Nama itu muncul untuk pertama kalinya bukan dari mulut siapa pun di Wanaartha, melainkan dari sebuah dokumen bursa yang nyaris tidak dilihat orang. Sekar membacanya larut malam—laporan kepemilikan saham yang wajib dipublikasikan ketika sebuah pihak melewati ambang batas tertentu. Meridian Capital. Sebuah dana yang, menurut laporan itu, telah menjadi salah satu pemegang saham terbesar Wanaartha. Dan yang membuat Sekar duduk tegak adalah caranya mereka mengumpulkan saham itu.
Mereka membeli saat harga jatuh. Bukan sekali, tapi sistematis. Setiap kali saham Wanaartha anjlok karena berita buruk—pesanan batal, pinjaman mahal, kabar arus kas memburuk—Meridian masuk dan membeli lebih banyak di harga rongsokan. Mereka mengumpulkan kepingan perusahaan justru di saat-saat tergelapnya, ketika semua orang waras menjual dan lari. Bagi pengamat biasa, itu tampak seperti keberanian pemodal yang melihat peluang di tengah keruntuhan. Bagi Sekar, itu tampak seperti sesuatu yang lain sama sekali.
Karena ada hukum dingin lain yang ia pegang: kalau seseorang membeli sebuah perusahaan dengan rakus tepat saat perusahaan itu sedang dijatuhkan, ada dua kemungkinan. Entah mereka tahu sesuatu yang tidak diketahui pasar—bahwa perusahaan itu sebenarnya tidak sesakit kelihatannya. Atau, mereka tahu sesuatu yang lebih gelap: bahwa mereka sendiri yang sedang menjatuhkannya, dan setiap kejatuhan adalah diskon yang mereka rancang untuk diri mereka sendiri.
Sekar mulai menggali Meridian. Itu tidak mudah. Dana seperti ini hidup di balik lapisan-lapisan: perusahaan induk di yurisdiksi yang ramah kerahasiaan, nama-nama mitra yang tidak pernah muncul di depan, juru bicara yang lihai. Tapi Sekar pernah bekerja di sisi para pemodal seperti ini selama bertahun-tahun. Ia tahu cara mereka bernapas. Ia mengenali jenis dana ini bukan dari namanya, melainkan dari perilakunya: dana investor aktivis—jenis yang tidak membeli saham untuk menunggu dividen, melainkan untuk masuk, mendorong, menekan, dan memaksa perubahan yang menguntungkan mereka, lalu keluar dengan untung besar, sering kali meninggalkan perusahaan dalam keadaan lebih ramping, lebih kering, kadang lebih mati daripada saat mereka datang.
Ia pernah berada di ruangan yang sama dengan dana-dana seperti itu. Dulu, di awal kariernya, ia bahkan bekerja untuk salah satunya. Ia tahu bahasa yang mereka pakai. Dan saat ia membaca pernyataan resmi pertama Meridian—yang dikirim ke dewan Wanaartha dan bocor ke media keuangan dalam hitungan jam, terlalu rapi lagi—Sekar merasakan dingin yang familiar menjalar di tengkuknya. Pernyataan itu sopan, bahkan mulia. Meridian, kata pernyataan itu, prihatin atas "kepemimpinan yang gagal" di Wanaartha. Mereka berbicara atas nama "para pemegang saham yang dirugikan". Mereka menuntut kursi di dewan direksi untuk "membawa tata kelola yang lebih baik dan menyelamatkan nilai yang tersisa".
Menyelamatkan. Sekar nyaris tertawa, getir, sendirian di apartemennya. Ia sudah mendengar kata itu dipakai sebagai pisau terlalu sering. Setiap kali sebuah perusahaan dijagal sampai ke tulang dan dijual berkeping-keping, selalu ada yang berdiri di depan kamera dan menyebutnya menyelamatkan. Ia sendiri memakai kata itu kemarin di ruang rapat. Bedanya, ia memakainya untuk benar-benar membedah dan, kalau bisa, menjahit kembali. Pertanyaannya sekarang: Meridian memakai kata itu untuk apa?
Ia menyusun ulang semuanya di lantai apartemennya, di atas hamparan laporan yang sama. Garis-garis mulai bertemu. Pesanan ekspor dibatalkan oleh satu tangan, membuat penjualan anjlok. Penjualan anjlok membuat saham jatuh. Saat saham jatuh, Meridian masuk membeli di harga murah. Saat kas menipis karena penjualan kering, pinjaman berbunga mencekik datang—lewat perantara, kata Damianus, dari sebuah dana penyertaan yang tidak disebut namanya. Dan sekarang, dengan saham yang sudah cukup dan utang yang sudah tertanam, Meridian muncul terang-terangan menuntut kursi dewan.
Setiap potongan, kalau dilihat sendiri-sendiri, bisa dijelaskan sebagai nasib buruk. Tapi disusun berurutan, mereka membentuk sesuatu yang tidak bisa lagi disebut nasib. Mereka membentuk sebuah rencana. Sebuah arsitektur kehancuran yang dirancang dengan kesabaran seorang pemain catur—setiap langkah membuka langkah berikutnya, setiap kemalangan yang menimpa Wanaartha sebenarnya adalah keuntungan bagi seseorang.
Dan di tengah arsitektur itu, persis di tengahnya, berdiri Sekar sendiri.
Ia baru benar-benar menyadarinya saat itu, dan kesadaran itu membuatnya merasa seperti ditinju di ulu hati. Restrukturisasi yang ia pimpin—penjualan aset yang sudah disodorkan Damianus, pemangkasan yang akan ia rekomendasikan, seluruh proses menyembuhkan yang menjadi alasan ia disewa—semua itu adalah anak tangga terakhir dalam rencana ini. Mereka tidak menyewanya untuk menyelamatkan Wanaartha. Mereka menyewanya untuk memberi keruntuhan ini wajah yang terhormat. Untuk menempelkan stempel "penyehatan profesional" pada sebuah perampokan. Tukang jagal yang reputasinya bersih, yang namanya dikenal para bankir, yang kalau dia bilang perusahaan harus dijual maka tidak ada yang akan bertanya lagi. Itulah dirinya. Bukan dokter. Pisau bedah di tangan orang lain.
Sekar duduk diam di lantai, dikelilingi kertas, untuk waktu yang sangat lama. Ia memikirkan para kreditor yang menyewanya—yang katanya memaksa pendiri menerimanya, yang katanya hanya ingin uang mereka kembali. Apakah mereka tahu? Apakah mereka bagian dari ini, atau mereka pun sekadar pion yang lebih besar? Ia tidak tahu. Belum. Tapi satu hal kini jelas seperti angka di kolom paling bawah neraca: ia sedang bekerja untuk orang-orang yang merancang pembunuhan ini, dan ia disewa untuk menjadi alibi mereka.
Dan untuk pertama kalinya dalam kariernya yang dibangun di atas kemampuan membekukan empati, Sekar merasakan sesuatu yang lebih tua dan lebih berbahaya menyusup ke dalam dadanya, ke tempat di mana ia menyimpan kertas terlipat berisi angka sebelas ribu. Bukan empati. Itu masih bisa ia kendalikan. Yang menyusup adalah kemarahan—dingin, sabar, dan personal—kemarahan anak buruh pabrik yang dulu melihat ayahnya digembok keluar dari hidupnya oleh orang-orang berdasi yang menyebut pembunuhan itu efisiensi. Ia membekukan empati seumur hidupnya. Tapi kemarahan ini, ia sadari malam itu, tidak ingin ia bekukan. Ia menambahkan satu nama di kertas terlipatnya, dengan tulisan yang lebih dalam dari sebelumnya. Meridian. Lalu ia mematikan lampu dan duduk dalam gelap, merancang langkahnya sendiri.