Surat itu tiba dua hari kemudian, dikirim bukan lewat surel melainkan lewat kurir, dalam amplop tebal beralamat resmi, dengan kop sindikasi kreditor di sudut atasnya. Sekar membukanya berdiri di lobi kantornya, dan ia tahu isinya sebelum membaca kalimat pertama. Bahasa hukum punya aroma tersendiri saat ia datang untuk membunuh sesuatu.
Dengan ini, kami memberitahukan pemberhentian Saudari Sekar Adwitya dari jabatan Chief Restructuring Officer Grup Wanaartha Manufaktur, efektif segera, atas dasar tindakan yang melampaui mandat yang diberikan, termasuk namun tidak terbatas pada penyebaran tuduhan tak berdasar yang membahayakan stabilitas perusahaan dan kepentingan pemegang saham.
Ditandatangani Hartono, atas nama sindikasi kreditor.
Sekar membaca kalimat itu dua kali, lalu melipat surat itu pelan dengan ketenangan yang nyaris membuat sekretaris di dekatnya merinding. Ia sudah menduga ini. Tangan yang membayarnya tidak akan membiarkan tangan itu digigit tanpa menariknya kembali. Tapi mengetahui sesuatu akan datang tidak sama dengan merasakannya tiba. Tanpa jabatan Chief Restructuring Officer, ia bukan siapa-siapa di gedung ini—bukan direksi, bukan komisaris, bukan karyawan. Hanya orang luar dengan kartu akses yang bisa dimatikan dengan satu klik. Dan dengan kartu itu mati, akses ke pembukuan, ke sistem, ke setiap dokumen yang menjadi senjatanya, akan terputus. Mereka tidak perlu membuktikan ia salah. Mereka hanya perlu mengeluarkannya dari ruangan tempat bukti disimpan.
Ia menelepon Damayanti dari mobilnya.
Perempuan tua itu mendengarkan tanpa menyela, lalu diam beberapa saat, dan saat ia bicara suaranya terdengar bukan marah melainkan tertarik, seperti seseorang yang baru saja diberi teka-teki yang menyenangkan. "Mereka terburu-buru," katanya. "Dan orang yang terburu-buru membuat kesalahan. Tunggu saya. Datang ke kantor, jangan ke mana-mana. Jangan menyerahkan kartu akses Anda pada siapa pun, dan jangan tanda tangan apa pun yang mereka sodorkan. Saya akan ke sana."
Damayanti tiba di menara kaca satu jam kemudian, dibantu tongkat dan sopirnya, mengenakan kebaya gelap yang membuatnya tampak seperti datang ke pemakaman. Tapi mata di balik kacamata tebal itu menyala oleh sesuatu yang Sekar belum pernah lihat di sana—pertempuran yang akhirnya datang setelah satu dekade keberatan yang dicatat di kaki risalah. Ia meminta rapat dewan darurat dipanggil, dan ia menuntut Hartono hadir lewat sambungan video.
Di ruang rapat yang sama tempat seminggu lalu Sekar membongkar segalanya, Damayanti meletakkan satu dokumen di meja: anggaran dasar perusahaan, dibuka pada halaman yang sudah ia tandai.
"Saya akan singkat," katanya kepada layar tempat wajah Hartono muncul, dingin dan tidak sabar. "Pak Hartono, atas dasar apa Anda memberhentikan Chief Restructuring Officer perusahaan ini?"
"Sindikasi kreditor yang menunjuk beliau," jawab Hartono. "Sindikasi kreditor yang memberhentikannya. Ini hak kontraktual kami."
"Salah." Damayanti tidak meninggikan suara. Ia tidak pernah perlu. "Saudari Sekar diusulkan oleh sindikasi kreditor—itu benar. Tapi pengangkatan Chief Restructuring Officer sebagai pejabat dengan akses ke pembukuan dan wewenang internal perusahaan diratifikasi melalui keputusan dewan direksi pada rapat tiga bulan lalu. Risalahnya ada di hadapan saya. Beliau menjadi pejabat perusahaan sejak saat itu, bukan sekadar kontraktor sindikasi." Ia membalik halaman. "Dan menurut anggaran dasar Pasal tiga puluh satu, seorang pejabat yang diangkat dengan keputusan dewan hanya dapat diberhentikan dengan keputusan dewan. Bukan dengan surat dari kreditor. Bukan dengan tanda tangan satu orang. Surat Anda, Pak Hartono, tidak punya kekuatan hukum apa pun. Saudari Sekar masih Chief Restructuring Officer perusahaan ini sampai dewan—dewan, bukan Anda—memutuskan sebaliknya dalam rapat yang sah."
Keheningan di seberang layar punya tekstur tersendiri. Sekar menyaksikan wajah Hartono mengeras, menghitung, mencari celah, dan tidak menemukannya. Itulah hal yang indah tentang tata kelola, pikir Sekar—aturan-aturan kering yang diabaikan semua orang selama keadaan menguntungkan, lalu mendadak menjadi tembok baja saat seseorang akhirnya membacanya. Mereka membangun perusahaan publik di atas prosedur, dan prosedur tidak peduli siapa yang membayar.
"Kalau begitu kami akan panggil rapat dewan untuk memberhentikannya secara sah," kata Hartono akhirnya, suaranya tipis oleh kemarahan yang ditahan.
"Silakan," kata Damayanti, dan Sekar mendengar senyum tipis di balik kata itu. "Tujuh hari pemberitahuan, agenda yang benar, kuorum yang sah. Persis seperti pemungutan suara percepatan yang juga Anda inginkan minggu lalu. Kita semua sangat menghargai prosedur sekarang, bukan?" Ia menutup anggaran dasar itu. "Sampai saat itu, Saudari Sekar tetap di kursinya. Rapat ini saya tutup."
Layar mati. Damayanti bersandar di kursinya, kelelahan tiba-tiba tampak di wajahnya, tapi matanya masih menyala. Sekar menatapnya—perempuan tua yang selama satu dekade dianggap stempel kosong, yang baru saja mematahkan pemberhentiannya dengan satu pasal yang tidak pernah dibaca siapa pun.
"Anda menyelamatkan kursi saya, Bu," kata Sekar pelan.
"Saya tidak menyelamatkan kursi Anda," koreksi Damayanti, mengumpulkan tongkatnya untuk berdiri. "Saya menunda kehilangannya. Mereka akan datang lagi, dengan rapat yang sah kali ini, dan mereka punya cukup suara untuk memberhentikan Anda kalau mereka mau. Yang saya beli untuk Anda hanya satu hal, Nak." Ia menatap Sekar lurus. "Waktu. Lagi. Cuma waktu. Pertanyaannya, apa yang akan Anda lakukan dengan setiap hari yang saya curi untuk Anda?"
Sekar tidak menjawab. Tapi di kepalanya, ia sudah mulai menghitung. Mereka tidak bisa lagi memecatnya diam-diam. Mereka harus melakukannya lewat dewan, lewat suara, lewat prosedur—dan setiap prosedur butuh waktu, butuh pemberitahuan, butuh celah. Selama itu, ia masih punya kartu akses. Masih punya pintu ke pembukuan. Masih punya kursi, betapapun rapuhnya.
Dan ia berniat menggunakan setiap jam dari kursi itu sebelum mereka berhasil menariknya keluar.