Reza menuruni tangga darurat satu per satu, pelan, seperti orang yang takut anak tangga itu akan runtuh di bawah kakinya. Ia menarik ponsel dari tangan Bagas dan menatap layar lama sekali, lebih lama dari yang dibutuhkan untuk membaca sebelas digit angka.
"Duduk," katanya akhirnya, suaranya serak. "Kalian berdua. Duduk dan dengarkan, karena aku cuma akan menjelaskan ini sekali."
Tasya dan Bagas duduk di anak tangga dingin. Reza tetap berdiri, bersandar ke dinding, lampu darurat menyepuh wajahnya jadi kuning sakit.
"Nomor ini," kata Reza, "aku kenal. Bukan dari satu trainee. Dari tiga. Dalam dua belas tahun aku jadi pelatih di sini, tiga anak hilang lewat nomor seperti ini. Beda angka, modus sama. Mereka mengincar trainee yang putus asa—yang punya utang, punya keluarga sakit, punya alasan untuk menyerah pada apa pun yang menjanjikan uang cepat." Ia menatap Bagas. "Anak seperti kamu."
Bagas membuka mulut, tapi Reza mengangkat tangan.
"Mereka menyebut diri agensi. Mereka punya kantor, punya papan nama, punya orang berjas yang ngomong soal kontrak, transfer, debut di luar negeri. Semua kelihatan resmi." Reza menelan ludah. "Tapi tidak ada panggung di ujungnya, Bagas. Yang ada di ujungnya adalah utang yang ditulis ulang jadi sepuluh kali lipat. Paspor ditahan. Kontrak yang isinya kamu nggak boleh berhenti sampai 'biaya' lunas—dan biaya itu nggak pernah lunas, karena mereka yang menghitungnya. Trainee yang masuk ke sana bukan jadi idol. Mereka jadi barang."
Hawa dingin merayap naik dari ubin tangga ke tulang punggung Tasya.
"Maksudmu—" suaranya nyaris tak keluar.
"Maksudku," kata Reza, "buyout yang mereka tawarkan itu bukan hadiah. Itu jeratan. Begitu Bagas tanda tangan menerima talangan lima belas, dua puluh juta, dia berutang pada mereka, bukan pada Bintang Sembilan. Dan utang pada Bintang Sembilan punya hukum, punya pengacara, punya batas. Utang pada mereka—" Reza menggeleng pelan. "—nggak punya batas. Mereka yang menentukan kapan kamu bebas. Dan jawabannya selalu: belum."
Bagas menunduk menatap tangannya sendiri. Tangan yang tadi memegang bahu Tasya dengan tekad pahlawan, kini gemetar di atas lututnya.
"Aku cuma—" suaranya pecah. "Aku cuma mau bantu dia, Pak."
"Aku tahu." Suara Reza melunak, dan untuk pertama kalinya malam itu ada sesuatu yang lain di sana selain ketakutan—sesuatu yang lebih tua, lebih lelah. "Aku tahu, Bagas. Kamu nggak bodoh. Kamu cuma putus asa. Dan keputusasaan bikin mata orang baik jadi buta. Persis itu yang mereka jual."
Tasya merasakan air matanya turun lagi, tapi kali ini bukan untuk rumahnya. Untuk Bagas—yang nyaris menjual seluruh hidupnya tanpa tahu harga sebenarnya. Ia menggenggam tangan Bagas, tak peduli kamera, tak peduli pasal, tak peduli apa pun.
"Kamu hampir masuk ke sana," bisik Tasya. "Demi aku, kamu hampir—"
"Tapi nggak jadi," potong Reza. "Karena kebetulan aku terbangun, kebetulan aku lihat lampu tangga darurat nyala dua kali malam ini, kebetulan aku turun." Ia mengembalikan ponsel ke tangan Bagas, lalu menutupnya seperti menutup sesuatu yang beracun. "Hapus nomor itu. Sekarang. Di depanku."
Bagas menghapusnya. Jarinya menekan layar, dan deretan angka itu lenyap.
"Kalau mereka menghubungimu lagi," kata Reza, "lewat siapa pun, dengan cara apa pun—kamu datang ke aku. Bukan kamu pikir-pikir sendiri. Bukan kamu putuskan sendiri tengah malam di tangga. Kamu datang ke aku. Janji."
"Janji, Pak," kata Bagas pelan.
Reza menghela napas panjang, seperti melepas beban yang sudah ia panggul terlalu lama. Ia duduk di anak tangga di seberang mereka, dan untuk sesaat ia tidak terlihat seperti kepala pelatih, melainkan seperti orang yang baru saja menarik dua anak dari pinggir jurang dan baru sadar betapa dekat mereka tadi dengan tepi.
"Tahu kenapa aku langsung kenal nomor itu?" tanya Reza, lebih ke dirinya sendiri daripada ke mereka. Ia tidak menunggu jawaban. "Karena dua belas tahun lalu, ada seseorang yang aku kenal masuk ke sana. Dan aku nggak pernah berhasil menariknya keluar."
Tasya ingin bertanya siapa. Tapi sesuatu di wajah Reza menghentikannya. Bagas pun diam.
"Itu cerita lain," kata Reza, berdiri kembali, menutup pintu itu di wajahnya sendiri. "Yang penting sekarang: lima belas juta itu tetap nyata. Tenggatnya tetap seminggu. Dan kalian dua-duanya akan tetap debut, karena aku nggak akan membiarkan satu pun dari kalian membuang diri ke lubang yang sama yang sudah kulihat menelan orang lain." Ia menatap Tasya. "Kita akan cari jalan yang lain. Jalan yang nggak menjual nyawa. Mengerti?"
Tasya mengangguk, meski di dadanya satu pertanyaan menggantung: jalan yang mana? Seminggu. Lima belas juta. Tak ada sihir di dunia ini.
Reza sudah di pintu tangga atas ketika ia menoleh sekali lagi. Lampu darurat berkedip di belakangnya.
"Dan satu lagi." Matanya jatuh ke tangan Tasya dan Bagas yang masih bertaut. "Lepaskan tangan kalian sebelum keluar dari tangga ini. Aku menyelamatkan kalian dari sindikat malam ini. Aku nggak bisa menyelamatkan kalian dari pasal sebelas juga."
Pintu tertutup. Tasya menarik tangannya pelan dari Bagas, dan dingin tangga darurat terasa dua kali lebih dingin dari sebelumnya.