Keputusan Reza menyelesaikan satu masalah, tapi membuka yang lain.
Keesokan harinya, Kirana dipanggil ke ruang manajemen. Ketika ia keluar, wajahnya pucat pasi. Berita menyebar cepat: Kirana diberi peringatan keras karena upaya pemerasan. Kontraknya tidak diputus—agensi memilih menyembunyikan skandal internal—tapi ia dipindah ke kelas trainee paling bawah, jauh dari jalur debut mana pun. Mimpinya, yang sudah ia kejar tiga tahun, hancur oleh tangannya sendiri.
Tasya melihat Kirana mengepak barang dari kamar mereka, pindah ke asrama lain. Sebelum pergi, Kirana berhenti di depan Tasya.
"Aku nggak nyesel," kata Kirana, meski matanya merah. "Kamu pikir kamu beda dari aku? Kamu juga mau debut sampai mati-matian. Bedanya, aku berani kotor. Kamu cuma beruntung punya pelatih yang lembek." Ia mengangkat kopernya. "Lihat aja. Cinta kalian itu—cepat atau lambat—bakal menghancurkan kalian. Aku cuma mempercepat yang nggak terhindarkan."
Lalu ia pergi.
Kata-kata Kirana menempel di benak Tasya seperti duri. *Cepat atau lambat, bakal menghancurkan kalian.*
Tapi tidak ada waktu untuk merenung. Karena hari itu, pengumuman resmi datang.
Seluruh trainee dikumpulkan di aula. Pak Hartono berdiri di panggung kecil, dengan Reza di sampingnya.
"Hari ini," kata Pak Hartono, "kita umumkan formasi resmi grup debut pertama co-ed Bintang Sembilan. Grup ini akan membuat sejarah. Tujuh anggota. Empat perempuan, tiga laki-laki."
Aula hening total. Ratusan trainee menahan napas.
"Yang namanya kupanggil, maju ke depan." Pak Hartono membuka kertas. "Mei."
Mei tersentak, lalu berjalan ke depan dengan kaki gemetar, air mata sudah mengalir. Dua kali gagal, dan kali ketiga ini—akhirnya.
"Tasya."
Tasya melangkah maju, jantungnya menabuh. Ini dia. Jalan menuju lunasnya utang keluarganya, terbentang di bawah kakinya.
Empat nama lagi dipanggil. Lalu—
"Bagas."
Bagas berjalan maju dan berdiri di barisan, dua orang jaraknya dari Tasya. Mereka tidak saling pandang. Mereka tidak berani. Tapi Tasya bisa merasakan kehadirannya seperti panas matahari di kulit.
"Tujuh orang ini," kata Pak Hartono, "akan debut tiga bulan lagi. Mulai hari ini, latihan kalian naik level. Kalian akan tinggal di asrama khusus debut. Jadwal kalian akan jauh lebih berat. Dan ekspektasi—" ia menatap berkeliling, "—jauh lebih tinggi. Selamat. Tapi jangan rayakan terlalu lama. Kerja sesungguhnya baru dimulai."
Aula meledak dalam tepuk tangan—campuran selamat tulus dan iri yang dipendam dari trainee yang tidak terpilih.
Malam itu, tujuh anggota terpilih pindah ke asrama debut—gedung yang lebih bagus, dengan studio pribadi dan staf khusus. Tapi juga dengan kamera pengawas di lebih banyak sudut, dan aturan yang lebih ketat.
Saat makan malam pertama mereka sebagai grup, ketujuh orang itu duduk mengelilingi meja. Canggung pada awalnya—mereka berasal dari kelas yang berbeda, dengan ambisi masing-masing. Tapi Mei, dengan keramahan khasnya, mencairkan suasana.
"Kita ini," kata Mei, mengangkat gelas air, "tujuh orang yang ditolak ratusan kali, dijatuhkan, hampir menyerah. Tapi kita di sini. Bersama." Ia tersenyum, lesung pipinya dalam. "Apa pun yang terjadi tiga bulan ke depan—kita jalani bareng. Setuju?"
"Setuju," sahut yang lain, mengangkat gelas.
Tasya mengangkat gelasnya juga, dan saat matanya tak sengaja bertemu mata Bagas di seberang meja, keduanya cepat-cepat berpaling. Tapi di bawah meja, di ruang yang tak terlihat kamera, kaki Bagas menyentuh kaki Tasya—sentuhan singkat, sengaja, sebuah pesan.
*Aku di sini. Kita lakukan ini bersama.*
Tasya menahan senyum, dan menelan rindu yang tak boleh ia ucapkan.
Tiga bulan menuju debut. Tiga bulan untuk mengubur perasaan. Tiga bulan untuk membuktikan bahwa mimpi lebih besar dari hati.
Ia tidak tahu bahwa tiga bulan itu akan menjadi ujian terberat dalam hidupnya. Dan ia tidak tahu bahwa di luar dinding asrama, masalah lama—rentenir yang menggedor pintu rumah ibunya—sedang menanti, siap meledak pada saat yang paling buruk.