Bagi sebagian orang, mungkin pelecehan identik dengan wanita sebagai korbannya, dilecehkan, kehormatannya dinodai sedemikian rupa. Mereka akan merasakan luka mendalam yang berkepanjangan karena kaum wanita memang memiliki daya ingat lebih kuat dari pada pria untuk sekedar memiliki rasa trauma hingga akhir hayatnya
Lalu apakah itu hanya bisa menimpa kaum wanita?
Nyatanya tidak, pelecehan bisa menimpa siapa saja tak peduli gendernya. Bisa sangat menyakitkan dan menyisakan trauma seumur hidup apalagi bagi siapapun yang belum cukup kuat menerima dampaknya secara psikis.
Rasa malu dan hilangnya harga diri.
Malam itu dengan debar-debar tak menentu, Dian melangkahkan kaki membeli sekuntum bunga mawar mewar untuk diberikan pada Mika. Baginya, bisa menghabiskan waktu bersama Mika meskipun tanpa status, sudah membuat prestasi tersendiri.
Meski mungkin tak ada cinta yang terpercik di hati Mikaila, namun lain halnya dengan Dian. Pemuda yang sudah lama tidak berpacaran itu begitu bahagia saat Mika menghubungi apalagi menawarkan sesuatu yang menyenangkan.
Dian menjemput Mika di rumahnya dengan sepeda motor, lalu mereka pergi untuk nonton film di studio yang terletak di salah satu mall. Film bergenre horor.
Namun bukan hanya itu saja tujuannya. Mereka ingin menghabiskan waktu berdua untuk membangun chemistry. Apa yang akan dilakukan Mika pada Dian tak mungkin bisa terwujud jika dipaksakan. Setidaknya, Mika harus benar-benar bisa membawa Dian ke toilet sekolah untuk memenangkan taruhan.
"Mika, kamu cantik malam ini," decak Dian polos.
Mika dengan polesan make up yang cukup sederhana, bibir tipis warna merah jambu dan parfum lembut menggoda, sungguh sangat mempesona malam itu. Membuat Dian tak bisa berpaling pada gadis lain meski sedang berada di keramaian.
"Kamu kenapa baru memuji aku, Dian? Bukannya kemaren-kemaren, aku memang sudah cantik." Mika mencubit lengan Dian, seolah ingin meyakinkan bahwa itu semua nyata adanya.
Dian tersipu malu saat melihat Mika mengambil helm warna pink lalu memakainya. Dian membantu merekatkan bagian pengaman di dagu Mika, sedikit tersentuh kulitnya yang mulus dan menciptakan percikan kecil namun begitu hangat di hati Dian.
“Ah, lembut sekali wajah Mika,” gumamnya namun tertahan di bibir.
"Kita berangkat, Mik?"
"Oke, go on." Mika menepuk punggung Dimas.
Mika melingkarkan tangannya memutari pinggang Dian. Menyatu di bagian depan dan mengeratkan jemarinya di sana. Sangat menempelkan tubuhnya ke bagian punggung Dian hingga hampir tak ada jarak lagi di antara keduanya.Sedikit aneh dirasakan oleh Dian, mengingat pacarnya terdahulu tak se-agresif Mika, yang dengan sengaja melakukan sentuhan-sentuhan kecil yang membuat pikiran melayang kemana-mana.
Apalagi saat melewati lubang dan polisi tidur, sentakan-sentakan yang membuat d**a Mika bergerak-gerak menempel di punggung Dian. Membuat pikiran Dian justru melayang ke mana-mana, membayangkan bagaimana jika posisinya dibalik. Mereka berhadapan dan Mika dengan tubuhnya yang terhentak, memeluk Dian sangat erat seperti saat ini.
Sesampainya di parkiran sepeda motor mall, Mika turun langsung melepas helmnya. Mengibaskan lagi rambutnya yang indah dan menguarkan harum yang menggelik indra penciuman.
"Rapi nggak rambutku, Dian?"
"Hhmm, cantik."
"Hei. Rapi nggak? Kok malah bilang cantik."
"I-iya, Mik. Kamu rapi dan cantik maksud aku."
Mika memberikan senyum yang menggoda. Lalu merentangkan tangan menggandeng Dian, sambil meremas jemarinya. Gadis itu menutup mata sejenak, seakan ingin mengalirkan sebuah rasa yang indah bergelora kepada Dian.
“Ayo, Dian. Nanti kita terlambat.” Mika menarik tangan Dian untuk segera masuk ke dalam mall.
Setibanya di bioskop, Dian langsung membeli tiket kemudian kedua remaja itu memilih makanan ringan dan minuman berkarbonasi untuk di bawa ke dalam theater.
Sembari menunggu, keduanya nampak intim bercakap-cakap meski beberapa kali cowok-cowok menatap Mika penuh pesona. Seakan ingin berkata, “Ayolah, aku lebih menarik darinya.”
Tapi target Mika bukanlah mereka, melainkan Dian. Cowok paling tampan di kelas IPS yang kurang gaul tapi namanya sering disebut-sebut oleh gadis-gadis di sekolahnya.
Saat berdiri bersisian dan bersandar di dinding, tiba-tiba saja, Mika menempelkan kepalanya sangat manja di bahu Dian. Membuat Dian jadi tersenyum dan salah tingkah.
"Bibirmu seksi, Dian."
Degh.
Dian hanya menunduk malu-malu dan menahan gemuruh di hatinya yang mulai terasa aneh. Lalu sedikit menjaga jarak dengan Mika.
"Kenapa sih jauhan gitu, takut ketemu cewek kamu?"
"Nggak Mik, takut ketemu cowok kamu."
Mika mencebik lalu meninju perlahan lengan Dian sambil berbisik, "Aku jomblo kok, nggak tahu deh setelah pulang dari sini nanti."
WTF.
Bohong.
"Jomblo? Nggak mungkin banget deh. Cowok satu sekolah emangnya pada nggak normal ya?" tanya Dian sambil memicingkan kedua matanya
"Loh kenapa nggak mungkin, jomblo itu nasib yang nggak bakalan berubah kalau kita nggak berusaha merubahnya. Iya nggak, sih?"
Dian mengulum bibirnya sambil terus menundukkan kepala. Jika benar Mika sedang menjomblo, mungkin semesta memang sedang berbaik hati kepadanya. Tidak ada hati lain yang harus dijaga saat malam ini mereka merencanakan suatu hal gila di dalam sana.
Ketika pengumuman bahwa pintu theater sudah dibuka, Mika cepat-cepat mengajak Dian masuk ke dalam. Duduk di pojokan bagian tengah. Beberapa orang masih berlalu - lalang mencari tempat duduknya, namun dua remaja mencurigakan itu seolah sudah siap melakukan hal lain.
"Begitu lampu padam, wajahmu agak ke sini ya, bisa kan?"
"Mika, apa ini sungguh perlu? Kenapa harus buru-buru? Masih banyak waktu, kan?"
Mika mengernyit, lalu tangannya meraba jemari Dian. Sedikit menenangkan dan membuat angan-angan terbang tinggi tak tentu arah.
Perlahan-lahan lampu di dalam studio meredup.
Dian sedikit ragu untuk menuruti keinginan Mika karena merasa semua itu terlalu cepat, sedangkan jika sama-sama sendiri, seharusnya masih banyak waktu dan tak perlu terburu-buru. Meski sebuah pengalaman berciuman dengan salah seorang cewek populer di sekolah adalah idaman setiap remaja seusianya.
Dian terlalu lama berfikir dan menimbang rasa, hingga Mika merasa sudah terlalu lama menunggu. Gadis itu memutuskan berpindah ke pangkuan Dian untuk melakukan apa yang sudah ia direncanakan dan di luar dugaan, ternyata Dian sangat menyukainya.
Pergumulan panas dari bibir mereka berdua di tengah pilem horor yang sedang diputar begitu mengerikan, seakan sama-sama menariknya ketika Mika melingkarkan kedua tangan di leher Dian, lalu sedikit merebahkan tubuh saat berada di pangkuan.
Membuat tubuh Dian sampai setengah membungkuk dengan nafas yang memburu.
Keduanya berhenti beberapa saat untuk mengambil nafas, Mika tak memberi jeda lama bagi Dian untuk sekedar memikirkan sesuatu. Segera menarik tubuh Dian untuk mengulanginya lagi.
"Dian!" Sapa Fauzan ketika jam istirahat dan tak seperti biasanya, Dian lebih memilih menyendiri di dalam kelas.
Menggambar sesuatu, Malaikat yang membawa belati di tangannya.
"Nggak ke kantin, ntar sore bimbel nggak?" Fauzan menepuk bahu Dian.
"Males, kamu mau traktir emangnya? Ayolah kalau ditraktir." Dian mengempaskan tubuhnya dan menelungkup di atas meja.
Fauzan merangkul bahu Dian dan mengajaknya ke kantin. Berjalan bersisian sambil bercerita macam-macam sepanjang perjalanan. Tujuan mereka tidak lain ke tempat penjual bakso.
Setibanya di sana, terdengar suara Mika dan teman-temannya sedang bercanda-canda sambil menertawakan entah siapa. Mungkin dia, atau mungkin juga orang lain. Tak ada yang benar-benar bisa menebak pikiran anak-anak seperti mereka, yang menganggap semua hanya permainan dan taruhan semata.
"Hei," hardik Fauzan saat Dian terdiam, menyimak adakah namanya disebut oleh para gadis itu.
"Njay, ngagetin, kampret nih anak. Apa sih?" Dian nampak kesal, hampir saja dia tersedak permen karet gara-gara Fauzan.
Mika menoleh ke arah Dian. Sesaat pandangan mereka bertemu di satu titik, membuat hentakan keras di hati, mengingat dia pernah jadi bagian dari sandiwara gila oleh kumpulan cewek-cewek arogan itu.
Seandainya saja Mika tidak mempermainkan dirinya, maka Dian akan sangat senang, karena sesungguhnya, dia benar-benar menyukai Mika.