Jovi.
Satu nama itu terlintas di kepala Rani ketika Bella, asistennya, sudah izin pulang setelah makan malam tadi. Makan malam yang juga dihadiri oleh mama dan papa Rani, tanpa Bayu (ia memiliki urusan di rumah sakit).
Lagi-lagi kedua orang tua Rani membahas soal Jovi. Mereka menanyakan bagaimana hubungannya dengan vokalis band terkenal itu. Apa kah mereka baik-baik saja, atau ada suatu masalah. Dan seperti biasa, Rani hanya menjawab bahwa mereka baik-baik saja.
Padahal, Rani dan Jovi sedang tidak baik-baik saja ketika terakhir mereka bertemu tadi pagi. Mereka kembali bertengkar soal Rani yang tidak ingin diajak berhubungan intim oleh cowok itu. Padahal sudah jelas kan, Rani sudah mewanti-wanti hal itu sejak pertama kali mereka memutuskan untuk berpacaran?
Rani terpaksa berbohong lantaran jika kedua orang tuanya tahu apa yang sebenarnya terjadi, mereka sudah pasti akan memaksanya untuk memutuskan Jovi. Itu sudah pasti. Mereka akan merasa menang bahwa apa yang selama ini mereka khawatirkan nyatanya terbukti dengan benar.
Rani merasa harus mempertahankan hubungannya (tentu saja dengan masih mempertahankan virginity nya) dengan Jovi, agar kedua orang tuanya tidak merasa menang jika nyatanya memang ia gagal dalam hal itu.
Kini Rani terduduk di meja kerjanya. Meja yang sudah ia pakai sejak jaman kuliah, dan masih terdapat satu foto yang tidak pernah Rani pindahkan sejak pertama kali ia menempatkan meja itu di sana.
Foto anggota ekstrakulikuler paskibra, di mana ada almarhum Farel, sang ketua, yang berdiri di tengah dan Rani berdiri di sebelahnya. Orang yang pernah mengisi hari-harinya ketika ia merasa harga dirinya jatuh karena Edgar yang terus saja merendahkannya.
Dan juga Farel adalah laki-laki pertama yang mengisi hati Rani. Menyatakan perasaan terhadapnya, meskipun hanya lewat telepon. Yang jelas, Rani tidak akan pernah melupakan hal itu sama sekali.
Selama ini, hanya dua laki-laki yang benar-benar mengisi hati Rani. Hanya Farel dan Jovi. Dan perbedaan antara kedua laki-laki itu juga sangat kontras.
Farel yang terkenal pintar dan sangat berminat pada bidang paskibra, sedangkan Jovi yang sangat pandai dalam bidang musik dan memiliki suara yang membuat banyak perempuan klepek-klepek.
Handphone Rani berbunyi. Ia sebenarnya enggan sekali menanggapi pesan atau pun telepon masuk ketika malam-malam begini. Alasannya, ia ingin beristirahat dengan tenang sebelum kembali beraktivitas keesokan harinya.
Ada beberapa pesan What’s App yang masuk dari Jovi.
Babe, I’m sorry. Can we meet tomorrow?
Maaf.
Maafin aku ya?
Rani menghela napas, dan terpaksa membalas pesan. Sejujurnya ia masih sangat jengkel dengan sikap Jovi tadi pagi.
Aku besok syuting lg.
Kalau gt aku dateng ke loksyut ya?
Gak perlu. Aku mau tidur, dah.
Biasanya, Rani akan cepat sekali luluh jika Jovi meminta maaf. Tapi untuk kali ini, karena kesalahan yang Jovi lakukan selalu diulangi kembali, Rani tidak akan semudah itu memaafkannya.
Memang benar, Rani sangat menyayangi Jovi. Bisa dibilang, ia baru merasakan bagaimana ketika seseorang memperlakukannya dengan manis seperti apa yang Jovi lakukan kepadanya.
Farel belum benar-benar sempat melakukan itu semua kepadanya bukan?
Jovi juga tidak lagi membalas pesan darinya, dan Rani memutuskan untuk tidur setelahnya.
*
“Kamu tau, Feb? Semesta memang sudah mentakdirkan kita untuk jadi sahabat,” ujar Alexander, lawan main Rani yang berperan menjadi seorang cowok bernama Chiko. “Kita udah coba pacaran, tapi ujung-ujungnya, selalu gagal… Giliran jadi sahabat, kita bisa sedekat ini. Aneh ya?”
“Itulah cara semesta bekerja,” kata Rani yang berperan sebagai Febby, ia tersenyum dan mengangguk.
Scene yang mereka ambil saat ini adalah ketika di mana Rani dan Alexander harus duduk di pinggir bukit dengan pemandangan lampu-lampu kota yang bersinar terang di malam hari. Untuk sebuah series, penggambilan gambar seperti ini bisa dibilang sudah sangat bagus.
“Cut! Bagus!” Ujar si sutradara, setengah berteriak, dan kini para kru bertepuk tangan mengagumi akting mereka yang bagus.
Rani dan Alexander pun tersenyum dan tertawa. Mereka saling berpelukan, tanda perpisahan. Syuting untuk series berjudul ‘Sahabat Setia’ yang tayang dua kali seminggu sudah terselesaikan olehnya.
“Gak nyangka series kita bakal ngalahin sinetron yang lagi tenar itu,” ujar Alexander.
Ah, sinetron itu. Sinetron yang sudah dua tahun lamanya tayang di televisi, namun tidak kunjung tamat. Sinetron yang dibintangi oleh Edgar Malik, musuh bebuyutan Rani ketika SMA.
Rani tertawa, ia menyelipkan anak rambutnya yang tertiup angin ke balik telinga, lalu merapatkan jaketnya. Mereka sedang berada di salah satu bukit yang ada di kota Bandung, sudah pasti udaranya sangat dingin.
“Benar juga yah,” kata Rani, “lo sendiri, bukannya pernah main sinetron stripping yang episodenya banyak gitu?” tanyanya.
Alexander mengangguk, “Pernah sih, tapi gue ngundurin diri karena ngerasa jalan ceritanya udah gak karuan. Waktu dapet project yang lawan mainnya lo, langsung gue ambil. Karena yang gue tau lo gak sembarangan ambil project, iya kan?”
Rani tersenyum dan mengangguk, “Iya, memang. Karena bagi gue dari setiap project yang gue ambil itu yang terpenting adalah kualitas dan kenyamanannya. Karena kalau gue gak suka sama karakternya dan gue gak nyaman meranin karakter itu, gue ngerasa akting gue buruk banget. Dan juga, lawan mainnya sih. Kalau gue tau ada desas-desus lawan mainnya problematik, gue pasti skip.”
Mereka berdua berjalan menuju arah tenda Rani, kemudian duduk di depan api unggun untuk menghangatkan diri. Sementara para kru membereskan peralatan syuting untuk ikut menikmati malam di bukit yang indah ini.
Bella, asisten Rani, segera memberikan gadis itu secangkir teh hangat yang baru saja dibuatnya.
“Berarti, gue bukan lawan main yang problematik dong ya?” gurau Alexander sambil tertawa. “Lo ambil project apa setelah ini, by the way?”
Sejujurnya, Rani belum menanyakan hal ini lagi kepada manajernya. Biasanya, jika ada yang menawarkan project baru kepadanya, sudah pasti manajernya mendiskusikannya terlebih dahulu. Namun nyatanya, manajernya belum menghubunginya sama sekali.
Rani menggeleng, “Belum tau. Manajer gue sama sekali belum ngehubungin gue. Mungkin kepingin gue istirahat dulu. Lo gimana?”
“Oh, ada project bareng Lisa.”
“Lisa? Kalian jadi lawan main?” tanya Rani, ia terkejut karena pada akhirnya, LIsa Azevia yang terkenal selalu mendapatkan peran menjadi second lead female akhirnya mendapatkan peran utama.
Alexander tertawa, “Oh, peran utamanya diambil sama Caitlin,” ucapnya, membenarkan maksud dari jawabannya. “Gue sebut nama Lisa karena kayaknya lo pernah deket sama dia.”
Rani lantas menggeleng, “Cuma pernah satu project aja, gak lebih.”
“Bos, besok meeting ya sama mbak Iren,” kata Bella tiba-tiba, yang baru saja keluar dari tenda.
“Oh ada apa emang?” tanya Rani.
“Project baru. Katanya lo udah pasti gak nolak, jadi dia udah tanda tangan kontrak.”
Rani mengerjapkan matanya. Tumben sekali manajernya, mbak Iren, menandatangani kontrak tanpa persetujuannya lebih dahulu. Padahal yang sudah-sudah, Rani sudah sangat hati-hati dalam memilih project.
“Waduh, susah nih, kalau nggak ada komunikasi sama sang artis, tiba-tiba udah tanda tangan kontrak aja.” Komentar Alexander, “pengalaman pribadi,” tambahnya.
Rani melirik Bella dan melemparkan pandangan dengan tatapan bingung. Namun, asistennya itu sama sekali tidak tahu menahu kontrak apa yang sudah ditanda tangani oleh manajernya.
“Tanya mbak Iren, project apa yang dia ambil,” ujar Rani.
“Tadi sih katanya project reality show, adaptasi Korea gitu deh, kan lagi jaman…”
“Reality show?”
Rani memijit keningnya. Ia sama sekali tidak pernah mengambil project sejenis reality show. Bagaimana bisa tiba-tiba saja mbak Iren menyetujuinya? Sudah pasti, Rani harus memprotesnya.
Alexander yang mendengar hal itu pun langsung menepuk bahu Rani, “Good Luck buat next project nya Ran, gue balik ke tenda dulu,” katanya.
“Oh, oke-oke, thanks Lex.”
Setelah Alexander pergi, Rani lantas masuk ke dalam tenda dan berdiskusi dengan Bella.
“Mbak Iren gak jelasin apa-apa selain ngasih tau kalo itu project reality show, Bel?” tanya Rani.
Bella menggeleng, “Katanya, pokoknya besok kita harus langsung dateng ke kantor setelah balik dari sini. Dan mbak Iren cuma bilang project ini adalah project yang bagus dan unik konsepnya. Jadi, udah pasti lo akan setuju sama dia. Agensi juga mengiyakan keputusan mbak Iren kayaknya.”
Rani menghela napas. Astaga, padahal ia sudah memperingatkan pada agensi dan juga manajernya agar selalu menginfokan apa pun kepada dirinya sebelum menandatangani sebuah kontrak. Kalau seperti ini kan, Rani jadi malas menjalaninya.
Belum lagi, Rani sebenarnya juga pilih-pilih lawan main. Ingatkan, ia tidak ingin satu project dengan orang-orang yang problematik? Hal itu selalu dipegang teguh olehnya.