Khusus untuk hari ini, Maharani Soraya mempersiapkan dirinya untuk hadir di acara pembacaan scrip tuntuk web series Paramour. Beberapa aktor dan aktris lain juga akan hadir, seperti aktor senior Yunita Hadian yang akan berperan menjadi ibunya, dan juga Bara Hayanto yang akan berperan menjadi ayah sang laki-laki.
Ada juga Lisa Azevia, yang diketahui Rani seharusnya sedang mengerjakan project lain juga bersama Alexander. Yah, mungkin karena perannya tidak terlalu penting, jadi Lisa bisa mengambil peran lain secara bersamaan sekaligus.
“Hei Ran, udah lama nggak ketemu,” sapa Lisa, memeluknya dan tersenyum kepadanya.
Rani mengangguk, “Bukannya lo ada project bareng Alex ya?” tanyanya. “Good to see you again, anyway.”
Lisa tertawa, “Biasalah, jadi double agent. Lagi pula, kali ini web seriesnya menarik banget sih… Peran gue juga cukup penting, ditambah digarap langsung sama pak Emir. Jadi susah buat nolak, hehe.”
Memang. Jika Rani menjadi Lisa, ia tidak akan menolak tawaran ini dengan mudah hanya karena tidak ingin mendapatkan lawan main seperti Edgar. Kapan lagi, ia bisa bermain di web series Garapan Emir Malik?
Setelah membaca sekilas script tadi malam, Rani baru sadar bahwa web series ini memiliki rating dewasa. Ada beberapa adegan yang membuat kepalanya cenat cenut dan bulu kuduknya merinding karena membayangkan bagaimana ia akan berakting bersama orang yang paling ia hindari selama ini.
Ditambah, dalam rangka mempromosikan web series ini nantinya, akan ada reality show yang akan diikuti oleh Edgar dan juga Rani selama satu minggu. Entah seperti apa konsepnya, tetapi waktu seminggu untuk reality show lumayan panjang.
Rani duduk di samping Lisa dan juga Angga, aktor yang akan berperan sebagai pemeran utama pria kedua. Emir Malik dan juga anaknya, Edgar, belum terlihat batang hidungnya.
“Duh, gak nyangka gue kita bisa se project lagi,” gumam Lisa, ia tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Gadis dengan wajah blasteran Jerman itu tertawa senang seakan tidak sabar mengerjakan project ini.
“Hehe, iya,” kata Rani dengan malas. “Oh ya, Ga, gue denger lo temen deketnya Alex?” tanya Rani beralih pada Angga.
“Ya, lumayan deket. Dia masih circle gue juga bareng Edgar,” jawab Angga.
Edgar. Ketika nama itu diucapkan, Rani jadi enggan melanjutkan percakapan. Ia pada akhirnya hanya membolak-balik script nya dengan tatapan frustasi.
Tidak lama, Emir Malik masuk ke dalam ruangan. Pria itu tersenyum kepada seluruh isi ruangan, dan tatapannya tertuju pada Rani.
“Sudah saya duga, kamu memang cocok sekali jadi Kian,” kata Emir kepada Rani.
Rani hanya tersenyum dan mengangguk, ia tetap ingin bekerja dengan professional. Ia harus mengenyampingkan rasa bencinya terhadap Edgar agar project ini sukses.
Iren bilang, Emir Malik secara eksklusif memilihnya pertama kali untuk peran menjadi Kian di series Paramour ini. Jadi, Iren tidak mungkin menolaknya karena itu adalah sebuah kehormatan tersendiri untuk Rani.
“Edgarnya di mana om?” tanya Lisa, mencari-cari keberadaan Edgar yang belum menunjukan batang hidungnya di ruangan ini.
Sepertinya Lisa sangat antusias bisa satu project dengan Edgar. Hal itu tergambar jelas di wajahnya.
“Dia agak telat,” jawab Emir Malik dengan nada yang agak sedikit berat.
Tepat setelahnya, pintu terbuka. Edgar masuk ke dalam ruangan, seorang diri, dan langsung menatap Rani tajam. Laki-laki itu duduk di sebelah Rani, dan aroma parfum Mint nya seketika menusuk di hidung gadis itu.
“Kalian boleh saling sapa dulu,” kata Emir sambil menatap seluruh aktor dan aktris yang hadir hari ini.
“Gak perlu,” kata Edgar dengan tegas, dan aura dingin kemudian menjalas di seluruh penjuru ruangan.
“Lo kenapa si Gar?” tanya Angga bingung.
Edgar kemudian menarik napasnya, menatap ayahnya dengan raut wajah kesal. “Pah, kenapa sih papa gak ngomong kalau lawan main aku Maharani Soraya ini?” tanyanya.
Rani, yang tadinya ingin bersikap professional ketika bekerja pun merasa terpancing dengan keributan yang ditimbulkan oleh protes Edgar.
“Loh, emangnya lo pikir gue mau ketemu lo lagi? Apa lagi jadi lawan main lo di sini?!” tanya Rani.
“Kalo lo emang gak mau ngapain diterima?”
Rani tertawa sinis, “Bukan gue yang tanda tanganin kontrak itu, tapi agensi dan manajer gue, ngerti? Mereka tanda tangan tanpa persetujuan gue, jadi mau gak mau gue harus bersikap professional di sini. Tapi, berhubung lo duluan yang nyari ribut, gue ladenin.”
Baru kali ini, Rani mengeluarkan sikap paling tidak sopannya di hadapan sang sutradara sekaligus produser. Padhaal biasanya Rani selalu dikenal sebagai aktris yang sangat ramah, dan sopan kepada siapa pun.
Napas Rani terengah. Gadis itu kembali mengatur napasnya, lalu duduk dengan rapi di meja. “Maafin saya,” ucapnya dengan serius, “tapi saya memang cukup keberatan jika harus satu project dengan Edgar Malik.”
“Gue juga gak mau!”
Emir Malik yang saat itu menyaksikan anaknya dan lawan mainnya bertengkar, dan tidak tahu menahu apa yang terjadi kepada mereka sebelumnya pun hanya bisa mengerjapkan matanya dan menyimak mereka berdua.
“Udah selesai?” tanya Emir kepada Edgar dan juga Rani. “Sebenci apa pun kalian berdua satu sama lain, project ini harus tetap jalan. Edgar, walaupun kamu anak saya, kamu tetap harus jaga sopan santun di sini. Dan Rani, saya gak tahu soal masalah kamu, agensi dan manajer kamu. Tapi saya minta kamu untuk tetap professional. Karena yang saya dengar, kamu terkenal ramah dan sopan terhadap kru. Jadi, tolong terapkan di sini.”
“Iya, maaf om,” kata Rani menyesal, ia sudah lebih stabil ketimbang Edgar.
“Tapi pah!”
Emir memelototi Edgar, dan sejurus kemudian anak laki-lakinya itu diam di tempatnya tidak bisa berkutat.
“Oke, jadi kita lanjutkan sekarang.” Kata Emir Malik memberi aba-aba.
*
Pembacaan script kali ini adalah yang terburuk untuk Rani. Ia dan Edgar dipanggil ke suatu ruangan untuk berbicara dengan sang sutradara sekaligus produser.
Emir Malik, ingin mengetahui sejelas-jelasnya kronologi apa yang menyebabkan anak pertamanya itu memiliki hubungan yang kurang baik dengan aktris Maharani Soraya.
“Jadi, kalian bisa jelasin apa yang terjadi di antara kalian sebelumnya?” tanya Emir Malik dengan tegas.
“Jadi dulu pas Valentine…”
“Jadi dulu pas renang…”
“Satu-satu!” Perintah Emir Malik karena Edgar dan Rani menjelaskannya secara bersamaan.
Rani berdeham, mempersilakan Edgar untuk menjelaskannya terlebih dahulu.
“Gini pah, dulu Rani ini sempet nabrak Edgar waktu kegiatan renang di sekolah. Edgar sampe kepeleset, jatoh terus Rani nimpa Edgar! Hal itu bikin sekolah malah bikin gossip yang engga-engga soal kita berdua. Padahal Edgar sama Rani gak pacaran sama sekali! Lagian dulu juga Rani jelek, item, dekil pokoknya.”
Ketika luka lama Rani itu dibongkar di depan seorang Emir Malik oleh Edgar, Rani lantar menatapnya tajam, siap mengeluarkan jurus kata-kata makian.
“Bisa nggak sih nggak body shaming? Bisa nggak gak usah beda-bedain orang dari kulitnya? Dan lo emang gak lupa waktu valentine, secara terang-terangan di depan Noah lo mempermalukan gue? Sampe gue gak mau keluar kelas dan bolos paskib selama berbulan-bulan? Itu semua karena lo kan yang ngebully gue?!”
Emir Malik memejamkan matanya, pria itu kemudian menghela napasnya, berpikir bagaimana cara untuk memperbaiki kemistri yang sudah terlanjur rusak karena masa lalu mereka.
“Kalo gue ngebully lo, waktu almarhum Farel meninggal, gak mungkin gue nganter lo yang shock sampe ke rumah! Gak mungkin juga gue pernah bantu lo gantiin ban mobil lo. Inget nggak?!”
“Y-ya inget, tapi tetep aja, lo pernah ngebully gue.”
“Udah, cukup,” kata Emir Malik kepada Edgar dan juga Rani. “Ini adalah project penting untuk saya, dan bagi saya kalian adalah orang yang paling cocok memerankan Kian dan Raffi. Kalian kan sudah dewasa, memangnya gak bisa sedikit aja bersikap professional?”
“Saya bisa aja bersikap professional, om. Tapi, apa kah Edgar bisa? Dan apa kah latar belakang kita yang emang saling benci ini nantinya nggak akan mengganggu kemistri kita berdua? Coba tolong om pikirkan itu lagi,” tukas Rani.
“Nah kalau begitu, itu tugas kalian.”
“Tugas apaan?” tanya Edgar ketus.
“Tugas kalian untuk membangun kemistri kalian sendiri. Saya kasih waktu satu minggu untuk memperbaiki hubungan kalian yang sudah lama ternodai karena masalah bully-bully an itu.”