Sudah berbulan-bulan Rani tidak keluar kelas bahkan untuk pergi ke kantin, begitu juga dengan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler. Padahal, bisa dibilang Rani adalah siswa kebanggaan ekskul paskibra.
Hal ini tentu saja membuat pembina dan juga ketua paskibra, harus menegurnya berkali-kali dan memaksanya untuk kembali. Kak Farel, yang merupakan ketua paskibra sampai harus menyatroni kelas Rani hari ini karena cewek itu tidak kunjung membalas sms darinya.
“Ran, lo harus jadi pengibar bendera di acara tujuh belas agustus nanti,” ujar kak Farel.
“Emang gak ada yang lain, kak?” tanya Rani, ia masih enggan untuk terlihat mencolok.
Farel sebenarnya sadar betul sesuatu telah terjadi dengan Rani. Sesuatu yang membuat gadis itu enggan kembali ke esksul yang sebenarnya sangat ia cintai.
“Lo ada masalah, Ran?” tanya Farel, yang mulai bersiap menginterogasi Rani sampai gadis itu mau mengaku.
Keadaan kelas saat itu sepi. Hanya ada beberapa teman sekelasnya yang berkumpul di pojok kelas sambil merumpi.
Rani menggeleng, “Gak ada kak.”
“Terus lo kenapa udah berbulan-bulan vakum di paskib? Kita butuh lo, Ran.”
Rani memang sangat mencintai paskibra. Ia juga tidak ingin kalau sampai dirinya dikeluarkan dari ekskul tersebut, dan seterusnya ia tidak akan mendapatkan nilai tambahan.
Akhirnya, Rani menarik napasnya. Ia pasrah, dan ia setuju.
“Oke, kak. Aku jadi pengibar,” ucapnya, terpaksa.
Farel kini bisa bernapas dengan lega. Cowok berkulit cokelat itu tersenyum lebar, “Oke, pulang sekolah gue tunggu di lapangan. Kita latihan bareng yang lain.”
Rani mengangguk, dan setelahnya Farel keluar dari kelasnya. Ia menatap punggung Farel yang perlahan menjauh dengan tatapan frustasi. Astaga, ia mengiyakan permintaan ketua paskibra itu. Tandanya, ia harus kembali menjadi pusat perhatian. Dan tentu aja, baik Edgar mau pun Noah akan melihatnya.
Rasanya, Rani ingin menenggelamkan dirinya saja. Ia tidak bisa kembali jadi pusat perhatian. Traumanya seperti begitu besar, dan ia tidak bisa memunculkan wajahnya lagi di hadapan Noah. Cowok itu, ketua karate yang digemari oleh hampir seluruh siswa di IIS, menonton hinaan Edgar kepadanya saat hari Valentine. Bukan hanya menyakitkan, hal itu juga terasa pahit.
Pulang sekolah, seperti janjinya kepada Farel, Rani kembali berkumpul dengan para anak-anak dari ekstrakulikuler paskibra. Mereka semua kembali menyambutnya dengan baik, bahkan Sebagian besar dari mereka merasa kehilangan setelah ia absen selama berbulan-bulan.
Menurut Rani, itu bullshit. Oke, memang tidak semua anak paskibra yang bermuka dua jika di hadapannya, tapi, kebanyakan begitu. Karena jika memang mereka semua merasa kehilangan, mengapa hanya Farel, Dini, dan juga Renita yang menegurnya untuk kembali ke paskib?
Dini dan Renita sempat meneleponnya berkali-kali, dan Farel bahkan sampai harus menghampirinya langsung di kelasnya.
Mereka semua berbaris dengan rapi di lapangan. Terik matahari sore tepat jatuh ke wajah Rani yang berkulit eksotik. Rani menghela napasnya, apa kah sunscreen yang ia kenakan dapat melindungi kulitnya dari sinar matahari yang jahat itu?
“Pengibar sudah ditentukan, yaitu Rani, Dini, dan Renita,” ujar Farel, yang sepertinya hal itu sudah disetujui oleh pembina mereka, Andre. “Ada tambahan untuk formasi nantinya, dan itu pun sudah dipilih seperti kesepakatan awal kita. Dipastikan semua sudah sesuai, dan mendapatkan posisinya masing-masing.”
Oke, Farel sebagai ketua paskibra memang terkenal adil. Ia benar-benar menggunakan seluruh anak paskibra untuk pengibaran bendera dan membacakan naskah-naskah.
“Karena Rani sudah hadir, kitab oleh mulai berlatih hari ini.”
“WESSS!! Farel!”
Jantung Rani hampir copot. Edgar menghampiri Farel yang sedang memimpin ekstrakulikuler paskibra, melingkarkan tangan kanannya di leher Farel seakan-akan hal itu adalah hal yang wajar.
Rani tahu, mereka berteman, dan itu salah satunya yang membuat Rani enggan mengikuti paskib selama berbulan-bulan. Ia takut, hal itu terdengar ke telinga Farel. Tambah turun saja derajatnya kalau seperti itu.
“Gar, gue lagi mimpin,” ujar Farel yang tampak jengkel pada Edgar yang sepertinya, sudah membuang sopan santunnya jauh ke dasar laut.
“Sori, sori,” kata Edgar, ia melepaskan rangkulannya, dan kini matanya tertuju kepada Rani. “Eh, ada si keling.”
Lantas, seluruh perhatian anak paskibra mengikuti arah pandangan Edgar. Mereka semua memandang ke arah Rani, meskipun setelahnya mereka memandang Edgar tidak percaya. Kecuali Beby, yang sepertinya sangat menikmati hal ini. Menikmati cacian yang Edgar lontarkan kepada Rani.
“Gar, pergi gih, ganggu aja lo,” kata Farel, meskipun nadanya bercanda, Rani tahu bahwa ia pemimpinnya itu sedang serius.
“Oke, see you, Rel.”
Akhirnya, Edgar pergi. Apa kah Rani merasa tenang? Tentu saja tidak, karena panggilan ‘keling’ dari Edgar sudah pasti akan berefek kepanjangan. Ia merasa cukup putus asa.
Rani terpaksa mengikuti seluruh latihan paskibra dengan persaan sakit hati, dan selalu saja salah dalam gerakan-gerakannya. Namun anggota yang lain memakluminya, karena ia sudah berbulan-bulan tidak berlatih.
Tidak dengan Farel, yang tahu itu bukanlah alasan Rani yang sebenarnya. Keisengan temannya, Edgar, terhadap Rani yang notabene adalah anggotanya, tentu saja sudah di luar batas. Yang dilakukan oleh Edgar bukan hanya body shaming, tetapi sudah masuk ke dalam ranah bullying.
Selesai latihan pukul lima sore, Rani duduk di pinggir lapangan. Gadis itu menenggak air dari botolnya dengan cepat, karena ia merasa sangat haus. Sepanjang latihan, ia tidak banyak berbicara.
“Ran, lo balik sama siapa?” tanya Farel, menghampirinya untuk sekadar berbasa-basi.
“Sendiri,” jawabnya, “paling taksi.”
Bukan tanpa alasan, karena sopirnya tidak bisa menjemputnya hari ini.
“Apa gak kemahalan ongkosnya? Bareng gue aja ayo,” ajak Farel.
Rani mengerutkan dahi, “Emangnya searah, kak?” tanyanya.
Farel mengangguk, “Lupa lo, rumah gue searah sama rumah lo?”
Karena seharian ini sudah sangat melelahkan baik fisik mau pun batinnya, akhirnya Rani menyetujuinya. Ia mengangguk, lalu mengikuti Farel berjalan sambil menyampirkan tas ranselnya.
Rani naik ke mobil Farel, di kursi depan. Ia tampak menyemprotkan parfum, agar bau-bau tidak sedap (seperti bau matahari) tidak menyebar ke seluruh penjuru mobil.
“Santai aja kali, gue juga bau keringet dan matahari,” kata Farel sambil tertawa pelan.
“Justru itu, biar gak nyatu baunya,” sahut Rani dengan tawa kecil yang mengikutinya.
Ketika perjalanan menuju rumah Rani, Farel lantas melancarkan aksinya. Yaitu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara Edgar dan Rani, sampai laki-laki itu berani membully nya.
“Ran, lo kenapa sama Edgar? Lo pernah buat salah ke dia?” tanya Farel langsung, dan tidak pernah diduga oleh Rani ketua ekskulnya itu akan bertanya seperti itu padanya.
“Gak ada apa-apa, kak. Aku gak kenal Edgar,” jawab Rani, karena memang sebelum bencana tabrakan di kolam renang itu, ia tidak mengenal Edgar.
“Bohong,” kata Farel, “dia jelas nge bully lo, Ran.”
Rani menarik napasnya, ia menggigit bibirnya agar tidak lantas mencurahkan semua isi hatinya kepada Farel. Ia tidak ingin membeberkan semuanya, walau rasanya ia sudah tidak tahan menanggung beban itu sendirian.
“Ran, lo jujur aja ke gue. Anggap gue sebagai sahabat lo, boleh kok. Apa lagi, kalau sampai yang Edgar lakukan itu berkaitan sama paskib. Tentu aja gue gak akan biarin itu semua gitu aja.”
Air mata begitu saja mengalir di pipinya. Dari semua orang, mengapa harus Farel yang peka? Walaupun menangis, Rani tertawa di tengah tangisannya.
“Konyol, kak. Semuanya terlalu konyol diceritain.”
“Gue akan dengar sampai akhir.”
“Berawal dari tabrakan di kolam renang, kak Farel tau?” tanya Rani, hanya sekadar memastikan.
Farel pernah mendengar hal itu sekelibat, dan ia mengangguk.
“Edgar merasa dijodoh-jodohkan sama aku, digosipin dekat sama aku. Padahal, itu semua murni kecelakaan. Aku pun sama sekali gak kenal Edgar sebelumnya. Setelah itu, Edgar jadi sering ngehina aku.”
Tentu saja, Rani tidak akan menceritakan soal kejadian Noah kepada Farel. Soal itu, ia harus merahasiakannya sampai ia mati.
“Astaga,” kata Farel, tidak habis pikir dengan sikap kekanakan Edgar. “Gue yang nanti ngomong sama dia, supaya dia berhenti ngeganggu lo kayak gini.”
“Gak usah kak.”
“Gak usah gimana, kalau sampe gara-gara hal itu, lo absen di paskib selama berbulan-bulan?”
Rani tahu, ia sudah kalah telak. Farel sudah pasti akan berbicara langsung kepada Edgar.
*
Jum’at malam, karena besok adalah hari Sabtu, Edgar hampir selalu mengadakan acara kumpul atau party kecil-kecilan di rumahnya yang besar. Bukan tanpa alasan cowok itu memiliki rumah besar.
Ayahnya adalah seorang aktor sukses dan terkenal yang kini menjadi sutradara, sedangkan ibunya adalah jebolan Puteri Indonesia. Wajar kalau ia tajir melintir dan bisa mentraktir teman-temannya setiap Jum’at malam.
Seperti janji Farel kepada Rani, laki-laki itu datang malam ini. Ia akan selalu diterima di rumah Edgar, karena Farel juga merupakan anak dari orang tua yang kaya raya. Selain itu, wajah Farel juga mendukung. Walau berkulit gelap, Farel tampak menggoda karena tubuhnya lumayan kekar.
“Akhirnya, dateng juga lo setelah beberapa kali absen,” ujar Edgar menyambut kedatangan Farel.
Mereka duduk di sofa bersama yang lainnya, meminum minuman bersoda, karena alkohol dilarang oleh keluarga Edgar. Walaupun, kadang ada saja yang nekad membawa berbotol-botol bir untuk dinikmati bersama. Kecuali Edgar, yang tidak bisa mencobanya karena ia tidak ingin ketahuan mabuk.
Farel tersenyum, “Ada yang mau gue omongin sama lo, Gar.”
“Apaan tuh?”
“Soal Rani, lo kenapa sampe manggil dia gitu tadi?” tanya Farel, tanpa berbasa-basi, dan dengan cepat merubah suasana hati Edgar.
“Karena dia ngeselin.”
“Sejauh ini, Rani anak yang baik. Dia juga anak kebanggaan paskib,” kata Farel, membeberkan hal yang sebenarnya mengenai Rani.
“Udah deh, lo ngapain sih bahas dia, Rel? Lo naksir ya?” tanya Edgar curiga, “yah sayang deh, dia naksirnya sama Noah.”
“Noah?”
Edgar mengangguk, “Iya, gue tangkep basah dia pas Valentine kemarin. Dia mau nembak Noah kayaknya, terus yaudah, gue selametin Noah biar gak terlanjut berhubungan sama cewek buluk kaya dia.”
Farel tidak habis pikir, apa kah Edgar benar-benar tidak memiliki rasa kemanusiaan atau empati barang sedikit saja?
“Gar, kalau lo punya dendam tersendiri ke Rani, gue mohon, jangan hancurin mental dia. Posisi Rani di paskib itu penting, dan udah berbulan-bulan dia gak masuk paskib.”
Edgar terdiam, namun kemudian ia tertawa renyah. “Bukan urusan gue,” ujarnya, seakan tidak peduli.
Karena Farel merasa tidak ada gunanya berbicara dengan Edgar, pada akhirnya cowok itu pergi dari rumah mewah Edgar. Meninggalkan pesta yang tidak berguna untuk masa depannya itu.