Tiga minggu berlalu seperti badai.
Tasya dan Bagas berlatih setiap hari untuk showcase. Pada awalnya semata profesional—mereka partner, dan partner yang baik berlatih keras. Tapi pelan-pelan, ada hal lain yang tumbuh di sela-sela pengulangan koreografi dan air minum yang dibagi karena hanya tersisa satu botol.
Mereka mulai mengobrol. Saat istirahat, di lorong, di tangga darurat tempat mereka bersembunyi dari kamera pengawas.
Tasya tahu Bagas berasal dari kota kecil di Jawa Tengah. Bahwa ia anak tunggal, bahwa ibunya menjual sawah untuk membiayai kepindahannya ke kota saat ia lolos audisi. Bahwa ia sudah training tiga tahun, dua kali nyaris debut, dua kali gagal di detik terakhir.
"Kenapa kamu masih bertahan?" tanya Tasya suatu malam, di tangga darurat, dengan lampu remang dan suara mesin pendingin udara yang berdengung.
Bagas memandang ke kejauhan. "Karena kalau aku pulang, aku nggak tahu mau jadi apa. Sawah udah dijual. Aku udah ketinggalan sekolah tiga tahun." Ia tersenyum getir. "Di sini, setidaknya aku masih punya mimpi. Di rumah, cuma ada penyesalan."
Tasya mengerti. Lebih dari yang Bagas tahu. Ia menceritakan tentang utang keluarganya. Tentang warung yang bangkrut. Tentang rentenir yang menggedor pintu. Ia tidak pernah menceritakan ini ke siapa pun—bahkan tidak ke Mei. Tapi entah kenapa, pada Bagas, kata-kata itu mengalir keluar dengan mudah.
"Jadi kita sama," kata Bagas pelan saat Tasya selesai. "Kita berdua nggak punya jaring pengaman. Harus berhasil, atau jatuh bebas."
"Iya," bisik Tasya. "Kita sama."
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Lampu darurat yang remang membuat wajah Bagas terlihat lembut. Tasya sadar mereka duduk terlalu dekat, bahu hampir bersentuhan. Ia sadar jantungnya berdetak terlalu keras.
Ia juga sadar—dengan rasa takut yang dingin—bahwa ia tidak ingin beranjak.
"Bagas," kata Tasya pelan. "Pasal sebelas."
Bagas menegang sedikit. "Aku tahu."
"Kita nggak boleh—" Tasya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Aku tahu, Tas." Bagas menjauhkan diri sedikit, dan dingin udara langsung mengisi celah di antara mereka. "Dengar. Aku udah tiga tahun di sini. Aku lihat banyak orang dikeluarkan gara-gara pasal itu. Trainee yang udah hampir debut, hilang dalam semalam karena ketahuan pacaran." Ia menatap Tasya serius. "Kita nggak boleh ngambil risiko itu. Kamu butuh debut buat keluargamu. Aku butuh debut buat... apa pun yang tersisa dari hidupku."
"Kamu benar," kata Tasya, meski hatinya terasa diremas.
"Jadi kita partner. Cuma partner." Bagas berdiri. "Demi mimpi kita berdua."
"Cuma partner," ulang Tasya.
Tapi saat Bagas mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, dan jari-jari mereka bertaut sedetik lebih lama dari yang seharusnya, keduanya tahu mereka sedang berbohong.
Sementara itu, masalah lain mengintai.
Kirana, teman sekamar Tasya yang dingin, mulai memperhatikan. Ia melihat Tasya pulang larut. Ia melihat cara Tasya dan Bagas saling pandang saat latihan gabungan. Dan Kirana, yang ambisinya tak kenal ampun, menyimpan informasi itu seperti pisau yang ditajamkan diam-diam.
"Kamu deket banget sama Bagas," kata Kirana suatu malam, datar, saat mereka berdua sendirian di kamar mandi asrama.
Tasya membeku di depan wastafel. "Kita partner showcase. Wajar."
"Hmm." Kirana mencuci tangannya tanpa terburu-buru. "Aku cuma kasih saran. Banyak mata di tempat ini. Banyak mulut juga." Ia menatap Tasya lewat cermin. "Akan sayang sekali kalau suara bagus kayak kamu harus pulang gara-gara hal sepele."
Lalu ia pergi, meninggalkan Tasya dengan jantung yang berdebar karena alasan yang sama sekali berbeda dari debar saat bersama Bagas.
Malam itu, Tasya menatap langit-langit kamar, mendengar napas teratur tujuh trainee lain di sekelilingnya. Ia memikirkan utang keluarganya. Ia memikirkan ibunya yang melipat cucian tetangga. Ia memikirkan showcase yang tinggal lima hari lagi.
Dan ia memikirkan Bagas. Senyum tipisnya. Suaranya yang tenang. Cara ia menempelkan plester ke luka Tasya seakan luka itu penting.
*Cuma partner*, ia mengingatkan dirinya. *Harus cuma partner.*
Tapi hati, ia mulai paham, tidak membaca kontrak. Hati tidak peduli pada pasal sebelas.
Dan lima hari lagi, di showcase di depan para direktur, Tasya harus menari dengan Bagas seakan tidak ada apa-apa di antara mereka—sambil seluruh dunia menonton.