Motor lawas Gali meliuk di antara gang-gang sempit yang mulai dipadati penduduk saat sore menjelang. Kawasan Tambaksari adalah dunia yang berbeda dari kilau SMA Harapan Bangsa.
Di sini, tempat Gali tinggal, rumah-rumah berdempetan seperti ikan teri dalam kaleng, temboknya seringkali bersentuhan. Suara televisi dari rumah ke rumah bercampur deru mesin pabrik di kejauhan.
Dia parkir motornya di depan sebuah rumah kontrakan kecil yang terkesan sederhana. Begitu turun, ibunya, Sundari, keluar menyambutnya dengan senyum lelah namun hangat. Aroma masakan tercium dari dapur mungil.
"Sudah pulang, Nak?" sapa Sundari, tangannya mengusap lembut rambut Gali. Wajahnya menunjukkan tanda-tanda pekerjaan yang berat di pabrik sepatu seharian.
"Iya, Bu. Ayah sudah pulang?" tanya Gali sambil melepas helmnya.
"Sudah, lagi istirahat di kamar. Kamu langsung mandi ya, nanti makan malam," kata ibunya.
Ayah Gali, Kusno, adalah seorang pegawai sipil di kecamatan. Pekerjaannya stabil, namun gajinya pas-pasan. Ibu Sundari yang harus bekerja di pabrik sepatu untuk menambah pemasukan keluarga. Kehidupan mereka adalah potret perjuangan sehari-hari, sebuah keseimbangan yang rapuh antara kebutuhan dan kemampuan.
Setelah membersihkan diri, Gali bergabung dengan kedua orang tuanya di meja makan sederhana yang hanya cukup untuk bertiga. Mereka makan dalam keheningan yang nyaman, berbagi cerita singkat tentang hari masing-masing.
Selesai makan, Gali segera bersiap-siap. Memakai kaus dan celana panjang. Di sudut kamarnya, mengambil tas punggung lain yang berisi pakaian ganti dan buku catatan. Dia akan bekerja paruh waktu.
"Gali, mau ke mana lagi?" tanya ibunya saat melihat Gali beranjak dari rumah.
"Ke kafe, Bu. Seperti biasa," jawab Gali.
Sundari menghela napas pelan. "Jangan terlalu malam ya, Nak. Kamu juga harus istirahat."
"Iya, Bu. Nanti aku kabari kalau sudah selesai," Gali meyakinkan.
Dia melangkah keluar dari rumah kontrakan, kembali menyalakan motor lawasnya. Kali ini, tujuannya bukan untuk nongkrong, melainkan menuju sebuah kafe yang lumayan ramai. Di sana, bekerja sebagai pelayan, membersihkan meja, mengantar pesanan, dan kadang-kadang mencuci piring. Pekerjaan yang menguras tenaga, tetapi sangat membantunya memenuhi kebutuhan pribadinya dan sedikit membantu ekonomi keluarga.
Aroma kopi yang kuat segera menyambutnya saat ia melangkah masuk ke dalam kafe. Suara denting cangkir, obrolan pelanggan, dan musik yang diputar menjadi latar belakang kehidupannya sepulang sekolah. Di sinilah Gali menempa dirinya, belajar bekerja keras, dan belajar untuk tidak membiarkan perbedaan latar belakang menghalangi langkahnya.
Gali melayani pelanggan dengan cekatan, mengantar pesanan kopi dan camilan, membersihkan meja yang kosong, dan sesekali berinteraksi singkat dengan pelanggan. Kafe Pink, tempatnya bekerja, adalah sebuah kafe yang cukup populer di kalangan anak muda Surabaya.
Suasananya nyaman, dengan dekorasi serba merah muda yang unik, sesuai dengan namanya. Pemiliknya, Cece, adalah seorang perempuan keturunan Tionghoa yang ramah namun tegas.
Cece sangat menyukai Gali. Bukan hanya karena selalu bekerja dengan penuh semangat dan tidak pernah mengeluh, tetapi juga karena melihat potensi dalam diri pemuda itu. Gali selalu sigap, rapi, dan sopan kepada pelanggan.
Malam ini, saat kafe mulai sedikit sepi, Cece menghampiri Gali yang sedang menata ulang kursi-kursi.
"Gali," panggil Cece dengan lembut namun tegas.
Gali segera menghentikan pekerjaannya dan menghadap Cece. "Ya, Cece?"
"Kamu sudah berapa lama di sini?" tanya Cece sambil menyilangkan tangan di d**a.
"Sudah hampir dua tahun, Cece," jawab Gali.
"Nah, kamu tahu kan, Ibu tidak mau kamu kerja sampai larut malam. Besok pagi kamu harus sekolah," kata Cece. "Ibu nggak mau nanti kamu ngantuk di kelas, atau malah bolos sekolah gara-gara kecapekan kerja di sini."
Gali tersenyum. Dia tahu kekhawatiran Cece. Sang pemilik kafe memang selalu perhatian padanya, memastikan tidak terlalu memforsir diri. Cece sudah seperti kakak atau bahkan ibu kedua baginya di tempat kerja.
"Iya, Cece. Aku usahakan tidak terlalu malam kok," ujar Gali. "Kalau memang sudah mengantuk, aku langsung pulang."
Cece mengangguk, tatapannya melembut. "Bagus, ibu suka anak yang bertanggung jawab. Ingat ya, sekolah itu penting. Itu modal utama kamu untuk masa depan. Jangan sampai kerja begini malah menghalangi cita-cita kamu."
Gali mengangguk mantap. "Pasti, Cece. Aku nggak akan lupa."
"Bagus. Kalau begitu, sebentar lagi juga jam pulangmu kan? Bereskan ini, lalu kamu boleh pulang. Hati-hati di jalan ya," kata Cece sambil menepuk pundak Gali.
Gali merasa bersyukur memiliki Cece.
Di tengah kesibukannya, perhatian dan bimbingan dari Cece sangat berarti baginya. Dirinya tahu, bukan hanya bekerja keras di sini, tetapi juga ada orang-orang seperti Cece yang peduli dan mendukungnya.
Setelah menyelesaikan tugas-tugasnya, lalu berpamitan pada Cece, dan kembali menyalakan motornya, siap untuk pulang ke rumah kontrakan sederhananya, sebelum esok hari kembali menjalani rutinitas di SMA Harapan Bangsa.
Mesin motor lawas Gali menderu pelan, namun tetap kokoh membelah keramaian jalanan Surabaya malam itu. Lampu-lampu kota mulai berkelipan, menciptakan suasana yang hidup meskipun jam sudah menunjukkan waktu yang larut.
Lalu lintas masih padat, kendaraan roda dua maupun roda empat silih berganti melintas, suara klakson sesekali terdengar. Bagi Gali, jalanan malam Surabaya ini adalah pemandangan yang familiar, sebuah kontras yang menarik dengan kesunyian malam di gang-gang Tambaksari.
Gali memutar motornya masuk ke gang sempit menuju rumah kontrakan. Begitu mematikan mesin, suara televisi dari dalam rumah terdengar lebih jelas. Ibunya masih terjaga dan sedang menonton televisi di ruang tamu.
Gali melangkah masuk, disambut oleh senyum hangat ibunya. "Sudah pulang, Nak?"
"Iya, Bu," jawab Gali. Lalu menghampiri ibunya, mencium punggung tangan Sundari dengan penuh hormat. Sebuah kebiasaan yang selalu dilakukan, sebagai tanda bakti dan kasih sayang.
"Sudah makan?" tanya ibunya lagi.
"Sudah tadi di kafe, Bu. Cuma ngemil sedikit," jawab Gali.
"Ya sudah, kalau begitu langsung ke kamar saja. Jangan lupa berdoa sebelum tidur," kata Sundari.
Gali mengangguk dan segera menuju kamarnya yang mungil. Kamar itu sederhana, hanya berisi tempat tidur, lemari pakaian, dan sebuah meja belajar kecil. Di atas meja belajar itu, tergeletak buku-buku pelajaran SMA-nya.
Gali baru saja hendak merebahkan tubuhnya yang lelah ke kasur ketika dering ponselnya memecah keheningan malam. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di meja belajar. Layar menampilkan nama yang sedikit mengejutkan, Ratna.
Di antara semua siswa di kelas X IPA, Ratna adalah satu-satunya yang benar-benar mencoba menjalin pertemanan dengannya tanpa melihat latar belakangnya. Gadis cantik anak pengusaha garmen ternama di Surabaya itu selalu bersikap ramah.
Gali mengangkat panggilan itu, "Halo?"
"Halo, Gali?" suara Ratna terdengar di seberang sana, nadanya terdengar sedikit ragu. "Maaf ganggu malam-malam."
"Nggak apa-apa, Ratna. Ada apa?" tanya Gali, rasa penasarannya terusik.
"Ehmm... gini, Gal. Besok aku minta tolong kamu bisa jemput aku sekolah, nggak?" tanya Ratna. Ada nada sedikit memelas dalam suaranya.
Gali mengerutkan kening. "Jemput? Kamu nggak ada yang nganterin?"
"Nggak, Gal. Tadi sore orang tuaku mendadak pergi ke Jakarta. Kayaknya urusan bisnis gitu. Jadi, nggak ada yang nganterin aku," jelas Ratna. "Rumahku ada di Mayar Hill, lumayan jauh juga kalau naik angkutan umum sendirian, aku takut."
Mayar Hill. Gali tahu daerah itu. Salah satu kawasan perumahan paling elit di Surabaya, dihuni oleh orang-orang berduit. Pemandangan yang sangat berbeda dengan kampung halamannya di Tambaksari. Permintaan Ratna ini terasa seperti permintaan dari dunia lain.
"Mayar Hill ya?" Gali berpikir sejenak. Perjalanannya dari SMA Harapan Bangsa ke Maya Hill akan memutar cukup jauh, dan itu berarti harus berangkat lebih pagi besok untuk memastikan tidak terlambat ke sekolah. Tapi melihat situasi Ratna, tidak bisa menolak.
"Iya, Gal. Boleh ya?" tanya Ratna, terdengar cemas.
"Boleh, Ratna. Nanti aku jemput. Jam berapa biasa berangkat?" tanya Gali.
"Jam enam pagi," jawab Ratna lega.
"Oke. Nanti aku usahakan sampai tepat waktu. Kamu tunggu di depan gerbang pagar ya?" ujar Gali.
"Baik! Makasih banyak ya, Gali. Kamu beneran penyelamatku," kata Ratna riang. Suaranya terdengar jauh lebih ceria sekarang.
"Sama-sama. Ya sudah, aku mau tidur dulu," kata Gali.
"Oke, selamat tidur, Gali!"
Sambungan telepon terputus. Gali memandang layar ponselnya sejenak. Permintaan Ratna ini tak terduga. Dia akan mengambil jalan memutar yang cukup jauh untuk menjemput Ratna.
*****