Dua minggu kemudian, tepatnya ketika akhir pekan, Rani tengah menonton televisi bersama Tyas dan juga Bayu di ruang tengah. Selama dua minggu ini, Edgar tidak terlihat mengganggunya. Farel juga tidak lagi menanyakan apa pun soal waktu itu. Jadi, bisa dibilang dua minggu ini adalah minggu-minggu tenang baginya.
Tapi ternyata, matanya berkerut ketika melihat wajah tidak asing di layar televisinya. Itu… Edgar!
“Lah, itu kan Edgar?!”
Itu adalah iklan mie instan cup. Mie instan kebanggaan Rani, yang sering kali dimakannya untuk dijadikan cemilan. Dan bintang iklannya adalah Edgar! Iya, Edgar. Kenapa pula dia bisa jadi bintang iklan? Sejak kapan?
Pikiran Rani melayang menuju dua minggu lalu, ketika ia mengajak Edgar berbicara di parkiran sekolah. Saat itu, Edgar mengataka bahwa ia ingin mengikuti casting iklan. Apa kah ini yang dimaksud olehnya? Bahwa ia berhasil mendapatkannya?
Ketika iklan tersebut habis dan berganti dengan iklan lainnya, Rani menghela napasnya. Jika memang Edgar kini menjadi bintang iklan, itu berarti Rani akan sering sekali melihat wajah cowok menyebalkan itu di televisi.
“Ran, itu Edgar kan?!” tanya Tyas lagi, ia menunjuk-nunjuk televisi yang sudah jelas-jelas tidak menampilkan wajah Edgar.
“Siapa si?” tanya Bayu penasaran.
“Iya itu Edgar, jangan norak napa.”
Tyas kini tertawa-tawa, “Edgar itu musuh bebuyutannya Rani di sekolah bang,” katanya, memberitahu Bayu kebenarannya.
Tiba-tiba saja, Bayu berubah menjadi antusias, “Hah, musuh bebuyutan? Kayak Rani gini, punya musuh?”
“Udah deh, jangan buka aib gue,” protes Rani, “lagian dia juga udah gak ganggu gue lagi.”
“Ganggu?” tanya Bayu penasaran, “Ada juga yang mau ganggu lo Ran? Gue kira lo gak terlihat di sekolah.”
Rani menyikut abangnya, “Ish, mas, apaan dah? Udah bahas yang lain deh, males gue.”
Ketika pembahasan ingin sekali segera ia ganti, tiba-tiba televisi kembali menayangkan iklan tersebut. Iklan mie instan cup yang dibintangi oleh Edgar. Laki-laki itu memakai jaket berwarna merah, rambutnya ditata dan terlihat keren, ekspresinya juga dapat! Edgar benar-benar terlihat seperti sudah sangat professional di sini.
“Wah, gila sih, gue yakin Edgar bakal menghiasi televisi kita-kita kedepannya.” Kata Bayu, walaupun ia tidak tahu siapa dan seperti apa Edgar sebenarnya, ia menilai dengan cukup objektif.
Rani menggeleng, “Enggak, enggak. Ini adalah pertama kalinya dan terakhir kalinya gue liat dia di tivi.”
“Lo gak boleh gitu Ran, siapa tau emang rejeki dia kan?” kata Bayu, ia masih senang menggoda adiknya yang wajahnya sudah memerah karena kesal.
“Nah bener kata bang Bayu! Lagian lo tau gak sih, Ran? Nyokapnya Edgar itu mantan Miss Universe! Siapa tuh? Tamara Haniva! Iya, yang punya acara ‘Di sini bersama Tamara’.”
Benarkah? Sejujurnya, Rani tidak tahu fakta soal Edgar sejauh itu. Rani pun juga benar- benar tidak pernah berpikir ia ingin mengetahui soal cowok itu lebih jauh. Cukup Edgar berhenti mengganggunya saja, itu sudah lebih dari cukup.
Rani menggedikan bahu, “Udahlah, bahas yang lain aja. Gue nggak tertarik.”
*
Berita soal Edgar yang kini menjadi bintang iklan tersebar luas di seluruh penjuru sekolah. Memang sih, sebenarnya bukan hanya Edgar yang pernah menjadi bintang iklan. Ada Dara dari kelas sepuluh yang pernah muncul di iklan sebuah jaringan provider, dan ada Gio dari kelas sebelas yang pernah jadi figuran di sebuah sinetron stripping.
Tapi masalahnya, di sini Edgar menjadi model utama di iklan tersebut. Wajahnya yang tengah menyeruput mie terpampang jelas di layar televisi, dan mustahil tidak ada yang mengenali bahwa itu Edgar. Semua siswa di sekolah pasti tahu yang dilihatnya saat itu adalah Edgar Malik.
Walaupun Rani sejujurnya kesal harus terus menerus melihat wajah Edgar menghiasi layar televisinya setiap hari, gangguan Edgar terhadapnya kini juga sudah berkurang. Edgar seakan- akan tidak lagi bersikap tengil terhadap siapa pun.
Hal itu membingungkan, walaupun terbesit sedikit pikiran buruk di kepala Rani. Mungkin saja Edgar seperti itu karena sengaja ingin memperbaiki citra nya di sekolah yang tadinya dikenal sebagai anak nakal dan menyebalkan, menjadi anak baik-baik idola sekolah?
Tadi malam, ketika Rani sedang teleponan dengan Farel pun cowok itu membahas yang sama. Soal Edgar yang menjadi bintang iklan di televisi. Ia juga melihatnya, dan Farel seakan- akan tidak begitu terkejut dengan hal itu.
“Sebenernya, bukan hal yang aneh kalau tiba-tiba Edgar nongol di tivi. Ibunya kan punya talk show. Bapaknya juga aktor senior yang sekarang jadi sutradara. Jelas Edgar yang ganteng itu jadi bibit yang bagus untuk dunia pertelevisian di masa depan.”
Satu fakta lagi yang baru diketahui oleh Rani selain soal ibu kandung Edgar adalah seorang Tamara Haniva yang acara talk show nya sering ditonton oleh mamanya. Yaitu soal ayah Edgar, yang ternyata seorang aktor senior. Benar kata Farel, seharusnya hal seperti ini tidak dilebih-lebihkan. Wajar saja Edgar tiba-tiba nongol ditelevisi. Toh, kedua orang tuanya memiliki banyak koneksi.
Rani tengah duduk di bangku panjang yang ada di depan kelasnya ketika Tyas menghampirinya dan menepuk bahunya keras-keras. Rani mengaduh kesakitan, lalu duduk menjauhi Tyas.
“Kalo lo mau bahas soal iklan itu mending lo cabut ke kantin terus beliin gue batagor. Itu akan lebih menguntungkan untuk gue.”
Tyas tertawa-tawa, “Pede lo! Gue tuh mau ngasih tau kalau nanti balik lo dijemput sama bang Bayu. Katanya hape lo gak aktif. SMS nya gak kekirim!”
“Oh…”
“Jangan-jangan barusan lo bengong lagi mikirin itu ya? Mikirin Edgar dan iklan itu…”
Rani berdecak, “Ngaco lo.”
“Kok ngaco? Kalo iya, ngaku aja sih. Lagian emang dia anaknya ganteng, wajar aja kalau mengakui itu. Lo gak rugi apa-apa kok.”
“Iya dia emang ganteng. Tapi kalau ganteng orangnya ngeselin, tetep aja kan, kegantengannya luntur seketika? Udah ah, gue mau cabut ke kantin. Males gue sama lo, yang dibahas itu lagi itu lagi.”
Rani beranjak dari duduknya, namun baru beberapa langkah, ia mendapati Edgar yang sedang berjalan ke arahnya. Cowok itu jelas melihatnya sebentar, sebelum ia memalingkan wajah dari Rani.
Rani tidak berhenti berjalan. Ia tetap melangkah menuju kantin, dan mereka berdua hanya saling melewati satu sama lain, tanpa ada percakapan apa pun dan tanpa ada pertengkaran apa pun. Edgar seperti tidak menganggapnya ada.
Langkah Rani terhenti sesaat di depan tangga menuju lantai dua (karena saat ini kelasnya ada di lantai tiga). Tenggorokannya terasa kering. Tapi kenapa? Bukankah ada baiknya jika Edgar benar-benar menganggapnya tidak ada agar cowok itu tidak lagi mengganggunya?
*
Tadi malam, Edgar yang sedang senang ketika iklan yang dibintanginya pada akhirnya tayang di televisi harus menunda kebahagiannya dahulu sesaat. Itu karena adik bungsunya, Taliyah, mengalami bullying dan pulang dengan keadaan berantakan.
Emosi Edgar dan juga Zenal (adik pertamanya) memuncak. Ia menginterogasi adiknya dan memaksanya untuk mengatakan siapa yang memperlakukannya seburuk itu. Namun, Taliyah tetap membungkam mulutnya. Gadis itu seketika lenyap dari ruang tengah, berlari menuju kamarnya di lantai dua.
“Siapa yang berani gituin adek gue sih?!” tanya Zenal, ia masih emosi, dan emosinya cenderung tidak terkontrol.
Walaupun Edgar juga sama seperti Zenal, merasa kesal dan ingin sekali rasanya menghajar siapa pun yang berani menyakiti adiknya, ia harus tetap menahan emosinya agar Zenal tidak semakin berapi-api.
“Kita biarin dulu Taliyah nenangin dirinya. Nanti kalau mama sama papa udah pulang, baru kita tanyain lagi,” ujar Edgar, menenangkan Zenal.
“Iya tapi hal kayak gini tuh gak bisa dibiarin bang!”
“Iya, gue tau. Yaudah lo masuk kamar gih, belajar, ntar kalau mama papa udah balik gue panggil lo.”
Zenal menghela napas, ia menurut dan pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
Edgar kemudian terduduk di sofa, matanya tertuju kepada televisi walaupun ia tidak benar-benar menontonnya. Satu kata yang terngiang-ngiang di benaknya.
Bullying.
Apa kah yang terjadi pada Taliyah karena dirinya? Karena dirinya selalu membully Maharani jika ada kesempatan?
Edgar mengusap wajahnya. Ia memang senang menjahili Rani, namun ia tidak pernah hal ini akan berbalik pada dirinya sendiri, dan yang parahnya lagi, Taliyah lah yang menghadapinya.
Edgar kemudian tersadar. Seberapa pun ia membenci Rani karena membuat teman-temannya meledeknya karena insiden di kolam renang waktu itu, ia harus berhenti.
Menganggap Rani tidak ada di sekolah dan berpura-pura tidak melihatnya adalah pilihannya.