Bulan pertama menuju debut berlalu dalam pusaran kelelahan yang manis.
Latihan dari subuh sampai lewat tengah malam. Vokal, tari, akting kamera, pelajaran bahasa untuk lagu promosi, sesi pemotretan. Tubuh Tasya remuk setiap malam, tapi untuk pertama kalinya, ada kebahagiaan di tengah lelah itu. Karena ia tidak sendiri. Karena ada Mei yang membawakan kompres. Karena ada lima anggota lain yang mulai terasa seperti keluarga.
Karena ada Bagas.
Mereka menjaga jarak di depan kamera, profesional sempurna. Tapi dalam celah-celah kecil—saat berbagi botol air, saat Bagas membenarkan posisi tangan Tasya dalam koreografi, saat mata mereka bertemu di seberang studio—ada bahasa rahasia yang hanya mereka berdua mengerti. Mereka tidak pernah menyentuh batas. Tidak pernah mengucapkan kata terlarang itu. Tapi setiap hari, dinding yang mereka bangun antara mimpi dan perasaan terasa makin tipis.
"Kita kuat," bisik Bagas suatu malam, saat mereka kebetulan sendirian sejenak di koridor studio. "Kita bisa tahan tiga bulan."
"Iya," kata Tasya. Tapi saat Bagas tersenyum, ia tidak yakin "tahan" adalah kata yang tepat untuk apa yang ia rasakan.
Lalu, di suatu malam di bulan pertama itu, telepon itu datang.
Pukul dua dini hari. Tasya, yang punya izin khusus memegang ponsel karena situasi keluarganya, terbangun oleh getaran. Nomor ibunya. Pada jam ini, itu tidak pernah berarti baik.
Ia menyelinap keluar kamar, ke tangga darurat, dan mengangkat.
"Bu? Ada apa, Bu?"
Suara ibunya terdengar gemetar, antara tangis dan ketakutan. "Tasya... Nak, Ibu nggak tahu harus gimana lagi."
Jantung Tasya berhenti. "Bu, tenang. Ada apa?"
"Rentenirnya, Nak. Mereka—mereka datang tadi sore. Bawa orang banyak. Mereka bilang kalau minggu depan kita nggak lunasin sisa utangnya—" suara ibunya pecah jadi isak, "—mereka mau ambil rumah, Nak. Rumah kita. Surat-suratnya udah mereka pegang dari awal. Ibu—Ibu udah pinjam ke semua orang. Nggak ada yang bisa minjemin lagi."
Tasya merosot ke anak tangga, dunia berputar. "Berapa, Bu? Berapa yang kurang?"
"Lima belas juta, Nak. Minggu depan. Atau kita kehilangan rumah."
Lima belas juta. Dari tiga puluh juta dulu, separuhnya sudah ditambal—pinjaman bibi di awal, lalu cicilan demi cicilan yang ibunya kuras dari mana saja. Tinggal sisa yang terakhir ini, dan justru sisa inilah yang paling mustahil, karena tak ada lagi orang yang bisa dipinjami. Lima belas juta. Dalam seminggu. Tasya seorang trainee yang belum debut—yang belum dibayar sepeser pun. Debut masih dua bulan lagi. Bahkan setelah debut, gaji pertama tidak akan datang secepat itu.
"Bu," suaranya nyaris tak terdengar, "aku—aku usahain. Aku pasti usahain. Bu jangan nangis. Tasya pasti cari jalan."
Tapi saat ia menutup telepon, ia tahu ia berbohong. Dari mana ia bisa dapat lima belas juta dalam seminggu? Mundur dari debut tidak menghasilkan uang. Tidak ada yang akan meminjamkan uang sebesar itu pada trainee tanpa penghasilan.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan, dan untuk pertama kalinya sejak masuk asrama, ia menangis tanpa suara, tubuhnya berguncang di tangga darurat yang dingin.
"Tasya?"
Suara itu. Tasya mengangkat kepala. Bagas berdiri di pintu tangga darurat, wajahnya khawatir. Ia pasti melihat Tasya menyelinap keluar dan mengikutinya.
"Hei, hei." Bagas berlutut di depannya, panik melihat air mata Tasya. "Ada apa? Kenapa nangis?"
Tasya menceritakan semuanya, terbata-bata. Rumah. Lima belas juta. Seminggu. Ibunya yang menangis di telepon. Dan ketidakberdayaannya yang total—begitu dekat dengan debut, begitu dekat dengan uang, tapi tetap saja tidak bisa menyelamatkan rumahnya tepat waktu.
Bagas mendengarkan, wajahnya makin gelap. Saat Tasya selesai, ia terdiam lama, menatap kosong ke lantai.
Lalu ia berkata sesuatu yang membuat darah Tasya membeku.
"Aku tahu cara dapat lima belas juta dalam seminggu," kata Bagas pelan. "Tapi kamu nggak akan suka."
"Apa?" Tasya menggenggam tangannya. "Bagas, apa maksudmu?"
Bagas menatapnya, dan di matanya ada sesuatu yang baru—sesuatu yang menakutkan. Tekad yang gelap.
"Agensi punya klausul. Trainee bisa mengundurkan diri dari proyek debut sebelum kontrak final—tapi keluar berarti bayar buyout, kompensasi pelepasan, buat ganti biaya latihan yang udah dikeluarkan Bintang Sembilan. Uang itu keluar dari kantongku, bukan masuk." Ia menelan ludah. "Tapi di sinilah liciknya. Ada agensi lain, pesaing Bintang Sembilan. Mereka udah lama incar aku. Mereka yang nanggung buyout itu—mereka talangin biar aku bebas dari kontrak lama. Bukan cuma itu, mereka kasih uang pindah, uang transfer, buat siapa pun yang mau hengkang dan gabung ke mereka. Jadi bukan aku yang bayar—aku yang terima. Jumlahnya, setelah dipotong buyout, masih jauh lebih dari lima belas juta."
Tasya menggeleng, mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Bagas, jangan—"
"Aku keluar dari grup," kata Bagas, suaranya bergetar tapi mantap. "Aku pindah agensi. Uangnya buat lunasin rumah keluargamu. Kamu tetap debut. Kamu selamat, keluargamu selamat—"
"TIDAK!" Tasya hampir berteriak, lalu menutup mulutnya, takut membangunkan orang. Air mata mengalir deras. "Bagas, itu mimpimu! Tiga tahun! Sawah keluargamu! Aku nggak akan biarkan kamu buang semua itu buat aku!"
"Lalu apa? Kubiarkan kamu kehilangan rumah?" Bagas memegang kedua bahu Tasya. "Aku bisa mulai lagi di agensi lain. Tapi rumah keluargamu—kalau hilang, hilang selamanya. Ibumu, Tas. Ibumu."
"Aku nggak bisa—aku nggak mau—" Tasya terisak, terbelah antara cinta dan rasa bersalah, antara menyelamatkan keluarganya dan menghancurkan mimpi orang yang ia cintai.
Bagas menyeka air matanya, lembut, seperti malam pertama ia menempelkan plester ke tangannya yang melepuh.
"Aku udah putusin," bisiknya. "Besok pagi, aku temui orang dari agensi pesaing itu. Mereka udah kasih nomornya berbulan-bulan lalu. Aku tinggal telepon."
"Bagas, tolong, pikirin lagi—"
"Tasya." Ia menatap mata Tasya, dan untuk pertama kalinya, ia mengucapkan kata yang selama ini mereka kubur. "Aku cinta kamu. Itu sebabnya aku harus lakukan ini."
Lalu, sebelum Tasya bisa menjawab, sebelum ia bisa menahannya, pintu tangga darurat di atas mereka terbuka.
Dan suara Reza, dingin dan tajam, memecah keheningan malam:
"Siapa yang bilang ada agensi pesaing yang mau merekrut salah satu dari kalian?"
Tasya dan Bagas membeku, menengadah. Reza berdiri di tangga atas, wajahnya pucat di bawah lampu darurat, ponsel di tangannya. Tapi kali ini, bukan amarah yang ada di wajahnya.
Melainkan ketakutan.
"Kalian nggak ngerti apa yang kalian mau masuki," kata Reza, suaranya bergetar. "Agensi itu—mereka bukan menyelamatkan siapa pun. Mereka memburu trainee Bintang Sembilan yang putus asa, lalu menjebak mereka dengan kontrak yang—" Ia berhenti, menelan ludah. "Bagas, telepon yang kamu simpan itu. Nomor yang mereka kasih. Tunjukkan ke aku. Sekarang."
Dengan tangan gemetar, Bagas mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan nomor itu.
Wajah Reza memutih total.
"Astaga," bisiknya. "Ini bukan agensi musik."