Kedekatan Farel dan Rani cukup menjadi rumor yang berubah menjadi fakta sampai cowok itu lulus dari IIS. Ia diterima di salah satu Universitas Negeri di kota Malang, dan harus menetap di sana hingga lulus. Namun, Farel berjanji akan menemui Rani ketika liburan tiba.
Tetapi, apa kah lantas hubungan Rani dan Farel berubah dari sekedar berteman menjadi pacaran? Tidak. Farel tidak pernah benar- benar menyatakan perasaannya terhadap Rani, dan Rani pun tidak pernah benar- benar merasa bahwa dirinya menyukai Farel.
Bisa dibilang, hubungan mereka complicated. Mereka tidak tahu status apa yang sedang mereka jalani, namun tetap memutuskan untuk dekat.
Dan ketika Farel lulus, itu tandanya, tidak akan ada lagi yang membelanya jika ia kembali mengibarkan bendera perang dengan Edgar. Selama setahun kedepan, ia harus segera menghindari Edgar agar tidak terjadi hal- hal yang tidak ia inginkan.
Ah ya, Edgar memang sempat berpacaran dengan Ashilla. Namun belakangan, mereka putus. Entah karena apa, Rani hanya tahu bahwa Ashilla ingin fokus dengan sekolah. Padahal, mungkin saja Ashilla baru menyadari bahwa Edgar adalah cowok yang menyebalkan? Hahaha. Aneh juga Ashilla, cowok yang sudah jelas- jelas menyukainya seperti Noah malah ditinggalkan.
Ah omong- omong soal Noah… Rani memang sudah tidak berusaha keras menghindarinya lagi. Jika mereka berpapasan, Rani kini sudah bersikap biasa saja. Rasa sukanya kini juga berubah menjadi sebatas rasa kagum saja. Kagum karena Noah selalu keren ketika mengikuti pertandingan karate.
Seperti saat ini, ketika Rani berada di kantin menikmati bakso bersama Tyas, tidak jauh dari meja mereka berdua, Noah duduk bersama teman- temannya. Dan seperti biasa, Noah seperti tidak pernah menyadari kehadiran atau tanda- tanda bahwa Rani ada di tempat yang sama dengannya.
Rani kini mulai menerima kenyataan bahwa Noah tidak akan pernah menyukainya, dan cintanya terhadap laki- laki itu akan tetap bertepuk sebelah tangan. Apa ya lagu yang tepat menggambarkannya?
Pupus dari Dewa19? Ya, sepertinya itu lagu yang cocok.
“Eh, tau nggak Ran,” kata Tyas tiba- tiba, baksonya sudah habis setengah.
“Apa?”
“Waktu lo lomba agustusan bareng kak Farel,” kata Tyas, “gue lihat si PeterPan itu ngeliatin ke arah lapangan, mukanya kayak marah gitu. Mungkin gara- gara Edgar sama Ashilla kali ya?”
Belakangan, Tyas menyamarkan nama Noah dengan sebutan PeterPan. (Nama band di Indonesia yang telah diganti). Dan sejauh ini, tidak ada orang yang benar- benar menyadarinya.
Rani mengerjap, “Maksudnya? Marah karena kesel Edgar deketin Ashilla?”
Tyas mengangguk, “Iya Ran. Kasian ya dia, dan si cowok syaiton itu bisa- bisanya pula malah deketin mantannya. Eh tapi sekarang udah putus deng, hehehe.”
“Yah elo baru cerita sekarang, udah basi kali,” kata Rani kesal.
Tyas nyengir, “Ya gimana, lo kemarin- marin kelihatan bahagia banget sih waktu deket sama kak Farel. Gimana dia kabarnya sekarang? Kalian masih kontekan kan?”
Rani mengangguk, “Dia baik- baik aja kok, katanya cuma kaget aja sama dunia kampus. Tugasnya banyak.”
Tyas menghela napas, ia kembali menghabiskan baksonya. “Aduh, gue juga jadi gak siap nih harus berpisah sama lo. Nanti kalo kita beda kampus, gue gak bisa belain lo kalo lo dibully lagi.”
Rani berdecak, “Heh, ngeselin lo ya?!”
Sebenarnya, Rani tidaklah jelek. Ia sudah lebih baik dari pada beberapa bulan lalu, ketika kulitnya sedang gosong- gosongnya karena terus berlatih paskib. Tetapi setelah ibunya membawanya ke klinik kecantikan, Rani berubah. Tidak drastis, namun sudah lebih enak dipandang.
“Iya deh, yang udah perawatan.”
Rani yang saat itu tidak ingin rahasianya soal perawatan itu dibeberkan oleh Tyas, lantas menendang kaki sahabatnya itu dari kolong meja.
“Berisik lo,” kata Rani sebal.
Tyas hanya tertawa- tawa, dan hal itu membuat Noah tidak sengaja melirik ke arah mereka. Pandangan Rani dan Noah sempat bertemu, namun Rani buru- buru memalingkan wajahnya. Ia tidak sanggup. Ia takut rasa yang sudah ia pendam lama dan hilang itu kembali dan menumbuhkan harapan baru.
*
Belakangan juga, Rani sudah membawa mobil ke sekolah. Ia nekat membawa mobil karena malas menunggu pak Idho yang selalu datang telat ketika menjemputnya. Bagaimana tidak mau telat jika ia harus mengantar ibunya terlebih dahulu lalu menjemputnya?
Jadi, Rani meminta haknya untuk mendapatkan mobil di umur tujuh belas tahunnya. Dan karena nilainya tertinggi ketika kenaikan kelas tahun ini, ayahnya pun menyetujuinya dan membelikannya mobil baru.
Dan apesnya, hari ini ban mobilnya malah bocor! Bukan hanya satu, tapi dua.
Rani berdecak, “Ada cobaan apaan lagi sih ini,” keluhnya kesal.
Rani membuka bagasi belakang dan hanya menemukan satu ban serep. Tidak akan cukup, karena yang bocor ada dua ban. Siapa sih pelakunya? Ia tidak akan bisa mengganti ban, karena ia belum diajarkan untuk melakukannya oleh pak Idho. Lalu gimana ini?
Rani bersandar lemas di pinggir pintu mobilnya, ia mengelap peluh di dahinya dengan punggung tangannya.
“Kenapa lo, keling?”
Rani yang saat itu tengah memejamkan matanya karena lelah mengangkat ban serepnya pun kembali membuka mata. Ketika mendengar suara barusan, perasaannya udah gak enak. Hanya satu orang seharusnya yang memanggilnya keling. Orang yang sudah lama sekali tidak berbicara padanya. Itu Edgar.
Jadi, setelah kak Farel lulus, Edgar baru berani mengganggunya lagi?
Rani berdecak, “Astaga, kenapa dari semua orang di sekolah ini, malah orang ini sih yang dateng, Tuhan?!”
“Serius gue nanya, mobil lo kenapa? Harus ganti ban?” tanya Edgar, sepertinya kali ini cowok itu serius. Entahlah.
“Iyalah, pake nanya.”
“Yaudah sini gue gantiin,” katanya menawarkan diri, “gak ada Farel kan lo, gak bisa ngapa-ngapain.”
Rani segera menghadang Edgar, “Eh, eh, tunggu! Ini gue gak mau ya utang budi sama lo. Lagian juga masalahnya yang bocor dua bannya, depan sama belakang. Gue cuma punya ban serep satu!”
Edgar menghela napas, “Yaudah kalo gak mau dibantu. Padahal gue punya ban serep satu yang ukurannya sama kayak mobil lo. Kalo gitu, bye.”
Rani mengerutkan dahi. Ia berpikir ulang, karena jika Edgar tidak membantunya, ia tidak akan bisa segera pulang.
“Oke, oke, tunggu! Bantuin gue.”
Edgar tersenyum puas, “Yaudah tunggu situ, gue ambil ban serep gue dulu.”
“O-oke.”
Edgar terlihat pergi menuju mobilnya, mengambil ban serep miliknya lalu segera kembali. Ia langsung melakukannya, mendongkrak mobil Rani dan mengganti dua ban yang pecah. Oke, sejujurnya Rani memang merasa terbantu. Tapi entah apa yang akan dilakukan Edgar selanjutnya.
Rani menunggu Edgar mengganti ban mobilnya cukup lama. Ia jadi berinisiatif untuk membeli dua botol air mineral. Dan ketika kembali, Edgar sudah selesai mengganti dua bannya yang bocor. Rani menyodorkan satu botol air mineral itu untuk cowok itu.
“Makasih,” kata Rani.
“Idih, kok gak ikhlas lo bilang makasihnya? Mana gue cuma dibayar pake aer minum.”
Rani membuka mulutnya sedikit, tidak percaya, intinya, ia cengo ketika Edgar yang sudah baik hati ini ternyata tetap saja berperilaku seperti syaiton setelahnya.
“Yaudah lo emang mau dibayar pake apa?” tanya Rani yang sebenarnya enggan sekali meladeni. Tetapi mau bagaimana lagi, ia tidak ingin punya hutang budi.
Dalam sekali teguk, Edgar menghabiskan air mineralnya. Ia segera meremukan botol air mineral itu lalu melemparnya ke arah tempat sampah. Rani sempat bengong dengan gerakan yang mulus itu, serta menyaksikan betapa berkharismanya seorang Edgar Malik. Tetapi, ia buru- buru membuyarkan pikirannya itu. Ia tidak ingin menjadi salah satu cewek yang menggilangi cowok gila ini.
“Coba sekarang bilang,” kata Edgar, “Terima kasih ya, Edgar Malik yang ganteng, yang digilai banyak cewek cantik. Pokoknya, makasih banget! Lo yang terbaik!”
Rani mengerjap. Konyol. Cowok di hadapannya ini sangat konyol. Seharusnya dari awal ia menolak bantuannya saja jika ujung- ujungnya seperti ini.
“Ayo, bilang. Gue copotin lagi nih serep punya gue,” ancamnya.
Rani berdecak, ia mencoba tersenyum dengan manis, lalu mengatakan apa yang tadi Edgar pinta. Ia menarik napasnya, “Terima kasih ya, Edgar Malik yang ganteng… Eh? Apa lagi terus?”
“Yang digilai banyak cewek cantik,” kata Edgar.
“Iya, yang digilai banyak cewek cantik. Terus?”
“Pokoknya, makasih banget! Lo yang terbaik! Coba sebutin itu pake gaya yang imut. Kalo gak imut, seenggaknya berusaha dikitlah.”
Sudut bibir Rani terangkat, ia benar- benar tidak percaya ia harus melakukannya untuk cowok ini.
“Pokoknya, makasih banget! Lo yang terbaik!” Ujar Rani, mengucapkannya dengan gaya semanis dan seimut mungkin, agar Edgar cepat- cepat pergi.
Edgar tersenyum puas, “Udah kelar kan, kerjaan gue?” tanyanya.
Rani mengangguk, ia segera membereskan dongkrak dan ban yang sudah bocor itu, ingin memasukannya ke dalam bagasi belakang. Saat itu, karena Edgar merasa kasihan cewek itu melakukannya sendiri, ia terpaksa membantunya.
Edgar membawa kedua ban itu dan memasukannya ke dalam bagasi mobil Rani.
“Besok gue minta sopir gue bawain ganti ban serep lo ya.” Kata Rani.
“Gak usah. Gue bisa beli lagi.”
“Oh oke.”
Setelahnya, Edgar pergi begitu saja. Berjalan menuju mobilnya, dan segera pergi diikuti oleh mobil Rani yang tidak lama juga ikut keluar dari parkiran sekolah.
Untung saja, Edgar walaupun menyebalkan begitu, masih bersedia untuk membantunya. Coba kalau tidak? Ia bisa- bisa harus meninggalkan mobilnya di sekolah dan harus pulang dengan taksi online.
Sesampainya di rumah, ia langsung menemui pak Idho.
“Pak, ban serepnya kepake. Ban nya bocor. Jadi tolong diganti ya yang baru.”
“Bocor? Kok bisa non? Ada yang iseng?” tanya pak Idho, “tadi pagi saya cek gak kenapa- napa kok.”
Rani yang sudah lelah itu mengangkat bahunya, “Gak tahu tuh. Yaudah pak saya masuk dulu. Ada siapa di dalem?”
“Cuma ada abang non sama bu Yayuk,” jawab pak Idho.
“Ada bang Bayu?!”
“Iya non.”
Rani buru- buru masuk ketika tahu abangnya ada di rumah. Sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan abangnya itu?
Dia adalah Arabayu Jagad, abang Rani yang kini berkuliah jurusan kedokteran di Jerman. Jauh banget kan?
“Bang Bayuuu!!!!” Teriak Rani, ia lantas berhamburan ke pelukan abangnya. “Kok gak bilang mau balik?!”
“Aduh, padahal mau surprise,” keluh Bayu, “duh dek, mandi dulu deh. Bau matahari sama bau asep, lo abis ngapain sih?”
“Ganti ban serep,” jawab Rani cuek, “eh tapi digantiin temen sih tadi. Udahlah, itu gak penting. Yang penting itu kenapa lo balik gak ngomong- ngomong.”
Sudah lama bertemu, Rani dan Bayu mengobrol dan saling melepas rindu mereka. Bagi Rani, keluarganya adalah segalanya. Keluarganya yang sempurna. Walaupun orang tuanya agak ketat terhadapnya.
Tetapi sejauh ini, memiliki orang tua yang menyayanginya, dan ia hidup penuh dengan kenyamanan, sudah sangat membuatnya bersyukur. Ada banyak sekali anak- anak seumurannya di luar sana yang tidak bisa bersekolah dan bahkan memiliki orang tua yang tidak mampu memberi kenyamanan untuk anak-anaknya.
“Ada oleh- oleh buat lo dari Jerman tuh,” kata Bayu, ketika Rani pamit untuk pergi mandi.
“Apaan? Palingan juga gantungan konci,” kata Rani sambil tertawa.
“Bukan,” kata Bayu, “magnet kulkas, hahahaha.”
Keduanya lantas tertawa, menertawakan gurauan bodoh mereka yang sudah lama sekali rasanya tidak mereka lakukan.