Ini adalah hal yang lebih buruk dari kata buruk itu sendiri. Emir Malik memberikan waktu satu minggu untuk Edgar dan Rani memperbaiki hubungan mereka dan menumbuhkan kemistri di antara mereka berdua. Syuting tidak akan bisa dilakukan jika mereka belum terlihat baik-baik saja, rileks (tidak emosi), dan bersikap professional.
Masalahnya adalah, bagaimana caranya? Mereka harus bertemu, begitu? Berbicara empat mata, atau ngedate?
Idih.
Rani tidak ada habisnya mendumel sepanjang perjalanan menuju mall. Ya, ia mengajak Tyas untuk bertemu dan berbelanja di salah satu mall besar pusat kota Jakarta.
“Kalo kayak gini, dari pada lo harus ketemu Edgar dan yah… Apa itu tadi katanya? Memperbaiki hubungan dan menumbuhkan kemistri? Lebih baik terima aja nggak sih, kalau lawan main lo itu Edgar?”
Bella yang sedang menyetir itu sebenarnya juga merasa miris dengan keputusan Iren dan menempatkan Rani di posisi yang cukup sulit seperti ini.
“Ya mungkin kalo gue dipasangin sama dia sekedar untuk cerita cinta-cintaan anak SMA sih oke ya, Bel. Tapi masalahnya ini ceritanya cukup dewasa dan ada banyak adegan ranjang. Gimana coba, gue bisa nyantai aja tindih-tindihan sama Edgar? Sinting.”
Mereka sampai di mall tidak lama kemudian. Tyas sudah menunggu kedatangan Rani dan Bella di salah satu restoran yang sering sekali mereka datangi. Dan omong-omong, kini Tyas bekerja menjadi seorang guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah swasta terkenal di Jakarta.
“Huaaaaa Tyasss!!” Sambil memperlihatkan gaya menangis, Rani buru-buru memeluk Tyas.
“Astaga, cuma gara-gara Edgar lo begini?” tanya Tyas, yang memang sudah tahu inti dan permasalahan apa yang tengah dihadapi oleh Rani.
Rani mengulum bibirnya, lalu mengerjapkan matanya bak anak bayi. Tyas yang muak akan sikap kekanakan sahabatnya itu pun langsung menoyor kepala Rani hingga gadis itu mengaduh.
“Aak,” ringis Rani, “ih serius! Lo gak tau ya, web series apa yang bakalan gue mainin? Rating nya aja dewasa, Tyas! Gue sama dia bakal ada adegan ranjang! Lo nggak kasian sama sahabat lo ini? Gila lo ya.”
“Gue sih kasian, tapi ya gimana lagi? Kita harus tetap professional kan,” ujar Bella, yang segera mendapatkan pelototan dari Rani.
“Betul kata Bella. Bukannya apa-apa ya, Ran, gimana pun lo udah bertahun-tahun nyebur di dunia entertainment. Nama lo udah terlanjur bagus. Semua orang tau lo orangnya humble, ramah, dan selalu memperlakukan staff sama fans-fans lo dengan baik. Masa lo mau ngancurin itu semua gara-gara ini?”
Rani menghela napas. Ucapan Tyas memang tidak salah. Ia seharusnya mengerti dan dapat menempatkan posisinya, yang memang selalu terkenal baik di mata banyak orang (memang aslinya seperti itu, bukan hanya gimmick semata).
Tyas meletakan tangannya di bahu Rani, “Ran, coba jalanin aja dulu. Gak ada salahnya kan?”
“Bener tuh Ran, anggap aja Edgar itu siapa kek. Anggap aja kalian nggak pernah kenal sebelumnya.” Kata Bella memberi saran.
“Terus, satu minggu yang dikasih sama om Emir buat bikin hubungan gue sama dia baik-baik aja gimana? Menumbuhkan kemistri, katanya.”
“Ya jalanin aja,” kata Tyas, Bella mengangguk.
Sepertinya memang hanya itu yang bisa ia lakukan. Jalani saja. Rani tidak mungkin mundur, Rani juga tidak ingin ia dinilai tidak professional karena hal ini. Jadi, ia harus mencobanya terlebih dahulu.
*
“Sekarang lo cari informasi soal Maharani Soraya yang terbaru,” pinta Edgar kepada Galih.
“Buat apaan bos?” tanya Galih.
Edgar yang saat itu tengah duduk di sofa rumahnya sambil menikmati segelas kopi pun tiba-tiba saja tersenyum misterius dan agak sedikit menyeramkan, membuat Galih yakin seratur persen bahwa bosnya itu merencanakan sesuatu.
“Bacain sekaran,” perintah Edgar.
“I-iya bos. Jadi, berita yang gue temuin cuma soal betapa humble, ramah, dan baik hatinya Maharani Soraya. Terus soal hubungannya sama Jovinda Adiyaksa yang pernah dikecam sama fans, tapi sekarang direstuin terus soal kesuksesan series Sahabat Setia…”
“Jovi? Vokalis itu?” tanya Edgar.
“Loh, emang lo baru tau bos, dia pacaran sama Jovi?”
Edgar mengangguk, “Gue gak pernah tertarik cari tahu soal dia.”
Oke, itu adalah suatu kebohongan. Edgar pernah beberapa kali mencari nama Maharani Soraya di google dan namun tidak pernah mendapatkan kabar seperti itu, soal hubungan gadis itu dengan Jovinda.
“Udah? Beritanya cuma itu doang? Gak ada skandal atau apa… Gitu?”
Mungkin ini jahat. Mengharapkan Rani memiliki skandal di dunia entertainment, tetapi hal itu penting untuk Edgar. Ia ingin memiliki bahan untuk menyerang Rani menggunakan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Seperti apa yang ia lakukan ketika SMA.
Galih kemudian menggeleng, “Nggak ada, bos. Dia emang kelihatan baik sama siapa aja, jadi kayak aneh banget gitu kalau dia benci sama lo… Emang lo nya aja kali…”
“APA?!”
Galih meringis, menghindar dari wajah nyolot bosnya itu.
“Besok jadwal gue apa?” tanya Edgar.
“Ketemuan sama mbak Maharani Soraya, di hotel Sultan jam sepuluh pagi.”
“Siapa yang ngatur? Pasti bukan dari pihak gue kan?”
“Pak Emir.”
Edgar menghela napas, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan memijat keningnya. Pokoknya, besok ia harus bisa menyerang Rani dengan kata-katanya.
“Bang, besok bisa temenin aku gak?” tanya Taliyah, tiba-tiba saja datang menghampiri Edgar dan duduk di sebelahnya.
Jika dipikir-pikir, beda sekali penilaian Taliyah dengan penilaian Rani mengenai Edgar. Di mata Taliyah, Edgar adalah sosok kakak laki-laki yang penuh tanggung jawab, keren, dan juga penyayang. Sementara di mata Rani? Edgar itu cowok kejam, lemes, dan suka menghina fisiknya. Bertolak belakang seratus delapan puluh derajat bukan?
“Kemana?” tanya Edgar.
“Besok aku pengen bikin konten vlog. Dan harus ada abang di dalemnya, biar viewnya banyak.”
Edgar kemudian tertawa, “Emang Zenal nggak bisa? Dia kan lagi banyak banget tuh fansnya, lagunya diputer di mana-mana.”
“Bang Zenal sibuk banget,” kata Taliyah, “cuma abang doang nih yang besok jadwalnya agak lowong. Iyakan bang Galih?”
Galih pun mengangguk. Besok hanya ada jadwal pertemuan dengan Rani, dan sisa hari itu memang Edgar tidak memiliki jadwal apa pun.
“Oke, kita mau ke mana emang?” tanya Edgar.
“Besok Liyah yang bakal tentuin. Abang juga jangan lupa promosiin ya di ige abang.”
Edgar pun mengangguk, “Oke.” Ia tersenyum, dan jika Edgar sudah tersenyum, Galih merasa sikap menyebalkan cowok itu hilang seketika. Apa lagi, jika senyum itu ditujukan untuk adiknya. Karena bisa dibilang, Edgar sangat menyayangi adiknya.
“Catet di jadwal besok Gal,” pinta Edgar.
Galih pun mengangguk, ia segera mencatatnya di iPadnya. Jadwal Edgar membantu Taliyah membuat konten baru.