Desas-desus tidak pernah datang seperti petir. Ia datang seperti rembesan air di langit-langit—pelan, hampir tak terlihat, sampai suatu hari kamu menengadah dan menemukan noda cokelat yang menjalar ke seluruh atap.
Tasya pertama kali mendengarnya di ruang ganti, dari mulut Laras, lewat dinding tipis yang memisahkan rak pakaian dari kamar mandi.
"Katanya sih," bisik Laras pada Sinta, suaranya pelan tapi cukup keras untuk menembus pelat besi loker, "ada yang lihat dua orang di grup kita sering ketemu diam-diam. Anak kelas bawah yang cerita. Yang dulu hampir debut itu, siapa namanya—Kirana."
Tasya membeku dengan satu kaki masih di dalam celana latihan. Jantungnya seperti dilempar ke lantai studio dari lantai empat.
"Ah, paling cuma gosip iri," Sinta menjawab acuh. "Anak yang dibuang ke kelas bawah memang suka cari ribut."
"Tapi katanya dia punya bukti."
Tasya tidak mendengar sisanya. Telinganya berdenging. Ia menarik napas, memaksa wajahnya menjadi datar, lalu melangkah keluar dari balik loker seolah baru saja masuk. Laras dan Sinta langsung diam, lalu tertawa terlalu cepat, terlalu ramah.
"Eh, Tasya. Udah selesai latihan vokal?"
"Udah." Tasya tersenyum. Senyum yang ia latih bertahun-tahun di depan rentenir, di depan guru yang menanyakan SPP, di depan ibunya yang tak boleh tahu seberapa takut anaknya. "Tinggal aku duluan ya."
Ia berjalan keluar dengan punggung tegak sampai pintu tertutup, lalu menyandarkan diri ke dinding lorong, menutup mata.
Kirana.
Nama itu seperti pisau yang dikira sudah dibuang ke laut, ternyata diam-diam terbawa arus kembali ke pantai.
Malam itu Tasya menemui Bagas di tangga darurat—satu-satunya tempat tanpa kamera yang masih tersisa, meski sekarang mereka hanya berani datang terpisah, lima menit jeda, dengan alasan yang sudah disiapkan.
"Dia mulai cerita-cerita," kata Tasya. "Kirana. Soal kita. Ke anak-anak kelas bawah, ke siapa pun yang mau dengar."
Bagas menyandar di dinding beton yang dingin, tangannya terlipat. Wajahnya yang biasanya tenang kini mengeras. "Dia nggak punya foto-foto itu lagi. Reza yang pegang. Manajemen yang pegang."
"Dia nggak butuh foto buat bikin orang penasaran, Gas." Tasya memeluk lengannya sendiri. "Dia cuma butuh satu kalimat. 'Coba perhatikan mereka berdua.' Sisanya orang yang bikin sendiri di kepala mereka."
Bagas terdiam. Karena Tasya benar, dan keduanya tahu itu. Gosip tidak butuh bukti. Gosip hanya butuh celah, dan setiap kali Tasya dan Bagas saling memandang sepersekian detik terlalu lama, mereka menambah celah itu sendiri.
"Reza udah tahu?" tanya Bagas.
"Belum. Aku nggak mau dia ikut repot lagi. Dia udah terlalu banyak nolong kita."
"Justru itu yang harus dia tahu." Bagas menegakkan badan. "Tasya, ini bukan soal kita lagi. Kalau gosip ini meledak sebelum debut, yang hancur bukan cuma aku sama kamu. Mei. Sinta. Laras. Doni. Fajar. Tujuh orang. Tiga bulan lagi panggung pertama kita, dan kita mau ngasih Kirana kesempatan buat ngebakar semuanya?"
Dari bawah terdengar derit pintu. Keduanya membeku. Hanya petugas kebersihan, mendorong gerobak pelnya, tidak menengadah. Tapi jantung Tasya berdebar liar selama beberapa detik penuh, dan ia menyadari sesuatu yang membuat tenggorokannya tercekat: rasa takut ini tidak akan pernah hilang. Selama mereka memilih tetap bersama, setiap suara pintu, setiap langkah kaki, setiap mata di lorong akan menjadi ancaman.
Bagas seperti membaca pikirannya. Ia mengulurkan tangan—lalu menariknya kembali sebelum menyentuh. Bahkan di sini, di tempat tergelap di seluruh gedung, mereka tak lagi berani saling menyentuh.
"Kita disiplin," kata Bagas akhirnya, suaranya rendah. "Mulai sekarang, di depan mata siapa pun, kita cuma rekan. Nggak ada lagi tangga darurat. Nggak ada lagi pandangan. Kita kasih Kirana panggung kosong, biar omongannya jatuh sendiri."
Tasya mengangguk, meski setiap selnya menolak. Mengubur sesuatu yang masih hidup selalu terasa seperti membunuhnya.
"Lalu suatu hari nanti?" bisiknya, mengulang janji lama mereka.
Bagas tersenyum, getir dan lembut sekaligus. "Suatu hari nanti."
Mereka berpisah di tangga itu untuk yang—mungkin—terakhir kalinya. Tasya naik lebih dulu. Di puncak tangga, sebelum mendorong pintu, ia menoleh ke bawah. Bagas masih berdiri di sana, menengadah, menatapnya.
Dan di sela tirai jendela lorong lantai dua, sepasang mata lain mengawasi mereka berdua. Tasya tidak melihatnya. Tapi bayangan tinggi berkulit pucat itu tersenyum tipis di kegelapan, lalu menghilang—membawa satu butir lagi dari benih yang ia tanam, sabar menunggu musim panen.