Nama Edgar semakin harum dari hari ke hari. Cowok itu tambah terkenal di sekolah, mendapatkan banyak perhatian dari para adik-adik kelas. Tidak hanya di IIS, di sekolah Zenal dan sekolah baru Taliyah pun sama. Hampir semua siswa dan siswi di sana tau bahwa Zenal dan juga Taliyah adalah adik dari Edgar Malik.
Ada keuntungan bagi Taliyah, karena kini banyak sekali yang ingin berteman dengannya ketika teman-teman barunya tahu bahwa nama belakangnya adalah Malik, dan ia merupakan adik dari Edgar Malik. Kasus bullying yang dialaminya pun perlahan-lahan tenggelam dan sudah tidak terdengar lagi. Sang pelaku sudah dikeluarkan dari sekolah lamanya dan siapa pun berani menjamin bahwa mereka tidak akan berani lagi mengganggu Taliyah.
Namun, ada sedikit kerugian yang dialami Zenal ketika kakaknya tiba-tiba saja terkenal. Banyak sekali broadcast BBM yang membahas topik soal Edgar Malik, bintang iklan mie instan cup yang ganteng. Hal itu tentu saja membuat para penggemar Edgar di sekolahnya membandingkan antara dirinya dan juga abangnya.
Kata-kata semacam, “Lebih ganteng Edgar ya dari pada adiknya,” sudah biasa ditangkap oleh telinga Zenal. Ia sempat merasa risih, namun lambat laun ia harus mengerti bahwa ini adalah sebuah fase.
Seperti dulu saat kelas sepuluh, ia merahasiakan soal siapa sebenarnya kedua orang tuanya dengan alasan ia tidak ingin dikenal sebagai anak dari Tamara Haniva dan juga Emir Malik. Ia ingin dikenal sebagai Zenal yang aktif dalam kegiatan sekolah seperti OSIS dan juga ekstrakulikuler futsal.
Namun pada akhirnya, semua orang tahu. Semua orang tau bahwa Tamara Haniva adalah ibunya ketika hari pembagian rapot. Seisi sekolah gempar, dan untung saja setelahnya langsung masuk ke liburan semester. Jadi, Zenal tidak perlu menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang datang dari teman-temannya.
Kembali ke Edgar. Sebenarnya tidak banyak yang berubah dari dirinya. Bedanya, ia terus saja diteror oleh banyak perempuan yang ingin mengenalnya. Tapi, ia tidak ingin gegabah lagi. Ia harus mempertahankan nama baiknya yang sudah terlanjur terkenal, dan juga nama baik keluarga Malik. Ia harus menahan dirinya agar tidak kembali mempermainkan perempuan, mengingat ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena kasus bullying yang dialami Taliyah kemarin.
Banyak sekali tawaran iklan produk-produk lain yang mulai tertarik menggunakannya sebagai bintang iklan. Ada juga tawaran untuk bermain FTV dan juga sinetron, sebagian menawarkannya untuk menjadi pemeran utama, namun sebagian lagi menawarkannya untuk menjadi pemeran pembantu.
Karena ia sudah duduk di kelas dua belas, Edgar menolak tawaran untuk bermain FTV dan juga sinetron. Ia hanya menerima tawaran untuk menjadi bintang iklan, dan dengan gambling menjelaskan bahwa ia harus fokus menyelesaikan sekolahnya terlebih dahulu.
Lalu, apa kah Edgar merasa bahagia? Tentu saja. Ia merasa nyaman dengan ini semua, segala popularitasnya, dan teman-temannya juga tetap memperlakukannya secara sama. Namun ada hal yang mengganggunya belakangan ini.
Yaitu, Maharani Soraya. Walaupun Edgar kini sudah mencoba dengan keras menganggapnya tidak ada, Rani tidak pernah sedikit pun menegurnya, atau minimal memberikan selamat untuknya.
Yah, walaupun itu rada aneh juga. Rani sudah pasti senang Edgar kini menganggapnya tidak ada. Hidupnya sudah tenang-tenang saja, buktinya, terdengar kabar simpang siur bahwa Rani kini berpacaran dengan Farel.
Status BBM Rani dan Farel saling mencantumkan nama masing-masing dengan emotikon mawar dan juga hati. Ia mendengar gossip ini dari para teman-temannya, karena Edgar sendiri tidak berteman dengan Rani di BBM.
Edgar menggaruk kepalanya. Ia berada di kursinya, mengikuti pelajaran Matematika, namun sama sekali tidak fokus. Ia kesal. Kenapa Rani sama sekali tidak mengucapkan selamat atau berbasa-basi sedikit kepadanya?
“Ssstt, Gar!”
Edgar menoleh, ia menoleh ke arah Rendra teman sebangkunya.
“Apaan?”
“Sepupu gue, cantik, pengen kenalan sama lo.”
Edgar mengerjap, “Cantik? Kayak gimana dia?” tanyanya.
“Lo invite aja BBM nya dan liat sendiri mukanya gimana deh,” kata Rendra, ia memberikan pin BBM sepupunya kepada Edgar, dan cowok itu langsung menginvite sepupu Rendra.
“Awas lo ngerjain gue,” kata Edgar, cukup curiga dengan Rendra, takut-takut teman sebangkunya itu malah mengerjainya.
Rendra berdecak, “Kaga ngibul gue, liat aja nanti, pasti lo naksir. Anaknya easy going banget. Lo tau, Jovi si vokalis band baru yang lagi booming itu? Dia naksir sepupu gue! Tapi sepupu gue naksirnya sama lu.”
“Edgar! Rendra! Lagi ngerumpiin apa sih kalian?!” Bu Ria, guru Matematikanya menegurnya dengan lantang, membuat Edgar dan Rendra kini berhenti mengobrol dan kembali fokus pada pelajaran.
*
Sehari tepat setelah Rani memikirkan soal hubungan apa sebenarnya yang tengah dijalani olehnya dan juga Farel, keesokan harinya, cowok itu mengutarakan perasaannya lewat telepon.
Meskipun hanya lewat telepon, entah mengapa Rani merasa senang. Rani merasa senang ketika mengetahui cowok yang ia kagumi selama ini menyukainya. Farel memintanya untuk menjadi pacarnya, dan Rani pun menerimanya.
Mereka resmi menjalin sebuah hubungan sekarang. Jarak mereka memang cukup jauh, namun itu bukan masalah besar bagi Rani. Justru sebaliknya, Rani belum siap bertemu dengan Farel secara langsung sebagai ‘pacarnya’.
Di sekolah, Tyas tidak habis-habisnya meledeknya, namun juga ikut senang karena ternyata Rani menerima perasaan Farel. Karena Tyas berpikir awalnya Rani tidak menyukai Farel. Ternyata dugaannya salah besar.
Setiap memiliki kesempatan, kini Rani selalu berbicara soal Farel, Farel, dan juga Farel! Soal Farel yang sedang berada di Malaysia lah, soal Farel yang akan pulang ke Jakarta selama liburan dan menghabiskan waktu bersamanya lah… Dan banyak lagi.
“Karena gue temen yang baik hati dan tidak sombong, gue membiarkan lo seneng-seneng dulu deh tuh, karena baru pacaran sama kak Farel… Tapi kalo terus-terusan, gue eneg juga kali, Ran! Jahat banget lo sama jomblo kayak gue.”
Rani tertawa, benar-benar definisi tertawa di atas penderitaan orang lain, tepatnya Tyas. “Yah, nanti juga reda sendiri euphoria gue ini. Oiya, hari ini kak Farel bilang mau terbang ke Jakarta loh…”
“Serius lo? Udah jalan dia? Atau gimana?” tanya Tyas, ia kembali menikmati mie ayamnya, karena kini mereka sedang berada di warung Mie Ayam dekat sekolah. Karena setelah ini, mereka harus kembali ke sekolah untuk mengikuti pedalaman materi persiapan Ujian Nasional.
Rani mengangguk, “Tadi sih ngabarin kalau lagi di pesawat,” jawabnya, “naik Vero Air dia,” tambah Rani.
“Ohh…”
Rani dan Tyas kembali menikmati Mie Ayamnya sambil berbincang, dan sesekali menonton ke arah televisi.
“Selamat sore saudara, anda menyaksikan Breaking News Harian TV. Kami akan menginformasikan terkait dengan pesawat Vero Air tujuan Kuala Lumpur Jakarta, yang dilaporkan hilang kontak. Dari informasi yang kami dapatkan pesawat ini hilang kontak pada pukul lima belas lewat lima, Waktu Indonesia Bagian Barat.”
Baik Rani dan juga Tyas sama-sama menonton berita terbaru yang ditayangkan oleh televisi. Keduanya terdiam, walaupun jelas-jelas ekspresi Rani menunjukan raut wajah kaget, dan ia masih mencerna apa yang barusan ia dengar.
“Padahal Vero Air pesawat mahal, masa bisa jatoh gitu sih?” kata salah satu pengunjung warung mie ayam lainnya.
“Yah, jaman sekarang pesawat apa aja mau mahal atau murah sama aja… Kalau udah waktunya jatoh, yaudah jatoh.” Sahut pengunjung lainnya.
“R-Ran… C-coba hubungin kak Farel…”
Rani yang masih bergetar di kursinya pun segera mengambil handphonenya yang tergeletak di meja, lalu mencoba menelepon Farel. Tidak aktif.
“Lo yakin dia naik Vero Air?” tanya Tyas panik.
Karena Rani tidak sanggup menjelaskan, ia segera menunjukan percakapan terakhirnya dengan Farel di BBM. Jelas, cowok itu menjelaskan bahwa pesawat yang ia tumpangi adalah Vero Air.
Tiba-tiba saja, pandangan Rani menjadi gelap. Ia terhuyung, dan jatuh dari kursi. Tyas yang melihat Rani mengalami shock hingga pingsan lantas buru-buru mencoba membangunkan sahabatnya itu.
“Aduh ini kenapa temennya dek?” tanya mang Arif, pemilik warung yang sudah dikenal Tyas sebelumnya.
“Pingsan bang! Pake nanya lagi!”
“Iya pingsan kenapa? Sakit?”
“Itu pacarnya ada di pesawat yang barusan katanya hilang kontak! Bang, ada minyak kayu putih nggak? Bantuin dong!”
Mang Arif menggaruk-garuk kepalanya, mana punya ia minyak kayu putih. Ada juga minyak sayur…
“Mang, mie ayam satu, laper nih!”
Baik mang Arif dan juga Tyas menoleh ke arah pintu warung, pandangan Tyas bertemu dengan Edgar. Melihat Rani pingsan, tanpa dipinta Edgar langsung membantu Tyas dan mang Arif memapah tubuh Rani agar bisa duduk di kursi.
“Ini saya punya minyak kayu putih dek,” kata salah satu pengunjung.
Edgar buru-buru menyambarnya, dan segera mengoleskannya di hidung Rani agar gadis itu bisa menghirup aromanya.
“Kenapa Rani?” tanya Edgar.
“I-itu Gar, baru aja liat berita pesawat jatoh!” Jawab Tyas, walaupun jawabannya tidak jelas.
“Loh, emang kenapa?”
“Kak Farel ada di pesawat itu,” jawab Tyas lagi, dan kali ini Edgar mengerti.
Edgar memang belum melihat berita itu, lantaran baru saja ditayangkan di televisi. Namun, kebenaran bahwa Farel ada di sana atau tidaknya seharusnya sama sekali belum bisa dipastikan kan?
“Bang Edgar jadi mie ayamnya?” tanya mang Arif.
“Tahan dulu mang, sampe ini cewek sadar,” jawab Edgar.
Tidak lama kemudian, Rani bangun. Matanya mengerjap, dan yang dilihatnya pertama kali adalah Edgar. Tangisnya kemudian pecah. Gadis itu memeluk Tyas, sambil berceloteh.
“Tyas gimana ini… Gimana kalau kak Farel gak selamat?” tanya Rani sesenggukan.
“Udah lo tenang dulu Ran, kita pulang yuk,” kata Tyas, “gue anterin lo pulang naik taksi. Lo gak bawa mobil kan?”
“Biar gue aja yang anter pulang,” kata Edgar, “kita izin aja dulu sama guru untuk gak ikut PM hari ini.”
Walaupun bingung kenapa tiba-tiba Edgar ada di warung mie ayam mang Arif, Rani tidak banyak bertanya. Ia mengangguk dan menurut, begitu juga dengan Tyas.
Rani mengaku pasrah. Ia benar-benar tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi. Ia masih berusaha pula berpikiran positif bahwa pesawat masih hilang kontak saja, belum benar-benar dipastikan bahwa pesawat itu jatuh.