Pengumuman itu datang di pagi yang biasa, di tengah latihan vokal, ketika Bu Ratna dari pemasaran masuk ke studio bersama dua orang dari tim kreatif dan—yang membuat semua orang langsung tegak—Pak Hartono sendiri.
Direktur utama jarang turun ke studio trainee. Kehadirannya berarti satu dari dua hal: sesuatu yang sangat baik, atau sesuatu yang sangat buruk.
"Berhenti latihan," kata Reza, dan tujuh anggota berbaris menghadap depan, napas tertahan.
Pak Hartono berdiri di tengah studio, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang tak pernah memuji. "Tiga bulan menuju debut," katanya. "Kalian sudah punya lagu—hampir. Punya koreografi—hampir. Tapi kalian belum punya satu hal yang paling penting." Ia berhenti. "Nama."
Tim kreatif membuka sebuah papan, dan di atasnya, dalam huruf besar, tertulis satu kata yang akan jadi identitas mereka selama bertahun-tahun ke depan.
**SEMESTA.**
"Grup co-ed pertama dalam sejarah Bintang Sembilan," kata salah satu tim kreatif, "membutuhkan nama yang melampaui kategori. Bukan grup laki-laki, bukan grup perempuan. Sesuatu yang utuh, yang menampung semuanya. Semesta. Tujuh orang, seperti tujuh benda langit yang berbeda, tapi mengorbit satu pusat yang sama. Konsep debut kalian: tujuh cahaya berbeda yang menyatu jadi satu langit."
Ada keheningan, lalu Sinta yang pertama tersenyum, lalu Laras, lalu satu per satu. Semesta. Nama itu terasa terlalu besar, terlalu agung untuk tujuh anak yang seminggu lalu masih saling menyembunyikan ketakutan di ruang gelap. Tapi mungkin justru itu maksudnya.
"Dengar baik-baik," kata Pak Hartono, dan suaranya berubah—dari pengumuman jadi peringatan. "Nama ini bukan hadiah. Ini beban. Mulai hari kalian debut, kalian bukan lagi tujuh individu. Kalian adalah Semesta. Satu nama, satu reputasi, satu nasib. Kalau satu dari kalian jatuh, semua jatuh. Kalau satu dari kalian membuat skandal—" matanya, untuk sepersekian detik yang hanya Tasya dan Reza yang menyadari, melintas ke arah Tasya, "—bukan satu yang hancur. Tujuh yang hancur. Dan reputasi agensi ini bersama mereka."
Beban kata-kata itu menetap di ruangan seperti udara yang menebal.
"Bintang Sembilan sudah melahirkan tiga grup papan atas," lanjut Pak Hartono. "Tapi belum pernah, dalam seluruh sejarah kami, ada grup co-ed. Ini taruhan terbesar kami dalam satu dekade. Banyak orang di industri ini menunggu kalian gagal—karena kalau co-ed berhasil, semua agensi lain harus mengubah cara mereka berpikir. Kalian bukan cuma debut. Kalian membuat sejarah atau jadi pelajaran tentang kenapa sejarah itu tidak diubah." Ia memandang mereka satu per satu. "Aku tidak peduli kalian takut. Aku peduli kalian siap. Apakah kalian siap menjadi Semesta?"
"Siap, Pak!" jawab tujuh suara, dan Tasya mendengar suaranya sendiri di antara mereka—lebih lantang dari yang ia kira, didorong oleh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kepatuhan.
Pak Hartono mengangguk satu kali, lalu berbalik dan keluar tanpa banyak kata, diikuti tim kreatif, meninggalkan papan bertuliskan SEMESTA berdiri di tengah studio seperti monumen.
Ketika pintu tertutup, ruangan meledak. Sinta memekik, memeluk Laras. Doni dan Fajar bertukar tos. Mei menangis sambil tertawa—dua kali gagal debut, dan akhirnya, sebuah nama, sebuah grup yang nyata. Bahkan Reza, yang biasanya menjaga jarak, membiarkan senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Tasya berdiri di tengah euforia itu, menatap papan SEMESTA, dan untuk sesaat membiarkan dirinya merasakan kebahagiaan murni—tanpa beban, tanpa rahasia. Ia, gadis nomor 247 yang dulu menyanyi tanpa musik di depan tiga juri demi melunasi utang keluarga, sekarang bagian dari sesuatu yang punya nama, punya wujud, punya masa depan.
Lalu matanya bertemu mata Bagas di seberang ruangan.
Mereka tidak tersenyum—terlalu banyak orang, terlalu banyak kamera yang kini menyala kembali. Tapi dalam tatapan singkat itu, ada seluruh percakapan yang tak terucap. Kita berhasil sampai sini. Kita punya nama sekarang. Dan justru karena itu, beban menahan diri ini jadi lebih berat, bukan lebih ringan—karena sekarang ada tujuh orang, satu nama, satu nasib yang bergantung pada seberapa baik mereka mengubur apa yang mereka rasakan.
Di pojok studio, Doni menempelkan papan SEMESTA ke dinding, di tempat semua orang bisa melihatnya setiap hari. Dan di bawah nama yang agung itu, tujuh orang muda mulai kembali ke posisi—untuk berlatih menjadi langit yang belum pernah ada di Bintang Sembilan.
Tasya mengambil posisinya di tengah, di sebelah Bagas tapi tidak menyentuhnya, dan ketika musik dimulai lagi, ia menyanyikan baris pertama lagu yang belum selesai itu dengan suara yang, untuk pertama kalinya, terdengar seperti milik seorang idol—bukan lagi seperti milik gadis yang sedang melarikan diri dari utang.
Semesta. Tiga bulan lagi, dunia akan tahu nama itu. Dan tak satu pun dari tujuh orang di studio itu tahu betapa banyak yang harus mereka korbankan sebelum dunia benar-benar menerimanya.