Sampai minggu itu, bagi Tasya, grup terdiri dari orang-orang yang ia kenal—Mei, Bagas—dan "empat yang lain": bayangan di formasi, suara di latar harmoni, nama yang ia hafal tapi tidak ia mengerti. Krisis lima belas juta telah membuatnya begitu tenggelam dalam masalahnya sendiri sampai ia lupa bahwa enam orang lain juga sedang menjalani pertaruhan hidup masing-masing.
Itu berubah pada malam ketika listrik asrama padam.
Pemadaman bergilir, kata staf, akan menyala dalam dua jam. Tujuh anggota berkumpul di ruang tengah dengan lilin dan senter ponsel, latihan dibatalkan karena studio gelap, dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke asrama debut, mereka punya waktu kosong bersama tanpa kamera yang berfungsi.
Mei, sang penyatu, memulai. "Karena kita bakal debut sebagai satu grup tapi sebagian dari kita masih kayak orang asing—gimana kalau cerita. Satu-satu. Kenapa kita ada di sini. Apa yang kita pertaruhkan."
Yang pertama bicara adalah Sinta—gadis bertubuh mungil dengan suara tinggi yang jadi soprano grup. Anak bungsu dari tujuh bersaudara, dari keluarga yang menganggapnya beban karena memilih menyanyi alih-alih bekerja di pabrik seperti kakak-kakaknya. "Kalau aku gagal," kata Sinta pelan, memutar lilin di tangannya, "aku pulang ke rumah yang nggak menganggapku ada. Jadi aku nggak boleh gagal. Itu aja motivasiku. Bukan mimpi indah. Cuma takut pulang."
Lalu Laras—tinggi, anggun, penari terbaik di antara para perempuan, yang selama ini Tasya kira sombong karena jarang bicara. Ternyata Laras anak tunggal dari keluarga mampu, satu-satunya di grup yang tidak terlilit masalah uang. "Orang tuaku kaya," akunya, agak malu. "Tapi mereka nggak pernah menganggap ini sungguhan. Buat mereka, aku 'main-main' tiga tahun sebelum nanti disuruh kuliah bisnis dan nerusin perusahaan. Debut buatku bukan soal uang. Soal membuktikan bahwa hidupku punya nilai yang aku pilih sendiri—bukan yang dipilihkan." Ia tersenyum kecut. "Mungkin aku yang paling beruntung di sini. Tapi nggak ada yang lebih pengin membuktikan diri daripada anak yang dianggap nggak butuh membuktikan apa-apa."
Doni bicara berikutnya—lelaki berbahu lebar dengan suara bariton yang dalam, yang Tasya kira angkuh karena sering melipat tangan. Ternyata Doni anak seorang sopir truk yang meninggal dalam kecelakaan tiga tahun lalu, meninggalkan utang dan ibu yang sakit-sakitan. "Aku masuk sini karena suara," katanya. "Tapi aku tahu, suara doang nggak cukup. Sorotan yang nentuin siapa yang naik. Dan sorotan—" ia melirik sekilas ke arah Bagas, lalu menunduk, "—nggak pernah dibagi rata. Maaf kalau aku kadang kelihatan dingin. Aku cuma takut jadi anggota yang dilupain. Yang ada di formasi tapi nggak ada di hati penggemar."
Pengakuan itu membuat ruangan hening sejenak. Tasya menyadari—untuk pertama kalinya—bahwa kedinginan Doni bukan kesombongan, melainkan ketakutan yang sama yang dirasakan semua orang di sana dengan bentuk berbeda.
Yang terakhir, Fajar. Yang termuda di antara laki-laki, enam belas tahun, wajah masih kekanakan, paling sering tertawa tapi malam itu paling lama diam. "Keluargaku," katanya akhirnya, suara hampir tak terdengar, "lagi susah banget. Bapakku usahanya bangkrut. Kayak—" ia menatap Tasya tanpa tahu betapa dalam kalimatnya menusuk, "—kayak banyak dari kita, kayaknya. Aku ngerasa setiap hari kayak balapan sama waktu. Debut harus cepat, gaji harus cepat datang, sebelum semuanya di rumah ambruk." Ia menelan ludah. "Kadang aku mikir, kalau ada jalan pintas buat dapat uang cepat, aku mungkin bakal ambil. Aku tahu itu salah. Tapi capek juga nunggu."
Tasya dan Bagas saling pandang sekilas dalam gelap—dan keduanya tahu persis bahaya apa yang baru saja diungkapkan Fajar tanpa sadar. Anak putus asa, butuh uang cepat, terbuka pada jalan pintas. Persis profil yang dicari sindikat.
"Fajar," kata Tasya pelan, dan ia tidak tahu dari mana keberanian itu datang, "kalau suatu hari ada yang nawarin kamu jalan pintas uang cepat—siapa pun, sebagus apa pun kedengarannya—kamu cerita ke kita dulu. Ke aku, ke Mei, ke siapa aja di grup ini. Jangan diputusin sendiri. Janji?"
Fajar menatapnya, sedikit bingung dengan kesungguhan Tasya, tapi mengangguk. "Janji, Mbak Tasya."
Lilin menyala di tengah mereka, dan dalam cahaya kuningnya, tujuh wajah itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi tiga orang yang Tasya kenal dan empat bayangan. Tujuh orang muda dengan tujuh ketakutan, tujuh keluarga yang menggantungkan harapan, tujuh alasan untuk tidak boleh gagal.
"Kita ini," kata Mei pelan, mengangkat lilinnya seperti dulu ia mengangkat gelas, "tujuh orang yang sama-sama nggak punya tempat lain buat jatuh."
Listrik menyala kembali, lampu memutih, lilin ditiup. Tapi sesuatu di antara mereka telah berubah malam itu—dari tujuh orang asing yang kebetulan satu grup, menjadi tujuh orang yang akhirnya saling mengenal. Dan Tasya tahu, untuk pertama kalinya, bahwa apa pun yang ia simpan dengan Bagas bukan hanya rahasia mereka berdua—tapi taruhan bagi tujuh kehidupan.