Pintu pertama adalah rumah Bibi Sri, adik ibunya, yang dulu meminjamkan sepuluh juta pertama. Tasya mengetuk dengan tangan gemetar.
Bibinya membuka pintu, dan wajahnya langsung berubah ketika melihat Tasya. Bukan kaget senang. Lelah. Takut.
"Tasya." Ia tidak mempersilakan masuk. "Kalau ini soal uang—Nak, Bibi udah nggak punya. Yang sepuluh juta dulu itu uang arisan Bibi, sampai sekarang belum balik. Suami Bibi marah besar." Suaranya menurun. "Bibi sayang kamu, sayang ibumu. Tapi rumah ini juga lagi susah. Maafin Bibi."
Pintu tertutup pelan, dan Tasya berdiri di teras itu, menatap cat pintu yang mengelupas. Ia tidak marah. Bagaimana mungkin marah. Tapi ada sesuatu di dadanya yang patah sedikit—pintu pertama, ditutup oleh darah dagingnya sendiri.
Pintu kedua adalah koperasi simpan pinjam di pasar, seperti saran Reza. Petugasnya ramah, sampai Tasya menyebut jumlah dan tenggatnya.
"Lima belas juta dalam seminggu?" Petugas itu hampir tertawa, lalu menahannya karena melihat wajah Tasya. "Mbak, koperasi kami pinjamkan ke anggota yang udah nabung minimal enam bulan. Mbak belum anggota. Dan jumlah segitu butuh agunan, butuh survei, butuh proses minimal dua minggu. Saya nggak bisa bantu dalam seminggu. Nggak ada koperasi yang bisa."
Pintu ketiga, bank kredit mikro, lebih sopan tapi lebih dingin. Mereka meminta slip gaji. Tasya tidak punya slip gaji. Mereka meminta jaminan. Tasya tidak punya apa pun yang bisa dijaminkan kecuali kontrak trainee yang justru melarangnya menjamin apa pun. Mereka meminta penjamin yang punya penghasilan tetap. Tasya tidak punya siapa-siapa.
"Maaf, Mbak. Profil Mbak belum memenuhi syarat."
Tasya keluar dari bank itu ke trotoar yang panas, dan untuk sesaat ia hanya berdiri di sana, di tengah orang-orang yang lalu lalang, masing-masing dengan beban yang tak ia ketahui. Map di tangannya masih kosong. Sudah tiga pintu. Tiga penolakan. Dan baru hari pertama.
Ia memberi dirinya sendiri lima menit untuk merasa hancur. Ia duduk di halte, menelan air mata, menggigit bibir sampai sakit. Lalu ia berdiri lagi.
Pintu keempat adalah tempat ia paling tidak ingin datang: rumah Pak Darman, pemilik toko kelontong di kampungnya yang dulu jadi langganan ayahnya. Orang yang baik, tapi yang akan tahu persis seberapa jatuh keluarga Wijaya sekarang.
Pak Darman menyambutnya hangat, menawari teh, bertanya kabar ibunya. Dan ketika Tasya akhirnya, dengan suara nyaris hilang, menjelaskan kenapa ia datang, Pak Darman terdiam lama.
"Nak Tasya," katanya akhirnya, pelan. "Ayahmu dulu orang baik. Waktu warungnya masih jalan, dia sering kasih utangan ke orang kampung tanpa catatan, percaya aja. Ada yang bayar, banyak yang nggak. Mungkin itu juga yang bikin warungnya tutup." Ia menghela napas. "Bapak punya tiga juta. Uang itu sebenarnya buat tambah stok lebaran. Tapi—" ia berdiri, masuk ke kamar, dan keluar membawa amplop, "—ambil. Anggap ini balas budi sama ayahmu. Jangan kamu kembalikan. Cuma satu pesan Bapak: jangan sampai kamu, di umur semuda ini, ngutang ke orang yang salah. Bapak udah lihat banyak anak hancur gara-gara itu."
Tasya menerima amplop itu dengan tangan gemetar, dan kali ini air matanya benar-benar jatuh. Bukan karena tiga juta—meski tiga juta adalah keajaiban setelah tiga penolakan. Tapi karena untuk pertama kali hari itu, ada pintu yang terbuka. Karena di tengah dunia yang menutup pintu satu per satu, ada satu orang tua di toko kelontong yang masih ingat bahwa ayahnya pernah baik.
"Makasih, Pak," bisiknya. "Makasih banget."
"Hati-hati di jalan, Nak."
Malam itu Tasya pulang ke asrama membawa tiga juta dan luka yang aneh—gabungan antara harga diri yang terkikis habis dan rasa syukur yang terlalu besar untuk ditampung. Tiga dari lima belas. Empat hari tersisa.
Ia mengirim pesan singkat ke Reza lewat ponsel izinnya: *Dapat 3 juta. Sisanya 12. Maaf.*
Balasan Reza datang cepat: *Jangan minta maaf. Tiga juta itu bukti kamu berjuang, bukan menyerah. Sisanya, aku punya kabar besok pagi. Istirahat.*
Tasya menatap layar itu lama. *Aku punya kabar.* Ada sesuatu di kalimat itu yang membuat dadanya berdebar antara harap dan cemas—karena ia tahu Reza, dan ia tahu Reza tidak pernah mengucapkan janji yang tidak ia tepati. Tapi ia juga mulai bertanya-tanya, dengan rasa bersalah yang merayap: pintu mana yang sedang diketuk pelatihnya, dan harga apa yang akan ia bayar untuk membukanya.