Hari showcase tiba dengan kegugupan yang nyaris bisa diraba.
Aula besar agensi dipenuhi kursi. Di barisan depan, para direktur duduk—orang-orang berjas yang memegang nasib ratusan trainee di ujung jari mereka. Di antara mereka ada Pak Hartono, direktur utama, lelaki tua dengan tatapan yang tidak pernah memuji.
Backstage, kekacauan terkendali berlangsung. Trainee berlarian, penata rias bekerja kilat, pelatih meneriakkan instruksi terakhir.
Tasya berdiri di sudut, mengatur napas, mengenakan kostum panggung pertamanya—sederhana tapi elegan. Tangannya dingin.
"Gugup?" Bagas muncul di sampingnya, sudah berkostum.
"Banget," aku Tasya.
"Bagus. Berarti kamu peduli." Bagas tersenyum. "Inget aja—saat musik mulai, dunia lain hilang. Cuma ada panggung dan partnermu. Itu aja."
"Cuma panggung dan partner," ulang Tasya.
"Tas." Bagas menatapnya. "Apa pun yang terjadi di sana—aku nggak akan jatuhin kamu. Janji."
Sebelum Tasya bisa menjawab, namanya dipanggil. Giliran mereka.
Mereka melangkah ke panggung. Lampu sorot menyala, menyilaukan, menghapus wajah-wajah penonton menjadi siluet. Tasya merasakan jantungnya di tenggorokan.
Lalu musik mulai.
Dan terjadilah keajaiban itu—yang Bagas janjikan. Dunia lain hilang. Tidak ada direktur. Tidak ada utang. Tidak ada pasal sebelas. Hanya ada panggung, musik, dan Bagas.
Suara Tasya mengalun, jernih dan penuh emosi, mengisi aula sampai ke sudut terjauh. Tubuhnya bergerak mengikuti Bagas, dan untuk pertama kalinya, koreografi yang mereka latih ratusan kali itu terasa bukan seperti gerakan yang dihafal—melainkan percakapan. Tubuh mereka berbicara satu sama lain.
Pada bagian angkat, Bagas mengangkatnya tinggi, dan Tasya merentangkan tangan seakan terbang. Pada bagian akhir, ia bersandar ke dada Bagas, napas keduanya memburu, dan musik berhenti pada saat yang sempurna.
Hening.
Lalu tepuk tangan meledak.
Tasya mengangkat kepala, dan melihat beberapa direktur—termasuk Pak Hartono—mengangguk pelan. Tepukan untuk evaluasi biasanya sopan dan dingin. Tapi tepukan ini berbeda. Tepukan ini tulus.
Backstage, begitu mereka turun panggung, adrenalin membuat mereka berdua tertawa—tawa lega, tawa kemenangan. Tanpa berpikir, Tasya memeluk Bagas.
Dan Bagas, sesaat, balas memeluknya.
Lalu mereka berdua sadar. Mereka melepaskan diri secepat tersengat listrik, menjauh, menengok sekeliling dengan panik.
Tidak ada yang melihat. Setidaknya, itu yang mereka kira.
Karena di sudut backstage yang temaram, Kirana berdiri dengan ponsel di tangan, dan layar ponselnya menyala dengan sebuah foto—Tasya dan Bagas, berpelukan.
Tapi Tasya belum tahu itu. Saat itu, ia hanya merasa melayang.
Reza menghampiri mereka, wajahnya seperti biasa, datar dan sulit dibaca. "Tasya. Bagas. Ikut aku."
Jantung Tasya turun ke perut. Apa mereka ketahuan? Apa pelukan tadi terekam kamera?
Reza membawa mereka ke ruang kecil di belakang. Di dalam, sudah ada Pak Hartono.
Tasya nyaris pingsan. Direktur utama. Untuk mereka berdua. Ini pasti soal pelanggaran. Ini pasti—
"Penampilan kalian," kata Pak Hartono, suaranya berat, "adalah yang terbaik malam ini."
Tasya mengerjap. "Maaf, Pak?"
"Telingaku tua, tapi belum rusak." Pak Hartono nyaris tersenyum. "Suara gadis ini—" ia menunjuk Tasya, "—dan kehadiran panggung anak ini—" ia menunjuk Bagas, "—itu kombinasi langka. Penonton merasakannya. Aku merasakannya."
Reza melanjutkan. "Direktur ingin mempertimbangkan kalian berdua untuk proyek debut. Sebuah grup campuran—co-ed. Konsep baru agensi. Belum pernah ada di Bintang Sembilan."
Tasya hampir tidak percaya pada telinganya. Debut. Mereka membicarakan debut. Jalan menuju lunasnya utang keluarganya, terbentang tepat di depan mata.
"Tapi," Pak Hartono mengangkat satu jari, "ini masih pertimbangan. Akan ada tahap seleksi lagi. Dan kalian berdua—" ia menatap mereka bergantian, lama, seakan tahu sesuatu, "—harus tetap profesional. Sepenuhnya. Kalian paham maksudku?"
Tasya menelan ludah. "Paham, Pak."
"Bagus." Pak Hartono berdiri. "Jangan kecewakan aku."
Saat mereka keluar dari ruangan, Tasya dan Bagas tidak berani saling pandang. Mimpi mereka—debut—kini begitu dekat. Tapi syaratnya jelas: mereka harus mengubur apa pun yang tumbuh di antara mereka.
"Kita bisa," bisik Bagas saat mereka berjalan di lorong. "Demi debut. Demi keluargamu. Kita bisa, Tas."
Tasya mengangguk. Tapi di kejauhan, di ujung lorong, Kirana menatap mereka dengan senyum tipis yang membuat bulu kuduk Tasya meremang.
Dan di saku Kirana, ponsel itu menyimpan foto yang bisa menghancurkan segalanya.