Mengenai Edgar yang tiba-tiba saja berubah sikap menjadi seperti tidak pernah menganggapnya ada, Rani tentu saja menceritakan semua itu kepada Farel lewat telepon.
Rani dan Farel kakak kelasnya itu memang rutin bertelepon ketika malam hari, dua atau tiga hari sekali jika cowok itu memang tidak sedang disibukkan oleh tugas-tugas kuliahnya.
“Emangnya lagi gak sibuk kak, nelepon sekarang?” tanya Rani, sambil menyiapkan buku-buku pelajarannya untuk esok hari.
“Minggu depan aku udah libur semester. Nyokap nyuruh aku nyusul dia di Malaysia. Jadi sekarang lagi santai sih…”
“Oh gitu… Hmm… Masa ya kak, Edgar udah gak gangguin aku lagi. Entah karena apa, mungkin gak sih karena iklan itu dan cikal bakal artisnya?”
“Hmm… Bisa jadi, sih… Tapi bisa aja emang dia udah capek aja dan gak mau cari ribut lagi sama kamu.”
“Kemungkinan yang pertama lebih meyakinkan, tapi… Dia tuh kayak nggak anggap aku ada, kak.”
Rani masih menyiapkan buku-bukunya sambil berbicara dengan Farel di telepon. Ia duduk di meja belajarnya, dan membuka LKS pelajaran Matematikanya. Tidak ada tugas apa pun hari ini, jadi ia bisa lebih santai.
“Bukannya bagus?”
“Ya iya sih…” Karena tidak ingin Farel berpikiran yang tidak-tidak, gadis itu lantas langsung mengalihkan pembicaraan. “Kak Farel mau ke Malaysia? Ada acara apa?”
“Ada keluarga yang nikah. Kamu mau oleh-oleh? Nanti biar aku kirimin pas udah sampe di Malang.”
Rani tertawa kecil, “Oh enggak usah kak, yang penting kak Farel bisa sampe di sana dengan salamat, aman dan sentosa.”
Kini giliran Farel yang tertawa, “Siap bos!”
Rani sudah selesai menyiapkan buku-bukunya. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul sembilan malam. Sudah saatnya ia beristirahat, karena Rani memang selalu tidur tepat waktu.
“Hmm… Yaudah kak, aku matiin dulu ya. Udah malam, aku mau tidur.”
“Oh iya, lupa. Kamu kan, selalu tidur tepat waktu ya? Gak niat begadang, nemenin aku gitu?” tanya Farel sambil bergurau.
Rani tertawa, “Kalau besok weekend sih, aku jabanin kak.”
“Masa sih? Bukannya sama aja ya?”
Sebenarnya, Rani sama sekali tidak tahu kata apa yang bisa menjelaskan hubungannya dengan Farel saat ini. Mereka saling menanyakan kabar hampir setiap beberapa jam sekali, bertelepon rutin seminggu dua atau tiga kali, saling memberikan perhatian, dan sering sekali bercerita soal apa pun yang tengah terjadi kepada diri mereka.
Jika Tyas mengatakan bahwa sebenarnya Farel menyukainya, Rani tidak benar-benar yakin. Kenapa? Lantaran Farel sendiri tidak pernah mengucapkannya secara langsung kepada gadis itu. Sudah banyak kesempatan bagus yang seharusnya digunakan Farel untuk mengatakan itu, tapi nyatanya hingga saat ini cowok itu masih bungkam.
Lalu, jika seandainya Farel mengatakannya dan mengajaknya menjalin sebuah hubungan, apa kah Rani akan menerimanya?
“Ran? Kok diem?”
“Eh? I-iya, kak.”
“Udah ngantuk ya?”
Karena Rani tidak ingin jujur mengatakan bahwa ia sedang memikirkan soal hubungan tidak jelas yang sedang mereka jalani, gadis itu hanya tertawa kecil dan berpura-pura menguap karena ngantuk.
“Hehe maaf ya kak…”
“Yaudah, good night, Ran.”
Setelah telepon dimatikan, Rani mencharger handphonenya dan beranjak naik ke tempat tidurnya. Ia berbaring menatap langit-langit, memikirkan apa sebenarnya yang ia rasakan terhadap Farel selama ini.
Dalam hidupnya, Rani memang tidak pernah berpacaran sekali pun. Bagaimana mau pacaran, kalau cowok saja sudah ilfil duluan ketika melihat wajahnya dan mengetahui tentang perasaan Rani terhadapnya?
Jadi seandainya, suatu waktu Farel mengajaknya pacaran, apa yang harus Rani lakukan? Sejujurnya, Rani menyukai Farel. Ia mengagumi cowok itu karena Farel adalah anak yang pintar, baik, dan tidak pernah berbuat menyebalkan seperti apa yang dilakukan Edgar kepadanya. Tapi jika menjalin hubungan, apa kah perasaan itu akan berkembang? Berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari itu?
Sibuk memikirkan Farel, Rani tidak lama setelahnya terlelap.
*
Rani keluar dari mobilnya, bertepatan dengan ketika Edgar keluar dari parkiran mobil. Sama seperti biasanya, cowok itu tidak lagi mengganggunya. Karena tidak ingin ambil pusing, Rani menggedikan bahu dan segera menutup pintu mobilnya.
Ketika berbalik, ia berpapasan langsung dengan Noah. Si ketua karate yang pernah disukainya, dan masih dikaguminya hingga detik ini. Ia mengalihkan pandangan, dan segera pergi melewati Noah yang menghentikan langkahnya ketika melihat Rani.
Rani berpikir kalau mungkin saja Noah berhenti melangkah karena menghindarinya, atau masih merasa jijik kepadanya. Namun pikiran itu sirna ketika ia mendengar suara Noah memanggil namanya.
“Ran.”
Langkah Rani otomatis terhenti. Ia tidak menoleh, melainkan menunggu Noah kembali berbicara.
Noah berjalan mendekatinya, berhenti di sampingnya dan menatapnya yang masih merunduk.
“Sori soal waktu itu…”
“Ehm… Gak ada yang harus dipikirin lagi soal Valentine waktu itu kok,” kata Rani.
Noah tertawa kecil, “Yah, intinya, gue minta maaf karena apa yang udah Edgar lakuin ke lo.”
Rani mengerjap, “Bukan masalah lagi sekarang.”
“Oh, oke…”
“Udah?” tanya Rani.
Noah mengangguk perlahan, “Iya.”
Setelahnya, Rani yang jantungnya berdebar karena malu itu segera berlari kecil menuju ruang kelas. Untuk apa pula Noah membahasnya sih? Kemana aja dia selama ini baru bahas soal Valentine waktu itu? Udah berbulan-bulan lamanya lewat loh, bahkan hampir setahun!
*
Pembully Taliyah sudah ditangkap. Kedua orang tuanya sudah menyerahkan ini semua kepada pihak sekolah dan pihak berwajib agar pelaku bisa mendapatkan hukuman yang setimpal.
Sementara Taliyah, Edgar menyarankannya agar adiknya dipindahkan ke sekolah swasta (karena selama ini Taliyah selalu sekolah di sekolah Negeri). Alasannya mudah saja, Edgar menganggap sekolah Negeri terlalu keras untuk anak-anak pemalu seperti Taliyah.
Begitu juga dengan Zenal yang setuju dengan saran Edgar. Mereka berdua ingin adik bungsunya itu dipindah ke sekolah swasta bergengsi. Lagi pula apa salahnya? Keluarga mereka adalah keluarga kaya yang dapat dengan mudah membayar sekolah mahal.
“Sebenernya pindah sekolah itu bukan ide yang bagus,” kata Tamara, ratunya keluarga Malik. “Kalau dari Taliyahnya tetap seperti itu, gak mau bergaul dan membiarkan dirinya sendiri diinjak-injak, tidak ada yang menjamin hal seperti ini akan terulang lagi.”
Kini giliran kepala keluarga yang mengutarakan pendapatnya, “Mama benar. Bahkan ketika mereka tahu Taliyah adalah anak dari kami aja, mereka tetap melakukan hal buruk ke Taliyah. Jadi itu bukan ide yang bagus."
Taliyah tidak ikut berdiskusi dengan mereka. Gadis itu berada di kamarnya, mengurung diri terus menerus dan enggan berangkat ke sekolah. Ayahnya sudah memanggil psikiater handal untuk menangani depresi anak bungsunya itu.
“Tapi setidaknya kita harus bikin Taliyah mau sekolah lagi, pah, mah… Gak mungkin dia berhenti sekolah kan?” kata Zenal.
“Kita juga harus meminimalisir supaya hal tersebut gak terulang lagi,” cetus Edgar.
Tamara menghela napas, “Oke, nanti mama biar tanya-tanya ke teman sesama artis. Barang kali ada yang tahu sekolah bagus.” Katanya, “tapi, mama mau pesan ke kalian berdua dulu… Terutama kamu, Edgar.”
Edgar mengerutkan dahinya, “Apa mah?”
“Jangan pernah kalian membully siapa pun… Mau orang itu nyebelin atau apa pun itu, jangan pernah… Kalian gak mau kan, hal kayak gitu kembali terulang ke adik perempuan kesayangan kalian?”
Edgar menelan ludahnya, ia mengangguk perlahan, mengingat kesalahan-kesalahannya terhadap Rani.
“Ngerti?”
“Iya mah,” sahut Edgar dan Zenal berbarengan.