Hening yang mengikuti terasa seperti kiamat.
Tasya tidak bisa bicara. Bagas berdiri di depannya, setengah melindungi, meski tidak ada yang bisa melindungi mereka dari ini.
"Pak Reza," Bagas akhirnya bersuara, "ini bukan salah Tasya. Kalau ada yang harus dihukum—"
"Diam." Reza melangkah masuk, membiarkan pintu menutup di belakangnya. Ia menatap mereka berdua bergantian, lama. "Kalian tahu apa yang terjadi kalau foto ini sampai ke Pak Hartono? Kalian berdua keluar. Hari ini juga. Tiga tahun kerja kerasmu, Bagas—lenyap. Mimpi keluargamu, Tasya—lenyap."
"Kami tahu, Pak," bisik Tasya. "Maaf."
Reza menatap foto di ponselnya, lalu menatap mereka. Lalu—di luar dugaan—ia menghela napas panjang, dan duduk di anak tangga, seakan tiba-tiba lelah.
"Kirana yang kasih ini ke aku," kata Reza pelan. "Dia kira aku akan langsung lapor ke manajemen. Dia mau kalian dikeluarkan."
Tasya dan Bagas saling pandang, bingung.
"Pak... kenapa Bapak belum lapor?" tanya Tasya hati-hati.
Reza menatap kosong ke dinding. "Karena dua belas tahun lalu, aku juga trainee di sini." Suaranya berubah, lebih lirih, lebih manusiawi daripada yang pernah Tasya dengar. "Dan aku juga jatuh cinta sama sesama trainee. Namanya Dinda."
Ia berhenti. Tasya menahan napas.
"Kami sembunyi-sembunyi, sama seperti kalian. Berjanji akan menyelesaikan masa training, debut bersama, baru memikirkan yang lain." Reza tersenyum getir. "Tapi ada yang melapor. Manajemen mengeluarkan Dinda. Aku—mereka mempertahankan aku karena aku terlalu berbakat untuk dibuang. Tapi mereka mengeluarkan Dinda." Suaranya nyaris pecah. "Dia pulang ke kampungnya. Aku debut sendirian. Dan tiap kali aku naik panggung, aku tahu seharusnya dia ada di sebelahku."
Hening lagi. Tasya merasa matanya panas.
"Aku debut. Aku terkenal. Lalu aku berhenti, jadi pelatih." Reza menatap mereka. "Dan selama dua belas tahun, aku jadi orang yang menegakkan aturan yang menghancurkan hidupku sendiri. Aku menyuruh anak-anak melupakan perasaan mereka. Aku jadi penjaga penjara yang dulu mengurungku."
Ia berdiri, dan menatap mereka berdua dengan tatapan yang campuran antara peringatan dan belas kasih.
"Aku nggak akan lapor," katanya. "Sekali ini. Karena aku nggak mau jadi orang yang ngulang sejarah." Ia menunjuk mereka tajam. "Tapi dengar baik-baik. Aturan itu ada bukan tanpa alasan. Kalian debut, kalian punya jutaan penggemar. Penggemar yang merasa kalian milik mereka. Skandal asmara bisa menghancurkan grup—bukan cuma kalian berdua, tapi lima anggota lain. Termasuk Mei."
Tasya tersentak. Mei. Yang sudah gagal dua kali. Yang akhirnya punya kesempatan ketiga.
"Jadi inilah pilihan kalian," lanjut Reza. "Kalau kalian mau debut, kalian harus mengubur ini. Sepenuhnya. Bukan main rahasia-rahasiaan yang cepat atau lambat ketahuan. Tapi benar-benar memilih mimpi di atas perasaan. Karena nasib lima orang lain ada di tangan kalian." Ia berjalan ke pintu. "Atau, kalau perasaan kalian lebih besar dari mimpi—pergi sekarang, sebelum kalian menyeret orang lain jatuh bersama kalian."
Ia membuka pintu, lalu berhenti.
"Soal Kirana—biar aku yang urus. Dia kira aku akan menari di telapak tangannya. Dia salah." Mata Reza menyala dingin. "Memeras pelatih dengan harapan dapat slot debut—itu pelanggaran yang jauh lebih serius dari pasal sebelas."
Pintu menutup, dan Tasya serta Bagas tertinggal sendirian di tangga darurat, dengan pilihan terberat dalam hidup mereka tergantung di udara.
"Mimpi atau perasaan," bisik Tasya. Air mata akhirnya jatuh. "Kenapa harus pilih, Bagas? Kenapa nggak boleh dua-duanya?"
Bagas menariknya ke dalam pelukan—pelukan yang sekarang terasa seperti perpisahan. "Karena dunia ini nggak adil, Tas." Suaranya parau. "Dan kita memilih masuk ke dunia ini."
Mereka berdiri berpelukan dalam diam, tahu bahwa pelukan ini mungkin yang terakhir. Bahwa demi mimpi—demi keluarga Tasya, demi sawah yang sudah Bagas jual, demi Mei dan empat anggota lain—mereka harus melepaskan satu sama lain.
"Kita debut dulu," kata Bagas akhirnya, menjauhkan diri, menyeka air mata Tasya dengan ibu jarinya. "Kita debut, kita sukses, kita selamatkan keluargamu. Lalu—suatu hari nanti, kalau aturan ini sudah nggak mengikat kita—"
"Suatu hari nanti," ulang Tasya, mencoba percaya.
Tapi "suatu hari nanti" terasa begitu jauh, dan hati yang sudah jatuh tidak tahu cara berhenti.