Benar dugaan Rani, oleh- oleh yang dibawakan oleh abangnya adalah gantungan kunci yang berbentuk Love dan bertuliskan I Love Germany. Klasik, namun Rani tetap menerimanya dengan senang hati.
Ini adalah pertama kalinya Bayu pulang ke Indonesia untuk berlibur. Tahun keduanya berkuliah kedokteran di Jerman. Ia mengatakan, abangnya itu tidak bisa pulang ke Indonesia tahun lalu lantaran banyaknya tugas yang diberikan kepada mahasiswa baru. Makanya, Rany sangat senang sekali ketika tahu abangnya pulang secara tiba- tiba seperti ini tanpa kabar apa pun.
“Sebenernya sih, gue udah ngabarin mama sama papa kalo hari ini gue sampe,” kata Bayu sambil terkikik. Ia duduk di depan meja makan, menyantap indomie rebus yang baru saja dibuatkan oleh bu Yayuk. Mie rebus favorit satu keluarga. Karena entah mengapa, mie rebus buatan bu Yayuk selalu enak dan berbeda sekali jika orang lain yang membuatnya. “Haduh, enak banget nih mienya. Kangen. Makasih bu Yuk, udah dibikinin.”
Bu Yayuk yang sedang sibuk mencuci peralatan masak pun mengangguk, “Nggih, mas Bayu. Ibu juga kangen masakin kamu mie rebus. Biasanya, kalo begadang karena belajar kan, mas Bayu bangunin saya minta dibikinin. Kalau buatan mama, mas Bayu kan gak suka.”
“Emang nih, udah durhaka sama mamanya. Sama adeknya pula durhaka, gak bilang-bilang kalau mau pulang.” Celetuk Rani, cewek itu duduk di hadapan Bayu sambil mengecek handphonenya.
Rambut Rani masih basah, ia menggulungnya dengan handuk. Di hadapannya pun tergeletak body lotion pencerah kulit, dan beberapa krim wajah yang memiliki fungsi yang sama.
“Yang ada lu tuh, adek durhaka. Gak pernah ngabarin abangnya.”
Rani memanyunkan bibir, “Lah, kan lo sendiri bang yang bilang kalo lagi sibuk gak bisa diganggu gugat,”
“Yaiyalah, orang lo telepon gue pas lagi persentasi.”
Rani terkikik, ia kemudian membalas pesan masuk dari Farel. Cowok itu menanyakan kebenaran kejadian tadi ketika sepulang sekolah. Farel bilang, Edgar baru saja mengabarinya bahwa ia tadi sempat membantu Rani mengganti ban mobilnya dan mereka menghabiskan waktu bersama.
Mengetahui kebohongan tersebut, Rani lantas menghela napasnya dan memutar bola matanya. Apa-apaan? Menghabiskan waktu bersama apanya? Rani buru-buru menyangkal kebohongan itu, tentu saja.
“Ada apaan sih? Udah punya pacar lo ya? Pake gini-ginian segala, mana cakepan lagi muka lo sekarang.” Komentar Bayu sambil menunjuk deretan produk perawatan wajah yang tergeletak di hadapan Rani.
Rani menggeleng, ia masih membalas pesan Farel. Dan untunglah, cowok itu percaya padanya. Tapi tunggu, untuk apa ia berusaha menjelaskan kepada Farel bahwa tidak terjadi apa-apa dengannya dan Edgar tadi?
“Memangnya kenapa kalau mbak Rani punya pacar, mas?” tanya bu Yayuk, seperti tidak ingin melewatkan percakapan ini.
“Ya harus izin dulu dong, pacarnya sama saya. Rani itu biarpun nggak cakep-cakep amat gini, tetap adik saya.”
Rani mencibir, ia meletakan handphonenya dan memilih untuk tidak membalas pesan dari Farel. Ia menatap abangnya dengan sebal, “Udah lama gak ketemu, muji kek, apa kek, malah body shaming.”
Bayu dan bu Yayuk tertawa bersamaan, membuat Rani semakin sebal.
“Lagian, kalau gue punya pacar, izinnya ke mama sama papa lah. Bukan malah ke mas Bayu. Toh, mas Bayu aja punya pacar gak izin apa-apa ke Rani. Nanti, kalo Rani punya kakak ipar yang galak gimana? Hiii, ngeri.”
Bayu berdecak, “Kakak ipar? Kejauhan pemikiran lo dek.”
“Emang mas Bayu gak mau nikah?”
“Mau. Tapi masih lama.”
Rani mulai memakai satu persatu produk perawatan wajahnya, “Oh, gitu…”
Obrolan Rani dan Bayu berlanjut hingga kedua orang tuanya pulang ke rumah saat malam hari. Mereka makan malam bersama, serta menghabiskan waktu di ruang keluarga, karena hal itulah yang selama ini sangat dirindukan oleh Bayu.
*
Sejujurnya, Rani berniat menemui Edgar dan megajaknya untuk berbicara empat mata soal kemarin. Soal pengakuannya terhadap Farel. Bukan, ia bukan melakukan ini karena ia menyukai Farel. Ia hanya ingin Farel mengetahui bahwa hal itu tidaklah benar, dan ia ingin Edgar benar-benar berhenti mengganggunya.
Tetapi, niat Rani urung ketika melihat Edgar tengah nongkrong bersama teman-temannya di pinggir lapangan. Ada juga beberapa cewek-cewek populer yang juga bertengger di sisi-sisi mereka sambil tertawa centil. Adegan-adegan seperti ini rasanya sering sekali dilihat Rani di sinetron dewasa. Tepatnya, adegan ketika berada di klub malam atau semacamnya.
“Heh!”
Rani masih memperhatikan Edgar dan kawan-kawannya ketika Tyas mengagetkannya. Perempuan itu berdiri di hadapan Rani, dan melihat arah pandangan sahabatnya itu. Edgar.
“Oh iya! Semalem kak Farel nanya gue, soal lo sama Edgar.”
Rani mengerutkan dahi, “Hah? Serius? Sampe nanya ke lo segala?”
Tyas saat itu sedikit membuka mulutnya. Ia mengambil kesimpulan bahwa yang dikatakan oleh Farel tadi malam mungkin saja ada benarnya. “Jadi, beneran lo ngabisin waktu berdua sama Edgar?” tanyanya tanpa ragu-ragu.
Rani menghela napas, lalu berdecak, ia berjalan menuju kelasnya dan meninggalkan Tyas seakan enggan menjelaskannya.
“Heh, gue nanya tau! Malah kabur.”
“Ya pertanyaan lo retorik! Mana ada gue ngabisin waktu bareng Edgar? Gila lo ya.”
“Yaiya sih… Tapi kenapa kak Farel bisa nanya gitu? Dia nanya ke gue katanya pas ngechat lo, sempet gak dibales.”
“Itu karena gue lagi mandi. Dan, abang gue baru balik dari Jerman. Jelas, gue gak banyak megang handphone. Tapi udah gue jelasin juga kok ke kak Farel. Kemarin itu ban mobil gue bocor dua. Edgar cuma bantu, udah itu aja. Gak lebih dan gak ada apa-apa. Lagian dia kan benci banget juga sama gue.”
“Benci kok bantuin lo.”
Rani menggedikan bahu, “Udahlah, nanti biar gue yang nanya langsung ke dia apa maksudnya ngomong kayak gitu sama kak Farel.”
Tiba-tiba saja, Tyas tertawa. “Berani? Perasaan dulu lo sebegitu malesnya ketemu dia deh.”
“Berani!”
Setelah membentak dengan nada tinggi, Rani langsung mempercepat langkahnya hingga sampai di kelasnya, duduk di bangkunya dan langsung menopang dagunya di meja.
Berani. Rani berani berbicara kepada Edgar, tentu saja. Walaupun ia benci setengah mati pada cowok itu, karena sudah banyak mempermalukannya secara berlebihan, namun tetap saja, hal seperti ini itu harus dilawan. Mau sampai kapan Rani ditindas oleh Edgar?
Lagi pula, Rani tidak pernah sekalipun merugikan Edgar baik secara materi atau apa pun. Soal ban serap itu, Rani juga akan menggantinya. Cepat atau lambat, kecuali Edgar yang memang menolaknya.
*
Rani berdiri sambil bersandar di depan pintu mobilnya. Ia melipat kedua tangannya, lalu menunggu keberadaan Edgar, melewati mobilnya yang terparkir di samping pintu gerbang parkiran. Sudah pasti, Edgar akan melewatinya.
Walaupun gayanya sok menantang, sebenarnya Rani juga agak takut menghadapi Edgar. Ia takut Edgar akan kembali berbuat hal yang menyebalkan dan dapat mempermalukannya seumur hidup.
Namun, jika mengingat kebaikan Edgar kemarin, Rani jadi menyadari satu hal, bahwa Edgar mungkin saja tidak sejahat itu. Ia hanya iseng, mungkin? Entahlah. Meskipun Rani mencoba berpikir positif terhadap cowok itu, tetap saja ia selalu gagal lantaran Edgar memang sangat menyebalkan.
Tepat ketika keadaan sekolah sudah sepi karena sudah banyak yang pulang, Edgar melewati mobilnya. Mata cowok itu tentu saja tertuju kepadanya. Ia memakai sweater berwarna biru tua untuk menutupi seragam sekolah yang mungkins aja baginya tidak stylish.
“Kenapa? Bocor lagi?” tanya Edgar, dan surprise, cowok itu duluan yang mengajaknya berbicara!
Rani tersenyum dan masih bersedekap, ia menggeleng. “Oh, enggak,” jawabnya.
Satu alis Edgar terangkat, “Terus?” tanyanya bingung, kemudian ia tersenyum lebar dengan percaya diri. “Oh, jangan-jangan lo sengaja ya nungguin gue? Lo naksir ya sama gue?”
Rani tertawa sinis, sinting, batinnya.
“Sebelum mimpi lo kejauhan, gue mau bangunin lo dulu deh. Pertama-tama, gue gak suka sama lo, tapi memang gue nungguin lo karena ada yang mau gue omongin ke lo.”
“Terus? Omongin apa?”
“Kedua, selama ini memang gue menghindari lo supaya lo gak kembali mempermalukan gue di depan orang banyak. Tapi untuk kali ini, gue gak akan takut lagi sama lo walaupun kak Farel udah lulus. Dan ketiga…”
Edgar masih menyimak.
“Lo ngapain sih, ngomong ke kak Farel kalau kemarin gue sama lo itu ngabisin waktu bareng? Lo kan cuma bantuin gue aja, gak lebih.”
Edgar kemudian tertawa. Ia kini tahu maksud dan tujuan Rani pasti ke arah ini. “Loh, emang bener kan? Kemarin lo sama gue itu ngabisin waktu bareng untuk ngurusin mobil lo. Apa salahnya omongan gue ke Farel?”
“Yah tapi, kak Farel jadi salah paham, Gar!”
“Emangnya kalau Farel salah paham tuh kenapa? Kalian gak pacaran kan?”
Rani terdiam, ia gelagapan. “Yah.. Enggak sih…”
“Yaudah deh, gue gak ada waktu buat ngurusin ginian. Gue ada casting iklan sore ini, jadi, see you!”
Rani menghentakan kakinya kesal setelah Edgar pergi. Apa katanya? Casting iklan? Iklan apa? Iklan rokok?!
“Dasar ngeselin!” Umpatnya, kemudian langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya.