Seorang pria dari sisi CanisLupus mulai melangkah maju—berdiri satu langkah di depan mereka semua. Pria itu terlihat tidak asing. Sorot mata dan perawakan tubuhnya membuat seorang pemuda dari sisi Bachalpsee mengeraskan rahangnya. Pemuda itu adalah Arga. Amarah yang pernah padam seolah kembali menyala saat melihat pria itu, dialah penyebab orang tua Arga mati.
Dia juga yang membuat rasa sakit yang teramat sangat di hati Arga. Goresan luka di hatinya masih sangat basah dan berdarah—dan tidak akan kering sampai Arga berhasil membalas kematian orang tuanya. Jak harus membayar semua rasa sakit itu. Tidak ada kesempatan lain, ini adalah saat yang tepat untuk Arga. Ia harus menjadikan momen ini sebagai pertemuan terakhirnya dengan pria bernama Jak itu.
Tubuh Arga bergetar hebat. Serat tipis terlihat jelas di rahangnya. Gemericik giginya yang saling beradu kuat membuat pemuda di sebelahnya menoleh padanya. "Ada apa, Ar?" lontar Bima. Ia sedikit terkejut saat melihat sorot mata Arga. Tidak salah lagi, itu adalah tatapan kebencian dari Arga. Pemuda itu tidak pernah melayangkan tatapan itu kepada siapapun, kecuali orang yang paling dia benci dalam hidupnya. Bima mulai merasakan hawa panas. Sesaat kemudian, ia menyadari bahwa itu berasal dari tubuh Arga yang tengah terbakar emosi. Darahnya mendidih dan membuat siapa pun yang berada di sekitarnya merasakan hawa tersebut.
"Dia orangnya," sahut Arga sembari menunjuk Jak dengan dagunya. "Orang itu yang telah membunuh kedua orangtuaku. Dia juga yang telah membuatku hampir mati. Aku harus membalas itu semua dalam pertarungan ini."
Bima mengikuti arah pandangan Arga dan melihat seorang pria yang berdiri di barisan paling depan. Bima memandanginya dari tempatnya berdiri. Jak terlihat mengedarkan pandangannya—menatap pasukan Akademi Bachalpsee seraya menyunggingkan bibirnya—menatap remeh mereka semua. "Jadi dia orangnya," ujar Bima. Dia kembali menoleh pada Arga. "Kau yakin, Ar?" lanjutnya bertanya.
"Ya. Tidak salah lagi," balas Arga. Sorot matanya tidak berubah. Tatapan kebencian itu masih ia layangkan pada pria bernama Jak yang tengah berdiri di hadapannya.
Bima kembali memindahkan pandangan pada pria yang tengah Arga tatap. Bima memandangi rupa pria tersebut. Hanya ada senyum angkuh di wajahnya. Lengan Bima langsung terkepal kencang. Sorot matanya berubah. Kini, orang yang ia cari ada di hadapannya. Orang yang telah membuat temannya sekarat. Niat balas dendamnya sempat mengalami kesulitan karena dia tidak mengetahui rupa orang itu. Dan sekarang, orang itu tengah berdiri di hadapannya. Bima sudah tahu apa yang harus ia lakukan pada orang itu. Balas dendam!
Setelah cukup lama memandangi semua pasukan Akademi Bachalpsee, Jak kembali maju satu langkah. "Hei, Bocah—Bocah Bodoh! Apa kedatangan kami mengganggu proses belajar kalian semua, hah? Kenapa kalian semua turun ke sini?" teriaknya diikuti tawa keras orang—orang di belakangnya.
"Tenang saja, kami tidak akan membuat kekacauan di sini. Kami hanya akan membawa beberapa perempuan muda kemudian pergi. Kalian tidak perlu repot—repot bertarung melawan kami. Namun, jika kalian masih bersikeras melakukan itu, bersiaplah untuk menemui kematian hari ini!" Jak mengancam mereka dengan kata—katanya yang terdengar menakutkan.
Beberapa pemuda dari Akademi Bachalpsee terlihat menatap Jak dengan raut wajah ketakutan—matanya membelalak sembari terus menerus menelan ludahnya. Seakan terintimidasi oleh ucapan Jak, langkah mereka perlahan bergeser ke belakang, seolah tak mampu menghadapi Jak dan pasukannya. Para pemuda itu seolah kalah sebelum bertarung dan tumbang hanya dengan mendengar perkataan Jak saja.
Jika dipikir lagi, itu tidaklah aneh. Bagaimana tidak? Para pemuda itu tentu mengetahui siapa Jak dan orang—orang di belakangnya. Mereka adalah Geng Canislupus Nigreos. Geng yang terkenal kejam dan berkuasa di Wilayah Timur. Kekuatan mereka tidak usah dipertanyakan lagi. Tapi, yang membuat geng itu sangat terkenal bukan karena kekuatannya, tapi karena kekejamannya. Dengan mudahnya mereka membunuh orang-orang yang berani menghalangi dan melawan mereka. Mereka menghargai nyawa orang lain dengan sangat murah, bahkan mungkin tidak berharga. Seseorang yang memiliki rasa takut dan menyadari tidak memiliki kemampuan, tentu saja akan langsung bertekuk lutut di hadapan mereka.
Mereka berpikir tidak ada untungnya bagi mereka untuk melawan Geng Canislupus. Mereka lebih baik diam dan menghindari masalah dengan geng tersebut. Jika mereka ingin mengambil para perempuan di Akademi Bachalpsee, lantas apa hubungannya dengan mereka? Mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan perempuan-perempuan itu. Silakan saja jika orang-orang itu ingin mengambil mereka. Itulah yang ada di benak para pemuda itu.
Tapi, seseorang yang berpikiran seperti itu tidak pantas disebut sebagai seorang laki-laki. Mereka hanya sekumpulan pengecut yang mencari kesempatan dalam kesempitan. Melakukan apapun agar dirinya selamat.
Namun, Akademi Bachalpsee bukanlah tempat untuk orang-orang seperti itu, banyak sekali pemuda tangguh yang dengan gagahnya menegakkan tubuhnya serta mengangkat kepalanya. Berdiri tegak paling depan untuk melindungi orang lain. Menganggap keselamatan orang lain sama berartinya dengan keselamatan diri sendiri. Mereka akan melakukan apapun untuk orang-orang yang mereka sayangi. Mereka tidak akan tinggal diam dan tidak akan mundur selangkah pun.
Beberapa saat setelah melayangkan gertakan tersebut, perhatian Jak teralihkan oleh seorang pria dari barisan Bachalpsee yang melangkah maju seraya menatapnya dengan senyum miring di bibirnya. Dia adalah Chayton, pria bertubuh kekar yang merupakan Pembimbing Bidang Beladiri di Akademi Bachalpsee.
Chayton terlihat berdiri paling depan. Tubuhnya yang besar membuatnya terlihat seperti pemimpin pasukan Bachalpsee. Chayton hanya diam di sana tanpa mengatakan apapun, membuat perhatian semua orang yang ada di sana tertuju padanya. Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan? Pertanyaan itu mulai menggelayut di pikiran setiap orang, terutama Jak. Sesaat kemudian, Chayton terlihat mengambil sesuatu dari saku celananya, membuat siapa saja tercekat di tempatnya. Sehelai bulu ayam keluar dari sakunya, membuat semua orang di sana menganga tak percaya. Semakin dibuat bingung dengan yang dilakukan oleh Chayton. Pria itu mulai mengangkat bulu itu dan memasukkannya ke dalam telinga lalu memutarnya—mengorek lubang telinganya, membuat matanya terpejam dan lubang hidung melebar. Raut wajahnya seperti orang yang hendak bersin. Jak mengernyitkan kening melihat tingkah Chayton, tapi dia tidak mengatakan apapun, hanya memandangi Chayton dari tempatnya. Pembimbing bernama Chayton itu berhasil membuat suasana hening untuk beberapa saat.
Chayton bergidig geli merasakan setiap sentuhan dari bulu itu. Sesaat kemudian, ia kembali mengantongi sehelai bulu di lengannya. Ia memandangi semua pasukan Canislupus dari ujung kiri ke ujung kanan—menatap setiap orang yang ada di sana. Pandangannya berhenti pada orang yang berdiri paling depan, Jak.
"Kau!" seru Chayton seraya menunjuk Jak, membuat Jak tersentak kaget. "Apa kau yang berbicara sebelumnya?"
"Siapa orang bodoh itu?" gumam Jak pelan. Tapi, ucapannya masih terdengar oleh Chayton.
Chayton hening sejenak, sedetik kemudian ia tertawa keras, membuat Jak mengernyitkan keningnya. "Apa yang kau tertawakan, Brengs*k?" seru Jak.
Chayton masih tertawa lebar sampai berguling di tanah, membuatnya semakin menjadi pusat perhatian di sana. Jak mendengus geram. Ia merasa diremehkan oleh Chayton. Seorang pria dari pasukan Canislupus melangkah maju dan hendak menghampiri Chayton tapi Jak menahannya. "Biarkan saja. Dia tidak tahu siapa kita. Biarkan dia tertawa untuk terakhir kalinya sebelum menghadapi kematian. Akan ada kesempatan untuk kita membunuhnya," ujar Jak sembari menyeringai—tatapannya masih terpaku pada Chayton.
"Hentikan tertawaanmu, Brengs*k! Tidak ada yang lucu di sini?" seru Jak pada Chayton. Dia tidak mau terus mendengar kekehan Chayton dari sana.
Dengan sisa tawanya, Chayton mulai berdiri. Ia menatap Jak. "Maafkan aku. Aku tidak bisa menahan tawaku saat mendengar perkataanmu sebelumnya," tutur Chayton lalu kembali terkekeh.
"Sebenarnya apa yang kau tertawakan, Brengs*k?!" teriak Jak dengan geram. "Kau tidak tahu berurusan dengan siapa? Kami ini Geng Can—" Ucapan Jak terhenti saat Chayton kembali tertawa lebar, membuatnya sangat murka. "Cukup sudah! Berhenti tertawa atau aku akan membunuhmu, Sial*n!" seru Jak.
Chayton menatap Jak sambil menyeringai. "Hei, Bajing*n! Kau pikir kau siapa, hah? Aku cukup mengetahui tentangmu. Kalian semua adalah orang-orang hina yang selalu merebut kebebasan orang lain. Aku tahu kalian berasal dari Pusat Kota. Aku juga tahu kalian sangat disegani dan ditakuti di wilayah kalian. Tapi, ini bukan wilayah kalian, Bajing*n! Kalian berada di wilayahku, wilayah kami semua! Kau pikir, kami akan diam saja melihatmu melakukan semua ini, hah?" teriak Chayton. Tidak ada sedikit pun ketakutan di wajahnya. Bima dan teman-temannya semakin menegakkan tubuhnya. Mereka semua tidak gentar sedikit pun. Hal itu membuat Jak menjadi murka.
"Lepaskan perempuan itu!" titah Chayton seraya menunjuk perempuan yang ada di barisan mereka. Dia terlihat menangis terisak saking ketakutan. "Jika kau menyakiti satu saja anak muridku, aku akan membuatmu merasakan rasa sakit yang teramat sangat, Bajing*n!" ancam Chayton yang membuat Jak tersentak sesaat. Jak kemudian menatap Chayton seraya melayangkan senyum menyeringai.
Jak menoleh pada seorang pria yang tengah memegangi perempuan tersebut, kemudian menggerakan kepalanya—membuat isyarat untuk melepaskan perempuan itu.
Pria itu menatap heran."Tapi—"
"Lepaskan dia!" tegas Jak sekali lagi. Pria itu akhirnya melepaskan cengkramannya dari perempuan tersebut. Perempuan itu langsung berlari menuju kerumunan Akademi Bachalpsee dan langsung dipeluk oleh teman-temannya.
"Kalian semua masuklah ke dalam Gedung Akademi. Biarkan aku dan para pemuda tangguh ini yang akan melawan mereka. Kalian para perempuan saksikanlah kemampuan kami semua. Tidak akan kami biarkan seorang pun mengganggu kalian." Ucapan Chayton sepertinya terkesan terlalu puitis dan berlebihan, namun berhasil membuat para murid perempuan terkesan.
Mereka semua—para perempuan itu segera bergegas masuk ke dalam Gedung Akademi dan hanya menyisakan para pemudanya saja di sana. Jumlah mereka cukup banyak, namun tidak semua hadir dalam ketegangan itu. Ada beberapa orang yang sama sekali tidak terlihat di sana, bahkan batang hidungnya pun tidak.
"Hei, Pak Guru!" teriak Jak membuat Chayton dan beberapa pemuda Bachalpsee menoleh ke arahnya. "Dengarkan ucapanku baik-baik, aku melepaskan perempuan itu bukan karena aku takut kepadamu, ya. Aku hanya kasihan kepadamu. Pria tua sepertimu tidak seharusnya berada di sini. Lihat dirimu! Kau hanyalah pria tua tidak berguna yang hanya besar mulut saja. Biarkan kami menyelesaikan urusan kami. Aku tidak punya urusan dengan tua bangka sepertimu. Pulanglah! Atau kau akan mati hari ini," ujar Jak kemudian tertawa lebar. Orang—Orang dibelakangnya ikut tertawa. Perkataan Jak adalah suatu penghinaan untuk Chayton.
Chayton menarik sebelah sudut bibirnya. "Apa aku tidak salah dengar, hah?" Chayton mengorek kupingnya seraya terkekeh. "Kau bilang aku "Tua Bangka"? Astaga! Sebelum kau mengatakan itu pada orang lain, coba pandangi dirimu terlebih dahulu! Apa tubuhmu lebih besar dariku, hah? Tubuhmu sangat kurus, Bung! Apa kau tidak pernah diberi makan oleh ibumu, hah?" balas Chayton dengan lebih menyakitkan. Pemuda Bachalpsee terkekeh mendengar perkataan Chayton. Cemoohan Chayton membuat Jak mendengus geram.
"Ah iya, kau menyuruhku untuk pulang, 'kan? Kau bodoh apa bagaimana? Ini wilayah ku ! Tempatku di sini! Yang harusnya pulang itu adalah kalian semua, Bajing*n! Enyah—lah dari sini!" seru Chayton lagi.
Jak menatap Chayton dengan tajam. "Kau tidak memberiku pilihan lain, Brengs*k! Jika tidak ada cara mudah, kami akan memakai cara kasar. Bersiaplah untuk menghadapi kematian kalian hari ini!" teriak Jak dengan murka.
Chayton kembali tertawa lebar. Ia membalikkan badannya—menghadap pemuda Bachalpsee. "Kalian mendengarnya, hah? Orang itu barusan bilang apa?" lontar Chayton kemudian dibalas tertawaan oleh mereka.
Jak semakin geram. Rahangnya mulai mengeras. Ia membalikkan badannya—menghadap pasukan CanisLupus. "Dengarkan aku! Hari ini, harga diri kita dipertaruhkan. Orang-Orang bodoh itu sudah menghina kita semua. Kalian tahu apa yang harus kita lakukan?"
"BUNUH MEREKA SEMUA!" sahut mereka dengan lantang.
Jak memiringkan bibirnya. "Kalian benar! Bersiaplah! Hari ini, kita akan mengotori tangan kita dengan darah orang—orang itu," seru Jak dengan keras. Ia kembali membalikkan tubuhnya lalu melayangkan senyum menyeringai kepada Chayton dan para pemuda Bachalpsee. Mereka semua terlihat bersiap dengan senyum menyeringai di wajah mereka.
"Dengar semuanya! Kuatkan kaki dan dagu kalian! Jangan pernah merasa takut dengan gertakan para bajing*n itu! Aku tidak pernah mengajarkan rasa takut pada kalian! Jangan gentar dan jangan mundur sedikit pun. Jika ada kejahatan di depan kalian, lawanlah! Jika ada rasa takut di hati kalian, singkirkan itu! Gunakan kemampuan beladiri kalian untuk membela kebenaran, melindungi yang lemah, dan memberantas kejahatan. Inilah saat yang tepat untuk menggunakan kemampuan kalian. Singkirkan para b******n-b******n itu!" seru Chayton kepada mereka semua. Gejolak keberanian dalam hati mereka mulai membara dan membuat rasa takut seakan sirna.
"Satu lagi, aku selalu mengatakan kepada kalian untuk menahan diri saat melakukan pertarungan dengan teman kalian! Tapi, situasi saat ini berbeda. Mereka sama sekali bukan teman kalian! Jangan menahan diri kalian! Anggaplah kalian sedang berada di alam liar. Saat ini, orang-orang itu akan memburu lalu membunuh kalian semua. Jangan berikan nyawa kalian! Dan ingatlah satu hal ini, "Membunuh atau Dibunuh"."
Beberapa pemuda yang berdiri di belakang Chayton terlihat menelan ludahnya berkali-kali. Merasakan sensasi ketegangan yang luar biasa. Tangan mereka terkepal, namun kaki mereka bergetar. Masih ada sedikit ketakutan di hati mereka. Namun, pemuda lainnya justru terlihat tenang dan semakin mengangkat dagu mereka. Tidak ada sedikit pun ketakutan yang terpancar di mata mereka.
Chayton menoleh—memandangi para pemuda yang berdiri di barisan palling dan menatapnya satu persatu. Ia tersentak kaget saat melihat satu perempuan berdiri di sana—di barisan paling depan dengan tatapan tenang. Perempuan itu adalah Adisty.
"Hei, sedang apa kau di sini?" tegur Chayton membuat Disty melirik singkat padanya. "Masuklah ke dalam Gedung! Aku tidak mau perempuan manis sepertimu ikut dalam pertarungan ini! Kau akan terluka!" Chayton meminta Disty untuk segera masuk ke dalam Gedung Akademi.
"Jangan pedulikan aku, Pak! Aku tidak selemah yang kau kira! Lagi pula, aku bukan termasuk bagian dari Akademi ini. Aku hanya tidak sengaja terlibat dalam pertarungan ini," sahut Disty.
"Baiklah kalau begitu," balas Chayton lalu kembali tertuju pada pasukan CanisLupus.
Pasukan Bachalpsee dipimpin oleh Chayton yang berdiri di barisan paling depan. Lalu tepat di belakang Chayton, beberapa pemuda berdiri dengan gagahnya. Sorot mata mereka menatap tajam pada Pasukan Canislupus. Diantara pemuda itu adalah Bima, Arga, Hestra, Byron, Axel, lalu Adisty. Sosok Adisty sempat mencuri perhatian para pemuda di sana, pasalnya hanya dia perempuan yang ikut dalam pertarungan itu.
Para pemuda itu meragukan kemampuan beladiri Adisty dan hanya menganggap dia seorang perempuan pada umumnya. Bertubuh lemah dan tidak memiliki kemampuan apapun. Tapi, itu hanya dugaan mereka saja. Mereka tidak mengenal Adisty, tidak pula mengetahui kemampuannya. Mereka tidak akan menduga latihan seperti apa yang dijalani Adisty setiap harinya. Latihan yang bahkan seorang pria pun belum tentu bisa melakukannya.
Lalu di belakang barisan kelima pemuda itu ada para pemuda yang berasal dari Bidang Beladiri. Mereka dikumpulkan oleh Chayton begitu mengetahui ada kekacauan yang terjadi di depan Gedung Akademi. Lalu di belakang para pemuda itu ada sekumpulan pemuda yang berasal dari Bidang Keahlian lain yang sengaja ingin ikut dalam pertempuran tersebut.
Berpindah ke barisan kedua, Adisty terlihat membunyikan ruas tulang lehernya kemudian mendengus kasar. "Astaga! Apa aku harus terlibat dalam pertarungan ini? Aku bahkan tidak memiliki kepentingan dengan Akademi ini. Huh ... merepotkan sekali," gerutunya. Sebelum kekacauan terjadi, Adisty tengah berada di atap Gedung Akademi seperti hari-hari biasa. Ia masih menjalankan perintah Master-nya untuk terus mengawasi Bima.
Hestra yang berdiri di sampingnya lantas menoleh ke arahnya. "Kalau kau takut, kau bisa mundur, Disty!" ujar Hestra.
"Aku tidak takut, Introvert! Aku hanya sedang malas saja! Kenapa semua laki-laki selalu menganggap bahwa semua perempuan itu lemah?" balas Disty kembali menghela nafas kasar.
"Aku tahu kau tidak lemah. Tapi, tenang saja. Aku akan melindungi mu," ucap Hestra terdengar perhatian.
Disty mendengus. "Jangan melakukan itu. Kau urus saja dirimu sendiri!" balas Adisty terkesan dingin.
Mendengar respon Adisty, Hestra terkekeh. "Baiklah—Baiklah. Berhati-hatilah!" lanjutnya.
"Ar, berhati-hatilah! Jangan lengah! Target utama kita adalah orang itu," ujar Bima. Tatapannya terus terpaku pada Jak.
"Iya, Bim. Aku mengerti. Kau juga berhati-hatilah!" balas Arga.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi, aku tidak boleh lengah dalam pertarungan ini," gumam Axel. Selama di Akademi, ia belum menunjukkan sedikit pun kemampuannya. Dan sekarang adalah saat yang tepat. Dia tidak akan segan-segan mengeluarkan kemampuan beladiri-nya.
Di sebelah Axel, seorang pemuda berdiri dengan tatapan mata sayu—matanya setengah terpejam karena menahan kantuk. Beberapa kali ia menguap saking mengantuk. "Hoam ...merepotkan sekali! Di saat yang seperti ini, orang-orang itu malah menggangu waktu tidurku. Awas saja kalian semua!" ujar Byron kemudian menggelengkan kepalanya cepat—mencoba menghilang rasa kantuknya.
Detik-Detik mendebarkan akan segera terjadi. Suasana semakin mencekam di saat kesunyian semakin terdengar. Lalu, dari sisi CanisLupus, Jak menarik nafasnya sangat dalam. "BUNUH MEREKA SEMUA!" teriaknya. Semua pasukan CanisLupus berlari ke arah sisi Bachalpsee seraya meraung keras—berteriak sembari membawa kepalan tangannya. Membuat para pemuda Bachalpsee mengambil ancang-ancang.
Sesaat kemudian, Chayton membalas teriakan Jak dengan lantang. "MAJU!!" Bima dan teman—temannya langsung berlari ke arah pasukan CanisLupus yang tengah bergerak ke arah mereka. Diikuti pemuda dari Bidang Beladiri di belakangnya. Jumlah pemuda Bachalpsee jauh lebih banyak daripada pasukan CanisLupus. Meskipun begitu, sisi Bachalpsee hanya berisi para pemuda yang baru saja beranjak dewasa dan tengah mempelajari beberapa tehnik beladiri.
Kemampuan mereka tentu saja jauh berbeda dengan orang—orang dari pasukan CanisLupus yang jauh lebih berpengalaman dalam pertarungan. Bukan hanya itu, mungkin saja tangan orang-orang itu sudah terbiasa membunuh orang lain, berlumur darah setiap harinya. Jika dilihat dari pengalaman bertarung, para pemuda Bachalpsee bukanlah tandingan orang-orang dari pasukan Canislupus.
Namun, pertarungan ini baru saja dimulai. Tidak bisa memprediksi pemenang sebelum pertarungan berakhir.
Setelah beberapa saat, kedua kubu yang saling berlari ke arah berlawanan itu pun akhirnya bertemu. Pertarungan pun pecah! Sangat mengerikan, sangat berdesakan, dan sangat menyakitkan. Mereka mulai saling menyerang. Beberapa pemuda langsung terkapar begitu saja di tanah ketika mendapatkan pukulan. Kedua sisi mulai melancarkan serangan pamungkas mereka. Serangan terkuat yang membuat lawan bertekuk lutut.
Setiap orang saling menunjukkan kemampuannya. Melancarkan tehnik-tehnik yang mereka miliki. Tentu saja, tehnik para pemuda Bachalpsee kebanyakan masih mentah dan belum terlatih. Namun, banyaknya jumlah pemuda Bachalpsee membuat pasukan CanisLupus terdesak.
Berbagai jenis tehnik bertarung terlihat dalam pertarungan besar ini. Ada yang mengandalkan kecepatan tubuhnya untuk menyerang lawan. Dengan tehnik Serang—Serang—Menghindar, para pemuda yang memiliki kecepatan dapat mengalahkan lawan mereka dengan cukup mudah, tapi itu tidak berakhir begitu saja. Orang—Orang yang telah terkapar di tanah kembali bangkit dan melanjutkan pertarungan.
Lalu ada juga pemuda yang memiliki kelincahan. Dengan kelincahan itu, mereka dapat menghindari serangan musuh dengan sangat mudah. Membiarkan mereka terus menyerang dan menunggu mereka kelelahan. Di saat yang tepat, mereka akan langsung menyerang lawan sekuat tenaga. Lawan yang sudah kelelahan tentu saja tidak akan banyak berkutik dan langsung tumbang saat terkena pukulan pemuda Bachalpsee.
Kemudian, ada pemuda dengan kekuatan luar biasa. Mereka akan beradu serangan dengan lawan. Salah satu pemuda yang memiliki tenaga mengerikan adalah Byron. Byron menggunakan tehnik serangan tanpa ampun. Dia melayangkan pukulan keras pada lawan sampai lawan terpental dan langsung terkapar di tanah. Kekuatan yang Byron miliki juga membuat daya tahan tubuhnya tak mudah dirobohkan. Setiap pukulan yang menghantam tubuhnya mampu ia tahan dengan kekuatan pada tubuhnya, terutama kekuatan kakinya yang mampu menopang tubuhnya agar tetap berdiri kokoh.
Lalu, yang paling istimewa dari itu semua adalah pemuda yang menggunakan semua keahlian itu. Kecepatan, Kelincahan, Kekuatan, serta Kecerdikan dalam pertarungan. Pemuda itu adalah Bima. Dia yang paling mencolok dalam pertarungan itu. Ia dapat menumbangkan lawan dengan sangat mudah.
Bahkan, kemampuan yang dimiliki Bima mampu membuat perhatian Chayton tertuju padanya. Dengan cepat dan tanpa menggunakan banyak tenaga, Bima mampu mengalahkan tiga orang pasukan Canislupus dalam sekali serang.
Chayton menyunggingkan bibirnya. "Sudah kuduga. Masih banyak pemuda-pemuda hebat dari Akademi ini. Syukurlah, mereka semua akan tumbuh menjadi tembok kokoh yang akan menjaga Akademi dan juga Wilayah ini," ujar Chayton merasa lega karena memiliki murid yang memiliki kemampuan yang mumpuni.