Sekar tidak tidur malam itu. Ia jarang tidur saat sebuah benang sudah ada di tangannya. Di apartemen yang kosong, ia menggelar seluruh laporan keuangan Wanaartha lima tahun ke belakang di lantai, halaman demi halaman, sampai ruangan itu tampak seperti TKP yang ditata oleh orang gila. Lalu ia mulai membaca, bukan seperti akuntan membaca, melainkan seperti detektif: bukan apakah angkanya benar, melainkan apakah angkanya jujur.
Perusahaan yang sakit punya pola yang ia kenal seperti dokter mengenal gejala penyakit kronis. Mereka memburuk perlahan. Penjualan turun setahun demi setahun. Marjin tergerus. Utang menumpuk bertahap. Manajemen panik dan membuat keputusan buruk satu per satu, masing-masing logis pada zamannya, masing-masing salah pada akhirnya. Itu wajah perusahaan yang mati karena salah urus—berantakan, lambat, manusiawi.
Tapi Wanaartha tidak begitu. Itu yang mengganggu Sekar sepanjang malam.
Wanaartha sehat sampai tiga tahun lalu. Bukan cemerlang, tapi sehat—penjualan stabil, pangsa pasar bertahan, pabrik berjalan penuh. Lalu, dalam waktu kurang dari delapan belas bulan, perusahaan ini jatuh seperti orang yang didorong dari tangga, bukan seperti orang tua yang melemah pelan-pelan. Dan yang membuat tengkuk Sekar dingin bukan kecepatan kejatuhannya. Melainkan kerapiannya.
Ia menyusun ulang urutan kejadiannya di selembar kertas besar. Pertama, sejumlah pelanggan ekspor besar membatalkan pesanan dalam rentang yang terlalu berdekatan—Sekar menandai itu, mengingat lini lima Bagas. Penjualan turun tajam. Kas mulai tertekan. Sampai di sini, masih bisa kebetulan. Pasar memang sedang lesu, bisa saja.
Tapi lalu, alih-alih perusahaan mengencangkan ikat pinggang seperti yang dilakukan manajemen waras mana pun saat kas menipis, Wanaartha justru mengambil pinjaman baru. Bukan sekali. Tiga kali, dalam setahun. Dan setiap pinjaman itu diambil dengan bunga yang lebih tinggi dari pinjaman sebelumnya, dengan syarat yang lebih mencekik. Yang paling aneh, pinjaman termahal—yang ia lihat di hari pertama—justru diambil saat kas perusahaan sudah paling tipis, saat seharusnya perusahaan sudah memangkas biaya mati-matian, bukan menambah beban bunga yang akan membunuhnya.
Sekar menatap pola itu lama. Ada satu hukum sederhana yang ia pegang sejak awal karier: kalau sebuah perusahaan mengambil utang termahal justru saat ia paling lemah untuk membayarnya, salah satu dari dua hal pasti benar. Entah manajemennya bodoh sampai ke tulang, atau seseorang menginginkan utang itu ada di sana. Dan setelah membaca tiga hari, Sekar tidak melihat tanda kebodohan di mana pun. Pembukuan Wanaartha justru terlalu pintar. Terlalu rapi. Setiap angka berdiri di tempat yang benar. Setiap dokumen lengkap. Setiap keputusan punya berkas pendukung yang sempurna.
Dan itulah yang membuatnya curiga. Perusahaan yang sekarat karena panik tidak meninggalkan berkas yang rapi. Mereka meninggalkan kekacauan. Berkas yang terlalu rapi bukan tanda perusahaan yang sehat. Itu tanda seseorang sudah menyiapkan jawaban sebelum pertanyaan diajukan.
Pagi harinya ia kembali ke menara kaca dan meminta sesuatu yang sederhana: berkas asli korespondensi pembatalan pesanan ekspor. Bukan ringkasan. Email aslinya, surat aslinya. Damianus Tanu, Direktur Keuangan, datang ke ruang kerja sementaranya dalam waktu kurang dari satu jam—terlalu cepat, pikir Sekar—dengan setumpuk dokumen rapi dan, di atasnya, sebuah proposal tebal.
"Sebelum kita bahas pesanan lama," kata Damianus, menyodorkan proposal itu, "saya rasa Anda harus melihat ini dulu. Saya sudah menyiapkan rencana penjualan aset. Lengkap. Pabrik dua di Cikupa, gudang distribusi timur, beberapa lini mesin yang sudah tidak produktif. Kalau kita jual sekarang, kita dapat dana segar untuk bayar utang jatuh tempo, dan perusahaan punya napas."
Sekar tidak menyentuh proposal itu. Ia menatap Damianus. "Pak Damianus, saya baru tiga hari di sini."
"Justru karena itu, biar saya mempercepat—"
"Anda sudah menyiapkan rencana penjualan aset selengkap ini," Sekar memotong, suaranya tetap rata, "dalam tiga hari?"
Keheningan tipis. Damianus tersenyum, tapi senyum itu datang sepersekian detik terlambat. "Saya sudah lama memikirkannya. Saya tahu perusahaan ini sakit jauh sebelum Anda datang."
"Saya yakin Anda tahu," kata Sekar pelan, dan kalimat itu—yang bisa diartikan sebagai pujian atau sebagai tuduhan—menggantung di antara mereka. Ia mengambil proposal itu, membuka halaman daftar aset yang akan dijual, dan matanya bergerak cepat. Aset-aset yang ditawarkan untuk dijual bukan aset yang paling tidak berguna. Justru sebaliknya. Pabrik dua di Cikupa adalah yang paling modern. Lini mesin yang disebut tidak produktif adalah lini lima—lini Bagas, yang mati bukan karena tua, melainkan karena pesanannya dibatalkan. Seseorang ingin menjual bagian-bagian terbaik dari perusahaan ini, dan menyamarkannya sebagai operasi penyelamatan.
"Aset-aset ini," kata Sekar, menutup proposal. "Sudah ada calon pembelinya?"
Damianus ragu hanya sekejap. "Ada beberapa pihak yang menyatakan minat. Saya bisa atur pertemuannya."
"Siapa?"
"Lewat perantara. Anda tahu, jual beli aset industri besar jarang langsung."
Lewat perantara. Sekar sudah mendengar frasa itu sebelumnya, dari mulut yang sama, tentang pinjaman berbunga mencekik. Ia mengangguk, seolah puas, dan membiarkan Damianus pergi dengan perasaan ia sudah memuluskan jalan. Tapi begitu pintu tertutup, Sekar duduk diam untuk waktu yang lama, menatap proposal di mejanya.
Ini bukan rencana penyelamatan. Ini katalog. Seseorang sudah membuat daftar belanja dari mayat yang belum dingin—dan mayat itu belum mati. Yang lebih buruk, daftar belanja itu disiapkan oleh orang dalam, Direktur Keuangan perusahaan sendiri, yang seharusnya menjadi orang paling berkepentingan menjaga perusahaan tetap hidup. Sekar memikirkan ayahnya lagi, sekejap, lalu mendorong kenangan itu pergi. Bukan saatnya. Yang ia rasakan sekarang bukan kemarahan—itu mahal, itu membuat orang ceroboh. Yang ia rasakan adalah ketertarikan yang dingin, tajam, dari seekor predator yang baru menyadari bahwa di hutan ini ada predator lain yang sudah berburu lebih dulu.
Malam itu ia menambahkan baris ketiga di kertas terlipatnya. Sebelas ribu. Siapa yang meminjamkan uang mahal kepada orang yang sekarat. Dan sekarang: siapa yang sudah menyiapkan daftar belanja sebelum mayatnya dingin. Ia melipat kertas itu, memasukkannya kembali ke saku jas, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Sekar menyadari bahwa ia tidak sedang dibayar untuk menyembuhkan perusahaan ini. Ia sedang dibayar untuk membuat pembunuhan tampak seperti kematian wajar. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Wanaartha bisa diselamatkan. Pertanyaannya adalah: dari siapa.