Yumi langsung meluk anak kesayangannya saat tahu dia udah sampai ke indekos. Bahkan anak itu sampai giggling lucu. Gigi kelincinya keluar dan itu semakin membuat Yumi mati gemas.
"Duduk, ganteng. Mau minum apa? Bunda ada s**u pisang, mau?"
Begini kalau mereka berdua udah ketemu. Charlie diperlakukan macam anak TK. Padahal badannya lebih besar dari William.
"Vanila aja, Bun. Aku bosen s**u pisang terus."
Yumi segera buka kulkas mini di sudut ruangan. Ambil beberapa minuman dingin untu Charlie, William dan dia sendiri.
Walau ada anaknya di sini, dia masih ingat Wiliam kok.
"Kamu ke sini naik apa? Katanya kan motormu lagi di bengkel."
Charlie lagi asyik seruput susunya pun berhenti. Bunda bilang, kalau ada orang yang ajak bicara, harus berhenti makan atau minum dulu.
"Naik ojek online, Bun. Tapi juga sempet ditawarin Hosea."
"Bang Hosea," koreksi Yumi tegas.
Charlie terkekeh dan kembali menikmati s**u vanilanya.
Yumi memang ngebebasin anaknya ini. Tapi, dia juga ajarin sopan santun. Apalagi Hosea itu dua tahun lebih tua di atas umurnya.
"Ya udah. Habisin susunya. Setelah itu, kita belanja bulanan."
Betapa girangnya Charlie pas denger soal belanja. Dia bakal bisa beli sesuatu.
Lain halnya sama William yang sibuk cari dompetnya.
Memang sial, padahal dia tadi simpan di atas rak sepatu. Kenapa ga ada?
"Cari apa kamu, Ka?"
Yumi bingung juga soalnya daritadi pacarnya itu sibuk bolak balik.
"Dompetku. Kamu liat?"
Yumi cuma geleng. Tapi dia langsung cari karena kunci kamar ada di dompet William. Mereka belum sempat bikin kunco ganda. Rencananya sih abis belanja bulanan.
"Dompetnya warna apa, Bang?" tanya Charlie ikut penasaran.
Dia bantu cari di sudut dekat rak sepatu. Tapi ga ada.
Wah, bahaya kalau sampai hilang.
Yumi cari di sekitar tempat tidur. Mulai dari selimut sampai guling udah dibukain. Tapi nihil.
"Kamu simpen di mana tadi?" Yumi sedikit kesal nada suaranya.
William semakin panik karena semua kartu dan uangnya ada di situ.
Charlie menyisir bagian bawah tempat tidur dan mata bulatnya bersinar.
"Ketemu!" serunya sambil serahin dompet hitam itu ke William.
Ketiganya seneng bahkan saling muterin badan.
____________
"Bun, sini kubawa belanjaannya." Charlie ambil alih belanjaan yang ada di tangan Yumi.
Bunda asuhnya ini kelihatan lelah sekali.
Keduanya lagi ada di dekat stand minuman di dalam mall.
William lagi ke toilet sebentar.
"Bun, apa ga masalah kalo tinggal berdua aja?" William kan laki-laki."
Yumi noleh dan senyum manis ke arah Charlie.
Wah anaknya lagi khawatir kayaknya.
"Kan kamu tau alasanku. Nanti kalau udah lulus, bakal ke kamu lagi."
Charlie agak risih sama jawaban Yumi. Dia khawatir kalau sampai ada apa-apa.
Apalagi ini William.
Dia denger kabar kemarin dari temen Hosea kalo pacar bundanya ini sering main perempuan.
Charlie dengan terpaksa setuju. Walau dia kayanya masih jaga jarak sama William.
Bahas William, dia baru kembali dari toilet.
"Ayo belanja lagi," ajaknya begitu Charlie udah berdiri di tempatnya.
Kalau masalah belanja, doi girang sekali. Ini saatnya dia nguras tabungan si William itu.
Ketiganya masuk ke salah satu toko pakaian yang terbesar di sana.
Ini keinginan Charlie yang katanya di sana dia lihat promo jaket kulit limited edition.
"Bun, jaketnya dari kemarin manggil aku terus. Beli ya."
Charlie terus liatin baju yang terpasang di etalase paling depan.
Dia lirik William yang ngangguk setuju. Beli satu baju ga bakal bikin dia krisis uang.
Yumi sedikit berat soalnya walau promo, harga jaket kulit itu tetap mahal di matanya.
Itu seharga uang semesternya. Gila, uang segitu buat beli satu jaket aja.
"Char, beli yang sebelahnya aja ya. Walau promo, tapi harganya mahal. Bunda ga bawa uang tambahan."
Charlie yang denger itu sedikit sendu. Dia masih pegangin lengan jaket kulit itu. Keliatannya minat sekali dia.
Yumi ga enak buat nolak. Tapi, dia juga ga mau buat Charlie hedon.
"Gimana kalau jaket denim di sebelahnya? Itu harganya masih bisa bunda usahain, ya?" Yumi masih coba bujuk gantengnya. Perlahan Charlie alihin pandangannya ke satu jaket denim yang harganya lebih miring.
Dia periksa dan sentuh bahannya.
Yumi harap anaknya itu suka soalnya daritadi si mba penjaga toko liatin mereka terus.
"Ya udah. Aku ambil ini aja ya, Bun. Tante tolong bungkus ini satu, ya? Terima kasih."
Charlie dengan sopan minta si mba bungkusin jaket yang dia pilih.
Yumi ngusak rambut gantengnya sayang. Untung aja anak itu cepet ngerti. Kalau ga, uang segitu kebuang percuma.
"Setelah ini kita beli peralatan mandi. Kalian berdua kalau cape tunggu di cafetaria ujung sana aja, ya?"
Yumi lihat William sama Charlie yang kecapean keliling mall. Dia inisiatif beli sendiri kebutuhan mereka.
Lagian kasian juga pacarnya sejak kemarin bersih-bersih dan angkat barang mereka.
"Kalian mau pesan apa? Sekalian aku beliin."
"Belanja aja. Aku cuma mau minum di sana," jawab William sambil liat pesan yang masuk di ponselnya.
"Nak, mau pesen apa? s**u vanillamu udah habis?"
Charlie mengangguk cepat, "Aku ikut Bunda belanja aja, ya? Sekalian beliin aku cemilan. Di kosan Hosea— ah maksudnya Bang Hosea udah abis."
Yumi mengernyit heran. Sejak kapan anaknya ini tinggal di kosan Hosea? Kok ga bilang?
Buru-buru Charlie jawab, "Baru satu minggu, Bun. Aku ga ada temen main games. Jadi nginep di Bang Hosea tapi keterusan sampe sekarang."
"Oh, ya udah sekalian belanja keperluanmu dan camilan buat kalian berdua aja."
William total jadi kacang di antara mereka. Yumi juga kaget karena ia kira William udah ada di cafetaria
"Ka, tunggu di cafetaria aja, ya. Aku sama Charlie belanja dulu. Kita ketemu setengah jam lagi."
William sedikit kecewa sih sebenarnya karena niatnya kan mau ikut belanja. Tapi, ini Charlie, anak Yumi ini kayanya masih belum nerima dia sepenuhnya.
"Telpon kalau udah kelar."
---------------
"Beli s**u vanillanya tiga kotak aja, Nak. Camilannya kamu pilih sendiri. Tapi nanti makannya jangan banyak. Bunda beliin pasta gigi, sikat gigi, sabun cair sama shampo buat stok. Hmm... Apa lagi, ya?"
Yumi lihat rak perlatan mandi. Ambil sesuai list barang yang udah ditulis termasuk tambahan punya Charlie.
Dia bingung mau beli apa lagi karena sebenernya belanjaan mereka udah ada di keranjang semua.
"Ada yang kamu butuhin lagi ga selain tadi?"
Charlie lagi sibuk lihat sesuatu di rak satunya.
Dia bingung milih karena banyak sekali di sana.
Keduanya mutusin langsung ke kasir karena ga tau harus beli apa lagi.
Charlie dorong trolley belanjaan dan ambil antrean di kasa yang kosong.
Tiba-tiba pandangannya jatuh ke satu barang yang berjejer rapih di hadapannya.
Satu coklat bar isi caramel yang kelihatannya enak sekali di sana.
"Bun, aku mau ini satu, ya?"
Yumi yang di sampingnya angguk setuju. Dia sibuk ambil beberapa lembar uang. Sementara tante kasir lagi hitung belanjaan mereka.
"Bun, ini apa?"
Charlie ambil satu kotak yang berjejer dekat coklat. Dia kasih kotak itu ke Yumi.
Tante kasir ketawa lihat Charlie ambil kotak itu dan Yumi terkejut sampai ambil paksa kotak kecil berwarna merah itu ke tempat semula.
"Mba, totalnya berapa, ya?"
Yumi mukanya merah padam. Ga mungkin dia jelasin di depan mba kasir yang ketawain kejadian tadi.
"Bun..." panggil Charlie yang kaget sewaktu Yumi ambil kotak yang dipegangnya. Dia butuh kejelasan.
"Totalnya 1.500,000 rupiah."
Yumi kasih uang dengan jumlah yang sama ke mba kasir. Dia ga gubris panggilan Charlie sampai mereka berdua keluar.
"Nak, nanti bunda jelasin. Tapi ada sesi khususnya, ya?"
"Itu ada hubungannya sama s*x, Bun?"
Yumi tatap Charlie dengan senyum, "Iya. Kamu boleh tau itu. Tapi, bunda ga izinin sentuh atau bahkan beli, paham?"
Ada satu sesi khusus yang Yumi buat saat Charlie mulai tumbuh remaja. Dia ajarin anaknya tahu tetang s*x education. Saat itu, Charlie bisa tanya apa pun ke dia atau Hosea.
"Oke, bun. Maaf."
Charlie ambil alih semua belanjaan dari tangan Yumi. Mereka berjalan ke cafetaria untuk susul William.
Dilihatnya pacarnya itu udah pesan dua paket makan siang untuk keduanya.
"Banyak juga belanjaannya." William bantu letakkin belanjaan mereka di dekat kursi.
Charlie langsung minum es jeruk di meja.
"Sekalian beli camilan. Ayo makan. Aku laper."
"Kalian makan dulu, aku simpen belanjaan ke mobil. Kalau udah selesai, susul ke parkiran aja. Aku harus telpon Bang Deni."
Yumi bilang hati-hati ke dia saat William bawa belanjaan mereka.
Wah hari ini dia seneng bisa belanja dan ketemu anak kesayangannya.