Reza menunggunya di studio kosong subuh berikutnya, satu jam sebelum anggota lain bangun. Di atas piano tegak yang biasa dipakai latihan vokal, ada sebuah amplop cokelat tebal dan secarik kertas.
"Tutup pintunya," kata Reza.
Tasya menutup pintu. Studio itu remang, hanya satu lampu di atas piano. Reza terlihat tidak tidur semalaman.
"Aku punya sebagian besar sisanya," katanya tanpa basa-basi. "Dua belas juta. Di amplop itu sembilan. Tiga sisanya—aku atur lewat advance, uang muka kontrak. Itu cerita besok. Hari ini, tentang sembilan ini dulu."
Tasya menatap amplop itu, lalu menatap Reza. "Pak. Sembilan juta. Itu—itu dari mana?"
Reza menarik napas. Ia duduk di bangku piano, dan untuk pertama kalinya Tasya melihat sesuatu yang jarang ia tunjukkan: kelelahan tanpa topeng.
"Dari tabunganku," katanya. "Sebagian. Sisanya aku jual jam tangan dan satu hal lain yang nggak penting kamu tahu apa." Ia mengangkat tangan sebelum Tasya bisa protes. "Sebelum kamu bilang nggak bisa terima—dengar dulu. Ini bukan hadiah. Ini bukan sedekah. Ini pinjaman. Kamu akan kembalikan, sen demi sen, dari gaji pertamamu setelah debut. Aku akan catat. Aku akan tagih. Mengerti? Aku nggak menyelamatkanmu. Aku memberimu utang yang lebih jujur daripada utang rentenir, dan jauh lebih jujur daripada utang sindikat. Itu saja."
Tasya merasakan air matanya naik lagi, dan ia membencinya—membenci betapa mudahnya ia menangis akhir-akhir ini, betapa setiap kebaikan membuatnya pecah.
"Kenapa Bapak lakukan ini?" tanyanya. "Aku cuma satu dari ratusan trainee. Kenapa aku?"
Reza tidak langsung menjawab. Ia membuka tutup piano, menekan satu tuts pelan—nada rendah yang menggantung di udara remang itu.
"Karena dua belas tahun lalu," katanya akhirnya, "ada orang yang butuh sembilan juta dalam seminggu, dan nggak ada satu pun orang dewasa di gedung ini yang mau membukakan pintu untuknya. Termasuk aku, yang waktu itu masih anak ingusan yang takut kehilangan slot debutnya sendiri." Tuts itu padam. "Aku nggak bisa memperbaiki yang dulu, Tasya. Tapi aku bisa berhenti mengulanginya."
Tasya tahu siapa yang ia maksud, meski Reza tak menyebut nama. Dinda. Nama yang pernah ia dengar berbisik di lorong-lorong, cerita lama yang dianggap legenda asrama: pelatih yang dulu jatuh cinta dan kehilangan.
"Tapi," kata Reza, dan suaranya mengeras, "ada syaratnya. Dan ini syarat yang nggak bisa ditawar."
"Apa pun, Pak."
"Jangan ulangi kesalahanku." Ia menatap Tasya lurus, dan di matanya ada peringatan yang lebih dalam dari sekadar aturan. "Aku tahu kamu dan Bagas. Aku udah lama tahu. Aku memilih nggak melapor—dua kali sekarang. Tapi sembilan juta ini bukan tiket buat kalian merasa aman. Justru sebaliknya. Mulai sekarang, mata manajemen akan lebih banyak ke arah kalian, bukan lebih sedikit. Karena uang yang mengalir selalu mengundang pertanyaan."
"Maksud Bapak?"
"Maksudku, kubur perasaan itu lebih dalam dari sebelumnya. Bukan karena aku jahat. Karena aku sudah lihat akhirnya." Reza menutup piano. "Aku kasih kamu uang ini supaya kamu nggak kehilangan rumah. Jangan kamu pakai keselamatan ini untuk kehilangan masa depan. Cinta yang nggak ditahan di tempat seperti ini bukan menyelamatkan kalian. Ia menyeret semua orang di sekitar kalian—Mei, Doni, Fajar, semua yang kamu anggap keluarga sekarang—ke dasar yang sama. Aku udah lihat satu grup hancur karena itu. Aku nggak mau lihat dua."
Tasya menggenggam amplop itu, dan beratnya terasa bukan seperti uang melainkan seperti tanggung jawab yang baru saja dipindahkan ke pundaknya.
"Aku janji, Pak," katanya pelan. "Aku akan kubur. Aku akan kembalikan setiap rupiah. Dan aku—" suaranya gemetar, "—aku nggak akan biarkan Bapak menyesal udah percaya sama aku."
Reza berdiri, menepuk bahunya satu kali—gestur kaku seorang lelaki yang tak terbiasa lembut.
"Bagus. Sekarang simpan amplop itu, cuci muka, dan jadi normal sebelum yang lain bangun." Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti. "Dan Tasya. Soal advance tiga juta itu—besok aku jelaskan. Tapi siap-siap. Karena untuk dapat tiga juta itu, manajemen akan minta sesuatu darimu sebagai gantinya. Dan harganya bukan uang."
Pintu studio terbuka, cahaya koridor masuk, dan sosok Reza menghilang ke dalam pagi yang baru mulai. Tasya berdiri sendiri di studio remang, sembilan juta di tangan, dua belas dari lima belas terkumpul—dan untuk pertama kali sejak telepon tengah malam itu, ia membiarkan dirinya percaya, sedikit saja, bahwa rumah ibunya mungkin bisa diselamatkan.
Tiga juta lagi. Tiga hari lagi. Dan satu harga yang belum ia ketahui bentuknya.