Arga menoleh pada Bima, "Maafkan aku, Bim. Aku benar-benar bodoh. Aku terlalu lemah untuk menanggung rasa sakit ini sendirian," ujar Arga merasa bersalah.
Bima menghela nafas seraya melayangkan senyum. "Hei, sudahlah, Kawan. Yang kau lakukan tidaklah salah. Kau melakukan itu untuk orang tuamu. Jika aku jadi kau, aku akan melakukan hal yang sama. Tapi, bukan berarti kau langsung bertindak gegabah dan malah membahayakan nyawamu sendiri," balas Bima.
"Ya, yang aku lakukan memang sangat gegabah. Tindakanku seperti orang bodoh. Aku tidak mengukur kemampuan orang itu. Aku tidak sadar, kemampuanku masih kalah jauh darinya. Saat itu, aku kira aku akan mati di rumahku. Aku tersadar kalau aku salah sudah meluapkan emosiku kepadamu. Aku sangat menyesal dan berharap bisa bertemu denganmu untuk terakhir kalinya agar aku bisa meminta maaf," tutur Arga
Bima menyentuh pundak Arga."Sudahlah. Kau sudah di sini, Ar. Aku tidak menyalahkan tindakanmu dan aku tidak pernah dendam kepadamu. Kau temanku. Jika kau butuh sesuatu datanglah. Aku akan selalu ada untukmu," lanjut Bima.
Arga tersenyum lembut. "Terima kasih, Kawan."
"Bagaimana kondisimu?" tanya Bima.
"Jauh lebih baik, tapi tubuhku masih membutuhkan banyak istirahat, aku kehilangan banyak darah. Nenekmu bercerita bahwa kau yang membawaku ke sini. Aku berhutang nyawa padamu, Bim."
"Hei, tak usah dipikirkan. Aku temanmu dan aku yakin kau pasti melakukan itu jika aku di posisimu."
Arga tersenyum lembut.
"Lalu, siapa yang melakukan ini padamu?"
"Dia ...."
***
"Tidak kusangka kau cukup kuat juga, Bocah. Padahal kau seorang manusia."
Arga terbaring sekarat dengan tubuh penuh darah, namun dia masih sadar dan mampu mendengar perkataan pria itu. Pria itu berjongkok dan menyayat d**a Arga membentuk suatu simbol.
Arga masih sadar saat pria itu di ambang pintu. "Jika kau mampu bertahan hidup, aku Jak, seorang CanisLupus Nigreos mengakuimu sebagai salah satu ras manusia yang kuat."
***
"Ternyata benar," gumam Bima.
"Benar? Kau sudah tahu?"
"Ya, aku mengetahui pria itu dari Axel."
"Axel? orang waktu itu?"
"Ya, dia ada di depan rumahmu saat pria itu mendatangimu, aku minta maaf karena terlambat."
"Hei, Bima. Jika bukan karena kau, mungkin aku sudah mati saat ini. Kau sama sekali tidak salah, jangan meminta maaf, lebih baik sekarang, kau segera berangkat ke Akademi , hari mulai siang."
"Astaga!" Bima langsung berlari masuk ke dalam rumah dan mengganti bajunya serta membawa beberapa barang dan langsung pergi ke Akademi . "Aku berangkat."
Arga tertawa pelan, lalu raut wajahnya berubah, ia menyibakkan bajunya untuk melihat luka di dadanya. Ia ingat persis luka di tubuh mayat perempuan tempo lalu dan itu sangat mirip dengan simbol di dadanya. Berarti Geng CanisLupus-lah dalang dari pembunuhan di Akademi dan kejadian ini pasti akan terulang lagi.
Satu Bulan Kemudian
Arga sudah sembuh total. Tubuhnya sudah kembali pulih seutuhnya. Selama masa pemulihan Arga sama sekali tidak melakukan latihan ataupun pergi ke Akademi. Tubuhnya masih belum diperbolehkan melakukan itu semua. Hal yang setiap hari dia lakukan adalah bermeditasi—duduk bersila dan mengatur ritme pernafasannya.
Selama satu bulan terakhir, Arga sering datang ke rumah Bima, bahkan tidak jarang ia menginap di rumahnya. Setelah cukup lama beristirahat, akhirnya Nenek Bima—Ling, mengizinkan Arga untuk melakukan hal-hal yang biasa dia lakukan, seperti latihan ataupun pergi ke Akademi.
Ling mengatakan tubuh Arga sudah pulih total. Pada awalnya, Ling bahkan tidak percaya Arga mampu bertahan dengan luka yang di luar nalar. Tapi tubuhnya mampu bertahan, meskipun memakan waktu yang tidak sebentar. Tingkat penyembuhan tubuh Arga bisa dikatakan sangat cepat. Sel-sel yang me—regenerasi tubuhnya berfungsi sangat baik.
Setelah cukup lama bersabar, akhirnya hari ini tiba. Hari dimana Arga akan kembali pergi ke Akademi. Dia berangkat bersama Bima.
Ia dan Bima sedang berada di perpustakaan untuk mencari buku tentang anatomi tubuh bagian dalam tiba-tiba terdengar jeritan perempuan diikuti orang-orang.
Bima dan Arga segera berlari untuk melihat, saat berada diluar gedung, mereka melihat banyak sekali orang-orang dengan wajah sangar menatap mereka di depan gedung, terlihat satu perempuan dari Akademi berada di barisan mereka, ia dalam keadaan rambutnya dijambak.
Bima dan Arga membelalakan matanya karena terkejut dengan kedatangan mereka. Lalu di barisan mereka Arga melihat seseorang yang tidak asing di sana, orang yang telah membuatnya hampir mati, dia orangnya dan sudah dapat dipastikan mereka adalah Geng CanisLupus Nigreos.
Lalu salah seorang dari mereka berteriak. "Hei kalian, jangan terkejut! Kami hanya akan membawa beberapa perempuan dari sini untuk menjadi istri-istri kami, karena para istri kami terdahulu sudah mati semua. Jadi kalian para sialan jangan berani menghalangi kami atau kalian akan mati, Bocah!"
"Lalu beberapa saat kemudian, para perempuan yang melihat dari lantai 2 dan 3 berteriak ketakutan dan segara masuk kelas."
Bima dan Arga beberapa kali menelan ludah mereka, mereka sangat banyak. Namun tidak ada pilihan lain selain melawan, mereka tidak bisa diam saja.
"Kau bisa bertarung, Ar?"
" Ka-Kau yakin ingin melawan mereka semua, Bim? Kita tidak akan menang, kita cuma berdua."
Lalu tiba-tiba dari belakang mereka," Astaga, ada apa ribut sekali, Bung. Berani sekali mereka mengganggu tidur siangku." ucap Byron lalu berdiri di samping mereka diikuti seisi kelasnya yang keluar atas perintah Byron.
Bima dan Arga menoleh cepat ke arah Byron. "Kau?" ucap Bima terkejut.
"Byron?" Ucap Arga tak kalah terkejut
"Apa aku kita harus bertarung melawan mereka? Hah ... merepotkan sekali." ucapnya lalu menguap.
"Wah, ramai sekali diluar sini, Kawan. Sepertinya akan ada pertempuran hebat," ucap Hestra tiba-tiba berdiri di sebelah Byron disusul dengan Adisty. Sebelumnya mereka berada di atas gedung untuk merebahkan tubuhnya sambil menatap langit, karena mereka berdua sama-sama orang yang suka ketenangan.
"Kau?" Ucap Bima lagi tak kalah terkejut.
"Hestra dan ... Siapa perempuan ini? Ucap Arga menatap bingung pada Adisty.
"Jangan pedulikan aku," Ucap adisty datar.
Lalu datang seorang menyusul berdiri di sebelah Adisty, "aku sudah menduga mereka akan datang untuk menyerang Akademi ini."
"Axel?"
Lalu seorang pria kekar menyusul keluar dari gedung. Dan itu adalah Chayton, diikuti semua pemuda dari Bidang Beladiri. "Terlalu cepat untuk kalian melakukan ini, tapi sepertinya kita tidak bisa membiarkan orang-orang itu menculik para perempuan-perempuan di sini," ujar Chayton. Pria kekar itu membalikkan badan—menghadap semua anak dari Bidang Beladiri. "Apa kalian akan membiarkan mereka mengambil para calon istri kalian?" seru Chayton kepada para pemuda itu.
"Tidak!" sahut mereka serentak dengan lantang.
"Apa kalian akan diam saja saat akademi kalian akan di rusak?"
"Tidak!"
"Apa kalian takut untuk bertempur dengan para b******n-b******n itu?"
"Tidak!"
"Kalau begitu, lawan dan hajar mereka!!"
"Ya!"
Sekarang dari kedua sisi sudah hampir seimbang, namun masih lebih banyak sisi Akademi Bach.
Bima menatap kiri dan kanan. "Hei, kalian, hidup dan mati kita dipertaruhkan di sini, keluarkan semua kemampuan kalian. ini adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan kemampuan kalian."