Tasya tidak tahu namanya. Belum.
Tapi ia tahu—dari cara lelaki itu berjalan masuk, dari cara matanya menyapu ruangan dengan tenang, dari cara ia menunduk sopan pada Reza—bahwa lelaki itu berbeda dari yang lain.
Tubuhnya tinggi, ramping tapi kuat. Rambutnya hitam acak-acakan, seakan ia baru saja menyibakkannya dengan tangan. Dan ketika matanya tak sengaja bertemu mata Tasya, ia memberi anggukan kecil—sekadar sopan santun—lalu berpaling.
Tapi anggukan kecil itu cukup membuat jantung Tasya tersentak aneh.
"Itu Bagas," bisik Mei di sampingnya, mengikuti arah pandangan Tasya. "Hati-hati, banyak yang naksir dia. Tapi dia... dingin. Nggak pernah dekat sama siapa-siapa."
"Aku nggak naksir," kata Tasya cepat. Terlalu cepat.
Mei terkikik. "Aku belum bilang kamu naksir."
Reza menepuk tangan, dan studio langsung hening. "Hari ini kita gabung. Koreografi untuk evaluasi bulanan. Penampilan terbaik akan ditampilkan di showcase agensi—di depan para direktur. Kalau direktur tertarik, kalian bisa masuk kandidat debut." Ia menatap berkeliling. "Jadi jangan main-main."
Showcase di depan direktur. Tasya menegakkan tubuh. Itu adalah jalan menuju debut. Menuju uang. Menuju lunasnya utang keluarganya.
Reza membagi mereka berpasangan untuk bagian duet. Dan entah karena nasib atau kekejaman semesta, ia menunjuk:
"Tasya. Bagas. Kalian berdua bagian tengah."
Tasya merasa darahnya membeku. Ia melihat Bagas mengangkat alis, sama-sama terkejut, sebelum lelaki itu mengangguk pasrah.
Bagian tengah adalah bagian tersulit—duet yang menuntut sinkronisasi sempurna, sentuhan, kontak mata. Koreografi yang dirancang untuk membuat dua orang terlihat seperti satu.
Latihan pertama mereka adalah bencana.
Tasya terlalu kaku. Setiap kali tangan Bagas harus menyentuh pinggangnya untuk gerakan angkat, ia menegang, dan timing-nya kacau.
"Rileks," kata Bagas pelan, suaranya rendah dan tenang. "Aku nggak bakal jatuhin kamu."
"Aku nggak takut jatuh," sahut Tasya, meski itu bohong.
"Bukan jatuh fisik." Bagas menatapnya. "Kamu nggak percaya sama partnermu. Itu kelihatan. Penonton bisa lihat itu."
Tasya tersinggung, tapi tahu lelaki itu benar. Ia menarik napas, dan saat musik diputar lagi, ia memaksa dirinya untuk percaya. Saat tangan Bagas menyentuh pinggangnya, ia tidak menegang. Saat ia harus bersandar ke dadanya untuk gerakan akhir, ia membiarkannya.
Dan untuk pertama kalinya, gerakan itu mengalir.
Reza, yang mengawasi dari sudut, mengangguk samar. "Lagi. Dari atas."
Mereka mengulang puluhan kali sampai tengah malam. Sampai kaki Tasya kembali lecet, sampai keringat membasahi kaus mereka berdua. Tapi setiap pengulangan, mereka makin selaras. Makin nyaman.
Saat akhirnya Reza membubarkan latihan, Tasya nyaris ambruk di lantai studio. Bagas mengulurkan tangan, membantunya berdiri.
"Tanganmu," kata Bagas, menatap telapak tangan Tasya yang melepuh dari menahan tubuh saat latihan angkat.
"Nggak apa-apa."
"Bukan nggak apa-apa." Bagas mengeluarkan plester dari tasnya—ternyata ia selalu membawa kotak P3K kecil. Tanpa banyak bicara, ia menempelkan plester ke luka Tasya. Jari-jarinya hati-hati, telaten.
"Kenapa kamu bawa plester ke mana-mana?" tanya Tasya.
Bagas tersenyum tipis—senyum pertama yang Tasya lihat darinya. "Karena di sini, semua orang terluka. Cuma nggak semua orang ada yang nempelin plester."
Sesuatu di dada Tasya berdesir. Ia menarik tangannya cepat-cepat. "Makasih."
"Sama-sama, partner." Bagas mengangkat tasnya. "Istirahat. Besok kita ulang lagi." Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti. "Tasya."
"Hm?"
"Suaramu—pas latihan tadi. Itu bagus. Beneran bagus." Ia tidak menunggu jawaban, langsung pergi.
Tasya berdiri di studio kosong itu, menatap plester di tangannya, jantungnya berdetak dengan ritme yang asing.
Di kamar, ia mencoba mengingat pasal sebelas. *Dilarang jatuh cinta.* Ia menggeleng pada dirinya sendiri. Ini bukan jatuh cinta. Ini cuma... rasa terima kasih. Kekaguman pada partner yang kompeten. Tidak lebih.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak masuk asrama, Tasya tidur tanpa memikirkan utang keluarganya.
Ia memikirkan senyum tipis Bagas, dan kalimat: *Suaramu itu bagus. Beneran bagus.*
Dan itu, ia kemudian sadari, jauh lebih berbahaya daripada lecet di tangannya.