'AAAAAAAHHHHHH!'
Kedua manusia itu menjerit histeris dengan lengkingan yang bisa menciptakan frekuensi tinggi dan membuat bangunan-bangunan disekitarnya bergonjang-ganjing.
Buk! Ada suara bunyi orang terdampar pada dasar peraspalan. Ringkihan kecil terdengar semakin menggerutu. Entah sedang berada di mana, kedua manusia itu seperti melongo saat kedua belah matanya membuka lebar dan menatap langit-langit sekitar. Mereka berdua saling tatap menatap, berada di sebuah gedung aneh yang begitu megah dan banyak hal berbau aneh tercium di pencitraannya.
Calista dan Egi tercengang. "Di mana kita?" keduanya berujar saling menanyakan. Tiba-tiba ada banyak burung putih merpati sedang berterbangan di langit-langit mereka. Seperti terlepas dari rumah kurungannya. Burung-burung itu berputar-putar di atas lampu kaca besar membentuk kalayak lampion yang selalu di pasang bertahun-tahun.
Hal pertama yang semakin membuat ia terkejut sedang mendapati sebuah pigora berisi foto minimalis dari wanita sebelum mereka terjun kesini.
"Monalisa? Leonardo Da Vinci?" gumam Calista. "Apakah kita sedang berada di luar negeri?" lanjut Calista menengokan kepalanya kepada Egi yang hanya memasang wajah datar.
"Kita telah terjebak di antara abad ke-20. Tsah. Kota paling romantis, yaitu Paris. Museum terbesar dan terkenal di dunia. Kita terjebak di sini pada abad ke-12 di masa pemerintahan Raja Philip, tempat tinggal raja Prancis Louis, XIV. Dan itu adalah foto koleksi legendaris di museum ini, Elssa!" jelas Egi dengan mata menerawang ke seluruh penjuru sudut gedung yang berkeramik itu.
Calista bahkan tidak bisa berhenti melongo dengan mata melotot, ia tidak benar-benar percaya hingga menyakiti dirinya sendiri sampai memukuli bagian kepala.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" sentak Egi ketika memperhatikan gadis di sampingnya bertindak konyol.
"Apakah aku tidak bermimpi Egi?" Calista bertanya nyaris terdengar seperti bisikan halus.
Egi menggeleng, ia langsung menarik lengan Calista untuk segera berdiri. "Cepat bangun, kita tidak mimpi. Sembunyi, ada kurator yang sedang berkeliling!" Tanpa banyak menunggu respon dari Calista yang rupanya sedang dalam mode off, lelaki itu mengapit lengan Calista dan membawanya di ruang sempit hingga bisa mengapit keduanya di antara dua tabung dinding berkeramik besar.
Bum! Bum, bum! Suara langkah-langkah kaki terdengar semakin mendekat. Kecerdasan Egi tiba-tiba bisa menebak siapa yang datang kemari. Mereka adalah kurator museum yang berjaga, namun entah siapa para pria bertubuh kekar dengan juba hitam itu berjalan di samping wanita berkostum serba hitam pula dengan tongkat yang ia apit di antara lengannya yang lunglai.
"Penyihir, apa ilmuwan para mesin-mesin manusia itu akan kembali melakukan p*********n kepada Raja Philip?" tanya lelaki berjuba hitam dengan jenggot panjang.
Si wanita penyihir itu tertawa sinis. Sedangkan sang kurator hanya mendengarkan celotehan mereka. "Kita memang harus berhati-hati Corneal, karena ilmuwam sudah menemukan pasangannya putri Betralisa yang akan menyaingi kecantikan dari Ratu Monalisa."
"Hm, kurasa bukan hanya itu. Aku mendengar dari rakyat kalau mereka masih memiliki saudara di sini, dan para pangeran akan mencari mereka semua sampai ketemu karena musuh bebuyutan. Hahaha, kita tidak usah banyak bertindak. Cukup mengamatinya ratu sihir!"
Egi dan Calista yang mendengar percakapan mereka terkejut heran. Mereka saling pandang memberi sinyal tidak mengerti apa yang telah terjadi di sini. "Bagaimana ini? Sepertinya mereka orang-orang jahat, Egi. Aku takut," cicit Calista dengan wajah piasnya.
Egi mengangguk paham. "Tenanglah, kita cari jalan pulangnya sekarang!" Egi dengan cepat membawa Calista keluar dari persembunyian mereka, dan mereka berlari ke arah berbeda dari perginya penyihir dan dua manusia tadi. Namun, entah kegagalan yang memang tidak mereka miliki dari manusia bangsawan. Para kurator melihat mereka dan berteriak, penyihir serta pria berjuba hitam yang badannya lebar dan lebih gagah dari Egi itu segera mengibatkan jubanya untuk berbalik melihat ke arah teriakan di belakangnya.
Mata Calista dan Egi melotot kejut, cepat-cepat mereka mencari ide dan saling mengode satu sama lain untuk aksi kabur.
"Lihatlah, itu putri Betralisa dan ilmuwan Trafalgar Vincinite! Kejar mereka dan tangkap para kurator!" teriakan tersebut malah semakin mengejutkan keduanya, hingga Egi menggendong Calista dan membawanya kabur melalui celah samping sehingga para kurator tadi yang hendak mengepung justru saling bertabrakan dari dua arah berbeda.
"Dasar bodoh!" cibir Egi ketika ia berhasil kabur dari sisi samping kanan, kini ia berlari menurunkan Calista kembali yang sudah gelagapan. "Jangan panik, Elssa! Aku akan melindungimu, janji!" Egi berusaha menenangkan gadisnya itu, sampai dari celah-celah kerajaan di museum Louvre ini semakin banyak kurator menghadang.
Egi segera membawa Calista meloncat-loncat dari lantai museum legendaris bersejarah yang kini mereka terjebak pada era abad ke-12 sehingga banyak benda-benda keramik. Keduanya saling mengoper lincah. Egi yang sudah menguasai ilmu beladiri segera melakukan p*********n dan memilih jalan pintas menghindar. Mereka seperti terjebak di negara asing, yang tidak tahu di mana letak pintu keluarnya.
Karena di depan ada dua kurator dan lelaki berjuba hitam yang sudah siap menghadang jalan mereka, Egi memandu Calista dengan menari dan meraih pinggang gadis itu untuk ia alihkan ke samping tangga lumayan tinggi. Mereka pun terjun menggunakan tali dan di antara keramik licin. Seperti pemburu, kurator itu telah lebih ganas menembakan beberapa serangan dengan panahannya.
Calista terkejut dan khawatir kalau mereka tidak akan bisa menemukan jalan keluar dari sini. "Bagaimana ini? Lebih baik kita menyerah dari pada terkena anak panahannya itu, Egi!" Calista sudah panik, apalagi di depan mereka adalah jalan buntu yang di bawahnya adalah sebuah lautan yang menghubungkan sungai Seine dan sungai Rue de Rivoli. Bangunan Trademark ini membuat Egi nekad memecahkan piramida kacanya. Pyarrr! Dan mereka pun terjun ke sungai itu daripada pilihan mematikan kurungan kerajaan bangsawan ini.
Byurrr!
"Bahaya! Dia memilih nekad untuk mengajak putri Betralisa juga terjun ke sungai. Cepat, cari Trafalgar sebelum Raja Philip tahu kalau dia sudah berani menyelinap ke kerajaan ini!" teriak sang pria berjuba hitam itu dan ratu penyihir memilih untuk berlari entah kemana.
"Hei, ratu penyihir tunggu! Sihirmu masih dalam proses pemulihan. Jangan kotori tangan dan membuat noda baru, lebih baik kita tunggu di sini."
"Tidak bisa Jack, aku harus menemui putri Monalisa. Aku ada rencana bagus!" Penyihir itu tak mengidahkan panggilan dari lelaki berjuba hitam yang bernama Jack Willion.
***
"Gawat! Aku mendengar kabar dari rakyat saat aku menyamar, bahwa di kerajaan sedang dihebohkan olehmu Trafalgar! Kau habis menyusup bersama putri Betralisa, ya?!" pekik Domino yang tak lain adalah saudara dari Trafalgar.
Jelas saja Ravanger menjitak kepala kembarannya itu. "Domino! Lihatlah di sini daritadi mereka sedang berbincang denganku! Kau jangan main-main lagi di luar, kita sedang diincar dan salah satu rumah teraman adalah di pelosok pohon tua ini. Memangnya kau melihat langsung bahwa itu adalah Trafalgar dan Betralisa?" tanya Ravanger gemas, dan Domino adalah kembarannya. Mereka semua berjumlah tiga laki-laki bersaudara mulai dari Trafalgar Vincinite, Domino Vincinite dan Ravanger Vincinite.
Sedangkan Betralisa adalah keturunan terakhir dari saudara Monalisa yang tidak pernah disukai. Maka, ia memilih kabur karena menjadi kekasih Trafalgar adalah larangan. Sedangkan dua gadis yang sibuk membaca buku di ujung pojok perpustakaan kecil itu adalah kawan terbaik Betralisa. Mereka berpihak untuk melindunginya. Nama si puteri dengan kuncir satu tinggi seperti jasmine itu adalah Valentine Gredan. Sedangkan si mungil imut dan polos itu bernama Aurora Hasmine.
Domino mengangguk dan terus meyakinkan mereka semua yang berada di dalam rumah batang pohon ini. Walaupun tetap tidak percaya, namun Domino terus memaksa mereka untuk mencari orang yang dimaksud oleh kerajaan adalah Trafalgar dan Betralisa.
"Aku yakin bahwa keluarga kerajaan tidak mungkin membuat berita palsu kalau kayak gini apalagi tentang kalian berdua. Ada yang tidak beres ini, kita harus lebih dulu mencari orang itu jika mirip kalian berdua. Atau jangan-jangan kalian berdua ada kembaran?" seru Domino terus menerka-nerka dengan heboh.
Ravanger yang melihat tingkah laku kembarannya hanya bisa menggeleng tak paham seraya berdecak frustasi. "Oke, oke, baiklah kalau memang kau yakin, kita berangkat sekarang ke perbatasan sungai Seine dan sungai Rue de Rivoli."
Akhirnya Domino bernapas lega karena kembarannya mau mempercayainya dan Trafalgar juga mengatakan ia sangat penasaran. "Kalau gitu, kita semua harus pergi. Kita tidak bisa mengambil resiko dengan meninggalkan beberapa orang di ruangan ini. Karena kalau kita berpisah akan semakin sulit jika ada pihak yang ketahuan dan tertangkap. Lebih baik kita selalu bersama dan saling menjaga. Mengerti kalian?" seru Trafalgar yang selalu memegang amanat untuk mereka semua.
Hal ini mendidik keenamnya yang saat ini sudah membentuk satu keluarga kecil agar bisa melihat saudara-saudaranya dan tidak memandang egois. Karena biasanya para bangsawan selalu berpikir lebih kuat dan saling merasa terhebat untuk menjadi pemimpin. Tapi tidak dengan mereka yang menyamakan tanpa membedakan akan menjadi siapa? Sebab kepemimpinan akan dimiliki jiwa seseorang di dalam dirinya jika mereka adil, saling melindungi, menasehati dan mengerti. Maka akan bisa membentuk mereka menjadi rasa tanggung jawab besar serta kepedulian sesama sebelum mementingkan keegoisan.
"Baiklah, kayaknya aman kita nyamar seperti ini," kata Betralisa seraya menatap mereka satu persatu yang memakai pakaian rakyat kuno dengan cadar semua. Seolah mereka adalah para rakyat miskin dengan pakaian lusuh dan bekas dari mengambil beberapa pakaian loakan di pasar rakyat.
Kota ini dipadati oleh banyak manusia yang saling menjatuhkan. Mereka semua sedang beredar mencari sesuatu berharga. Para manusia-manusia itu telah dikendalikan oleh mesin. Otak mereka seperti batu, keras dan maunya selalu menang sendiri. Tiap-tiap langkah yang harus dijejaki oleh pemburu seperti mereka berenam harus pandai mengendalikan sekitar dan menyamarkan dirinya dari lautan pejalan kaki. Woro-woro juga telah di pasang di tiang listrik mana saja hingga membuat toko-toko biasa tertampang banyak. Kini keenamnya benar-benar percaya tentang keresahan rakyat dan para keluarga dari kerajaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Memangnya di mata rakyat Trafalgar dan Betralisa itu bersalah? Padahal justru mereka hanya memburuh uang dan kepingan emas yang dijanjikan jika bisa melakukan tugas tersebut.
Sesungguhnya, orang-orang itu bodoh. Dan mereka layak disebut dengan mesin karena kebodohan dan sifat kebenaran di matanya sudah tandas oleh nafsu. "Apa aku bilang benar, kan?" Domino berbisik pelan kepada kembarannya yang hanya bisa mengangguk di balik cadarnya.
"Tapi siapa manusia yang mirip dengan Trafalgar dan Betralisa coba? Memangnya mereka ada kembaran?" tanya Aurora kini ikut bersuara kecil.
"Sepertinya dari kehidupan masa depan mungkin?" Valen bergumam sebelum mereka menyeberangi bangunan-bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi.
Trafalgar mengangguk paham. "Ya, ada kehidupan masa depan yang mirip dengan wajah kita semua dan salah satunya mereka sedang terjebak. Kita harus menolongnya!" bisik Trafalgar dengan tegas.
Mereka semua hanya mengangguk paham dan terus memasang cadarnya dengan melangkah panjang dan memasang wajah melas saat para prajurit kerajaan memantau sekitar. Benar-benar ketat!