Krisis lima belas juta berlalu, tapi yang ditinggalkannya bukan kelegaan—melainkan keretakan halus yang mulai merambat ke ruang latihan.
Tasya kembali ke jadwal penuh dengan tubuh yang lelah dan kepala yang penuh rahasia. Reza yang tiba-tiba dingin. Mei yang tahu sebagian tapi tidak semua. Bagas yang ia tidak boleh tatap terlalu lama. Dan di atas semua itu, kesadaran baru bahwa setiap geraknya sekarang diawasi—oleh manajemen, oleh kamera yang lebih banyak, oleh mata Pak Hartono yang kini tertuju pada pelatih mereka.
Beban itu muncul di tubuhnya sebelum di wajahnya. Dalam latihan koreografi duet, bagian tengah yang seharusnya jadi puncak penampilan grup, Tasya salah hitungan ketukan untuk ketiga kalinya.
"Stop." Reza mematikan musik. "Tasya, kamu telat setengah ketuk di bagian angkat. Bagas nunggu kamu di posisi, kamu nggak datang. Lagi."
"Maaf, Pak." Tasya mengusap keringat. "Sekali lagi."
Musik diputar ulang. Mereka mengulang. Dan di bagian yang sama, sesuatu yang lebih buruk terjadi—Tasya datang tepat waktu kali ini, tapi tubuhnya kaku, ragu, dan saat Bagas memegangnya untuk angkatan, sentuhan tangan Bagas di pinggangnya membuat mereka berdua tegang seketika, gerakan yang seharusnya mengalir berubah jadi patah-patah, canggung, terlalu hati-hati.
Karena itulah masalahnya. Dulu mereka menari sebagai dua orang yang saling percaya tanpa berpikir. Sekarang setiap sentuhan dipenuhi kesadaran—kesadaran akan kamera, akan pasal sebelas, akan mata yang mengawasi, akan utang sembilan juta yang menggantungkan nasib mereka pada perilaku baik. Mereka jadi terlalu sadar untuk bisa mengalir.
"Stop." Reza mematikan musik lagi, dan kali ini ia tidak menatap Tasya saja, tapi mereka berdua. "Kalian kenapa? Bagian ini kalian kuasai berbulan-bulan lalu. Sekarang kalian nari kayak dua orang asing yang takut nyentuh satu sama lain."
Hening. Di belakang, lima anggota lain duduk menonton—dan Tasya bisa merasakan tatapan mereka, terutama Doni yang melipat tangan, dan Fajar yang berbisik sesuatu ke telinga Doni.
"Mungkin capek, Pak," kata Bagas, mencoba menyelamatkan. "Minggu ini berat."
"Capek bukan alasan jadi canggung," kata Reza tajam. Tapi matanya, sekilas, mengirim pesan lain pada mereka berdua—peringatan. *Kalian terlalu kentara. Perbaiki.* "Istirahat sepuluh menit. Lalu kita ulang sampai bener."
Saat barisan bubar untuk istirahat, Mei mendekat ke Tasya dengan botol air. "Kamu nggak fokus seharian," katanya pelan. "Masih soal rumah?"
"Udah beres kok, rumahnya," kata Tasya. "Aku cuma capek."
Mei menatapnya, lalu menatap Bagas yang duduk sendirian di sudut, lalu kembali ke Tasya. Sesuatu di matanya berubah—bukan curiga persis, tapi mulai menghubungkan titik-titik yang selama ini ia abaikan.
"Tas," kata Mei, suaranya turun jadi bisikan. "Aku nggak akan tanya apa-apa. Tapi hati-hati, ya? Doni sama Fajar mulai ngomongin sesuatu. Aku nggak tahu apa. Tapi di asrama, kalau dua orang udah mulai ngomongin sesuatu, sebentar lagi tujuh orang yang ngomongin."
Tasya merasakan darahnya mendingin. "Ngomongin apa?"
"Aku nggak tahu," ulang Mei. "Tapi kamu sama Bagas—" ia berhenti, memilih kata, "—kalian akhir-akhir ini kayak punya rahasia yang sama. Cara kalian nggak saling pandang itu lebih kentara daripada kalau kalian saling pandang. Orang yang beneran cuma partner nggak segitu hati-hatinya."
Kata-kata itu mengenai Tasya seperti tamparan dingin. Mei benar. Dalam usaha mereka menyembunyikan, mereka justru jadi terlalu kelihatan. Keterhati-hatian mereka sendiri telah menjadi bukti.
"Mei—" Tasya mulai.
"Nggak usah jelasin." Mei menggeleng, dan ada kesedihan di senyumnya. "Aku nggak mau tahu. Karena kalau aku tahu, aku jadi orang yang nyimpen rahasia juga, dan rahasia itu berat, Tas. Aku cuma minta satu: jangan sampai grup ini hancur gara-gara apa pun yang kalian simpan. Kita udah terlalu jauh. Tujuh orang ini udah ngorbanin terlalu banyak buat sampai sini." Lesung pipinya muncul, tapi matanya basah. "Aku gagal debut dua kali, Tas. Ini kali ketigaku. Kalau gagal lagi, nggak ada kali keempat. Aku udah terlalu tua buat sistem ini."
Untuk pertama kalinya, Tasya melihat ketakutan Mei sendiri di balik keramahannya—ketakutan seseorang yang sudah mempertaruhkan segalanya pada kesempatan terakhir.
"Aku janji," bisik Tasya. "Aku nggak akan biarin grup ini hancur. Sumpah, Mei."
Reza bertepuk tangan dari depan. "Sepuluh menit habis! Posisi!"
Mereka kembali ke barisan. Musik diputar. Dan kali ini, dengan kata-kata Mei tertanam di dadanya, Tasya menari—bukan untuk dirinya, bukan untuk Bagas, tapi untuk tujuh orang di ruangan itu yang sama-sama tidak punya tempat lain untuk jatuh. Ia menari lebih baik dari sebelumnya. Tapi di sudut ruangan, Doni dan Fajar tetap berbisik, dan keretakan yang mulai merambat itu tidak hilang—hanya tertunda.