Segerombolan geng cantik anak kelas tiga yang lumayan populer, terlihat sedang menunggu ketua yang sedang menunaikan hajatnya di toilet sekolah siang itu. Satu hal yang sebenarnya kurang pantas dilakukan di lingkungan sekolah. Berciuman pada jam istirahat.
Beberapa ada yang sibuk membalas chatting, atau saling mengobrol tentang rencana clubing malam Minggu. Anak-anak orang kaya yang menghabiskan masa SMA nya dengan kegiatan bersenang-senang.
Tidak lama kemudian, seorang gadis muda dengan wajah sangat cantik dan lekuk tubuh molek bak super model, ketua geng yang bernama Mika, keluar dari toilet. Bersama seorang siswa kelas IPS yang terlihat bingung dengan banyaknya orang lain yang menunggu di luar toilet sekolah.
"Gimana?" tanya Sasa. Salah satu anggota geng yang lumayan sangar. Mika menjulurkan lidah seperti ingin muntah sambil menggerak-gerakkan tangannya ke kiri-kanan tanda tidak menyukainya, gadis itu terlihat sedang jijik.
Dian, siswa yang bersama Mika di dalam toilet langsung berpaling pergi dengan wajah malu dan juga merasa terhina. Bagimana bisa dia terjebak dalam perangkap cewek-cewek yang terkenal suka melakukan aksi bullyng seantero sekolah.
Tentu bukan perkara mudah bagi seorang cowok berusia tujuh belas tahun untuk menerima keadaan bahwa dia telah jatuh hati kepada cewek yang salah. Dian bersedia memenuhi permintaan Mila karena begitu bahagia, cewek paling popular di sekolah menginginkan untuk berciuman di toilet siang itu.
Derai tawa pun pecah seketika di antara gadis-gadis yang melihat Dian melangkah gontai dan menjauh, karena menganggap kejadian itu sekedar hal lucu-lucuan yang biasa di lakukan remaja-remaja tanggung seperti mereka.
Mereka bertaruh mengajak satu orang cowok kece untuk berciuman selama sepuluh menit di toilet sekolah. Pemenangnya, akan mendapat reward satu buah voucher belanja peralatan make -up yang didapat dari patungan semua anggota.
Pemenangnya hari ini adalah Mika, ketua geng. Yang berhasil membuat Dian Nagara, salah satu murid paling tampan di kelas IPS, bertekuk lutut menurut saat Mika mengajaknya berciuman di toilet sekolah.
Bagi Mika, semua itu bukan hanya tentang cinta, melainkan hanya permainan dan kesenangan semata. Namun bagi Dian, ternyata berdampak luar biasa.
Trauma
Mika melangkah dengan sombongnya kembali ke dalam kelas, sesekali tertawa-tawa puas mengusap bibirnya dan meludah-ludah. Seakan jijik telah bersentuhan dengan bibir Dian.
Di kejauhan, Dian terlihat sangat menyesali kebodohannya. Masuk perangkap geng paling beringas di sekolah, yang beberapa kali memang terdengar gaungnya, sering melecehkan beberapa siswa di sekolah mereka.
Teringat beberapa hari yang lalu, Mika, menunggunya di depan kelas. Dian tidak menyadari akan hal itu. Yang dia tahu adalah seorang wanita cantik sangat populer di sekolah, sedang berdiri mematung di sana.
"Dian," sapa Mika dengan suara lembut. Membuat dia sedikit merasa besar kepala.
"Mika, hei," balasnya sambil mendekat.
Mereka berdua duduk di depan kelas, dilihat oleh banyak sekali teman yang melintas. Ada yang beberapa menyapa atau hanya tersenyum penuh tanda tanya. Pemandangan langka jika sampai cewek sekelas Mika sampai mau duduk bersampingan dengan cowok kurang popular seperti Dian.
"Dian," ucap Mika memecah hening.
"Hm."
"Apa aku boleh minta nomer WA?"
"Tentu saja, Mika. Nih nomerku."
Dian menyambar ponsel Mika yang sengaja diletakkan di atas telapak tangan terbuka. Mengetik nomer ponselnya di sana tanpa ada rasa curiga sama sekali.
Justru Dian merasa senang sampai-sampai sulit diungkapkan ketika cewek cantik sepopuler Mika sudi meminta nomer wasapnya. Entah akan di hubungi atau tidak, Dian sudah merasa sedang di awang-awang saat ini.
"Kita sudah terhubung ya, Dian." Mika mengirim emot senyum untuk memastikan bahwa mereka benar-benar saling menyimpan kontak satu sama lain.
"Oh syukurlah. Eh kenapa baru sekarang minta nomer wasapku nih, ada apa?"
Mika menepuk pahanya sendiri lalu berdiri, diikuti oleh Dian yang nampak tersenyum-senyum bahagia. Dian mengendus aroma parfum mahal di tubuh Mika yang membuatnya merasa berada di taman bunga saat tersapu angin.
"Aku balik ke kelas ya, Dian." Mika mengulas senyum saat berpamitan.
Mika berjalan pelan membelakangi Dian, lalu berbalik. Mengibaskan rambut panjangnya yang lembut terawat dan wangi.
Memonyongkan sedikit bibir tipisnya yang bersemu merah jambu. Mengeluarkan decak tipis menggoda.
'Mwah.'
Membuat Dian tergugu, takjub dan merasa jantungnya berhenti berdetak. Ciuman itu, jauh namun terasa menyentuh bagian lain di dirinya, begitu dalam hingga menusuk di hati. Membuat cowok itu bersemu malu
'Ah, seandainya bisa kusentuh bibir itu.' desah Dian.
Malam harinya, Mika mengirim pesan wasap untuk Dian. Awalnya hanya obrolan biasa-biasa saja, bicara tentang sekolah maupun seputar teman-teman. Topik membosankan yang mau tak mau harus dinikmati saja sambil menunggu waktu yang tepat.
Hingga semakin malam, pembahasan mulai bergeser. Tentang hubungan seorang pria dan wanita dewasa. Tentang sebuah rasa penasaran untuk sebuah ciuman.
"Kamu udah pernah kiss, Dian?"
"Engh ... belum. Kamu pasti udah ya?"
Mika hanya terkikik tak menjawab, namun wanita secantik Mika rasanya tak mungkin sepolos itu. Jika hanya sekedar berciuman, dia sudah sering melakukannya dengan mantan-mantan terdahulu.
"Mau nggak?" Mika berdebar-debar menunggu jawaban Dian karena jika cowok itu menolak, akan menjadi catatan bersejarah tersendiri baginya. Ditolak cowok yang nggak penting di sekolah.
"Mau apa, Mik?" Dian justru balik bertanya karena takut salah paham.
"Kiss sama aku."
‘Degh’.
Jantung Dian serasa mau copot. Sampai-sampai untuk beberapa saat dia terdiam, memastikan bahwa perkataan Mika tidak dianulir.
Cowok itu tidak mengira bahwa Mika akan serius menawarkan sebuah ciuman kepadanya. “Astaga, ini cobaan atau ujian?” Dian membatin dalam hati.
Gemuruh rasa ingin di benaknya meronta-ronta begitu penasaran, berharap di penghujung usia tujuh belas tahun ini, sebagai lelaki normal, bisa merasakan rasanya berciuman dengan lawan jenis.
Menyentuh bibir seorang wanita dengan bibirnya seperti adegan dalam film-film romantic yang sering di tonton.
Mika nampaknya sangat mengetahui bahwa pria seperti Dian sangat mudah dibuat penasaran, dengan berbagai trik kalimat-kalimat berintonasi nakal, akhirnya mereka berjanji bertemu di suatu tempat malam Minggu.
"Kamu ingin kubawakan apa malam minggu nanti, Mika? Bunga? Coklat?" tanya Dian dengan nada bergetar, antara bahagia,bingung dan nervous.
"Nggak usah, Dian. Nanti saja kalau Valentine, hm? kita ... latihan aja malam nanti." Mika menjawab manja sambil memainkan ujung-ujung kuku di jarinya.
Dian hanya terpaku, sekeping hatinya sebenarnya sangat ragu-ragu, bisakah dua orang melakukannya tanpa cinta. Sekedar ingin mencoba, lalu apa? Selesai begitu saja?
Tapi sekeping hatinya yang lain mewakili nalurinya sebagai lelaki normal, ditawari begitu oleh salah satu cewek populer di kelas. Meskipun dia ragu apakah Mika benar-benar serius dengannya karena semua ini terasa begitu cepat, seperti mimpi yang tak pernah berani dia wujudkan.
Lagi pula, kapan lagi seorang gadis seperti Mika bisa khilaf dengan pemuda biasa sepertinya. Ini benar-benar kesempatan emas yang tidak mungkin ia lewatkan begitu saja.
“Latihan … berciuman? Apakah bisa? Kenapa harus latihan?”
“Supaya nanti kita bisa mahir dan juga hot!
Bersambung ...