
Dika: Astagfirullah My bebeb kok sakit. Cuss meluncur ke ruang kesehatan
Rasyid terdiam menatap deretan pesan yang terpampang dalam ponselnya. Dia merutiki dirinya karena kelepasan bilang kalau Kia sakit. Hancur sudah imagenya sebagai pria dingin yang perfectionis. Rasyid memasukkan ponselnya tanpa berniat membalas pesan dari Zahwa.
***
Ditempat lain, setelah mendapat kabar dari Rasyid, Dika langsung meluncur ke Ruang kesehatan bersama dengan Riko dan Zahwa.
“Assalamu’alaikum” ucap Riko, Dika dan Zahwa ketika memasuki ruang kesehatan.
“Wa’alaikumsalam” ucap Ana dan Kia.
“Astagfirullah My Honey kenapa kamu sayang ?” ucap Riko yang langsung mendapat tatapan sinis dari Kia. Sedangkan temannya yang lain mengekspresikan wajah jijik seperti orang yang muntah.
“Kamu ya Rik, aku lagi sakit jangan bikin aku tambah sakit deh” ucap Kia jengkel.
“Oke-oke maaf. Tapi beneran deh aku tanya kok bisa kamu pingsan di depan tangga emang kenapa ?” tanya Riko.
“Kok kalian tau si ?”
“Itu tadi Kak Rasyid bilang di grup kalau khusus buat Kia nggak usah masuk rapat karena sakit” Ucap Dika.
“Wah Rasyid bilang kaya gitu ?” tanya Riko memastikan, dan dijawab anggukan oleh Dika dan Zahwa.
“Kerenkan perhatian bener. Eh tapi kok bisa si Kak Rasyid tau kalau kamu sakit Ki ? Oh jadi gitu yang kamu kasih tau duluan kak Rasyid bukan sahabat kamu ?” ucap Zahwa dengan nada pura-pura kesal.
“Eh nggak gitu aku..”
“Kia tadi ditolongin sama Kak Rasyid, ini sampai dibawain makanan juga karena asam lambungnya Kia naik” Semua teman Kia ber ‘Oh’ria dan memberikan tatap jahil mereka.
“Keknya bentar lagi ada yang ketemu jodoh nih” celetuk Zahwa
“Ya Allah, ternyata Kia benar-benar bukan jodohku ya” ucap Riko dengan muka memelas.
“Alhamdulillah akhirnya Kia ada yang naksir” ucap Dika yang membuat seisi ruangan tertawa.
Tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang tengah mematung mendengarkan pembicaraan mereka.
Kia yang kesal dengan ejekan temannnya memilih menenggelam wajahnya dalam selumut.
Orang yang tadi mematung di depan pintu kemudian memilih untuk pergi tanpa sempat melihat keadaan Kia. Kia yang membuatnya khawatir saat melihat pesan tersebut.
“Kak Ar..” panggilan tersebut menghentikan langkah kaki lelaki yang semula ingin pergi meniggalkan ruangan tersebut. Ya dia adalah Ardi.
“Kenapa nggak masuk Kak ?” tanya Jannah yang baru saja datang. Ardi hanya tersenyum kecut.
“Ya udah bareng Jannah aja yuk” Ardi menangguk dan akhirnya mereka menjenguk Kia.
Ruang kesehatan yang tadinya riuh, tiba-tiba senyap ketika terdengar suara salam dari Ardi dan Jannah. Kia langsung keluar dari selimut ketika mendengar suara yang menurutnya sangat amat lembut.
“Wah, ada Kak Ardi sama Jannah, kok bisa barengan gitu si ?” tanya Dika dengan ekspresi yang cukup aneh.
“Iya tadi ketemu di depan” ucap Jannah. “Ki gimana ? udah baikan ?” tanya Jannah. Kia hanya mengangguk dengan wajah mendung. Entah mengapa melihat Jannah berjalan bersama dengan Ardi membuat hatinya teriris.
“Mungkin memang kamu bukan jodohku” batin Kia menatap Ardi yang masih berdiri dan tampak berbicara dengan Riko.
“Ki malah ngelamun lagi” ucap Jannah karena pertanyaannya tak kunjung dijawab.
“Masih sakit Jan, sakit yang nggak berdarah dan nggak terlihat. Perih” ucapnya menatap langit-langit ruang rawat.