Berita tentang proyek grup co-ed menyebar di asrama seperti api.
Tujuh trainee yang diseleksi untuk debut—termasuk Tasya dan Bagas. Termasuk Mei, yang ketika namanya disebut, menangis terisak di pelukan Tasya. "Ketiga kalinya," bisiknya. "Tahun ini... mungkin tahun ini beneran, Tas."
Tapi nama Kirana tidak ada dalam daftar.
Tasya melihatnya di mata Kirana—kemarahan dingin yang membeku jadi sesuatu yang lebih berbahaya. Kirana sudah training tiga tahun. Ambisinya menggebu. Dan ia melihat Tasya, anak baru yang baru tiga bulan, melenggang ke kandidat debut sementara ia ditinggalkan.
Malam itu, Kirana menghampiri Tasya di lorong, sendirian.
"Selamat ya," kata Kirana, nadanya manis tapi matanya tajam. "Cepat sekali kariermu menanjak."
"Makasih," kata Tasya hati-hati.
"Aku penasaran." Kirana memiringkan kepala. "Apa itu karena suaramu? Atau karena partnermu?" Ia mengeluarkan ponsel, dan membalik layarnya ke arah Tasya.
Foto itu. Tasya dan Bagas berpelukan di backstage.
Darah Tasya membeku. "Itu—itu cuma selebrasi. Kita baru selesai tampil—"
"Aku tahu apa yang aku lihat." Kirana menyimpan ponselnya. "Aku punya lebih banyak. Kalian di tangga darurat. Kalian di lorong. Aku punya banyak waktu luang, Tasya, karena aku nggak masuk daftar debut. Jadi aku bisa memperhatikan."
Tasya merasa dunianya runtuh. "Apa maumu?"
Kirana tersenyum. "Mauku? Aku cuma mau adil. Aku layak debut lebih dari kamu. Aku sudah berkorban tiga tahun." Ia mendekat. "Jadi begini. Kamu mundur dari proyek debut. Bilang ke Reza kamu nggak sanggup, atau apa pun. Lalu aku menggantikanmu. Dan foto-foto ini tetap jadi rahasia kita."
"Itu—itu gila. Kamu nggak bisa—"
"Atau," Kirana memotong, "aku kasih foto-foto ini ke manajemen. Pasal sebelas, Tasya. Kamu tahu konsekuensinya. Kamu dikeluarkan. Bagas dikeluarkan. Mimpi kalian berdua hancur dalam semalam." Ia melangkah mundur. "Pikirkan baik-baik. Kamu punya waktu sampai besok malam."
Kirana pergi, dan Tasya merosot ke dinding lorong, gemetar.
Mundur dari debut berarti membuang satu-satunya jalan menyelamatkan keluarganya. Tapi bertahan berarti mempertaruhkan tidak hanya dirinya, tapi juga Bagas. Bagas yang sudah tiga tahun berjuang. Bagas yang sudah menjual sawah keluarganya untuk mimpi ini.
Ia tidak bisa menghancurkan Bagas.
Tapi ia juga tidak bisa pulang dengan tangan kosong ke ibunya.
Malam itu, ia menemui Bagas diam-diam di tangga darurat—tempat yang sekarang terasa berbahaya, tapi satu-satunya tempat mereka bisa bicara.
"Kirana punya foto kita," kata Tasya tanpa basa-basi. "Banyak. Dia mau aku mundur dari debut, atau dia sebar ke manajemen."
Wajah Bagas memucat. "Foto apa?"
"Pelukan di backstage. Mungkin lebih." Tasya menutup wajahnya. "Bagas, aku nggak tahu harus gimana. Kalau aku mundur, aku kehilangan satu-satunya cara bantu keluargaku. Tapi kalau aku nggak mundur, kamu juga ikut hancur."
Bagas terdiam lama. Lalu ia memegang bahu Tasya, lembut. "Dengar aku. Kamu nggak akan mundur."
"Tapi—"
"Tasya." Suaranya tegas. "Kamu kerja terlalu keras untuk sampai sini. Keluargamu butuh kamu berhasil. Aku nggak akan biarkan Kirana mengambil itu darimu."
"Lalu gimana? Foto-foto itu—"
"Kita selesaikan dengan cara lain." Mata Bagas menyala dengan tekad. "Aku punya ide. Tapi kamu harus percaya sama aku. Bisa?"
Tasya menatap matanya. Mata yang sudah ia percayai di atas panggung, yang menahan tubuhnya saat gerakan angkat, yang tidak pernah menjatuhkannya.
"Aku percaya," bisiknya.
Tapi sebelum Bagas bisa menjelaskan rencananya, pintu tangga darurat terbuka dengan keras.
Dan Reza berdiri di sana, wajahnya gelap, ponsel di tangannya menampilkan foto yang sama dengan yang dipegang Kirana.
"Jadi," kata Reza, suaranya dingin seperti es, "ini yang kalian lakukan di belakangku."