Dua Hari yang Lalu
Axel baru saja kembali dari kembali dari suatu tempat. Ia berjalan sendirian melewati jalan setapak di tengah hutan. Beberapa langkah di depannya, ia melihat seorang pemuda tengah duduk—bersandar pada sebuah pohon besar di tepi jalan. Axel memicingkan matanya—melihat lebih jelas rupa pemuda tersebut. Tidak salah lagi, Axel mengenalnya. Pemuda itu adalah Arga. Axel masih mengingat jelas wajah Arga saat terakhir kali mereka bertemu.
Axel melanjutkan langkahnya—menghampiri Arga. "Hei, kau sedang apa, Ar?" sapa Axel membuat Arga membuka matanya.
Arga sedikit menoleh lalu menarik sedikit bibirnya untuk tersenyum. "Hei, kau," sahut Arga. "Kita pernah bertemu?" lontar Arga.
Mata Axel sedikit terangkat. Ternyata Arga tidak mengingatnya. "Aku Axel. Kita pernah bertemu di Akademi. Ingat?"
Arga memandangi wajah Axel sejenak kemudian mengangguk seraya tersenyum. "Ya, aku ingat. Axel, kita bertemu di koridor ya?"
"Iya benar. Ngomong-ngomong kau sedang apa di sini?" tanya Axel.
"Aku sedang istirahat sejenak."
"Kau suka beladiri ya?" lontar Axel.
Arga mengangguk. "Ya, kau sendiri?"
"Aku tidak terlalu suka. Aku kebetulan lewat sini dan melihatmu. Aku baru saja kembali dari kota karena ibuku yang menyuruhku," balas Axel.
"Oh begitu, baiklah aku pergi dulu," Arga berdiri kemudian menoleh pada Axel. "Hei, berhati-hatilah saat di berada di daerah ini. Banyak pembunuh." Setelah mengatakan itu dia pergi begitu saja.
***
Esok harinya, saat Axel kembali berjalan melewati jalan itu, ia melihat Arga tengah duduk di teras suatu rumah. Axel berpikir itu mungkin rumahnya. Beberapa saat kemudian, Arga melangkah masuk ke dalam rumah. Axel masih berdiri memandanginya dari tempatnya berdiri.
Beberapa saat kemudian, saat ia hendak melangkah kembali, seseorang yang entah dari mana, tiba-tiba ada di teras depan rumah Arga.
Axel menatap sekeliling dan kebingungan kenapa orang itu tiba-tiba ada di sana, orang itu pun masuk kedalam rumah Arga. Axel mengira itu adalah keluarga Arga, jadi dia tidak curiga, setelah itu ia kembali melangkah dan tidak tahu kejadian setelahnya.
***
"Tidak salah lagi, orang itu yang membuat Arga seperti sekarang, Hei Axel, bagaimana ciri-cirinya?"
"Aku tidak bisa menjabarkan secara detail karena jarak kami cukup jauh dan dia membelakangiku. Tapi aku bisa melihat dengan jelas sebuah tato di tangan kanannya."
"Tato?"
"Iya, orang itu mempunyai tato berwarna hitam di lengan kanannya berbentuk suatu simbol."
"Simbol apa?"
"Bagaimana mengatakannya ya? Simbol itu cukup rumit, tapi aku masih mengingat bentuknya."
"Gambar saja!"
"Baiklah, tunggu sebentar! Axel berlari kedalam kelas untuk menggambar simbol tersebut pada selembar kertas dan kembali menemui Bima.
"Ini." Axel menyodorkan kertas tsb.
Bima meraihnya dan menatapnya dengan seksama. "Kau yakin seperti ini?"
"I-Iya, aku sangat yakin."
Bima mengantongi kertas tersebut. "Lalu apa lagi yang kau lihat darinya."
Axel mencoba mengingat untuk beberapa saat. "Ah iya, tulisan dibajunya, ia memakai baju bertuliskan CanisLupus."
"CanisLupus ... CanisLupus Nigreos."
"Cuma itu yang aku ketahui, orang itu keburu masuk ke dalam rumah Arga."
"Tidak apa. Terimakasih informasinya."
"Iya,sama-sam—"
Bima segera berlari ke rumahnya untuk melihat kondisi Arga. Ia masuk rumah dengan terburu-buru. Ia melihat kondisi Arga yang jauh lebih baik, lalu perhatian Bima terpusat pada da.da Arga dimana di sana terdapat sebuah bekas luka yang mulai memudar membentuk sebuah simbol.
Ia segera merogoh sakunya dan melihat kertas pemberian Axel. Ia menyamakannya dengan bekas luka Arga dan benar saja, simbol itu mirip. Ini semua ulah dari Geng CanisLupus Nigreos.
Bima tidak mengetahui alasan mereka menyerang Arga, namun itu sudah keterlaluan, Bima sangat marah sekarang dan dia memutuskan untuk mencari keberadaan Geng tersebut.
Besoknya, saat di Akademi, Bima berdiri di depan gedung akademi, menunggu kedatangan seseorang, orang itu adalah Dion.
Setelah beberapa saat menunggu, Dion dan kedua temannya datang. Dion yang selalu menjaga citranya mencoba terlihat angkuh saat berjalan melewati Bima.
"Hei, kau!" panggil Bima.
Dion berhenti dan menoleh, "Apa maumu?"
"Katakan padaku tentang Geng Ayahmu!" ujar Bima.
"Ha? Apa aku tidak salah dengar?" balas Dion
"Jangan basa-basi! aku tidak punya banyak waktu." Bima menatap dingin pada Dion.
Dion mulai merasakan aura mencekam dari mata Bima, ia menelan ludahnya. Dia sebenarnya merasa ketakutan namun tetap berusaha menjaga harga dirinya.
"Gang CanisLupus itu adalah geng dari orang-orang kuat di Wilayah Timur, kau tidak akan mampu melawan mereka."
"Dimana mereka?"
"Mereka tinggal di pusat kota, saat kau bertemu dengan mereka, kau lebih baik melarikan diri, karena mereka akan membunuhmu saat melihat tatapanmu itu."
"Pusat kota?"
Itu adalah suatu tempat yang pernah ia dan Arga kunjungi beberapa waktu lalu. Tanpa mempedulikan ucapan Dion yang mengejeknya ia langsung pergi ke suatu tempat untuk mempersiapkan diri. Hari itu, ia sengaja tidak masuk sekolah dan memilih mengumpulkan staminanya di suatu tempat.
Waktu berlalu cepat dan malam tiba. Sekitar jam sepuluh malam, tanpa sepengetahuan neneknya, Bima pergi ke kota seorang diri untuk mencari Geng CanisLupus Nigreos untuk membalas dendam.
Beberapa jam berlari, Bima akhirnya sampai di kota, namun ia tidak tahu letak persis tempat Geng CanisLupus Nigreos. Ia pun memilih duduk di sebuah kursi di pinggir jalan.
Lalu tiba-tiba, seseorang duduk di sebelahnya yang membuat Bima cukup terkejut.
"Hei, kau sedang apa malam-malam sendirian?"
"Aku sedang istirahat sejenak."
"Hmm ... kenapa kau tidak pulang ke rumahmu dan beristirahat di sana."
"Aku tidak tinggal di daerah sini."
"Woah, memangnya kau dari mana?"
"Aku dari Desa Nara, lalu kau?"
"Desa Nara? Aku belum pernah mendengarnya, oh ya, kenalkan Aku Dennis, aku juga bukan dari daerah sini, aku baru saja tiba di sini. Siapa namamu?"
Bima diam sejenak, "Thera."
"Baiklah Thera, tujuanmu pergi ke sini untuk apa? Apakah tujuanmu sama denganku? Kau ingin melihat-lihat pemandangan kota?"
"Tidak, bukan itu. Aku kesini untuk mencari suatu Geng yang ada di daerah sini."
"Geng? CanisLupus?"
Bima menoleh Dennis cepat. "Kau tahu geng itu?"
"Tentu saja. Mereka geng yang menguasai daerah ini. Tapi kusarankan jangan macam-macam dengan mereka. Mereka itu adalah kumpulan manusia-manusia berkemampuan istimewa."
Tanpa mempedulikan peringatan Dennis tentang kekejaman geng tersebut Bima bertanya pada Dennis dimana markas Geng itu?
"Apa? Kau yakin ingin menemui mereka, dengar Thera, kusarankan jangan, mereka itu—"
"Mereka membuat temanmu sekarat." ucap Bima memotong ucapan Dennis.
Dennis tidak mampu berkata-kata, ia tahu niat Bima menemui geng tersebut untuk membalas dendam temannya.
"Kau ... sungguh ingin menemui mereka?"
"Ya."
Dennis menghela nafas kasar, "Baiklah aku akan mengantarmu. Tapi jika jumlah mereka terlalu banyak, kita lari, oke?"
"Baiklah."
Dua pemuda yang baru saling mengenal itu akhirnya pergi menuju markas Geng CanisLupus untuk membalaskan dendam Arga.