Renjana Wanaartha tidak seperti yang Sekar bayangkan dari seorang anak pendiri yang sedang menyaksikan kerajaan ayahnya runtuh. Ia mengundang Sekar bukan ke ruang rapat, melainkan ke kafe di lantai dasar menara, tempat yang terang dan terbuka, seolah ia tidak punya apa pun untuk disembunyikan. Tiga puluh empat tahun, jas yang dipotong sempurna tanpa terlihat berusaha, senyum yang hangat dan terukur. Saat Sekar tiba, ia berdiri dan menarikkan kursi, sopan tanpa merendahkan.
"Bu Sekar. Akhirnya. Saya sudah ingin bicara dengan Anda sejak hari pertama, tapi saya pikir Anda butuh ruang untuk membaca dulu." Ia tersenyum. "Orang yang membaca dengan tergesa-gesa membuat keputusan yang buruk. Saya senang Anda bukan tipe itu."
Sekar duduk dan menakar lelaki di hadapannya. Dalam pekerjaannya, ia sudah bertemu banyak ahli waris perusahaan yang sekarat. Mereka selalu punya satu dari dua reaksi. Ada yang melawan, marah, menganggap Sekar penjajah yang datang merampas warisan—itu kategori sang pendiri, Widya Wanaartha, yang menatapnya seperti algojo. Dan ada yang patah, putus asa, ingin segera selesai. Renjana bukan keduanya. Ia tenang. Terlalu tenang. Tenang seperti orang yang sudah tahu akhir cerita dan hanya menunggu adegan-adegan menuju ke sana.
"Anda memimpin divisi strategi," kata Sekar.
"Untuk apa yang tersisa dari strategi." Ia tertawa kecil, getir tapi terlatih. "Ayah saya membangun perusahaan ini dengan tangannya. Saya menghormati itu. Tapi ada masa di mana cara lama tidak lagi cukup. Dunia berubah. Pabrik kami tua, biaya kami tinggi, dan kami menolak berubah terlalu lama." Ia mencondongkan badan sedikit. "Saya tidak menyalahkan Anda atas apa yang akan terjadi, Bu Sekar. Saya melihat Anda sebagai satu-satunya orang waras yang masuk ke gedung ini bertahun-tahun. Saya ingin Anda tahu—saya mendukung penuh restrukturisasi. Apa pun yang Anda butuhkan, akses apa pun, saya yang buka."
Sekar mengamati cangkir kopi di antara mereka, lalu mengangkat matanya. "Boleh saya jujur, Pak Renjana?"
"Saya berharap begitu."
"Anak pendiri biasanya tidak setenang Anda saat warisan ayahnya akan dijual sepotong-sepotong. Mereka melawan saya, atau mereka memohon pada saya. Anda melakukan keduanya tidak."
Untuk sepersekian detik—begitu cepat sampai Sekar hampir meragukan dirinya melihatnya—ada sesuatu yang bergerak di balik mata Renjana. Bukan tersinggung. Lebih seperti pengakuan diam-diam atas lawan yang sepadan. Lalu senyum itu kembali, lebih lebar, lebih hangat. "Karena saya sudah berduka lebih dulu," katanya pelan. "Saya sudah berduka selama dua tahun, sambil melihat perusahaan ini mati pelan-pelan dan tidak bisa berbuat apa-apa karena ayah saya tidak mau mendengar. Saat Anda datang, saya sudah selesai menangis, Bu. Yang tersisa hanya keinginan menyelamatkan apa yang masih bisa. Itu kelihatan dingin. Saya tahu. Tapi bukankah itu juga yang membuat Anda baik dalam pekerjaan Anda?"
Ini jawaban yang bagus, pikir Sekar. Terlalu bagus. Jawaban yang sudah dipersiapkan, dipoles, diuji di depan cermin. Orang yang benar-benar berduka tidak menjelaskan dukanya dengan kalimat selancar itu. Tapi ia juga tahu bahwa kecurigaan tanpa bukti hanyalah prasangka, dan prasangka membuat orang ceroboh. Maka ia menyimpannya. Di tempat yang sama dengan semua benang lain.
"Saya butuh sesuatu dari Anda kalau Anda serius mendukung," kata Sekar.
"Sebutkan."
"Korespondensi penuh soal pembatalan pesanan ekspor empat bulan lalu. Bukan ringkasan. Aslinya. Email, kontrak, semua komunikasi dengan pembeli yang membatalkan."
Kali ini Renjana tidak terlalu cepat menjawab. Ia mengaduk kopinya satu putaran, dua putaran. "Itu di bawah Damianus," katanya akhirnya. "Divisi keuangan dan hubungan dagang. Saya akan minta beliau menyiapkannya untuk Anda."
"Saya sudah minta ke Pak Damianus. Yang saya terima ringkasan, bukan aslinya."
"Akan saya pastikan Anda dapat aslinya." Senyum itu lagi. Tapi Sekar memperhatikan tangannya berhenti mengaduk.
Mereka berpisah dengan jabat tangan yang erat dan sopan. Renjana berjalan pergi dengan langkah seseorang yang menguasai gedungnya, menyapa karyawan dengan nama, menepuk bahu satpam yang sudah tua. Ia disukai. Itu jelas. Karyawan menyukainya, dewan menghormatinya, dan kalau Sekar tidak waspada, ia pun bisa menyukainya. Justru itu yang membuatnya berhati-hati. Dalam pengalamannya, orang paling berbahaya di perusahaan yang sekarat bukan yang membentak di ruang rapat. Melainkan yang tersenyum di kafe dan menawarkan membuka semua pintu.
Malam itu, korespondensi asli yang dijanjikan tiba di kotak masuk Sekar. Lengkap. Cepat. Terlalu cepat, lagi. Ia membacanya satu per satu, surat-surat pembatalan dari para pembeli ekspor. Sopan, formal, masuk akal di permukaan: kondisi pasar, penyesuaian rantai pasok, keputusan strategis pembeli. Tidak ada yang aneh kalau dibaca satu-satu.
Tapi Sekar tidak membaca satu-satu. Ia membaca semuanya sekaligus, berjajar, dan saat itulah ia melihatnya. Lima surat pembatalan dari lima perusahaan berbeda, di lima negara berbeda, dikirim dalam rentang tiga minggu—dan kelimanya memakai struktur kalimat yang nyaris identik. Bukan kata yang sama persis; seseorang cukup pintar untuk mengubah kata. Tapi irama kalimatnya sama. Urutan alasannya sama. Bahkan kesalahan kecil yang sama—frasa janggal yang sama persis—muncul di tiga dari lima surat itu.
Lima perusahaan yang tidak saling kenal tidak menulis surat pembatalan dengan pola pikir yang sama. Kecuali surat-surat itu ditulis, atau setidaknya didiktekan, oleh satu tangan.
Sekar menyandarkan punggung dan menatap layar untuk waktu yang lama. Pesanan-pesanan itu tidak dibatalkan oleh pasar. Mereka dibatalkan oleh seseorang di dalam, yang menghubungi para pembeli, yang mungkin membayar mereka untuk pergi, atau menakuti mereka, atau sekadar mengoordinasikan kepergian mereka—lalu menulis surat penutupnya sendiri agar berkasnya terlihat rapi. Berkas yang terlalu rapi. Ia sudah menduganya. Sekarang ia melihatnya.
Yang belum ia lihat adalah tangan siapa. Damianus terlalu jelas, terlalu sigap, terlalu di permukaan—dan dalam pengalaman Sekar, orang yang berdiri paling jelas di depan jarang menjadi otak. Pikirannya kembali ke kafe yang terang, ke senyum yang terlalu terukur, ke tangan yang berhenti mengaduk kopi tepat saat ia menyebut pesanan ekspor. Sekar tidak punya bukti. Belum. Tapi ia punya sesuatu yang lebih tua dari bukti, sesuatu yang sudah menyelamatkannya berkali-kali: firasat dingin bahwa orang yang paling tenang di ruangan, yang paling siap membuka semua pintu, adalah justru orang yang paling tahu di balik pintu mana mayatnya disembunyikan.