Ini adalah pertama kalinya Edgar mengikuti meeting yang di mana ayahnya, Emir Malik, hadir sebagai sutradara project yang selanjutnya akan ia ambil.
Sinetron strippingnya sudah tamat. Ia sudah tidak lagi terikat kontrak, dan saatnya mencari project baru yang lebih menjanjikan. Kebetulan sekali ayahnya sedang menggarap sebuah web series berjudul Paramour yang akan ditayangkan tiga bulan lagi.
Karena waktu yang lumayan singkat, Edgar ditekankan untuk segera mendalami peran dari karakter yang ia perankan. Ayahnya juga sudah memaksanya untuk menandatangani kontrak perjanjian bahwa ia harus mengikuti sarana promosi apa saja yang bisa membuat series itu sukses nantinya.
Namun hingga saat ini, ayahnya belum mengatakan sama sekali siapa lawan mainnya di series ini. Dan omong-omong, ini adalah series yang hanya tayang di sebuah aplikasi berbayar. Ratingnya sudah masuk delapan belas plus, yang dimana sudah pasti ada beberapa adegan yang tidak bisa ditonton oleh anak-anak dibawah umur.
Dan sejujurnya, ini bukan pertama kalinya bagi Edgar. Ia sudah pernah memainkan adegan vulgar beberapa kali, dan semua itu sukses ia perankan. Jadi, tidak masalah sama sekali.
Yang jadi permasalahan adalah ayahnya yang masih merahasiakan lawan mainnya! Bagaimana ia bisa sukses memerankan adegan vulgar jika ayahnya terus menerus merahasiakannya?
“Pokoknya secepatnya Edgar mau papa ngasih tau siapa lawan main aku buat web series itu,” kata Edgar, ia kini duduk di sebuah ruangan bersama ayahnya yang kali ini merangkup menjadi produser dan juga sutradara untuk project ini.
“Sabar dong,” kata ayahnya sambil mendumal, “kamu baca aja dulu scriptnya, dalami karakternya. Urusan lawan main belakangan, yang terpenting diri kamu dan peran kamu sendiri.”
“Loh, gimana caranya Edgar bangun kemistri nantinya? Ini genrenya dewasa loh, pa. Udah pasti Edgar harus tau siapa lawan main Edgar supaya bisa membangun kemistri yang bagus nantinya. Apa lagi-“
“Apa lagi apanya?” tanya ayahnya yang mulai jengkel.
“Ya… Apa lagi Edgar baru aja kelar main sinetron stripping. Otomatis, penonton pasti masih belum bisa lepas dari peran Edgar yang satu itu kan? Jadi Edgar harus berusaha keras buat bikin penonton gak ngait-ngaitin series ini ke sinetron.”
“Papa udah tau soal itu, Edgar. Yang terpenting kamu dalami saja dulu karakter kamu. Web series ini penting untuk papa. Inget ya, web series udah pasti bisa ditonton oleh seluruh orang di dunia. Jadi papa mau web series ini sukses, jadi tolong kerja samanya.”
Edgar menggaruk kepalanya kesal, ia akhirnya menuruti saja apa yang diinginkan oleh papanya.
*
“Mbak Iren, mbak kan tau kalau aku nggak mau mbak atau pun agensi memutuskan untuk tanda tangan kontrak tanpa komunikasi dulu sama aku. Seenggaknya, kasih tau aku dulu project kayak apa yang bakal kalian tanda tanganin.”
Rani memprotes keputusan manajer dan agensinya dengan keras ketika sampai di kantor. Bella hanya duduk di pojok ruangan, memperhatikan mereka sejak sampai tadi. Ia tahu bosnya itu sudah pasti akan memprotes hal ini habis-habisan. Karena bagaimana pun, Rani sangat menjunjung tinggi nama baik keluarganya.
Kenapa?
Keluarganya terkenal sebagai keluarga terhormat dan juga berpendidikan. Ia harus professional dalam menjalani pekerjaannya sebagai aktris. Mengambil project dengan baik dan juga menolak project yang dikiranya tidak penting dan hanya mengandalkan gimmick saja.
Iren menarik napasnya, ia sudah mempersiapkan hal seperti ini akan terjadi. Rani sudah pasti akan memarahinya.
“Pertama-tama, Rani, ini bukan project gimmick atau semacamnya. Ada dua project yang akan kamu ambil. Yang pertama web series utama, diproduseri dan disutradari oleh Emir Malik. Yang kedua, ada reality show pendukung untuk membuat web series itu sukses di pasaran. Saya tahu kamu gak akan nolak kalau tau Emir Malik yang jadi produser sekaligus sutradaranya.”
“Ya tapi…”
Rani menghela napasnya. Rasanya, sekeras apa pun ia menolak, web series dan reality show itu sudah pasti akan tetap ia ambil. Kontrak sudah ditanda tangani, jika ia menolak, ia harus membayar pinalti yang tidak sedikit.
“Oke, siapa lawan main aku?” tanya Rani.
“Edgar Malik,” jawab Iren dengan tegas, padat, dan sangat jelas.
Sangat jelas, sampai-sampai dengan sekejap membuat hari Rani semakin hancur berkeping-keping. Edgar?! Edgar Malik, jadi lawan mainnya untuk web series dan reality show itu?!
“Wah, gila!” Ujar Rani, ia tak kuasa lagi menahan emosinya yang sudah meledak-ledak.
Bella yang masih duduk ditempatnya pun memijit keningnya sendiri. Kenapa pula mbak Iren lancang langsung menandatangani kontrak tersebut jika tahu bahwa lawan main Rani adalah Edgar Malik, aktor yang paling dihindari oleh gadis itu mati-matian?
“Mbak! Mbak Iren gak tahu siapa Edgar Malik?!” tanya Rani, nada bicaranya sudah sangat tinggi sekarang.
“Ya tahu, dia aktor yang lagi sukses karena sinetron strippingnya itu.”
“Bukan, bukan itu mbak! Dia itu musuh aku selama SMA! Bukannya aku udah pernah bilang aku gak akan mau ambil project yang ada dianya?!”
“Kamu gak pernah bilang ke saya.”
Rani menepuk dahinya, oke, kali ini adalah kesalahannya. Ia selama ini hanya mengatakannya kepada Bella saja, bukan kepada manajernya, Iren. Itu karena ia tidak terlalu dekat dengan Iren. Ia tidak mungkin membuka aib masa lalunya.
“Udahlah, Ran. Itu semua udah masa lalu kan? Jadi, sekarang, saya kasih script nya ke kamu, dan kamu baca. Kamu pasti gak akan nolak deh, apa lagi Emir Malik yang garap… Udah pasti bagus ini seriesnya!”
Mbak Iren menyodorkan script berjudul Paramour itu kepada Rani, dan setelahnya ia bangkit dari duduknya.
“Besok kita bakal ada pembacaan script. Jadi tolong hari ini kamu baca script itu baik-baik.”
Setelahnya, Iren keluar dari ruangan. Meninggalkan Rani yang tidak bisa berkata apa-apa.
“Astaga,” kata Bella, ia kemudian duduk di samping Rani sambil mengelus-ngelus punggungnya. “Sori banget gue gak ngasih tau mbak Iren.”
Rani menggeleng, “Bukan salah lo Bel. Emang guenya aja yang gak sedeket itu sama mbak Iren buat nyeritain soal Edgar ke dia.”
“Aduh, lagian emangnya mbak Iren gak ngeh apa kalo lo suka gak mau dateng ke acara kalau si Edgar Malik itu dateng ke acara itu?”
Rani mengangkat bahunya, “Gak tahu deh…”
“Padahal lo sampe nolak dateng ke acara awards kemarin karena ada Edgar di sana.”
Itu benar. Rani sengaja tidak datang di sebuah acara awards sampai-sampai kemenangannya harus diwakili oleh Iren. Iren lah yang saat itu hadir. Dan anehnya, Iren sama sekali tidak menyadari hal itu.
“Jadwal gue hari ini apa aja Bel?” tanya Rani, ia mencoba move on dari permasalahan ini.
“Gak ada sih. Kan jadwal yang kemarin baru kelar, gue belum buat jadwal baru.”
“Yaudah, anter gue ketemu Jovi.”
“Loh, Jovi kan otewe Bali hari ini. Dia manggung di sana, lo gak inget?”
Lagi-lagi, karena masalah web series ini terlalu mengganggu pikirannya, Rani lupa akan hal itu. Ia lupa bahwa Jovi dan bandnya akan manggung di Bali malam ini. Andai saja besok tidak ada pembacaan script bersama pihak Edgar, sudah pasti Rani berangkat ke Bali saat ini juga.
Rani menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak bisa membayangkan jika mimpi buruk ketika SMA akan terulang lagi dalam waktu dekat.
Jika seperti ini, satu yang ada di pikirannya.
Ia selalu ingin sekali berlindung dari Edgar kepada Farel. Dulu, ketika Edgar mempermalukannya, Farel lah yang melindunginya walaupun secara tidak langsung…
“Kalo gitu anter gue ke makam Farel, Bel,” ujar Rani, memutuskan dalam sekejap, karena tiba-tiba saja ia merindukan Farel.
*
Rani turun dari mobilnya. Ia meminta Bella untuk tetap berada di mobil, karena ia ingin berbicara dan bercerita banyak pada Farel hari ini. Termasuk, soal project yang akan ia lakukan bersama Edgar.
Di tangan Rani, sudah ada sebuket bunga mawar berwarna putih. Ia berjalan menuju makam Farel dan keluarganya.
Dari kejauhan, gadis itu memicingkan matanya. Ada seorang laki-laki yang tidak ia kenal, berjongkok di hadapan makam Farel. Awalnya, Rani benar-benar tidak mengenali siapa laki-laki itu.
Namun, semakin mendekat, dan ketika laki-laki itu bangkit lalu berbalik badan, pandangan mereka bertemu dalam sekejap.
Rani membatu di tempatnya berdiri.
Seharusnya, jika memang Tuhan mengizinkannya, ia akan bertemu dengan cowok itu besok! Besok, di acara pembacaan script untuk web series Paramour. Bukan di sini, di makam Farel. Tempat Rani akan mengeluarkan semua keluh kesahnya yang tidak bisa ia keluarkan pada siapa pun termasuk Bella atau pun Tyas, sahabat dekatnya.
Sama seperti Rani, Edgar juga terpaku di tempatnya. Pikirannya melayang menuju beberapa tahun lalu, pertemuan terakhirnya dengan Rani setelah pesta kelulusan.