Mereka bertemu lagi keesokan paginya, di sudut studio yang paling jauh dari kamera, lima menit sebelum latihan dimulai. Reza datang membawa secarik kertas dan pulpen, seolah hendak mengajari koreografi, padahal yang ia tulis adalah angka.
"Hari ini Senin," kata Reza pelan, pura-pura menjelaskan formasi di kertas. "Tenggat ibumu hari Minggu depan. Berarti kita punya enam hari penuh, hari ketujuh untuk menyerahkan uang. Anggap saja lima hari kerja. Itu yang kita punya."
Tasya menatap kertas itu. *15.000.000* tertulis di pojok, dilingkari, seperti soal ujian yang tak punya jawaban.
"Aturan mainnya," lanjut Reza, "tiga. Satu: kita nggak sentuh sindikat itu, apa pun yang terjadi. Dua: kita nggak melanggar kontrak Bintang Sembilan—nggak ada yang mundur dari debut, nggak ada drama yang bisa membatalkan semuanya di menit terakhir. Tiga—" ia menatap mereka berdua bergantian, "—kita selesaikan ini bertiga. Bukan kamu sendiri, Tasya. Bukan kamu sendiri, Bagas. Bertiga. Karena dua orang yang bertindak sendirian tadi malam hampir menghancurkan segalanya."
"Tapi caranya gimana, Pak?" tanya Bagas. "Kita nggak punya gaji. Aku juga nggak. Aku sama miskinnya sama dia."
"Aku tahu." Reza melipat kertas itu. "Makanya kita pakai apa yang kita punya. Hari ini, Tasya—pulang sebentar, izin resmi, aku yang urus ke manajemen, alasannya keluarga. Datangi semua orang yang mungkin masih bisa kasih sesuatu. Bukan lima belas juta sekaligus. Tapi sejuta dari sini, dua juta dari sana. Kumpulin recehnya."
"Aku udah—Ibu udah pinjam ke semua orang," kata Tasya lemah.
"Ibumu pinjam ke lingkaran ibumu," kata Reza. "Tetangga, saudara. Tapi ada pintu yang belum kalian ketuk karena kalian nggak tahu pintunya ada. Koperasi simpan pinjam yang nggak pakai bunga rentenir. Bank yang punya program kredit mikro buat usaha kecil. Lembaga yang kasih pinjaman ke pelajar atau pekerja muda. Itu bukan dunianya ibumu. Itu dunia yang harus kamu masuki sendiri." Ia menatap Tasya. "Kamu bukan anak warung bangkrut lagi, Tasya. Kamu trainee agensi besar yang sebentar lagi debut. Itu punya nilai. Belajar memakainya."
Tasya menelan ludah. Kata-kata Reza terdengar lebih masuk akal daripada apa pun yang ia pikirkan semalaman—dan jauh lebih sulit, karena artinya ia harus berdiri di depan orang asing, di belakang meja, dan memohon.
"Dan kamu, Bagas," lanjut Reza. "Kamu tetap di sini, latihan seperti biasa. Jangan ada satu pun yang curiga ada masalah. Kalau enam anggota lain mencium ada krisis, gosipnya akan menyebar, dan gosip di asrama debut itu bensin." Ia menatap Bagas tajam. "Tugasmu adalah jadi normal. Itu tugas tersulit. Aku tahu kamu pengin ikut menyelamatkan dia. Tapi cara kamu menyelamatkan dia sekarang adalah dengan menjaga grup tetap utuh. Mengerti?"
Bagas mengepalkan tangan, tapi mengangguk. "Mengerti, Pak."
"Lalu Bapak sendiri ngapain?" tanya Tasya.
Untuk sepersekian detik, sesuatu melintas di wajah Reza—keraguan, atau mungkin perhitungan diam. Lalu hilang.
"Aku punya beberapa pintu yang cuma bisa kuketuk sendiri," katanya. "Biar itu urusanku."
Pintu studio terbuka. Mei masuk sambil menguap, rambut masih basah dari mandi pagi, diikuti Doni dan Fajar yang berdebat soal sarapan. Reza langsung berdiri tegak, suaranya berubah jadi suara pelatih.
"Posisi! Lima menit lagi kita mulai. Tasya, kamu ada urusan keluarga hari ini, aku udah izinkan—pulang habis pemanasan. Sisanya, ke barisan."
Mei menatap Tasya dengan kening berkerut. "Semua baik-baik aja?"
Tasya memaksa senyum. "Iya. Urusan rumah aja."
Tapi Mei, yang sudah dua tahun di asrama dan tahu seperti apa wajah orang yang sedang menyembunyikan sesuatu, menahan tatapannya sedetik lebih lama dari yang nyaman. Lalu ia tersenyum, lesung pipinya dalam, dan menepuk lengan Tasya.
"Kalau butuh apa-apa, bilang. Kita kapal yang sama, inget?"
Tasya mengangguk, dan untuk sesaat ingin sekali menceritakan semuanya pada Mei—beban yang terlalu berat dipanggul bertiga, apalagi sendiri. Tapi Reza menangkap matanya dari seberang ruangan dan menggeleng sangat tipis.
*Jaga grup tetap utuh.*
Tasya menelan rahasianya, dan masuk ke barisan.
Selama pemanasan, ia menghitung di kepalanya. Lima hari. Lima belas juta. Tiga juta sehari kalau dibagi rata—tapi hidup tidak pernah membagi rata. Ia memikirkan daftar pintu yang harus diketuk, daftar wajah yang harus ia hadapi, daftar permohonan yang harus keluar dari mulutnya tanpa membuatnya pecah.
Saat barisan bubar, Bagas lewat di sampingnya, pura-pura mengambil handuk. Bibirnya nyaris tak bergerak.
"Aku percaya kamu," bisiknya. "Pulang. Lawan. Aku di sini."
Tasya tidak menjawab. Tapi ketika ia keluar dari gerbang asrama debut pagi itu, membawa map kosong dan harapan yang lebih kosong lagi, kata-kata Bagas itu tertanam di dadanya seperti satu-satunya pegangan di tebing.
Lima hari. Dimulai sekarang.