Asrama trainee perempuan berada di lantai tiga. Kamar Tasya berisi empat ranjang susun—delapan orang berbagi ruang sempit yang dindingnya ditempeli poster idol-idol Bintang Sembilan yang sudah debut, senyum mereka memancar dari kertas mengkilap.
"Anak baru?"
Suara itu datang dari ranjang pojok. Seorang gadis bertubuh tinggi, kulit putih, dengan tatapan yang menilai dari ujung rambut sampai ujung sepatu Tasya.
"Iya. Tasya."
"Kirana." Gadis itu tidak menyodorkan tangan. "Saran dariku—jangan terlalu ramah. Di sini bukan tempat cari teman." Ia kembali menatap ponselnya. "Kita semua di sini saingan. Cuma sedikit yang debut. Sisanya—" Ia membuat gerakan memotong di lehernya.
Tasya meletakkan kopernya pelan. Sebelum ia sempat menjawab, gadis lain melompat turun dari ranjang atas. Wajahnya bulat, ramah, dengan lesung pipi yang dalam.
"Jangan dengerin Kirana. Dia galak di luar, lembek di dalam." Gadis itu nyengir. "Aku Mei. Sudah training dua tahun. Kalau ada yang nggak ngerti, tanya aku."
"Dua tahun?" Tasya terkejut.
Senyum Mei sedikit memudar. "Iya. Dua tahun. Hampir debut dua kali, gagal dua kali." Lalu senyumnya kembali, tapi ada sesuatu yang rapuh di baliknya. "Tahun ini pasti. Aku yakin."
Malam pertama, Tasya membaca kontraknya di bawah selimut, dengan cahaya ponsel. Ia mencari pasal sebelas seperti pesan Reza.
*PASAL 11 — KETENTUAN PERILAKU TRAINEE*
*11.1 — Trainee dilarang menjalin hubungan asmara dengan sesama trainee, staf, atau pihak mana pun selama masa pelatihan.*
*11.2 — Pelanggaran terhadap pasal ini dapat mengakibatkan pemutusan kontrak secara sepihak tanpa pemberitahuan.*
*11.3 — Trainee dilarang memiliki ponsel pribadi tanpa izin di luar jam yang ditentukan.*
Tasya membaca ulang pasal 11.1. *Dilarang jatuh cinta.* Ia hampir tertawa. Memangnya siapa yang punya waktu untuk jatuh cinta di tempat seperti ini? Ia datang untuk bekerja, untuk menyelamatkan keluarganya. Cinta adalah hal terakhir di pikirannya.
Ia tidak tahu betapa kelirunya pikiran itu.
Latihan dimulai pukul lima pagi.
Hari pertama hampir membunuhnya. Pemanasan dua jam. Latihan vokal tiga jam. Latihan tari empat jam. Lalu evaluasi, di mana setiap trainee harus menampilkan kemajuannya di depan Reza dan pelatih lain, dinilai di depan semua orang.
Tasya, yang tidak pernah menari seumur hidupnya, tertinggal jauh. Tubuhnya kaku, gerakannya patah-patah. Ketika gilirannya tampil, ia salah langkah, jatuh, dan seluruh ruangan terdiam.
"Bangun," kata Reza datar. "Lagi."
Ia bangun. Mengulang. Jatuh lagi.
"Lagi."
Sampai sepuluh kali. Sampai lututnya lecet dan air matanya bercampur keringat. Sampai akhirnya, di percobaan kesebelas, ia menyelesaikan gerakan itu—kaku, jelek, tapi selesai.
Reza tidak memuji. Ia hanya mengangguk, lalu beralih ke trainee berikutnya. Tapi malam itu, saat Tasya berbaring di ranjangnya dengan tubuh remuk, Mei menyelinap ke sampingnya membawa kompres dingin untuk lututnya.
"Hari pertama selalu paling berat," bisik Mei. "Besok masih berat. Tapi tubuhmu akan belajar."
"Kenapa kamu baik ke aku?" tanya Tasya lirih. "Katanya kita saingan."
Mei terdiam sebentar. "Karena dulu ada yang baik ke aku di hari pertamaku. Dan dia sudah debut sekarang." Ia tersenyum sedih. "Lagian, saingan bukan berarti musuh, Tas. Kita semua tenggelam di kapal yang sama. Cuma kalau perahunya cukup besar buat semua orang."
Hari-hari berikutnya menyatu jadi kabut kelelahan. Bangun sebelum fajar. Tidur lewat tengah malam. Makan secepat mungkin. Latihan, latihan, latihan. Tasya kehilangan tiga kilogram dalam dua minggu. Suaranya serak. Kakinya selalu nyeri.
Tapi ia juga membaik. Gerakannya mulai mengalir. Suaranya, yang sejak awal jadi kekuatannya, makin terkontrol. Reza mulai memanggilnya untuk memimpin bagian vokal saat latihan kelompok—sesuatu yang membuat Kirana menatapnya dengan dingin.
Lalu, di minggu ketiga, terjadi sesuatu.
Agensi mengadakan latihan gabungan. Trainee perempuan dan laki-laki, yang selama ini dipisah, akan berlatih koreografi bersama untuk sebuah pertunjukan evaluasi besar.
Tasya berdiri di barisan, masih mengatur napas setelah pemanasan, ketika pintu studio terbuka dan rombongan trainee laki-laki masuk.
Dan di antara mereka, ada satu wajah yang membuat Tasya lupa caranya bernapas.