Surat itu datang hari Kamis, dua hari sebelum tenggat.
Ibu Tasya menelepon pukul sepuluh pagi, di tengah jeda latihan, suaranya hampir tak bisa dikenali. "Tasya—Nak—mereka kirim surat. Surat resmi. Ada capnya. Ada nama pengadilan. Mereka bilang—" napasnya tersengal, "—mereka bilang kalau hari Sabtu uangnya nggak ada, hari Senin rumah ini disita. Dilelang. Ibu—Ibu nggak bisa nafas, Nak."
Tasya menyelinap ke tangga darurat, jantungnya berdebar liar. "Bu, dengerin Tasya. Bu duduk dulu. Tarik napas. Ibu lagi sendiri di rumah?"
"Iya."
"Bu, Tasya udah hampir dapat semuanya. Tasya udah kumpulin dua belas juta. Tinggal tiga. Tiga hari lagi Tasya lengkapin. Surat itu—surat itu cuma gertakan biar Ibu panik. Mereka tahu kalau Ibu panik, Ibu makin gampang ditekan. Jangan kasih mereka kepuasan itu, Bu."
Ada keheningan di seberang, lalu suara ibunya, gemetar tapi sedikit lebih tenang. "Kamu—kamu beneran udah dapat dua belas juta?"
"Iya, Bu." Tasya menelan rasa bersalah karena tak menyebut dari mana. "Tasya beneran. Bu percaya sama Tasya?"
"Ibu percaya, Nak." Tangis ibunya kini berbeda—bukan tangis putus asa, tapi tangis lega yang berbahaya, lega yang belum boleh datang. "Ibu cuma takut. Rumah ini—rumah ini tempat ayahmu meninggal. Tempat kamu lahir. Kalau hilang—"
"Nggak akan hilang, Bu." Tasya menutup mata, menempelkan dahinya ke dinding dingin tangga. "Tasya janji. Demi Ayah, Tasya janji."
Ketika telepon ditutup, Tasya berdiri di tangga darurat itu dengan tangan gemetar. Surat sita. Cap pengadilan. Tiba-tiba dua belas juta yang terkumpul terasa rapuh—karena yang kurang justru tiga juta terakhir, dan tiga juta itu bergantung pada "advance" misterius Reza yang harganya bukan uang.
Pintu tangga terbuka. Bukan Reza kali ini. Mei.
"Tas." Mei berdiri di ambang pintu, dan dari wajahnya Tasya tahu ia sudah mendengar setidaknya sebagian. "Aku—maaf, aku lihat kamu lari ke sini. Kamu nelpon sambil nangis. Aku khawatir."
Tasya membuka mulut untuk berkata semua baik-baik saja, tapi tidak ada tenaga lagi untuk berbohong. Bahunya runtuh.
"Mei," bisiknya. "Aku capek."
Mei menutup pintu di belakangnya dan duduk di anak tangga, di samping Tasya, tanpa bertanya apa-apa dulu. Ia hanya merangkul bahu Tasya, dan menunggu.
Dan Tasya bercerita. Tidak semuanya—bukan soal Bagas, bukan soal sindikat, bukan soal sembilan juta dari Reza yang akan membuat segalanya rumit. Tapi cukup. Utang keluarga. Surat sita. Tenggat Sabtu. Tiga juta yang masih kurang.
Mei mendengarkan, dan ketika Tasya selesai, ia tidak mengucapkan kasihan, tidak mengucapkan kalimat penghibur kosong. Ia melakukan sesuatu yang lebih nyata: ia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik.
"Aku punya tabungan satu setengah juta," kata Mei. "Hasil aku jadi figuran iklan dua tahun lalu, sebelum masuk asrama. Aku simpan buat darurat." Ia menatap Tasya. "Ini darurat."
"Mei, nggak—aku nggak bisa—"
"Tasya." Mei memotong, suaranya lembut tapi tidak bisa dibantah. "Inget yang aku bilang waktu makan malam pertama? Kita kapal yang sama. Kalau satu lubang tenggelam, semua tenggelam. Aku nggak akan biarkan kamu sendirian nimba air sementara aku duduk diam." Lesung pipinya muncul, tipis, di tengah keseriusan itu. "Lagian, kamu vokalis utama kita. Tanpa kamu, grup ini cuma orang-orang yang nari bagus tapi nggak ada yang bisa nyanyi. Aku jagain investasiku."
Tasya tertawa di tengah tangis—tawa basah, pertama dalam berhari-hari. "Itu alasan paling nggak romantis buat nolongin orang."
"Aku memang nggak romantis." Mei tersenyum. "Tanya semua mantan trainee laki-laki yang pernah naksir aku."
Mereka duduk di tangga darurat itu, dua gadis muda dengan beban yang terlalu besar untuk umur mereka, dan untuk sesaat Tasya merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: bahwa ia tidak benar-benar sendirian. Reza membuka pintu yang tertutup. Pak Darman mengingat ayahnya. Dan sekarang Mei, yang menyerahkan tabungan daruratnya tanpa diminta.
Satu setengah juta. Sekarang yang kurang tinggal satu setengah lagi—dan "advance" Reza akan menutupnya.
Tapi saat Mei beranjak masuk lebih dulu, Tasya tetap duduk sejenak di tangga itu. Surat sita masih nyata. Tenggat Sabtu masih nyata. Dan kata-kata terakhir Reza masih menggema: *harganya bukan uang.*
Ia memandangi langit-langit tangga darurat yang retak, dan berbisik pada diri sendiri janji yang sama yang ia ucapkan pada ibunya: *Nggak akan hilang. Demi Ayah, nggak akan hilang.*
Dua hari lagi.