Yumi dan William berencana belanja bulanan yang udah mereka tulis daftanya. Keduanya baru bangun pukul 7 tepat. Itu pun Yumi pasang alarm, kalau ga mungkin keduanya belum bangun saat ini.
"Kak, mau sarapan apa? Katanya di sini ada kantin. Mau ke sana?"
William yang baru selesai cuci muka setuju. Handuk kecilnya disimpan di tali jemuran yang dia buat sebelum tidur kemarin.
Siap-siap bawa dompet dan ambil sandal keduanya.
Mereka malas mandi. Katanya masih dingin dan ini hari minggu. Saatnya chill.
"Kantinnya sebelah mana?" tanya William yang bantu Yumi ikat rambutnya.
Kalau dilihat, pacarnya makin pendek aja. Lihat, dia cuma sebatas pundak William.
"Apa senyum-senyum begitu?" tanya Yumi menyelidik. Pacarnya itu sering usil jadi dia sedikit curiga.
"Kamu makin pendek aja, ya. Lihat ini, kamu cuma sepundakku."
Tuh bener 'kan? Dia diledekin. Walau kenyataannya bener sih. Tinggi Yumi itu cuma sebatas pundak pacarnya. Dia jadi semakin susah buat natap wajahnya.
"Diem kamu. Aku laper. Ayo ke kantin!" seru Yumi semangat. Dia laper sekali karena kemarin cuma makan ramen. Itu pun cuma satu porsi.
________
Kantin ada di dekat kamar ibu kost. Dia dapat info setelah kunci kamar di tangannya. Keduanya cepat-cepat menuju kantin. Sampai melewati lorong utama, seseorang dari kejauhan manggil, "Hey!"
Yumi berbalik dan lihat siapa yang manggil keduanya. Dia ga kenal.
Mungkin penghuni indekos juga.
Cowok tadi lambaikan tangan ke arah mereka. Sambil bawa beberapa lembar kertas.
Semakin dekat, Yumi bisa lihat wajah cowok itu lebih jelas. Cowok manis dengan lesung pipi yang terus senyum.
"Halo, saya Theo, penghuni kamar nomer 14 tepat di samping kalian."
Kok manis? Senyum cowok itu bikin Yumi ikut membalas, "Aku Yumi dan ini William. Salam kenal."
William ngulurin tangannya dan dibalas ramah oleh Theo. Mereka mutusin untuk ke kantin bareng.
Theo banyak cerita tentang kegiatan penghuni indekos lain. Di sini ternyata ada beberapa pasangan juga.
"Kalian jurusan apa?"
Obrolan mereka masih lanjut. Sekarang bahas jurusan karena ternyata satu kampus.
Pantas rasanya ga begitu asing lihat wajah Theo tadi.
"Sastra Inggris," jawab Yumi semangat sementara William lagi sibuk milih menu.
"Will, ditanya tuh." Yumi tegur pacarnya yang seakan ga peduli.
"Sama kaya Yumi cuma beda kelas." Akhirnya William jawab. Dia letakkin daftar menu ke tengah meja, biarin Theo yang milih menu selanjutnya.
Sambil tunggu pesanan mereka jadi, obrolan semakin berlanjut sampai beberapa info yang lebih mirip dibilang gosip.
"Di sini banyak yang usaha. Maklum, mahasiswa. Mereka butuh duit tambahan. Kalau mau print sesuatu, ketuk pintu nomer 11. Namanya Christian, anak DKV. Terus kalau butuh palsu memalsukan dokumen, ke saya aja. Satu lagi, kalau butuh film bajakan, ada Dhea yang tinggal di kamar nomer 12."
Yumi mengangguk dan ngucapin terima kasih atas infonya. Dia jadi semakin senang karena ga perlu lagi keluar untuk sekedar print tugasnya.
"Theo, aku cariin daritadi, tahu?"
Seseorang langsung ambil tempat duduk di sebelah Theo.
Ternyata cewek cantik berambut pendek yang masih asing untuk Yumi.
"Halo, aku Dhea. Pemilik kamar nomer 12. Kalian penghuni baru, 'ya? Salam kenal."
Cewek bernama Dhea ini sama ramahnya kaya Theo tadi.
Bahkan dia ulurin tangan. Yumi yang mau balas uluran tangan cewek itu, malah sedikit tak suka karena Dhea justru tarik paksa tangan William untuk balas jabatannya.
William bahkan noleh ke arah Yumi buat mastiin ekspresi pacarnya.
Tuh, kesel.
"William. Maaf, bisa lepasin?" tanya Will dengan sopan. Masalahnya muka Yumi sedikit tak suka lihat keduanya apalagi Dhea masih jabat tangan William.
Ada kali satu menit kalau dihitung.
"Permisi, ini pesanannya."
Dua pegawai kantin letakkin pesanan mereka satu persatu dan ini kesempatan William untuk lepas dari Dhea.
Suasana berubah sedikit canggung karena sejak tadi Dhea ga berhenti tanya beberapa hal ke William.
Di sini Yumi pasang muka cuek. Dia lebih pilih makan bubur ayamnya dengan nikmat. Bahkan sampai lupa kalau Dhea masih curi pandang ke pacarnya.
Theo lima menit yang lalu pamit karena ada orderan katanya. Jadi cuma mereka bertiga di sini.
"Will, kamu kenapa mau ngekos di sini? Apa ga takut digodain penghuni lain?"
Dhea pasang wajah semanis mungkin. Bahkan dia ga sadar kalau Yumi mulai perhatiin keduanya.
William ga jawab pertanyaan Dhea sejak tadi. Alasannya karena dia milih sibuk makan ketimbang pacarnya ngambek.
"Apa William ada pacar?"
Yumi udah bisa tebak arah pembicaraannya. Dia cuma nunggu reaksi William yang hampir terseda, denger pertanyaan cewek asing ini.
"Ada, nih pacarku, Yumi."
Dengan santai dia bilangnya sampai buat Dhea terkejut dan wajahnya memerah karena malu.
Cewek itu cuma bisa garuk-garuk tengkuknya.
Sumpah dia malu. Niat pendekatan malah bikin masalah.
"Wah keduluan. Eh maksudnya maaf ya. Aku ga tau. Silahkan nikmati sarapannya. Aku ada kelas pagi. Permisi."
Dhea sedikit berlari ninggalin keduanya yang anteng di kantin.
"Kak, kamu ini. Kasian tau dia pasti malu."
Yumi walau awalnya ga suka sikap Dhea, tapi dia bisa maklum.
Siapa yang ga suka William coba? Bahkan masih banyak cewek jurusa lain yang coba deketin pacarnya walau mereka udah jadian.
"Kamu keliatan ga suka. Jadi aku perjelas biar dia juga ga salah paham."
Yumi hatinya menghangat denger ucapan pacarnya. Iya, pacarnya.
Dia jadi malu kalau sebut panggilan itu.
Setelah bayar pesanan bubur dan es teh manis, rencananya mereka mau siap-siap belanja bulanan. Tapi sepertinya bakal diundur karena Charlie kirim chat ke Yumi.
Charlie ini anak mereka. Sebenarnya bukan anak asli. Dia itu anak dari kerabat jauh Yumi. Karena keduanya udah dekat sejak masih kecil, Yumi anggap dia anaknya karena manis.
From: Charlie
To : Bunda
Bun, aku mau ikut belanja. Sekalian mau dimasakin ayam pop hihi. Aku minta
alamatnya
09.00 a.m
Cek chat semalam ya, ganteng.
Bunda udah fotoin alamatnya.
Kamu sama siapa ke sini? Bunda jemput aja ya pakai scoopy.
09.05 a.m
Aku sendiri aja ke sana.
09.07 a.m
Yumi sedikit khawatir karena anaknya mau ke sini sendirian. Tapi William bilang untuk biari aja. Sekalian latihan supaya dia ga terlalu tergantung ke Yumi.
Pacarnya ini kalau soal sayang ke Charlie ga main-main. Dia bahkan rela lakuin apapun supaya anak manisnya hidup enak.
William kadang iri karena pacarnya lebih mentingin anaknya itu dibanding dia. Tapi sekali lagi, dia harus sadar kalau Charlie jauh lebih membutuhkan Yumi karena keduanya udah lebih dulu kenal.
"Sambil tunggu Charlie, kamu mandi dulu."
Yumi ragu karena dia pengen nunggu anaknya sampai dulu. Tapi William juga harus jadi prioritasnya juga.
"Ka, kamu yang mandi duluan aja. Biar aku tunggu Charlie dulu."
William mengangguk pasrah.
Lagi, dia kalah sama Charlie.