Berita tentang uang yang mengalir tidak pernah bisa benar-benar disembunyikan di gedung sebesar Bintang Sembilan.
Senin pagi, Reza dipanggil ke lantai paling atas—ke ruangan Pak Hartono. Ia tahu ini akan datang. Yang tak ia tahu adalah seberapa cepat, dan seberapa banyak yang sudah diketahui direktur utama itu.
Pak Hartono duduk di balik meja besar dari kayu gelap, kacamata di ujung hidung, sebuah berkas tipis terbuka di depannya. Ia tidak mempersilakan Reza duduk.
"Trainee 247," kata Pak Hartono tanpa basa-basi, membaca dari berkas. "Anastasya Putri Wijaya. Tiga hari lalu tanda tangan kontrak iklan minuman herbal yang anehnya kamu yang minta khusus. Padahal divisi pemasaran biasanya menolak brand sekecil itu. Kenapa?"
"Anak itu butuh penghasilan resmi, Pak," jawab Reza tenang. "Situasi keluarganya berat. Saya pikir lebih baik dia dapat uang dari pekerjaan halal daripada—"
"Daripada apa?" Pak Hartono mengangkat pandangannya. Telinganya tua, tapi belum rusak; matanya pun begitu. "Daripada dari kamu?"
Hening.
"Ada uang yang masuk ke keluarga trainee itu minggu lalu," lanjut Pak Hartono, menutup berkas. "Lima belas juta. Lunas seketika sebuah utang rentenir yang sudah tercatat di profil risikonya sejak audisi. Iklan herbal cuma tiga juta. Selisihnya dari mana, Reza?"
Reza menatap direktur itu lurus. Ia bisa berbohong. Tapi Pak Hartono adalah jenis orang yang sudah tahu jawaban sebelum bertanya—pertanyaan hanyalah cara mengukur apakah lawan bicaranya akan jujur.
"Dari saya, Pak," kata Reza. "Pinjaman pribadi. Akan dia kembalikan dari gaji setelah debut. Saya catat. Itu murni urusan saya dan dia."
Pak Hartono melepas kacamatanya, dan untuk sesaat ia hanya menatap Reza dengan tatapan yang tak pernah memuji siapa pun, tatapan yang sudah melihat ratusan trainee datang dan pergi, sukses dan hancur, selama puluhan tahun.
"Dua belas tahun," kata Pak Hartono pelan. "Dua belas tahun lalu, kamu trainee di gedung ini. Berbakat. Keras kepala. Dan kamu hampir menghancurkan kariermu sendiri demi seorang perempuan yang akhirnya kami keluarkan." Ia mengetukkan kacamata ke meja. "Aku ingat kamu, Reza. Aku ingat semuanya. Jadi izinkan aku bertanya sekali, dan kamu jawab jujur: kamu menolong anak ini karena dia berbakat dan layak debut—atau karena kamu melihat dirimu yang dulu dalam dirinya?"
Reza tidak menjawab cukup cepat. Dan keheningan itu adalah jawaban.
Pak Hartono mengangguk pelan, seolah dugaannya terkonfirmasi. "Begini, Reza. Aku tidak peduli kamu meminjamkan uang ke siapa. Itu hakmu sebagai orang dewasa. Tapi aku peduli ini: pelatih yang punya keterikatan emosional pada satu trainee adalah pelatih yang penilaiannya tidak bisa dipercaya. Kalau anak itu gagal, kamu akan melindunginya melawan kepentingan grup. Kalau anak itu melanggar aturan—" matanya menajam, "—aturan mana pun—kamu akan menutupinya. Seperti yang kamu lakukan dua belas tahun lalu, untuk dirimu sendiri."
"Pak, saya—"
"Aku belum selesai." Pak Hartono mengangkat tangan. "Grup co-ed ini taruhan terbesar agensi dalam satu dekade. Kalau gagal, bukan cuma tujuh anak itu yang jatuh. Reputasi Bintang Sembilan yang jatuh. Jadi mulai hari ini, aku mengawasimu, Reza. Bukan mereka. Kamu. Setiap rupiah yang mengalir, setiap perlakuan istimewa, setiap kali kamu memilih melindungi satu di atas tujuh—aku akan tahu. Dan kalau aku menemukan kamu mengulang sejarahmu sendiri dengan menutupi sesuatu yang seharusnya kamu laporkan—" ia memakai kembali kacamatanya, "—kamu pergi. Bukan dipindah. Pergi. Mengerti?"
"Mengerti, Pak."
"Bagus. Sekarang kembali bekerja."
Reza keluar dari ruangan itu dengan langkah tenang, tapi dadanya berat. Ia sudah memperkirakan tekanan—tapi tidak menyangka Pak Hartono akan langsung menghubungkannya dengan Dinda, langsung membaca lukanya yang paling dalam dan menjadikannya alat pengawas. Sekarang setiap perlindungan yang ia berikan pada Tasya dan Bagas menjadi risiko ganda: bukan hanya bagi mereka, tapi bagi dirinya.
Di koridor, ia berpapasan dengan Tasya yang baru selesai latihan, handuk di leher, wajah lega yang masih tersisa dari akhir pekan menyelamatkan rumahnya.
"Pak," sapa Tasya, dan dari matanya Reza tahu anak itu ingin mengucapkan terima kasih lagi.
"Latihan vokal jam dua," potong Reza, suaranya datar, dingin, sengaja. "Jangan terlambat."
Ia berlalu, dan Tasya berdiri kebingungan, tidak tahu bahwa kedinginan itu adalah bentuk perlindungan—bahwa mulai hari ini, Reza harus menjaga jarak justru karena ia terlalu peduli, karena ada mata baru yang mengawasi setiap kehangatan di antara mereka. Dan dari kejauhan koridor, Tasya merasakan untuk pertama kali beban yang sesungguhnya dari pertolongan: bahwa setiap orang yang menolongnya kini ikut menanggung risiko karenanya.