Renjana sudah berdiri, jasnya terkancing, senyumnya terpasang seperti orang yang yakin tinggal menunggu palu diketuk. Yohan menoleh ke sekretaris dewan dan mengangguk—isyarat agar pemungutan suara percepatan segera dijalankan, sebelum gema tuduhan Sekar mengeras menjadi keraguan. Di kepala mereka, ini sudah selesai. Tiga kursi, satu pemungutan kilat, lalu konferensi pers di lobi tempat wartawan menunggu mencium darah.
Tapi suara pertama yang terdengar setelah keheningan itu bukan suara Yohan, melainkan suara tua yang serak dan tenang dari ujung meja.
"Saya mengajukan keberatan prosedural."
Damayanti Prawira tidak berdiri. Ia tidak perlu. Tujuh puluh tiga tahun mengajarkannya bahwa orang yang berteriak biasanya orang yang tahu posisinya lemah. Ia hanya meletakkan kedua tangan keriputnya di atas meja dan menatap sekretaris dewan dengan ketenangan seseorang yang sudah membaca anggaran dasar perusahaan ini lebih sering daripada siapa pun di ruangan.
"Anggaran dasar Pasal dua puluh tiga ayat empat," lanjutnya, mengeja angka itu seolah membaca dari hafalan. "Setiap usulan perubahan susunan dewan harus dicantumkan dalam agenda yang diedarkan tujuh hari sebelum rapat. Agenda yang kita terima minggu lalu menyebut 'pembahasan rencana restrukturisasi'. Tidak ada satu kata pun tentang penambahan tiga kursi direksi. Kalau kita memungut suara hari ini, keputusan apa pun yang dihasilkan cacat hukum sejak detik pertama, dan bisa dibatalkan pengadilan dalam hitungan minggu." Ia mengangkat matanya, dan untuk pertama kalinya dalam satu dekade, mata itu tampak seperti milik orang yang sedang menikmati dirinya. "Saya yakin Pak Yohan tidak ingin kemenangan yang batal demi hukum, di hadapan wartawan, di hari pertama."
Sesuatu bergeser di ruangan itu. Kecil, tapi Sekar merasakannya seperti perubahan tekanan udara sebelum hujan. Dua komisaris yang tadi sudah mengangkat pena—dua lelaki tua yang Sekar tahu sudah dibisiki untuk mengangguk—menurunkan tangan mereka, ragu. Mengangguk untuk rencana penjualan aset adalah satu hal; itu bisa dijelaskan sebagai keputusan bisnis yang sulit. Tapi memungut suara yang cacat hukum, di depan kamera, untuk menjatuhkan dewan saat seorang Chief Restructuring Officer baru saja berdiri menuduh perampasan—itu hal lain. Tidak ada yang ingin namanya tercatat di sisi yang salah dari sebuah skandal yang belum tahu seberapa besar.
Sekar tidak mengatakan apa pun. Ia telah belajar, sejak lama, bahwa argumen terbaik adalah argumen yang dibawakan orang lain. Damayanti tidak sedang membela Sekar. Damayanti sedang membela prosedur, tata kelola, satu pasal kering di anggaran dasar yang selama bertahun-tahun diabaikan semua orang. Dan justru karena itu argumennya tidak bisa dibantah tanpa mengakui bahwa mereka memang ingin mengabaikan aturan demi kecepatan.
Yohan memulihkan senyumnya, tapi Sekar melihat jeda sepersekian detik sebelum ia melakukannya—jeda yang sama yang dulu ia lihat di tangan Damianus yang berhenti mengaduk kopi. "Tentu saja kami menghormati prosedur," kata Yohan akhirnya, halus, terlatih. "Kami tidak terburu-buru. Meridian tidak punya yang harus disembunyikan."
Kalimat itu, Sekar tahu, ditujukan bukan pada dewan melainkan pada wartawan yang akan membacanya nanti. Mereka tidak terburu-buru. Padahal seluruh skema ini dibangun di atas terburu-buru—di atas tanggal jatuh tempo yang mendekat, di atas penjualan aset yang harus dipercepat, di atas pemungutan suara yang harus terjadi sebelum siapa pun sempat membaca halaman tujuh puluh.
Renjana yang menengahi, suaranya tenang seperti air yang dalam. "Kalau begitu kita tunda. Dua minggu. Cukup untuk mengedarkan agenda yang benar, cukup untuk semua pihak menyiapkan diri." Ia menatap Sekar saat mengatakannya, dan di balik kata 'menyiapkan diri' itu Sekar mendengar ancaman yang dipoles menjadi kesopanan. "Kita semua ingin keputusan yang sah. Bukan begitu, Bu Sekar?"
"Saya setuju penundaan," kata Sekar, suaranya rata. Itu satu-satunya kalimat yang ia ucapkan di sisa rapat itu.
Palu tidak diketuk. Tidak ada penobatan, tidak ada pemakaman. Rapat ditutup dengan jadwal baru—dua minggu—dan satu per satu anggota dewan keluar dengan wajah orang yang baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak mereka mengerti tapi tahu akan mengubah segalanya. Widya Wanaartha keluar terakhir, lambat, bertongkat, dan saat melewati Sekar ia berhenti sejenak. Mata tua itu menatapnya—bukan dengan kebencian hari pertama, melainkan dengan sesuatu yang lebih sulit dibaca, sesuatu yang nyaris seperti pertanyaan. Lalu ia pergi tanpa berkata apa-apa.
Sekar tetap duduk di ruangan yang mengosong. Damayanti menghampirinya, berjalan pelan dengan tongkatnya sendiri, dan duduk di kursi di sebelahnya dengan tarikan napas panjang seseorang yang lelah tapi puas.
"Kita menang," kata perempuan tua itu pelan.
"Tidak," kata Sekar, dan ia menatap meja panjang yang kosong, kursi-kursi yang tadi penuh orang yang ingin perusahaan ini mati. "Kita tidak menang, Bu. Kita membeli waktu. Itu beda."
Damayanti memiringkan kepala, menunggu.
"Mereka tidak kalah hari ini. Mereka cuma terhalang prosedur. Pasal di halaman tujuh puluh masih hidup. Tanggal jatuh tempo masih bergerak mendekat, setiap hari, entah kita rapat atau tidak. Yohan benar soal satu hal—matematika tidak peduli pada keberanian saya." Sekar mengeluarkan kertas terlipat dari saku jasnya, menatapnya sebentar, lalu memasukkannya kembali. "Yang saya lakukan tadi cuma satu hal: saya membuat ini tidak bisa lagi terjadi diam-diam. Sekarang semua orang menonton. Tapi menonton bukan menyelamatkan."
Ia berdiri, mengancingkan jasnya. Dua minggu. Empat belas hari untuk mengubah sekumpulan tuduhan yang bisa disebut dramatis menjadi bukti yang bisa berdiri sendiri di pengadilan. Empat belas hari sebelum ruangan ini terisi lagi—dan kali ini, ia tahu, tangan yang membayarnya tidak akan membiarkan satu pun celah prosedur tersisa untuk ia eksploitasi.
Di luar pintu kaca, wartawan masih menunggu pengumuman yang tidak akan datang. Dan di suatu tempat di lobi bawah, Sekar tahu, Renjana sudah berjalan menuju mereka—untuk menceritakan versinya sendiri terlebih dulu.