Jumat pagi, Reza membawanya ke ruang rapat kecil di lantai dua gedung agensi—ruangan yang biasanya hanya dimasuki staf, bukan trainee. Di sana sudah menunggu seorang wanita berkacamata dari divisi pemasaran, dengan map dan kontrak satu lembar di atas meja.
"Ini Bu Ratna," kata Reza. "Dia yang mengurus tawaran iklan kecil. Dengarkan baik-baik."
Bu Ratna tersenyum profesional. "Tasya, ada produk minuman herbal lokal yang mau pasang wajah trainee menjelang debut—budget kecil, brand kecil, cuma untuk media sosial daerah. Biasanya kami nggak ambil tawaran sekecil ini. Tapi Pak Reza yang minta khusus." Ia mendorong kontrak itu. "Honornya tiga juta. Dibayar di muka, hari ini, kalau kamu tanda tangan sekarang. Sebagai gantinya, kamu syuting setengah hari minggu depan dan terikat eksklusif sama brand ini selama tiga bulan—nggak boleh promosi produk sejenis."
Tiga juta. Tepat angka yang kurang.
Tasya menatap Reza. Inilah "advance" yang ia maksud—bukan jebakan, bukan sindikat, tapi pekerjaan nyata, kecil dan tidak glamor, yang Reza atur khusus agar uangnya bisa keluar tepat waktu.
"Harganya bukan uang," kata Reza pelan, mengulang kalimatnya dari kemarin. "Harganya adalah ini: namamu sekarang terikat kontrak komersial sebelum debut. Manajemen mencatatnya. Itu berarti kamu jadi 'aset' lebih awal dari yang lain—dan aset diawasi lebih ketat. Setiap langkahmu mulai sekarang ada nilainya di mata mereka. Itu yang kumaksud kemarin. Kamu siap?"
Tasya membaca kontrak satu lembar itu. Sederhana. Jujur. Tidak ada klausul jebakan, tidak ada paspor ditahan, tidak ada utang yang ditulis ulang. Hanya tiga juta untuk setengah hari kerja dan tiga bulan eksklusivitas pada minuman herbal.
Ia mengambil pulpen. "Saya siap."
Tanda tangannya jatuh di garis itu, dan Bu Ratna langsung menyerahkan amplop tipis berisi tiga juta tunai—uang muka yang sudah disiapkan, persis seperti yang dijanjikan Reza.
Sore itu, semua keping akhirnya lengkap. Sembilan juta dari Reza. Tiga juta dari Pak Darman. Satu setengah dari Mei. Tiga dari kontrak iklan. Dan dengan tiga ratus ribu tabungan recehnya sendiri dari uang saku asrama, totalnya melewati garis: enam belas juta delapan ratus ribu. Cukup untuk lima belas, cukup untuk biaya administrasi, cukup untuk satu napas lega.
Tasya tidak menunggu Sabtu. Ia minta izin pulang sore itu juga, mengepak uang itu ke dalam tas pinggang di balik bajunya, dan menempuh perjalanan dua jam pulang dengan jantung berdebar di setiap lampu merah.
Ibunya membuka pintu, dan ketika melihat Tasya, lalu melihat tas pinggang yang ditepuk Tasya pelan, wajahnya runtuh.
"Bu," kata Tasya. "Kita lunasin. Sekarang."
Mereka memanggil rentenir itu sore itu juga. Lelaki bertubuh besar dengan dua pengawal datang dengan wajah yang sudah siap mengancam, dan berubah ketika Tasya, dengan tangan yang berhenti gemetar untuk pertama kalinya dalam seminggu, mengeluarkan uang itu dan menghitungnya di meja ruang tamu yang ubinnya retak.
"Lima belas juta. Pelunasan penuh," kata Tasya, suaranya datar dan dingin, suara yang ia tidak tahu ia miliki. "Sekarang serahkan surat-surat rumah ini. Semua. Dan saya minta kuitansi lunas yang ditandatangani."
Rentenir itu menatapnya lama, mungkin mengukur apakah gadis muda ini bisa digertak lagi. Tapi sesuatu di mata Tasya—seminggu penolakan, seminggu memohon, seminggu tidak tidur—membuatnya tahu jawabannya tidak. Ia mengeluarkan map berisi sertifikat dan surat-surat, menandatangani kuitansi, dan pergi tanpa banyak kata.
Ketika pintu tertutup di belakang mereka, ibu Tasya jatuh berlutut di lantai ruang tamu dan menangis—tangis yang sudah ditahan berbulan-bulan, tangis seorang janda yang baru saja menyelamatkan satu-satunya hal yang tersisa dari suaminya. Tasya berlutut di sampingnya, memeluknya, dan keduanya menangis di lantai ubin retak itu, di rumah yang—untuk pertama kalinya dalam tahun yang panjang—benar-benar milik mereka lagi.
"Kamu nyelametin rumah ini, Nak," bisik ibunya, memegang wajah Tasya dengan kedua tangan. "Kamu nyelametin rumah Ayah."
Tasya tidak mengoreksi. Tidak menyebut Reza, Mei, Pak Darman, kontrak iklan. Tidak menyebut bahwa rumah ini diselamatkan oleh sebuah jaringan kebaikan yang ia sendiri masih terkejut bisa menemukannya. Ia hanya memeluk ibunya lebih erat.
Tapi di kereta pulang ke asrama malam itu, menatap lampu-lampu kota berlari di luar jendela, satu beban baru menetap menggantikan yang lama. Rumah selamat. Tapi sekarang ia berutang—bukan pada rentenir, bukan pada sindikat, tapi pada orang-orang yang menyelamatkannya. Sembilan juta pada pelatihnya. Satu setengah pada sahabatnya. Dan budi yang lebih besar dari angka mana pun.
Utang yang lama lunas. Utang yang baru—utang budi—baru saja dimulai.