Tanpa diduga oleh Rani, ternyata kehidupannya hingga tanggal tujuh belas agustus aman-aman saja. Hari ini, ia dan anak-anak dari ekstrakulikuler paskibra lainnya akan mengibarkan bendera.
Semua anak diwajibkan untuk datang. Karena meskipun sekolahnya adalah ‘International School’, mereka tetap wajib merayakan hari kemerdekaan Indonesia dan melakukan upacara.
Farel sudah menyemangati semua anggota paskibra yang bertugas, karena hari ini, laki-laki itu menjadi pemimpin upacara. Ia sangat antusias, sampai- sampai terlihat sekali ketika ia sedang berbicara.
Upacara berjalan dengan lancar. Dan biasanya, mereka akan mengadakan beberapa lomba setelah upacara. Lomba yang bagi Rani, cukup konyol. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri, jadi, sebisa mungkin ia tidak mengikuti lomba apa pun.
Rani hanya duduk dengan Tyas, yang berpikiran sama seperitnya. Mereka duduk di pinggir lapangan sambil menonton anak-anak lain yang sedang mengikuti lomba.
Tiba-tiba saja, Farel menghampirinya. Saat itu, ia membawa sebuah kertas dan juga pulpen. Ia menatap langsung ke arah Rani, dan mereka berdua masih memakai seragam petugas pengibar.
“Ran, ayo ikut lomba,” ajak Farel, “lo jadi partner gue ya.”
Rani mengerutkan dahi, sementara Farel sudah menulis namanya di kertas itu. “Lomba apa kak?” Tanyanya, padahal ia sudah ingin menghindari lomba apa pun dengan hanya duduk di pinggir lapangan bersama Tyas.
“Lomba joget balon,” jawab Farel, ia segera memberikan kertas yang berisi namanya dan nama Rani itu ke panitia lomba.
“Aduh, kok joget balon sih kak?” tanya Rani, keberatan, ia menggaruk kepalanya.
Farel tersenyum, “Emang kenapa?” tanyanya, “justru bagus kan, biar rumor lo sama Edgar itu ilang. Biar gue aja yang dirumorin sama lo deh, gue nggak tega dia gituin lo terus.”
Rani mengerjap. Apa Farel mengatakan sesuatu pada Edgar? Hari ini, Edgar sama sekali belum terlihat batang hidungnya. Atau memang Rani saja yang malas mencari keberadaan cowok itu? Ia selama ini hanya mengamati Noah dan sebisa mungkin menghindar jika cowok itu berada di dekatnya.
Mendengar pernyataan Farel barusan, Tyas mengulum senyum. Ia tahu sebenarnya ada yang agak berbeda dari sikap Farel kepada Rani. Hanya saja, cewek bodoh itu yang jadi sahabatnya sejak awal, tidak menyadarinya. Atau memang sudah dibutakan oleh rasa sukanya terhadap Noah yang bertepuk sebelah tangan?
“Ran, lo sama ka Farel aja ya. Gue ada yang harus diurusin sama Renita,” kata Tyas, “lupa ngomong sama lo.”
“Ngurusin apaan?” tanya Rani beralih pada Tyas.
“Ada lah pokoknya,” katanya, tidak jelas, padahal sebenarnya memang ia berbohong. “Kak Farel titip Rani ya.”
Farel tersenyum pada Tyas dan mengangguk, “Oke.”
“Emangnya gue barang apa dititip- titip segala?”
“Yaudah yuk, kumpul sama peserta lomba yang lain.”
Rani mengangguk. Namun sialnya, ketika berkumpul bersama peserta lomba yang lain di pinggir kantin, di sana ada Edgar! Iya, Edgar, dan di sebelahnya juga terdapat perempuan yang tidak asing bagi semua siswa di IIS.
Ashilla. Mantan pacar Noah.
Entah apa hubungan Ashilla dengan Edgar, Rani tidak ingin tahu menahu. Tapi rasanya ganjil sekali ketika melihat Ashilla yang membuat Noah gagal move on itu tiba- tiba malah bersama Edgar.
“Aduh, enggak deh kak, aku gak ikut. Kak Farel cari partner lain aja ya?” tanya Rani menolak. Tentu saja ia menolak ketika melihat Edgar ada di sana.
“Kenapa? Karena ada Edgar?” tanya Farel to the point.
“Ya…”
“Itu malah bagus kan, jadi nggak ada yang nuduh- nuduh kalian macem- macem lagi. Udah, ikutin aja saran dari gue. Soalnya, gue udah coba ngomong sama dia. Dia emang cuma mau ngisengin lo aja, dan kayaknya gak ada kaitannya sama insiden di kolam renang itu.”
“Kak Farel ngomong apa sama dia?”
Farel mengangkat bahunya, “Pokoknya minta dia untuk berhenti ngejailin lo.”
“Aduh kak…”
“It’s okay. Gak masalah kalo malah ada rumor yang aneh- aneh soal kita. Gue bentar lagi lulus kok. Aman dijadiin tumbal.”
Rani tertawa, “Kalo gitu, thanks deh kak.”
“Ya asal lo bener lagi latihan paskibnya.”
Rani mengangguk.
Tidak lama menunggu, lomba joget balon segera diadakan oleh para panitia. Seluruh peserta lomba yang ikutan pun berkumpul di lapangan, dikelilingi oleh para penonton yang antusias menontonnya.
Ketika agustusan, lomba joget balon terkenal karena banyak sekali para pasangan yang ikut serta. Dan itu semua jadi tontonan serta hiburan gratis siswa- siswa yang lain.
“Siap?” tanya Farel, Rani pun mengangguk.
Tanpa disadari Rani, ternyata Edgar dan Ashilla ada di sebelah mereka berdua. Edgar melirik Rani, lalu mulai melancarkan aksinya.
“Eh ada couple baru,” kata Edgar dengan nada mengejek. “Padahal belom lama lo bilang gak demen ama Rani, man.”
Rani kemudian beralih menatap Farel, namun cowok itu terlihat sama sekali tidak terganggu atau pun terusik.
“Kapan ya gue bilang gak demen? Gue gak jawab apa- apa kayaknya.”
“Ada apaan sih ini, Gar?” tanya Ashilla, ia mulai bertanya- tanya.
“Oh enggak, cuma cewe itu, si Rani, pernah mau nembak mantan lo si Noah.”
Rani tersentak. Edgar lagi- lagi menjatuhkan harga dirinya. Apa lagi, ini di hadapan Ashilla. Cewek cantik yang membuat Noah tidak bisa move on darinya, sampai harus menolak banyak siswi cantik yang menyukainya.
Dibandingkan Ashilla, memang apa sih Rani? Cuma remahan jas jus. Remahan gorengan yang banyak bekas minyak jelantahnya warna hitam. Pokoknya, jauh banget kayak langit dan bumi.
“S-sok tau lo! Gue nggak pernah nembak Noah,” sangkal Rani.
“Ya wajar aja kok kalo suka sama Noah, dia emang cakep dan jago karate,” kata Ashilla, ia tersenyum dan sama sekali tidak masalah dengan kabar yang baru saja diberitahu oleh Edgar.
“Ayo, lomba bentar lagi dimulai. Sekarang siap- siap ke posisi ya.”
Obrolan mereka berhenti ketika lomba akan segera dimulai. Rani dan Farel bersiap. Mereka menahan balon itu di kepala mereka, lalu ketika musik dinyalakan, semua peserta diwajibkan berjoget ria. Jika ada yang ketahuan tidak berjoget, mereka akan didiskualifikasi.
Walaupun Rani sudah malas banget ikut lomba ini, minimal ia tidak boleh mengecewakan Farel yang sudah bersuka rela mengajaknya ikut serta. Jadi, ia berjoget dan menganggap tidak ada satu pun orang yang menontonnya bergoyang.
Farel tertawa, “Jangan sampe jatoh balonnya Ran,” katanya sambil terus menahan.
“I-iya kak ini lagi usaha,” katanya, “aduh lagian mana bisa si goyang kalau gak jatoh?”
“Bisa.”
Sudah banyak pasangan yang tumbang lantaran Rani bisa mendengar dari jerit tawa para penonton.
“Ayo, sisa dua pasangan! Ada Farel dan Rani dari ekskul paskib, dan ada Edgar sama Ashilla yang katanya lagi pedekate.”
Rani bisa mendengar ucapan sang panitia lomba. Edgar dan Ashilla sedang pendekatan? Apa respon Noah jika laki- laki itu mendengarnya?
“Jangan- jangan, yang dari ekskul paskib juga lagi pedekate? No one knows! Hahahaha.”
“Aduh kak nanti digosipin nih,” kata Rani mulai risih.
“Fokus Ran, hadiahnya lumayan bisa traktir roti kantin ke seluruh anak paskib,” kata Farel.
“Hadiah?”
“Iya, namanya lomba ada hadiahnya!”
Rani pun bertekad ia akan tetap fokus mempertahankan balon di kepalanya yang sudah ingin jatuh. Jika balon itu jatoh, bisa- bisa wajah Rani dan wajah Farel bertemu.
“Ayo Ashilla, pertahanin balonnya! Satu, dua… Yah, Edgar sama Ashilla gagal! Pemenangnya Farel dan Rani perwakilan ekskul paskib!”
Rani berjingkrak senang ketika mengetahui bahwa mereka memenangkan lomba. Farel pun tersenyum puas. Berbeda sekali dengan Edgar yang sepertinya tidak rela mereka memenangkan lomba ini.
“It’s just a game, Gar,” kata Ashilla yang kelihatan tenang dan justru malah tertawa melihat Rani dan Farel yang antusias atas kemenangan mereka.
*
Tyas, dari kejauhan ikut senang saat tahu Farel dan Rani memenangkan lomba. Ia berada di pinggir koridor, dan kini koridor sepi karena kebanyakan siswa berkerumun di lapangan.
Saat itu, matanya menangkap sesosok cowok yang berdiri di pinggir koridor tidak jauh darinya. Tangannya dimasukkan ke saku celananya, ia menatap ke arah kerumunan dengan rahang yang mengeras.
Itu adalah Noah.
Yah, wajar saja sih Noah kelihatannya sangat marah. Bagaimana tidak? Ashilla, mantan pacarnya itu, dikabarkan sedang masa pendekatan dengan Edgar. Si cowok syaiton yang berani- beraninya membully sahabatnya.
Ketika lomba selesai, dilihatnya Noah berbalik. Tanpa diduga- duga, tatapannya bertemu dengan mata Tyas. Mereka berdua sama- sama terkejut, namun dengan cepat Noah pergi, berjalan melewati Tyas diiringi para kerumunan siswa yang ikut bubar seiring lomba joget balon selesai.
Kalau dipikir- pikir, Noah itu memang sangat tampan. Wajar saja Rani bisa sampai jatuh cinta kepada cowok itu, si ketua klub karate yang sering memenangkan lomba dan membuat sekolah bangga terhadapnya.
Tetapi, yang barusan ia lihat itu, Noah seperti menyimpan banyak sekali beban. Entah apa yang sebenarnya terjadi di antara dirinya dan Ashilla. Seluruh penjuru sekolah seperti tidak ada yang mengetahuinya, kecuali mereka berdua yang bersangkutan.
*
Sepulang dari sekolah, Farel mengajak anak- anak paskibra untuk berkumpul di rumahnya. Farel mengatakan dia akan mentraktir mereka semua menggunakan sejumlah uang yang ia dapatkan dari hasil memenangkan lomba tadi. Dan tentunya, ditambahkan dengan uang pribadinya.
Rani pun ikut ke sana, walaupun ia sudah sangat lelah dan kepanasan. Rasanya ia ingin buru- buru pulang dan mandi, lalu mengeram di kamarnya hingga besok pagi.
“Syukurlah kak Farel gak makan duitnya sendiri bareng Rani,” kata Dini sambil tertawa.
Farel mentraktir seluruh anak paskibra yang hadir semangkuk mie ayam yang ia pesan di komplek depan, lengkap dengan minuman teh dalam botol yang juga ia beli berbarengan.
“Ya enggak dong, kan perwakilan paskib. Dari pada Rani nganggur ga ikut sama sekali, yaudah gue ajak.”
Rani saat itu hanya bisa tertawa menanggapinya. Ia menghabiskan mie ayam itu dengan cepat, lalu pamit pulang.
“Di sini aja dulu bareng yang lain Ran,” kata Renita menahan gadis itu pulang.
“Aduh gue udah gerah banget nih mau keramas. Emangnya gak sadar kalo elo- elo pada bau matahari?”
“Ya sadar sih,” kata Renita, disetujui oleh Dini.
Farel tertawa, “Yaudah kalo lo mau balik duluan. Mau balik ama siapa Ran?” tanyanya.
“Nih gue lagi nelpon supir gue. Paling gak lama dateng, soalnya gak jauh juga kan dari rumah gue.”
Farel mengangguk- angguk. “Oke.”