"Menurut peta itu sudah benar tempatnya di sini!" Pricil menilik kembali peta di dalam genggamannya itu, ia melihat dengan benar hasil yang saat ini mereka kunjungi.
Tempatnya ada di pojok gedung fakultas Psikologi, ada dua ruangan di sini terlihat tertutup sekali. Satu ruangan tidak di kunci walau tertutup oleh kain gorden di setiap celanya. Sebelahnya ruangan itu digembok, tertutup pula oleh gorden-gorden yang menyelimutinya.
"Ruangan apaan ini coba? Inti dari soalnya juga membingungkan," decih Nathan mendapat jitakan dari Anggun yang gemas sendiri terhadap mulut bawel Nathan.
"Intinya di dalam soal nomer satu ini," jeda Anggun yang memegang soal tersebut sambil melihat kembali dua ruangan di depannya. "Kita disuruh nyari barang antara dua ruangan ini yang menjadi kunci jawaban kita!" tegas Anggun sambil mengetukan jarinya ke dagu dan berpikir keras dirinya.
Gery pun segera ambil tindakan untuk membuka ruangan yang tidak terkunci. "Ahhhhh! Gery, apa itu takutt!" jerit Pricil yang berada di sebelah Gery membuat telinga mereka pecah.
"Eh, cebol mulut lo gue sambel juga mampus deh! Budeg ini telinga gue!" cerocos Nathan sambil mendorong lengan Pricil yang berada di pelukan Gery. "Anjir cuma sama tikus aja lo takut! Hahaha, dasar cebol!" kekeh Nathan lagi, Anggun yang berada di samping laki-laki itu segera memperingati Nathan agar berhenti menjahili Pricil.
"Ihhh, lo ini Nath, gue itu takut banget sama tikus! Nggak ngerti banget perasaan cewek lo!"
"Bacot deh, cepetan masuk napa!" Nathan mengibaskan tangannya ke udara, menggeser Pricil ke samping agar ia bisa masuk mengikuti langkah Gery yang telah berada di dalam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pric, sini, nggak ada tikus lagi, kok!" panggil Gery seraya melambaikan tangannya dengan senyum menenangkan.
"Beneran ini gue masuk, ya? Ini ruangan apa kok banyak banget karung-karung gini? Gudang apa berantakan sekali," gerutu Pricil yang akhirnya mengambil langkah ke dalam disusul Anggun.
Mereka semua menggeledah beberapa karung yang entah apa isinya membuat penasaran di benaknya masing-masing.
"Kok gue ada feeling kalau anak senior itu ada beberapa yang seperti menatap kita penasaran. Contohnya gue bisa lihat di mata Presiden BEM itu yang namanya Frans, trus Adam dan ketua senat yang mirip banget sama Adam namanya siapa tadi?" pikir Pricil yang memang paling kuat memiliki mata batin.
"Deraxio, maksudnya? Alah, orang itu aneh banget di mata gue. Dia baru ketemu aja tatapannya udah tajam banget ngalahin tatapan Egi kalau lagi serem gitu. Trus habis gitu, dia nggak banyak omong juga hanya ngangguk saat gue bilang makasih. Yaudah, gue cabut langsung aja sama Nathan."
"Nah, kan tuh, belum lagi ceweknya yang aneh di mata gue juga Gisel. Paling sinis kalau natap. Sedangkan dua orang yang nganterin kita tadi, sih, ramah. Gue masih belum ngerti tentang keduanya, rasanya gue baca sulit gitu." Pricil menatap satu persatu temannya yang sibuk membedah karung di sana.
Gery mendengus saat berhasil menjebol karung yang tertutup amat rapat itu. Ia menemukan kaos hitam-hitam banyak yang terdapat lukisan sangar dan tulisan model. "Brotherhood?" gumam Gery membuat Nathan, Anggun dan Pricil menoleh kepadanya.
"Apaan Ger?" tanya Anggun, Gery mengangkat tinggi-tinggi salah satu kaosnya. "Baju klub gitu?" tanya Anggun lagi.
Nathan menghampiri Gery. "Kayaknya ini kaos milik salah satu dari anak kampus sini. Gila gambarnya sangar bener kek kaos anak rocker gitu."
Jelas saja gambarnya adalah terngkorak dan di balik kaosnya terdapat tulisan lain bila dieja menjadi, "do not touch us or you die."
Mereka semua tercekat dan saling pandang bingung. "Apa-apaan ini? Maksudnya apa, jangan sentuh kami atau kamu mati?" celoteh Anggun dengan suara oktaf yang meninggi, membuat Nathan menoleh padanya.
"Lihat ini, banyak sekali benda-benda aneh? Masa anak kampus nyimpen kalung-kalung tengkorak? Trus anting hitam begini? Udah kayak band rock aja. Trus topi lagi, sepatu siapa juga di sini. Aduh kaos kakinya bau banget! Ini gudang atau penyimpanan barang rongsokan, sih? Kok banyak yang nggak jelas gini apa aja, deh!" gerutu Pricil sambil menggeledahi satu persatu. Ia bingung, ini milik siapa coba?
"Tunggu, aku kayak pernah lihat kalung tengkorak yang serupa itu."
Ucapan Gery membuat mereka serempak menoleh padanya dengan pandangan bingung dan bertanya-tanya menunggu kelanjutan kalimat Gery.
"Ah, lupakan! Kayaknya nggak mungkin juga mereka!" dengus Gery seraya berjalan semakin masuk ke depan.
"Eh, itu apa kok di tutupin pakai terpal segala?" teriak Nathan seraya menunjuk ke depan ruangan.
"Ger, emang ini kalung milik siapa?" Pricil yang masih penasaran bertanya. Lantas ia mengantongi kalung tersebut dan membawanya pergi menyusul Anggun yang sedang menjelajah di meja-meja bersarang, ada beberapa peti-peti kecil warna coklat tua dan merah.
Gery tak sengaja menyenggol sebuah terpal hingga tertarik jatuh.
'GRUBYAKKKK!'
"Gery?" kata Pricil kaget.
MARKAS KECIL BROTHERHOOD, ADALAH GENG DI KAMPUS YANG PALING DISEGANI DAN BERBAHAYA. ANGGOTA BAND INI SUDAH HADIR SEJAK MASA PERKUMPULAN OSPEK. KITA TERBENTUK DARI BERAGAM SISI. SIAPA YANG MASUK KE DALAM MARKAS INI DAN JIKA KETAHUAN AKAN MENANGGUNG AKIBATNYA!
"Apaa-apaan ini? Kenapa para panitia itu memberikan peta dan pertanyaan yang menjebak kita begini? Seolah-olah mereka adalah salah satu anggota dari geng ini?" kata Anggun dengan nada tinggi yang terdengar sengit. Mereka semua mengangguk dan saling berpandangan.
"Kayaknya kita harus cabut dari sini, ini jebakan!" Gery memutuskan dan segera berlari menghampiri Anggun juga Pricil diikuti oleh Nathan di belakangnya.
"Tapi bagaimana dengan Calista dan Egi? Ini konyol. Kita nggak perlu nyelesaiin ospek gini. Mending kita kabur aja," sambung Nathan.
Anggun mengangguk setuju. "Benar, mending kita cari Egi dan Calista sebelum terlambat. Ini bukan tentang apa, tapi identitas kita akan diketahui oleh geng mereka."
Mereka pun keluar, meninggalkan ruangan tersebut dan menutupnya kembali seperti semula. Mereka tidak ingin mengambil resiko dan memilih untuk menghindari saja. Lagi pula, mereka masih mahasiswa baru dan belum sepunuhnya menjadi mahasiswa resmi di sini. Masa ospek ini harus mereka lewati kembali besok, tidak peduli jika akan mendapatkan hukuman dan akan mereka abaikan saja.
Dan, mereka sudah menduga firasat ini sejak awal memasuki gedung kampus dan tatapan berbeda langsung dilayangkan oleh gadis bernama Gisel itu. Pricil lebih awal sudah menduga dan mendapat gambaran sendiri tanpa ingin mengatakan terlebih dahulu kepada saudara-saudaranya.
***
"Kita harus mencari mereka di mana sekarang? Ini aja nomernya Egi sama Calista pada nggak aktif. Gue ada firasat mereka nggak dalam baik-baik aja," celoteh Pricil yang sontak mendapat pelototan dari Nathan.
"Yang bener aja sepupu gue sama kakak ipar gue itu!" ketus Nathan.
"Hush, udah kali nggak usah pada bertengkar!" Anggun melerai, mereka sedang berjalan di lorong koridor fakultas teknik sipil. Di sini sepi dan semakin gelap saja.
Tanda-tanda dari dua insan itu pun tak mereka temukan jejaknya. Sekarang mereka hanya bisa melangkah dan celingukan sana-sini. Gery berusaha menenangkan Pricil juga sambil menggunakan ikatan batinnya untuk menghubungi Egi.
"Kenapa Egi nggak bisa dengar ikatan batin kita, ya? Kalau dia ada di sekitar kampus ini, pasti Egi bakal nyahut kayak biasanya. Ayo, kita harus gerak cepat dan temukan mereka sampai ketemu!" tandas Gery membuat mereka semakin dirundung cemas dan memasuki satu persatu setiap ruangan di dalam kelas-kelas.
"Eh, ada ruang terbuka di sini!" kata Anggun membuat teman-temannya pada berlari ke arahnya dan mereka memasuki gedung kesenian tempat di mana Egi dan Calista berada di sana.
"Kok sepi, ini gedung kesenian?" gumam Gery, ia pun menjelajah setiap ruang di sana sambil melihat ke atas sampai ke bawah. Tak sengaja matanya menangkap sebuah pita merah, Gery menunduk dan mengambil barang kecil tersebut.
"Bukannya ini pita yang dipakai sama Calista tadi pagi, ya?" kata Gery dan Pricil di sampingnya mengangguk.
"Berarti mereka baru saja di ruangan ini. Tapi sekarang mereka pada kemana?" tanya Pricil heran.
"Kalian lihat deh, alat musik di sini kok aneh ada tandanya cuma di piano sama violin aja?" Anggun kini duduk di depan piano itu sambil memandangi takjub.
"Hah! Aku tahu, Nggun!"
"Apaan, sih! Ngagetin aja, Nath!" cibir Anggun kesal.
"Ih, dengar dulu kalian semua. Ini pemikiran gue, masa kalau mereka dari sini berarti ada sangkutpautnya sama kayak kita buat nyelesaiin soal dari anak senior itu. Secara aja, kenapa hanya dua alat musik yang paling disukai Egi dan Calista aja ditandai silang? Dari mana mereka tahu kesukaan saudara kita? Kalian ngerasa ada yang aneh gak, sih?" seru Nathan, membuat mereka semua terdiam bingung.
"Sekarang gini, lo lihat sama kekuatan lo, Cil. Gue bakal jaga di depan kali aja ada mata-mata. Sekali ini aja kita pakai kekuatan hanya buat melindungi kita semua. Sekarang kita sudah mencoba untuk menghindari segala hal itu semaksimal mungkin. Tapi kalau ada yang iseng mencoba ingin tahu tentang kita dan mencelakai saudara kita, apa kalian akan diam aja?" lanjut Nathan kembali membuat semuanya berpikir keras.
"Oke, gue bakal lihat! Kali ini gue setuju sama saran lo, Nath!" kata Pricil dengan tegas ia mulai menenangkan dirinya. Gery hanya bisa bernapas lelah dan Anggun tetap duduk di depan piano itu sambil menatap bingung ke arah panggung yang sangat berantakan seperti ada sesuatu telah terjadi di sana. Namun, ia berusaha diam terlebih dahulu agar tidak mengganggu konsentrasi dari Pricil terlebih dahulu.
Nathan sendiri memilih keluar dari gedung untuk mengecek keadaan sekitar. Otak cerdasnya memang selalu bisa diandalkan walaupun Nathan slengeaan, kalau kata Pricil.
Nathan berpikir ini semua tidak beres. Hari pun sudah mulai malam, apalagi saat Nathan melongok ke atas bulan purnama mengisi langit malam hari ini. Ia takut jika salah satu saudaranya akan terluka. Walau janji mereka tak akan lagi berurusan dengan dunia ghaib, tapi jika dalam suasana urgent seperti ini tidak bisa dibiarkan. Dari kecil mereka sudah dididik oleh orang tuanya untuk saling peduli dan melindungi.
Kekuatan seseorang yang telah dititipkan sebagai rahmat dan anugerah dari Tuhan untuk mereka semua hanya sebatas sementara. Berarti Tuhan sedang memberinya sebuah ujian yang mampu mereka lewati. Asal jangan disalah gunakan saja.
Samar-samar Nathan dapat melihat ada bayangan-bayangan hitam di balik pohon rindang hitam di ujung sana. Ia hanya diam memperhatikan, bukan takut. Hanya tidak ingin mengganggu Pricil, dan membiarkan bayangan itu melakukan aksinya. Tinggal ia lihat saja, berani mendekat atau hanya mengintai. Bersama wajah tengilnya, Nathan bersedekap. Ia tatap tajam tanpa mengalihkan pandang ke arahnya, semakin membuat bayangan itu berputar-putar sengaja ingin mengelabuhi Nathan. Tetapi, Nathan bukanlah orang sembarangan yang bisa dilawan.
"Ahhh, sakit! Tidak jangan bunuh aku! Egi, Calista, aku tidak akan membiarkan kalian terjebak di sana!" suara teriakan Pricil dapat Nathan dengar dari luar.
"Sayang, sadar, hei, siapa yang membunuhmu! Sadarlah, apa yang kamu lihat!" kini disusul suara Gery yang berusaha menenangkan kondisi Pricil.
Nathan masih diam di luar, ia tidak perlu mengkhawatirkan Pricil. Sebab di luar ada yang lebih berbahaya untuk diawasi.