Dua orang pemuda seumuran tengah bersembunyi di dalam sebuah gang kecil di pinggir kota. Mereka berdua menempelkan punggungnya pada permukaan tembok dengan nafas terengah-engah. Kedua pemuda itu adalah Bima dan Dennis.
Dennis menoleh pada Bima kemudian menepuk bahunya pelan. "Hei, orang-orang itu masih mengejar kita?" tanya Dennis pelan—dia berbisik, suaranya mendesis. Nafasnya masih terdengar memburu dan tidak beraturan. Degup jantungnya berpacu dengan cepat.
"Entahlah, sepertinya orang-orang itu masih ada di dekat sini," balas Bima tanpa menoleh—pandangannya melihat ke sisi lain.
Dennis menghela nafas dalam kemudian berhembus kasar. "Hei, coba kau intip mereka!" pinta Dennis yang membuat Bima menoleh cepat ke arahnya dengan raut wajah terkejut.
"Apa? Intip? Sepertinya itu ide yang buruk, Dennis. Kita tidak tahu posisi orang-orang itu saat ini. Bisa saja mereka sangat dekat dengan kita. Sebaiknya kita diam dulu di sini dan jangan melakukan apapun," tolak Bima dengan alasan yang masuk akal.
"Tapi, bagaimana kita tahu posisi mereka tanpa melihatnya langsung, Thera? Bisa saja mereka sudah tidak ada di sekitar sini," balas Dennis yang membuat Bima menghela nafas. "Sedikit saja! Tonjolkan kepalamu keluar! Kau tidak mau bersembunyi di sini semalaman, 'kan?" sambung Dennis.
Bima menelan ludahnya sesaat. Ia menatap Dennis untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengintip dibalik tembok di belakangnya—menyembulkan sedikit kepalanya keluar untuk melihat keadaan sekitar. Pandangan Bima mengedar—melirik ke segala arah. Bima tidak melihat satu orang pun di sekitar mereka. Dia semakin menyembulkan kepalanya keluar agar jangkauan pandangannya semakin luas. Bima masih tidak melihat mereka. Orang-Orang yang mengejar mereka sebelumnya sudah tidak ada, mungkin telah kembali ke markasnya.
Setelah cukup lama menunggu Bima berbicara, Dennis yang tidak sabaran pun ikut menyembulkan kepalanya keluar—tepat di atas kepala Bima. "Bagaimana situasinya, Thera?" lontar Dennis sembari ikut mengedarkan pandangannya.
"Sepertinya orang-orang itu sudah pergi dari sini. Aku tidak melihat mereka," sahut Bima.
Dennis menurunkan pandangannya—menatap atas kepala Bima, "Apa yang kau lakukan? Kenapa mengintipnya lama sekali?" tanya Dennis lagi.
"Aku hanya memastikan bahwa orang-orang itu benar-benar telah pergi. Aku tidak mau mengambil resiko dan membahayakan nyawa kita berdua," jawab Bima yang membuat Dennis mengangguk paham.
"Kau benar juga," ujar Dennis setuju dengan Bima. "Tapi ... kenapa kita terus mengintip seperti ini? Bukankah orang-orang itu sudah pergi? Kita seharusnya tidak usah bersembunyi lagi, 'kan?" celetuk Dennis merasa heran. Orang-Orang yang mengejar mereka telah pergi, lantas kenapa mereka masih bersembunyi di dalam gang dan terus mengamati keadaan. Sepertinya ada yang aneh.
"Kau benar! Kita seharusnya keluar dari gang ini," ucap Bima.
"Lalu, kenapa kau masih membungkukkan badanmu, Thera?" tanya Dennis lagi.
"Itu karena kau berdiri tepat di belakangku, Dennis! Aku tidak bisa menegakkan badanku, kepalamu menahan kepalaku! Menyingkirlah!" ujar Bima.
"Ow! Benar juga." Dennis melangkah mundur—memberi ruang untuk Bima berdiri.
Bima menegakkan tubuhnya kemudian melangkah keluar dari gang tersebut disusul Dennis di belakangnya. Bima kembali mengedarkan pandangannya—menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan sekitar sekali lagi. "Orang-Orang itu sudah pergi. Kita sudah aman untuk sekarang," ucap Bima.
Dennis menghela nafas lega seraya memegang dadanya. "Huh ... syukurlah kita bisa selamat dari orang-orang itu. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai tertangkap oleh orang-orang itu," tutur Dennis.
Dennis merasa sangat lega karena mereka berdua bisa lolos dari kejaran orang-orang dari Geng CanisLupus Nigreos. Dennis menatap Bima. "Hei, Thera! Kubilang juga apa?! Jumlah mereka itu terlalu banyak! Kita berdua tidak mungkin bisa menerobos masuk ke dalam markas mereka dan mencari orang itu! Kau ini!" sembur Dennis sedikit menaikkan nada bicaranya. Pemuda itu sedikit kesal pada Bima karena sangat gegabah. Bertindak tanpa rencana itu ide yang sangat buruk.
Bima terdiam sejenak. "Maafkan aku, Dennis. Aku sungguh minta maaf karena telah melibatkanmu dalam masalah ini. Karena aku, kau hampir saja celaka. Kau benar, sepertinya jumlah mereka terlalu banyak. Tidak seharusnya aku bertindak tanpa rencana," tutur Bima. Ia menghela nafas kasar kemudian. "Aku tidak bisa mengontrol diriku. Seharusnya aku lebih bisa mengendalikan emosiku," sambungnya.
Dennis menghela nafas dalam. "Sudahlah. Tidak ada yang harus kau sesali, Kawan. Yang terpenting sekarang, kita sudah lolos dari kejaran orang-orang itu," balas Dennis.
Dennis mundur beberapa langkah sampai punggungnya mengenai tembok bangunan di belakangnya. Ia menyandarkan tubuhnya di sana—masih dalam posisi berdiri. Perlahan, ia menurunkan tubuhnya sampai terduduk di trotoar. Ia menarik kedua ujung bibirnya. "Tapi, tadi itu seru sekali, 'kan?" celetuk Dennis yang membuat Bima menengok ke arahnya.
Bima mengernyitkan kening. "Ha?" sahut Bima. Ia mendengar jelas ucapan Dennis. Dia hanya memastikan hal yang didengarnya.
Dennis mengangkat pandangannya—menatap Bima. "Bagaimana menurutmu tadi, hah? Cukup menguji adrenaline, 'kan?" lontar Dennis kemudian terkekeh.
Beberapa Jam Sebelumnya
Bima dan Dennis dalam perjalanan menuju Markas Besar Geng CanisLupus Nigreos yang berada di bagian utara perbatasan kota. Langkah mereka beriringan menembus gelapnya malam. Hawa dingin yang menusuk tulang belakang berhasil membuat Dennis menggigil kedinginan. Ia melingkarkan kedua tangan memeluk tubuhnya seraya mendesis gigil, kemudian menggosokkan kedua telapak tangannya untuk menciptakan hawa hangat.
Dennis meniupkan udara hangat ke telapak tangannya. Ia menoleh pada Bima. "Hei, Thera," panggil Dennis yang berhasil membuat Bima menoleh singkat ke arahnya. "Sebenarnya, kenapa kau memintaku untuk mengantarmu ke markas mereka?" lontar Dennis sembari terus membuat hawa hangat di tangannya.
"Aku sudah mengatakannya kepadamu. Aku datang ke sini untuk mencari orang yang sudah membuat temanku celaka. Aku akan membalasnya," jawab Bima dengan mantap. Tatapan matanya tajam.
"Lalu, jika sudah sampai di markas mereka, apa yang akan kau lakukan? Apa kau punya rencana? Kau tidak mungkin datang ke sini untuk membalas dendam tanpa membawa apapun," lanjut Dennis.
"Tidak. Aku tidak mempersiapkan apapun. Aku hanya membawa kepalan tanganku saja untuk mencari orang itu," balas Bima.
Dennis tersentak kaget. "K—Kau serius? Hanya tangan kosong? Astaga, Thera! Begini, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Mereka Geng CanisLupus Nigreos, geng kejam yang menguasai daerah ini! Kau yakin sanggup menghadapi mereka? Percaya padaku, kau tidak akan sanggup menghadapi mereka seorang diri," tutur Dennis lagi.
"Aku sama sekali tidak punya urusan dengan geng itu. Urusanku hanya dengan satu orang saja. Hanya itu alasanku datang ke sini," ujar Bima.
"Kau pikir, mereka akan membiarkanmu mengusik satu anggota mereka? Tidak, Bim! Mereka semua akan turun tangan untuk membunuhmu! Memangnya siapa orang yang kau cari itu? Kau tahu namanya?" tanya Dennis.
"Aku tidak tahu nama orang itu. Tapi, aku tahu ciri-cirinya," ujar Bima.
Dennis menoleh cepat dengan raut wajah terkejut. "Tu—Tunggu dulu, kau tidak tahu nama orang yang kau cari? Lalu, bagaimana kau bisa menemukan orang itu, Kawan?" tanya Dennis.
"Tato. Orang itu memiliki tato berwarna hitam di lengannya. Aku hanya perlu mencari orang dengan tato hitam di lengannya. Mungkin cukup sulit, tapi aku pasti menemukan orang itu," ucap Bima optimis.
Dennis mengernyitkan kening. Ia sepertinya mengetahui sesuatu. "Tato? Tunggu dulu, Thera! Apa maksudmu, tato bentuk simbol?" terka Dennis.
Bima menoleh cepat pada Dennis. "Ya!Tato simbol. Bagaimana kau tahu?" tanya Bima dengan tatapan menyelidik. Bima belum mengatakan apapun pada Dennis tentang tato itu. Bagaimana Dennis mengetahui bentuk tato orang itu? Apa dia ada hubungannya dengan Geng Canislupus Nigreos? pikir Bima sepintas.
Dennis sedikit tersentak. Ternyata tebakannya benar. "Apa? Jadi itu benar? Kau mencari anggota Canislupus Nigreos yang memiliki tato berbentuk simbol di lengannya?" lontar Dennis.
Bima mengangguk. "Ya, itu benar. Aku mencari orang itu. Sepertinya akan memakan sedikit waktu. Aku tidak tahu akan bertemu dengan berapa orang di sana. Tapi, aku pasti bisa menemukannya." Bima penuh dengan rasa optimis dan yakin bisa membalas dendam kepada orang yang dia cari.
Dennis berdeham singkat. Ia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh Bima. Ia harus memberitahu Bima sedikit informasi yang ia ketahui tentang Geng Canislupus Nigreos. "Bagaimana mengatakannya ya? Dengar, Kawan! Orang—Orang itu, maksudku Geng Canislupus itu memiliki semacam identitas yang menjadi ciri khas mereka. Orang-Orang akan langsung mengenali mereka saat melihat ciri khas pada tubuhnya—dan salah satu ciri khas yang ada pada tubuh mereka adalah tato khusus yang tercetak di lengan setiap anggota Geng Canislupus. Tato itu berbentuk sebuah simbol yang menjadi lambang kekuasaan mereka," tutur Dennis membuat Bima terbelalak.